Menjalani Gaya Hidup Less Waste – Part 2

infographic-reduce-reuse-recycle

Postingan kedua ini saya akan highlight beberapa hal terkait dengan gaya hidup less waste dalam kehidupan sehari-hari atau secara praktisnya apa saja yang perlu dilakukan.

Kita pasti udah super familiar sama yang namanya 3R – mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse), serta mendaur ulang (recycle). Namun dalam upaya mewujudkan zero waste, sebetulnya upaya yang dibutuhkan adalah:

REFUSE – REDUCE – REUSE (+ REPAIR) – ROT – RECYCLE – LANDFILL. 

Zero+Waste+inverted+pyramid+of+waste-+refuse,+reduce,+reuse,+rot,+recycle,+and+landfill+from+www.goingzerowaste.com

Jadi opsi recycle itu sebetulnya udah effort paling akhir sebelum akhirnya masuk ke landfill (TPA). Dan ini terkait juga dengan ekonomi sirkular yang diciptakan guna mengurangi eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan, kesehatan dan ekonomi dunia.

Untitled-1
Unlike the linear model of business that consumes and wastes resources, the idea behind Circular Economy is to mirror the ecosystem that leaves nothing wasted. Everything, from clothing to household items to food and tools, have a purpose and an after-life-purpose, so that “traditional waste” can be something useful to others or in another form.

Refuse

Ada alasan kenapa saya memilih untuk dine in (makan di dalam resto) ketimbang take away. Ada alasan kenapa saya memasak di rumah setiap harinya, ketimbang memesan GO-FOOD. Ada alasan kenapa saya ga suka mall dan jajan di mall. Ada alasan kenapa saya memilih berbelanja di pasar tradisional ketimbang di supermarket. Ada alasan kenapa saya jarang banget jajan ke Alfa/Indomaret.

Semuanya kembali kepada “refuse”. Menolak. Menolak bukan hanya menolak plastik saat mbak-mbak kasir serta merta memasukkan belanjaan kita di kantong plastik. Karena buat sebagian orang memberikan pernyataan sesederhana “Ga pake plastik ya Mba/Mas” adalah cukup berat. Namun juga refuse ini ya, menolak jadi bagian masyarakat ketergantungan plastik.

WhatsApp Image 2019-03-01 at 20.20.45
Pemandangan setiap abis acara di ITB (dan di beragam tempat). Heran aku tuh. HERAN.

Saya berhenti memesan GO-FOOD mungkin sudah setahun lebih, walau sesekali ada saja sih apalagi kalau lagi main sama temen-temen dan mereka memesan makanan (jadi ikutan latah mesen). Alasannya sesederhana karena kalau saya pesen makanan dari GO-FOOD/GRAB/Apapun, maka saya akan menghasilkan 1 plastik kemasan, 1 box makanan (setidak-tidaknya), 1 plastik kecil buat sambel, 1 plastik kecil buat kuah, 1 plastik kecil buat kerupuk. Kebayang ga sih, itu baru buat 1 orang lho. Kalau sekeluarga ada 4 orang, apa kabar? Dan itu semua jenis sampah yang akan jadi sampah seumur hidup sampah tersebut.

Begitu juga dengan makan di restaurant/warung/kedai yang saya selalu usahakan dibanding take away. Sering kali saya berasumsi bahwa jika dine-in, maka perabot makanan akan sepenuhnya terbuat dari bahan-bahan NON sekali pakai. Tapi ada baiknya ditanyakan, karena tak jarang juga walau sudah makan di kedai, ada saja kedai/resto/warung yang menyajikannya dengan sendok/garpu/piring/cup plastik.

Saya juga mulai stop untuk minum Eskosu di kedai kopi (walau ya 1-2x boleh lah dalam sebulan), sesederhana karena kedai kopi emang sangat jarang menyajikan minuman eskosu dalam gelas kaca. Dan juga karena lebih hemat aja sih, kalau bikin kopi sendiri, hehe.

Ohya, yang bikin kesel sering kali adalah karena pihak kedai makanan/minuman tidak terinfokan tentang gerakan mengurangi plastik ini. Utamanya sedotan deh. Duh, saya sampai sering banget ngalamin udah bilang ke waitressnya beberapa kali “Mbak/Mas ga pakai sedotan yaa”, tetep aja minuman yang datang udah dikasih sedotan. Sedihnya mereka juga DIDN’T GET IT, jadi kalau kita sampaikan “Khan sudah saya bilang ga pakai Mbak/Mas…?), dan dengan lempengnya “Ohya gapapa Mbak, sini saya ambil lagi sedotannya”. WALAH, lebih sia-sia ya hidupnya sedotan cuman dicelup bentar trus jadi sampah. Kalau dalam kasus gini saya pasrah, saya ambil sedotannya dan simpan (ya tetep jadi tanggung jawab saya sampahnya).

