Kisah Mangga Buruk Rupa

Sebagai bentuk pengaplikasian ilmu literasi finansial untuk anak dari kelas bersama Teduh Mindful x Pustakalana beberapa pekan yang lalu, maka saya memberi ruang belajar baru untuk Azka melalui kegiatan… berdagang…! Hehe.

Setelah dipikirkan, kebutuhan utama dan tujuan utama untuk memberikan ruang belajar ini adalah agar Azka bisa menerapkan ilmu matematika yang ia sudah pelajari di sekolah, dan tentunya untuk mengasah keterampilannya dalam mengelola uang. Saya lihat sebetulnya Azka sudah sangat baik untuk menyikapi keuangannya, dia rajin ngumpulin uang yang berserakkan di rumah (wkk karena Ibunya super selebor pisan yah) dan “klaim” itu adalah miliknya. Jadi memang di waktu-waktu tertentu ketika saya kehabisan uang tunai, saya selalu bisa mengandalkan dia. Tapi yah, baru sejauh itu saja “melek” literasi finansialnya.

Jualan apa ya enaknya? Yang tidak perlu produksi (alias bahan mentah saja), masa simpannya lama dan tidak menyulitkan, bisa membantu orang lain (yang dekat rumah), bisa gampang dikirim (tidak mudah basi, tidak gampang pecah, tidak membutuhkan penanganan khusus) di Bandung atau ke luar kota, dan sesuatu yang Azka sukai juga tentunya. Maka pilihannya adalah…Mangga!

Mangga memang lagi musim, dan mudah didapatkan tapi tidak semua orang bisa dapat akses ke mangga yang murah meriah dan nikmat…! Setelah membandingkan beberapa tempat yang jualan mangga, maka Azka saya brief singkat dan terjun langsung untuk handle si penjualan mangga.

Salah satu pembelinya adalah Uci Bunda. Selaku nenek yang baik dan mendukung usaha cucu, Uci beli sekian belas kilo untuk dibagikan juga ke besan dan Reya (walau akhirnya tidak jadi dikirim, karena akhir pekan itu Reya tengah merayakan hari yang cukup bersejarah untuknya). Mangga yang Uci beli dibawa sama Azka dari Bandung ke Jakarta dalam keadaan matang (di hari Sabtu) dan siap makan.

Ketika kami kembali ke Bandung, di hari Senin pagi, Uci menelpon Ibu, dan memberi tahu 2 hal, dari nada Uci ngomong sih sepertinya ybs sedang rada kesal karena mendapati beberapa hal di luar bayangannya x):


1. “Cha, itu Azka kalau jualan mangga harusnya beli dari Probolinggo yang memang penghasil mangga terbaik. Buahnya besar-besar dan ada stickernya, tampilannya juga bersih kayak buah di T*TAL. Ini yang dari Azka banyak hitam-hitamnya di kulit buah”


2. “Kemudian yang kedua, itu mangganya udah kematengan. Jadi hari ini udah agak benyek ga enak deh dimakannya kayak gitu. Memang manis, tapi udah ga enak tampilannya”

Selesai beliau menjabarkan poin-poinnya saya jawab:

“Jadi gini Bun, aku sampaikan ke Azka. Kalau berbisnis kita harus punya value yang bisa kita pegang. Salah satu valuenya adalah bisa membantu orang terdekat kita atau tetangga. Dalam hal ini Azka beli mangga dari penjual buah langganan di deket rumah. Ya memang pasti dari Probolinggo mangganya lebih bagus dan besar-besar ya. Tapi ini emang sengaja beli dari yang deket dan dilalui dari rumah saja sih (selain tentunya meminimalisir carbon footprint yang tak perlu, tapi saya ga sampaikan ini ke Bunda hehe).

Bunda begumam “Ohh yaa ya…” di ujung sana.

“Kemudian yang kedua, itu hitam-hitam di kulit mangga aku juga udah antisipasi. Aku bilang sama Azka, bahwa orang sering kali mau beli buah yang sempurna, bukan cuman buah, tapi sayuran juga. Padahal buah dan sayur sama aja kek manusia, itu bentuknya beda-beda, tiap buah beda. Kalau ada hitam-hitam di kulit pun itu ga mengurangi kualitas daging buahnya .. Itu khan dari getah mungkin kena debu jadi menghitam. Yang penting rasanya manis dan tetap enak , juga nutrisinya sama aja sama yang bentuknya sesuai “standar”. Hal seperti ini yang sebetulnya bikin food waste tuhhh Bun… 1/3 hasil tani terbuang karena ditolak sama supermarket dan konsumen ga mau beli cuman karena bentuknya ga standar. Nanti aku kasih beberapa bahan bacaan ya tentang food waste” – jelas saya panjang lebar. Di ujung sana Bunda ber “hmmm, ya, ya…”

Setelah sekian detik pause setelah mendengar penjelasan saya, Bunda berkomentar “Oh gituuu… Ya tapi khan tetep ga enak ya dilihat, harusnya kamu jelaskan juga ini. Khan ga semua orang paham”.

