Sebuah Refleksi – #DiRumahAja Minggu ke-4

Di awal himbauan untuk #dirumahaja, hal yang pertama saya lakukan adalah membangun ritme di rumah untuk menghadapi the new normal supaya anak-anak juga gak kaget dengan perubahan mendadak ini. Saya posting di Instagram Story kurang lebih seperti ini – bisa dicek juga di Sorotan/ Highlight pada Instagram saya @chiceniza.

Screen Shot 2020-04-19 at 21.44.19

Memasuki minggu ke-5 untuk #dirumahaja, ritme ini berjalan ideal, walau ada beberapa penyesuaian, yakni school from home (SFH) itu lumayan mengambil waktu anak-anak yang tidak saya pertimbangkan sebelumnya. Karena saya pikir SFH akan lebih santuy, ternyata khan tetep kayak waktu sekolah yaa. Jadi yang tadinya waktu belajar hanya saya masukkan 2 jam, nyatanya bisa 4 jam – dan makin ke sini makin susah dan banyak si tugas-tugasnya…! Ini berlaku untuk Azka maupun Khalif.

Sekolah #DiRumahAja Azka

Untungnya, Azka yang sudah kelas 4 sangat mandiri untuk mengerjakan semua tugas dari sekolah. Tugasnya ini diberikan dalam Google Classroom setiap harinya walau di jam yang tidak selalu sama (bervariasi dari pukul 07.30 – 09.00). Sementara Azka tipe anak yang cukup bersemangat mengerjakan tugas-tugas selama SFH (sungguh aku pun terkejud!). Dia selalu menjadi orang yang bangun paling pagi di rumah, langsung mandi, bikin sarapan sendiri, lalu sudah anteng duduk manis di depan komputer milik saya menunggu tugas dari Bu Mia (wali kelasnya). Dia pun selalu jadi murid pertama yang menyelesaikan tugas dan disiplin stand by dari 07.30 WIB menanti tugas.

Saya sangat menghargai Azka yang mandiri mengerjakan semua tugas-tugasnya dan akan bertanya ke saya atau PapaAra ketika ada yang mau ditanyakan saja/ kalau udah ga ngerti banget. Nilai-nilainya juga baik, walau tidak 100, tapi rata-rata dia menjawab cukup teliti di 80-90 dari 100. Aaah, Azka terima kasih yaa…!

Screen Shot 2020-04-19 at 21.55.33Saya tidak tahu sekolah lain bagaimana, karena pastinya berbeda-beda metode ajarnya yaa. Tapi kalau di sekolah Azka memang bahan ajar jarak jauh tergantung masing-masing wali kelas. Biasanya dalam sehari terdapat dua kegiatan utama harian: Yang pertama adalah pembiasaan di rumah; seperti salat lima waktu, salah dhuha, merapihkan kamar/kasur, membantu pekerjaan rumah).  Lalu masuk ke tugas pokok harian Tematik IPA/IPS/Matematika, juga ada tugas literasi di minggu ke-4 ini dengan menggunakan bahan ajar dari TVRI (yang banyak tersambung ke video-video di kanal YouTube).

Di hari Sabtu (karena Azka sekolah Senin-Sabtu) biasanya tugasnya akan lebih sederhana dan bersifat Family Day. Jadi bikin video atau foto grid mengenai kegiatan #dirumahaja di hari Sabtu; olahraga, decluttering, memasak, dan memijat! Hehe, iya di minggu ke-3 tugas di hari Sabtu adalah memijat orang tua selama 30 menit x)). Kata Azka: “Bu, tugas hari ini sangat mudah namun menyulitkan. Saya harus memijat Ibu dan Papa selama 30 menit!” katanya dengan ekspresi kocak. HOREEE…!