Bagaimana dengan fast food? Sudah pasti ini opsi terakhir dalam pemilihan jajan dan makan di luar. Saya bener-bener jarang makan fast food (kalau ga kepepet banget) dan jengah dengan kelebay-an mereka dalam packaging segala sesuatunya.

dechet
Dan yang bikin stress adalah kebiasaan orang Indonesia abis makan fastfood ini meninggalkan semua sampahnya di atas meja dalam kondisi berantakan (apakah bisa membiasakan diri merapihkan atau membuang sampahnya di trash bin?)

Refuse lainnya adalah TIDAK membeli produk di supermarket yang sudah dibungkus dengan styrofoam dan plastik wrap. Saya suka stress lihat kayak gini:

WhatsApp Image 2019-03-01 at 20.20.42
Gemes aja sih, ada peraturan pemerintah kayak gini tapi PLASTIK dalam format lainnya merajalela.

Reduce/ Replace/ Reuse

Dalam upaya REDUCE yakni mengurangi dan REPLACE yakni menggantikan, dan Reuse yakni gunakan kembali, saya selalu membawa hal-hal essential ini ketika berbelanja dan sehari-hari.

  1. Membawa tas belanja dan kontainer. Kontainer ini membantu banget ketika membeli daging dan ikan.
WhatsApp Image 2019-03-01 at 20.20.52
Perlengkapan Wajib ketika berbelanja

2. Tas Serut

Tas ini andalan banget deh…! Beli dari Keranjang Segar dan sturdy, jadi bakalan awet. Beli 3 buah ukuran S, M, L seharga 50K –> bisa pesen via @tobula.id yaa. Atau ke aku juga bisa lah #kenapajadijualanwoyy.

 

3. Perlengkapan sehari-hari di dalam tas

Ada apa aja? Stainless straw, sumpit, sendok-garpu, tas lipat 2 buah, beeswrap untuk bungkusan, botol minum (benda paling wajib), dan saputangan.

P3020050.jpg

Untuk botol minum, aku sebetulnya biasa membawa yang ukuran 1.5L. Dan sebetulnya yang bikin suka sedih adalah, ketika minuman yang aku bawa habis dan aku mau minum, aku sulit mencari tempat buat isi ulang/ refill station. Kalau di luar mah ada yaa tap water. Kalo di sini, ada beberapa opsi:

  1. Di Masjid pasti ada. Masjid Salman, Al-Latief, Masjid di Paskal 23, Masjid Al-Mutahid, dll. I heart you Masjid…!
  2. Di tukang jualan atau warung – kalau melihat ada galon, tanyain aja, boleh isi ulang? Bilang aja, dihargai sesuai dengan beli botol kemasan. Misal aku isi 1.5L full di botol minumku, maka aku akan bayar 7rb sesuai dengan harga jualannya si Ibu/Bapak untuk air mineral dengan ukuran yang sama.
  3. Di depot isi ulang. Wah ini menyenangkan banget kalau ada di tiap sudut kota x) Sayangnya jarang ya. Aku sempet isi di dekat unpar. Murah banget 3rb untuk full 1.5L.

Dan ada aplikasi ini…! https://refillmybottle.com. Bisa diunduh yaa…! Kita bisa tau di mana saja bisa isi ulang dan ada keterangannya juga untuk harganya berapa per liter.

Saya bener-bener berharap temen-temen yang punya rumah makan bisa menerapkan ini di rumah makan mereka, karena sungguh akan sangat memberikan manfaat kepada lingkungan. Stress banget akutu kalau liat di resto penuh orang memesan minuman air mineral, dan dikasihnya khan ukuran kecil ya… 1 orang bisa pesen 2-3 botol jika stay lama di resto tersebut. Padahal kalau ada refill station, sampah-sampah botol tersebut tidak perlu tercipta.

4. Kontainer  (lagi)

Wajib bawa kontainer jugaaa karena aku hobinya jajan xD. Jadi sedia wadah sebelum jajan…! Aku juga bawa si beeswrap (tapi ga bisa tahan panas dan ga bisa untuk makanan berbumbu) dan snack bag.