“Oke Bun… Nah, kemudian perial udah kematengan. Itu jangan langsung dibuang ya Bun. Bunda bisa kupas, potong-potong mangganya bentuk dadu, lalu bunda bekukan saja. Nanti sore bunda bisa bikin jus atau smoothies atau lassi dari mangganya. Enak, seger, dan gampang banget buatnya…!”. Saya meyakinkan Bunda yang ternyata baru tahu cara bikin smoothies (tambahkan pisang beku atau pisang + susu/yogurt/air) atau mango lassi (kalau lassi emang sarat dengan dairy ya, pakai kefir atau yogurt + susu + gula) x)

Jangankan Bunda ya, beberapa teman juga belum banyak yang mempraktekkan hal sederhana ini (sesederhana membekukan buah supaya ga terbuang dan memperlama waktu simpan).

Cara Menghindari Food Waste

Sering juga saya menemui penyebab makanan terbuang tuh karena sudah lah salah menempatkan posisi makanan di kulkas atau penyimpanan yang kurang tepat sehingga makanan menjadi tidak layak dikonsumsi, kemudian kalau udah “buruk” langsung dibuang. Beberapa tips dari foodwaste movie:

Shop Smart

  1. Take Stock: Know what you have and plan meals based on your inventory. Make your shopping list pre shop.
  2. Stick to your list: It’s a costly waste if you don’t consume what you buy, even if it is on special! Will you really eat that?
  3. Buy : It tastes just as good and saves food that might be wasted because size, shape, or color are not “right”.

Sensible Storage

  1. Practice FIFO (First in First Out): Organize newest groceries at the back, oldest in the front.
  2. Prioritize Perishables: Have a section in your fridge for food that needs to be consumed ASAP
  3. Keep it Fresh: refrigerate between 1-5 degrees C, use airtight containers,
  4. Preserve It: If the clock is ticking, freeze it, can it, dry it, or dehydrate it.

Cooking

  1. Understand labels: use by and best before dates are not ‘expiry’ dates or ultimatums! They only indicate peak freshness.
  2. Get creative: Soups, stews, and smoothies are great “use it up” options.
  3. Use it all: Only toss non-edible parts of produce and spatula out containers.

At the Table

  1. Serve wisely? Put less on your plate: eat family style (shared serving bowls) or ask for smaller portions. Plate scrapes are wasted
  2. Save it for later: Take it to go. Refrigerate or freeze leftovers (and remember to eat them). Date and label items in transparent containers to avoid mystery meals.

If it can not be consumed by you,

  • Share it! Have a friend over for a meal
  • Feed it to an animal/pet
  • Compost it

….Food does not belong in the landfill.

Saya ngomong begini bukan berarti udah tidak melakukan food waste ya. Kenyataannya tadi pagi baru saja saya melakukan beberapa dosa besar:

  • Membuang 2 cups nasi! Karena apa? Sesederhana karena lupa masukin wadah ke kulkas (niatnya nasi sisa mau dijadikan nasi goreng), walhasil disemuti nasi tersebut (akhir-akhir ini entah kenapa semut merajalela di rumah. Ga bisa liat makanan nganggur dikit udah disemutin…! ALAMAK huhu). Nasi ini berakhir di composter.
  • Memberikan 1/4 madu sisa yang sudah disemutin juga –> dikasih ke Calvin dan Donny si kucing. Saya campur dengan kuning telur, mereka lahap sekali meminumnya.
  • Memberikan 1,5 potong ikan pindang karena disemutin juga ke kucing.
  • Menjadikan gula aren cair yang sepertinya basi karena tidak disimpan di dalam kulkas. Baunya aneh (belum saya cari tahu lagi sih, tapi kayaknya ada zat yang berubah ketika dalam bentuk cair ini) seperti alkohol x) Jadi saya gunakan gula cair ini sebagai campuran di ecoenzyme (intinya: ga langsung dibuang tapi masih bisa dimanfaatkan)
  • Membuang sesame seeds dalam toples –> awalnya mau saya pakai buat topping challah bread yang Khalif buat. Tapi kayaknya si container buat sesame seeds ini tidak sepenuhnya kering ketika dimasukkan, walhasil berjamur :’
  • Membuang sisa (mungkin 1/8) nutritional yeast yang tak tersimpan dengan baik.

Begitulah adanya gaiss! Banyak juga ya yang terbuang :’ Karena perkara: SALAH SIMPAN makanan. Ahh…tetap semangat kurang-kurangi tidak menghabiskan makanan yah. Dipikir dulu ketika menyimpan makanan dan sebelum dibuang pokoknya. Masih bisa dimanfaatkan ga?

Ohya, yang UNDERSTANDING your labels “the dating game” itu juga penting banget banget banget. Saya belajar tentang ini juga pas di US, karena beda-beda khan label tuh, ada yang best by, sell by, best before – itu tuh tidak berarti ketika tanggal itu lewat makanannya udah ga aman untuk dimakan lho! Itu hanya semacam indikasi bahwa makanan tersebut sudah “lewat masa fresh”nya. Tapi masih aman untuk dikonsumsi! Nanti bahasannya beda lagi aja yaah, meanwhile bisa baca-baca artikelnya di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s