2

Screen Shot 2020-04-20 at 00.31.44

Setelah selesai tugas sekolah, dia bisa bebas untuk free play dan membaca kalau masih ada waktu sebelum Zuhur. Kalau sudah masuk Zuhur, biasanya akan langsung makan siang, salat Zuhur, baru free play. Kadang dia nego untuk boleh screen time sebelum waktunya (di sore hari). Kadang saya berikan 15-30 menit, tergantung seberapa dia baik di pagi itu, hehe. Baru pukul 14.00 – 15.30 nap time, dan dia selalu bangun setelah azan Asar, lalu salat dan menikmati screen timenya.

Biasanya pukul 17.00 – 17.45 saya ajak dia main ke lapangan deket rumah untuk main badminton, yoga anak, lompat karet (sapintrong), sondlah, atau apapun yang penting bergerak. Dari aktivitas ini saya jadi bisa tahu juga kemampuan motorik kasar Azka sangat kurang terasah… Sehingga untuk beberapa gerakan seperti keseimbangan (pose pesawat), melempar bola (ketangkasan dan kemampuannya untuk mengontrol seberapa kekuatan yang ia butuhkan untuk melempar), lompat tali (yang mana Azka ternyata ga bisa), dll.

Azka sudah mau usia 10 tahun bulan depan, dan saya sudah ingatkan dia juga bahwa dia perlu belajar dan menekuni sesuatu dari olahraga dan seni. Selama ini memang belum saya lihat bakat yang menonjol dari kedua hal ini (termasuk di dalamnya cakupan seni musik, seni suara, seni murni, seni gerak). Tapi melihat beberapa minggu terakhir main badminton, kayaknya ini salah satu olahraga yang dapat ia tekuni…! Mudah-mudahan ya Azka.

Sekolah #DiRumahAja Khalif

Beda dengan Azka (beda banget), sekolah Khalif yang menerapkan metode pendidikan Waldorf juga lain lagi bentuk tugas hariannya. Bu Manda (wali guru) memberikan jadwal untuk kegiatan pembelajaran seminggu ke depan di hari Minggu sore. Kemudian di Senin sore, ia akan mengadakan Zoom Meeting untuk memberikan sesi tanya jawab kepada orangtua dan juga sharing sekiranya ada kesulitan dalam menerapkan tugas di rumah, kurang lebih seperti ini:

Screen Shot 2020-04-19 at 22.20.29

Walau tentu saja yaa dalam penerapan waktunya saya tidak sesuai dengan waktu sekolah, heuehue, karena biasanya saya baru bisa fokus untuk membantu pekerjaan sekolah Khalif mulai pukul 10.00 ke atas. Mungkin terkesan lebih sederhana dari tugas sekolahnya Azka, namun ternyata tidak demikian. Materi pembelajaran di sekolah Khalif tidak menggunakan buku pelajaran, tidak menggunakan buku tulis, dan tidak menggunakan pensil. Wwkw. Oh ya! Sekolah Khalif namanya Arunika Waldorf –  di sana murid kelas 1 menggunakan kertas gambar ukuran A3, krayon khusus dari beeswax, dan buku pelajaran mereka adalah buku yang mereka buat sendiri. Pokoknya seru! 😀

Ritme hariannya akan dibuka dengan sajak pagi, recall, bernyanyi lagu pilihan, kemudia gerak ritmik, puisi, dan paperwork. Semua hal ini kalau dijalankan dengan seksama akan memakan waktu 2 – 2.5 jam. Nah, kesalahan saya di minggu ke-1 dan ke-2 saya ga terlalu involve dengan tugas sekolah Khalif karena saya pikir itu tugas PapaAra. Karena sedari awal Khalif masuk SD, kami sepakat bahwa Ara akan lebih banyak berhubungan dengan sekolah Khalif, sementara saya fokus dengan Azka. Nyatanya tidak demikian huhu. Apalagi SFH ini ternyata Ara juga lumayan intens untuk meeting dan memberikan Pengajaran Jarak Jauh. Jadi ya sudah lah, di minggu 3-4 saya lebih fokus menemani Khalif.

