Aidil Rizali Akbar – Part 1

Ditulis oleh Bunda Reni Akbar-Hawadi – diunggah di Facebooknya.

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali. Dalam syariat Islam, jika seorang muslim ditimpa musibah kemudian dia bersabar dan mengucap kalimat istirja “Innalillahi wa innailaihi rojiun” maka Allah akan memberikan pahala. 

Ijinkan saya mengenalkan Aidil Rizali Akbar, anak sulung saya dan Idjul, yang baru lahir 12 bulan setelah kami menikah. BB lahirnya 3,6 kg dan TB 50 cm. Ia lahir di tengah malam, jam 23:20 pada 1 Syawal saat uci, nenek, dan inyiknya telah kembali pulang kerumah karena lelah menunggu kelahirannya sejak jam 19:00.Nama Aidil berasal dari Idulfitri, sedang Rizali berasal dari nama dr. Rizal Sini, Sp.OG., dengan penambahan suku kata li dari nama akhir keempat uci, aki serta nenek inyiknya (Ali, Eli, Doelli, dan Dalima). Sejak dalam kandungan sangat aktif, energinya tidak pernah habis dan selalu saja ada yang dieksplornya. 

Aidil sosok yang sangat cerdas, yang sangat kreatif, yang memiliki passion besar untuk selalu ingin tahu dan tidak jemu belajar dan mengajar apa saja yang dianggap perlu serta penting dalam kehidupan. 

Aidil Rizali Akbar bukan hanya sekedar anak kami tapi juga guru – literary- bagi aybunnya dan semua saudaranya.Kami selalu bertanya apa saja dan memperoleh jawaban yang sangat lengkap mendalam tentang apapun. 

Aidil yang juga dipanggil Abang oleh adik-adiknya dan juga keluarga besar kami ( tante/oom juga sepupunya) sejak kecil selalu mempertanyakan tentang apapun yang membuat saya dan ayahnya, Idjul speechless karena tidak mampu menjawab karena keterbatasan wawasan kami.Ia bak seorang filsuf yang tidak lelah mencari kebenaran.

Aidil sesungguhnya tidak membutuhkan sekolah. Ia suka belajar namun tidak suka sekolah bahkan membecinya. Ia selalu mengeritik sistem pendidikan yang ditempuhnya. Pengetahuan luasnya yang ia peroleh 90% dari hasil belajar sendiri. Namun Aidil memiliki komitmen tinggi, untuk mampu menamatkan pendidikan sarjananya. Di FSUI 2002 pada semester dua Aidil melakukan “Revolusi” dengan total merubah fisiknya dengan berambut pirang dan juga namanya menjadi Jack serta belakangan memakai nama Joe Blue, karena memakai contact lens biru. Setelah bertransformasi jadi “bule”, Aidil membuat “aturan” sepanjang masa kuliahnya hanya mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan juga tidak akan menengok jika dipanggil dengan nama Indonesianya, Aidil.

Aidil sudah membaca koleksi buku-buku teks Psikologi aybunnya saat ia dibangku SMP. Dan dengan bangga mengatakan “Abang tidak perlu kuliah, karena guru-guru Abang sudah hebat-hebat”. Lantas ia menyebut beberapa nama tokoh Psikologi seperti Sigmund Freud, Jung, Rogers, Wundt, dan Ivan Pavlov. 

Ia tidak hanya kutu buku namun juga penikmat film dan musik. Aidil lah yang melahap habis koleksi buku musik The Beatles ayahnya. Aidil bisa langsung berceritera tentang dibalik lirik lagu-lagu The Beatles secara fasih.

Aidil seorang genuine, otodidak sejati, pemikir, idealis, analis, seniman, dengan spiritualitas tinggi yang merasa nyaman berada di rumah secara penuh. Ia meninggalkan karir PNSnya karena merasa kehidupan dunia PNS saat itu tidak sesuai dengan standar moral perilaku profesionalnya. Aidil kemudian sebagai seorang ayah berfikir juga bahwa sayang banyak waktu terbuang percuma di jalan, yang sebaiknya dipakai untuk mengasuh anak. Akhirnya ia memilih bekerja sebagai “fulltime Dad” yang telah ia lakoni selama 10 tahun. 

Ia juga melepas dua kuliah Pascasarjananya di tengah jalan karena ilmu yang ia peroleh berikut dosen yang mengajar tidak sesuai dengan ekspektasinya.Dan sekali lagi dia tidak termotivasi utk kuliah S2 lagi walau skor TOEFL nya 645. 

Rasa ingin tahu yang besar membuat Aidil pernah maju menjadi kandidat Ketua Umum BEM UI dan Pemilihan Abang None Jakarta.

Oia.. Aidil satu-satunya anak yang sebenarnya hanya merasa cukup menikah di mesjid saja, akad nikah saja tanpa resepsi. Hal yang unik ia lakukan beberapa hari sebelum melaksanakan akad nikah, Aidil mampir memberi sumbangan ke Panti Asuhan, Panti Jompo, Rumah Tahanan dan SLB. Ia rutin mendonasi sebuah Panti Asuhan semampunya setiap bulan. Dan tidak tergiur memiliki baju lebih dari 9 helai, kl sy belikan yg baru pasti ada baju lama yang ia akan sumbangkan. Aidil mengeritik saya jika memberi sedekah dengan nominal kecil. Ia rutin bersedekah uang semampunya.

Akhirnya kepada semua kenalan, teman, sahabat, kerabat, saudara serta handai taulan yang menyampaikan simpati ucapan duka cita baik moral dan material, serta doa untuk almarhum dan kami keluarga yang ditinggalkannya, saya atas nama Keluarga menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya.Semoga Allah membalas kebaikan Bapak/Ibu/Saudara sesuai janjiNya” Barangsiapa berbuat kebaikan, mendapat balasan sepuluh kali lipat amalannya” (QS. Al-An’am: 160)

Selamat jalan bang…selamat memasuki awal fase kehidupan barumu “guru” aybun..”filsuf” aybun…Semoga diterima semua amal kebaikan kamu..diampuni dosa dan segala kekhilafan kamu..Dan bahagia di jannahNya. Sampai jumpa anakku. Love you so much.”

2 thoughts on “Aidil Rizali Akbar – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s