Mengejar Pesta Boneka #6

Tahun 2018 merupakan tahun yang tak terlupakan, tentu saja alasan utamanya adalah kepergian Ardha yang juga memberi banyak saya merefleksikan kembali banyak hal dalam diri saya – terkait hubungan dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Termasuk di tahun ini saya melakukan perjalanan ke Yogyakarta bersama Khalif karena ingin mengejar nonton Pesta Boneka (12-14 Oktober 2018).

Pesta Boneka merupakan sebuah festival teater boneka dua tahunan (International Biennale Puppets Festival) berskala internasional yang dihelat oleh Papermoon Puppet Theatre sejak tahun 2008. Pesta Boneka di 2018 ini merupakan penyelenggaraan yang keenam kalinya. Tujuan dari si acara ini utamanya adalah sebagai sebuah ruang untuk bertemu dan berinteraksi, tidak hanya bagi para seniman teater boneka dari Indonesia dan berbagai penjuru dunia, namun juga bagi siapa saja. Melalui Pesta Boneka, publik diharapkan bisa melihat bagaimana teater boneka digunakan dan berperan dalam menyampaikan pesan, dan ikut terlibat di dalamnya.

Pesta Boneka #6 mengambil tajuk “The Journey” dengan beberapa program “road to” yang telah dilaksanakan sejak September 2018 lalu meliputi 17 workshop/lokakarya, screening film animasi, bincang seniman, serta pementasan/presentasi karya. Pesta Boneka tahun ini mengajak semua orang untuk merayakan makna atas sebuah perjalanan, pengalaman, dan penghargaan atas keragaman budaya dan kultur yang ditemui (sumber di sini).

40278907_237381020291101_8506982964213331304_n

Sebelum ke Yogya, saya juga menyempatkan nonton pertunjukan PUNO (Letters to the Sky) ketika Papermoon datang ke Bandung di bulan Agustus. Pementasan ini mengisahkan hubungan kasih sayang antara seorang anak perempuan bernama Tala dengan ayah (yang sekaligus keluarga satu-satunya), yang ia panggil Papa Puno. Saya amat bersemangat nonton PUNO – karena Papermoon jarang-jarang banget ke Bandung  dan pertunjukan ini sukses ditampilkan di berbagai negara. Pas banget pula pertunjukannya di Bandung adalah di hari saya berulang tahun dan di 100 hari kepergian Ardha. Jadi semacam farewell buat saya ke dia (maksud hati demikian).

puno-7

puno-1
Foto Pappermoon Puppet Theater

Namun saya punya kekecewaan tersendiri ketika menonton pertunjukan yang dilakukan di IFI Bandung ini – sebetulnya bukan salah Papermoon-nya sih, tapi lebih kepada why oh why tempat pertunjukan yang sangat jauh dari ideal. Kombinasi antara bagaimana saya harus mengatur sedemikian rupa untuk nonton ngampar dengan kaki ga semutan dan cangkeul di ruangan IFI yang mungil dan diisi entah-berapa-ratus orang yang menonton plus seating saya ga pas aja untuk bisa khidmat menikmati pertunjukan (ga jelas terlihat gerak-gerik si puppeter. Ga bisa leluasa nonton karena sempit, dan kalau saya gerak sedikit membuyarkan situasi kondisi duduk penonton lainnya. Ah, ya gitu lah. Intinya sih saya mungkin ekspektasi ketinggian terhadap overall experience, jadinya berujung kecewa sendiri (kecewa karena rasa yang saya terima tidak seperti yang saya harapkan dari pertunjukan yang mengangkat tentang grief ini). Intinya saya pengen bisa melepaskan rasa tapi saya ga nangis sama sekali karena rasanya ga sampai, huhuhuhuhu.

 

Ok, balik lagi ke Pesta Boneka ~ yang pada akhirnya saya cuman bahas dikit aja di sini wkwkkw. Karena yang berkesan dari perjalanan mengejar Pesta Boneka ini adalah karena perjalanan ini saya lakukan bersama dengan Khalif. Berdua saja…!

Tujuh puluh dua jam bersama Khalif cukup banyak kejadian yang ngaco banget dari saya; dari mulai nyaris tertinggal kereta berangkat (yang mana dramatis banget kejadiannya, ngebut dengan gojek, lari-lari dari gerbang stasiun, ngeprint tiket kereta, kereta udah bersiap berangkat sampai akhirnya si bapak tentara -suka ada tentara gitu khan di deket bagian masuk ke area keberangkatan di stasiun- teriak-teriak agar kereta distop supaya saya dan Khalif bisa naik. Sesampainya di atas kereta ambil nafas – jantung rasanya, literally, kayak mau copot. Pas akhirnya duduk, minum, dan cek tas – TERNYATA dompet gak kebawa saudara-saudara…! Yang mana tentu saja urusannya menjadi: ga ada uang tunai, ga ada debit card (dan ga punya credit card juga), terus ke sananya ternyata salah reservasi guest house di hari kedua (jadinya dapat kamar non-AC yang cukup bikin Khalif nelangsa sampai kebangun 4x), dan yang paling poll adalah… Salah booking tiket kereta pulang. Yang harusnya pukul 00.15 WIB tgl 15 Oktober (Senin), yang dibeli adalah pukul 00.15 WIB tgl 14 Okt (Minggu)😰😰😰.

Kacau, udah ga paham lagi sama diriku ini. Tapi di antara kesulitan memang ada kemudahan – sebut saja di kereta yang sama, di gerbong berbeda ternyata ada Kak Claudine (teman dari Komunitas Bengkimut dan sekarang juga jadi librarian di Pustakalana) yang bisa saya mintai cash dan saya transfer pakai mobile banking…! Waktu itu sebetulnya banyak opsi (dari Instagram Story) yang menyarankan pake BCA bisa kok cardless, tapi opsi ini belum sempat saya coba. Setidaknya satu permasalahan teratasi. Perihal salah beli tiket, salah pesan kamar, dll sudah lah ya, dijadikan pengalaman saja x))

Sehingga 72 Jam bersama Khalif porsinya malah lebih banyak jalan-jalannya ketimbang untuk explore Yogya ketimbang ke Pesta Boneka. Kami ke Java Poetry – Gembira Loka – Malioboro – Taman Pintar – Museum Affandi – LOL YK (festival makanan dan produk lokal)- Vrederburg Fair – Pasar Patuk – Sindu Kusuma Edupark – Tempo Gelato – Desa Kepek (melihat Pesta Boneka).

Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan yang sangat menyenangkan Khalif…! Walau banyak sekali human error-nya Ibu (baca: ceroboh yang kebangetan), Namun di balik kekrezian ini, banyak sekali nikmat yang kita dapatkan dan utamanya berdua Khalif selama 3 hari terakhir bikin Ibu sadar kalau selama ini udah salah “melabeli” Khalif. Takut Khalif capek. Takut Khalif ga kooperatif. Takut Khalif ga enjoy. Ga mau coba ini itu. Dll.

 

Salah banget 😭😭. Ternyata justru Khalif yang bisa diajak sigap bangun bergegas di pagi hari, semangat explore, mau coba kuliner-kuliner baru (termasuk di warung, panas, ga kondusif, ada orang ngerokok, lesehan, dll), mau diajak susah naik kereta bisnis, kemana2x naik goride, dan mau tinggal di guest house tanpa mengeluh sama sekali (walau awalnya kekeuh hanya mau di hotel). Mau diajak pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya walau udah capeee banget tapi masih mau jabanin.

Thank you for sharing your enthusiasm and views during our trip Khal. I can’t wait for our next trip together!


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s