Jujur saya menikmati semua kegiatan #dirumahaja ini. Tapi memang saya melihat ada beberapa kebutuhan Khalif yang mendadak lebih sering memperlihatkan afeksinya ke saya – sebetulnya hal yang wajar seperti mencium tapi intensitasnya jadi lebih sering. Kemudian dia suka jahil (mencari perhatian) banget ke kami semua di rumah (dia memang paling jahil sekali dan ngabojeg kayak Papanya), kadang jika di waktu yang tidak tepat si kejahilannya ini bikin saya keselllll, Azka kesellll, Papanya keselll. Padahal Khalif mungkin hanya ingin berinteraksi saja dan punya kebutuhan berkoneksi lebih lama dengan kami semua. Karena di sekolahnya Khalif cukup terkenal sebagai teman yang bijak, dapat diandalkan, dan tidak pernah jahil (ini menurut testimonial teman-temannya x)). Tapi kenapa di rumah dia jadi iseng gini ya??

Saya ceritakan hal ini ke Bu Manda dan beliau menyarankan membaca tulisan dari artikel di Psychology Today – 10 Habits to Strengthen a Parent-Child Relationship dan menerapkan ini:

Aim for 12 hugs a day. Saya bagi jadi 3 peluk pagi, 3 peluk siang, 3 peluk sore, 3 peluk malam. Nah klo di rumah kan bisa dapetin dari 3 org berbeda  (papa, ibu, aa; atau bisa dibagi Pagi: 3 hugs ibu, siang 3 hugs papa, sore 3 hugs aa, malem 1 hug each ibu, papa aa atau bebas mau gimana aturin pembagiannya bebaskeun). Dan pas hug time (kalau saya suka pake waktu sholat, krn pas sholat yg 5 menit itu kita kan rehat sebetulnya, sekalian aja luangin barang 5 menit for the hugs.) itu kita bisa rehat sejenak, attend to the child (ask what he needs, respond to his stories dll), lalu timing itu bisa kita jadiin benchmarking.. Nanti kita ngobrol lagi siang/sore dll dsb. Nah kalau diantara waktu itu tadi dia udah “check in” atau minta perhatian lagi, bisa dijawab, waah harus di-charge peluk ya? okei.. skrg satu atau dua, nanti versi full ato penuhnya jam sekian yaa (sesi hug berikutnya). Peluk yg kenceng dan klo perlu sampe dia rada tertekan atau aga sesek sekian detik gapapa. Di situ dia, tubuh dan sense of touch nya dapet deep pressure, yang sebetulnya anak butuhkan saat dia minta rough-housing. Nah si mini hugs ini bisa jadi cicilan/ outlet kecil kecil kebutuhan sense of touch nya akan deep pressure.

Yah, mungkin yang saya anggap pelukan yang saya berikan sudah cukup, perhatian sudah cukup, dan ajak main sudah cukup nyatanya tidak demikian untuk Khalif kali ya. Berlaku juga untuk Azka sih…

Qualify Your Quality Time

Membaca artikel tersebut juga bikin saya merasa bersalah bannget karena sering kali tidak hadir 100% untuk anak-anak ketika mereka sedang berinteraksi dengan saya. Tak jarang ketika Azka dengan semangat bercerita suatu kejadian seru dari buku yang sedang ia baca, saya mengomentari hanya dengan “Ohh, gitu, yaya” dan kemudian pikiran saya melayang entah ke mana. Juga dengan Khalif yang kadang ajak ngomong di saat saya sedang melakukan sesuatu jadi memang ga bisa fokus atau sedang pegang hape; “Ibu, lihat aku Bu, lihat aku. Duh, nyess banget kalau inget-inget itu sering terjadi (kadang kita sadar kita salah tapi pada prakteknya suka lupa ya).

Dan selama pandemi ini berlangsung, jujur saya masih belum merasa terganggu atau resah. Karena dari awal saya langsung mental shifting dan ingin produktif dari rumah. Kondisi ini mengingatkan saya ketika masa-masa winter di New Bedford yang memang gak memungkinkan untuk keluar rumah (kadang snowstorm, jalanan penuh salju tinggi, suhu minus dll). Jadi bagi saya ini kesempatan untuk belajar banyak hal baru (buat diri saya sendiri) karena anak-anak khan sudah bisa lebih dilepaskan.

Nyatanya tidak demikian, demand dari Azka dan Khalif untuk meminta khusus perhatian saya (di luar mendampingi mereka belajar, di luar menyiapkan masakan, di luar melakukan pekerjaan rumahtangga) itu ada – yakni bermain dan mendampingi secara utuh. Tanpa distraksi. Yang mana kadang saya khan suka sambil nyambi balesin chat WhatsApp, buka IG liat notif, bayar-bayar online, dll.

Sementara saya ngerasa udah cukup kasih 1/3 waktu saya untuk mereka. Nyatanya 1/3 itu tidak berkoneksi – karena bagi mereka itu khan bukan waktu bersenang-senang (karena itu mah dampingi belajar). Jadi, mulai di minggu ke-4 saya saya tinggalkan Instagram (beserta membuat konten dan belajar buat diri saya di malam hari yang mana minggu-minggu sebelumnya semangat amat belajar ngedit video pake Filmora) –  haahhah. Jadi waktu sore 2-3 jam saya lebih banyak kegiatan berarti untuk berinteraksi sama mereka, dan di malam hari (Jumat-Sabtu) bisa nonton 1 film sama mereka. Karena seringnya mereka minta ditemenin nonton tapi saya pengen me time, sehingga mereka nonton sayanya ngeluyur depan komputer.

Di masa #dirumahaja ini juga saya merasa Azka Khalif banyak bersabar dan mengingatkan saya untuk bersabar; “Ibu, kenapa mukanya kayak tidak bahagia?” (HAHAH YA ABIS NYUCI PIRING untuk ke-1670xnya), “Ibu kalau marah-marah kayak gitu nanti setan seneng loh sama Ibu” -______-. “Ibu kalau marah-marah terus masuk neraka lho!” —_____—, “Ibu senyum dong Bu”, “Kok senyumnya kayak orang sombong/ kayak terpaksa/ kayak gak ikhlas”, “Senyum dong Ibu, nah gituu” – pokoknya saya senyumnya harus sumringah seperti tak ada beban kehidupan gitu lah. Dan mengapresiasi hal-hal yang saya lakukan “Bu, peluk dulu sini” “Bu, aku sayang Ibu yaa”, “Ibu you’re the best!”, dan Azka mengingatkan: “Bu, kayak tulisan di Selaras dong: Qualify your Quality Time” #JLEB.

Sejalan dengan itu saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip dari artikel 10 Habits to Strengthen a Parent-Child Relationship:

Most of us go through life half-present. But your child has only about 900 weeks of childhood with you before he leaves your home. He’ll be gone before you know it.

Try this as a practice: When you’re interacting with your child, show up 100%. Just be right here, right now, and let everything else go. You won’t be able pull this off all the time. But if you make it a habit several times a day, you’ll find yourself shifting into presence more and more often.

And you’ll find a lot more of those moments that make your heart melt.

Jadi, mari, kita hadir sepenuhnya #dirumahaja bersama keluarga. SIAP!!

2 thoughts on “Sebuah Refleksi – #DiRumahAja Minggu ke-4

  1. Unik banget yaa cara belajarnya Khalif. Btw, aku juga merasakan cangkeuuul cuci piring, baru beres nyuci eh ga lama kemudian udah nambah lagi Gustiiiiii. Semoga waktu bareng orang2 di rumah semakin berkualitas ya Chicaa, stay safe and well ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s