5. Menstrual Pad dan Menstrual Cup

Mohon abaikan ya corak hello kitty pada menstrual pad saya (AKIBAT mengabaikan isian warna/motif di tokped huhu). Alhamdulillah salah satu “cita-cita” untuk tidak lagi menggunakan pembalut sekali pakai dapat terlaksana sudah 4 bulan terakhir…! Buatku menstrual cup ini super nyaman walau awalnya terasa MENGERIKAN. Dan menstrual pad juga menyenangkan banget, ga ribet nyucinya kok…! Please para wanita kalau bisa beralih yaa ke pad (or even better ke cup!), karena sampah dari pembalut itu selamanya tak akan terolah alias residu. Ohya, nanti saya bahas secara terpisah perihal kedua benda ini 😀

WhatsApp Image 2019-03-01 at 20.20.53

6. Sikat Gigi Bambu

Aku suka banget sikat gigi bambu…! Super AWET karena udah hampir setahun aku ga ganti-ganti HAHAH. Biasanya khan 3 bulan sekali ganti ya… ini awet sekali lho…! Waktu itu belinya di Warung 1000 Kebun, tapi di Shopee juga banyakk.

maxresdefault-9
Source foto: Pinterest
Nah, PR terbesar aku sebetulnya adalah mengganti si shampoo menjadi bar shampoo, bikin reusable facial pads, sabun batangan (sesekali sih pakai tapi buat keluarga masih susah, sukanya pakai cair. Mungkin emang harus bikin sendiri), bikin detergen, bikin sabun cuci piring, dll. Jadi satu-satu dulu aja yah biar ga overwhelmed…!
Karena yang terpenting memang kita harus bisa jalani ini dengan mindful, konsisten, dan tentu saja dengan happy…!

Repair

Yang ini yang kadang agak sulit, bukan karena apa-apa, tapi karena pemalesan aja.  Namun untuk barang elektronik yang rusak, biasanya Ara rajin untuk ngulik; dan lumayan lho, waktu itu Ozu punya Mac yang dibelinya di tahun 2012 dan udah ga berfungsi optimal, thus jadi junk. Tapi kemudian sama Ara diperbaikin, dan sekarang berfungsi baik-baik saja 😀 (walau tetep harus ganti baterai dan beberapa part).

Rot

Selain sampah organik umum (sisa kulit buah, sayuran, dll), saya sudah mulai memisahkan ampas kopi, cangkang telur, dan jeruk terpisah dari sampah organik lainnya. Karena masih bisa dimanfaatkan menjadi pupuk.
Air Cucian Beras
Ini mah wajib yaaa, air cucian beras dipisahkan dan dimanfaatkan untuk. menyiram tanaman atau buat wajah juga sangat bagus. Dulu, pas hamil Azka saya rajin menggunakan ini atau uap dari menanak nasi x)) Sekarang mah, hoream. Tapi mau mulai rajin lagi ah…!
air-bekas-cucian-beras-air-bekas-mencuci-beras_20171220_072926.jpg
Ampas Kopi

Pernah membayangkan berapa jumlah limbah kopi dalam sehari? The Coffee Ground to Ground, pengolah ampas kopi yang berdiri sejak 2010 di Austin, Texas, AS, pernah menghitung rata-rata 20 gram ampas kopi dibuang tiap satu cangkir. 20 gram terlihat tidak begitu banyak. Tapi bagaimana jika ada 5.000 cangkir yang masing-masingnya berisi 20 gram kopi. Jawabannya: 100 kilogram ampas kopi! Kalikan lagi dengan jumlah warung kopi di daerah kamu. Permasalahannya baru kelihatan di sini.

Pembuangan ampas kopi berimplikasi pada meningkatnya volume sampah di tempat pembuangan akhir (TPA). Anda pernah main ke TPA? Kalau ampas kopi (dan kertas filter) anda terbuang begitu saja, bisa dipastikan anda secara tidak langsung menyumbang penumpukan sampah (sumber: majalah otten)

Berhubung saya dan Ara adalah peminum kopi (walau bukan yang gimana-gimana banget, tapi tetep harus ngupiii), jadi tiap hari ada ampas kopi dan kami pisahkan sampahnya. Kalau dibiarin kelamaan biasanya akan berjamur, jadi maksimal di 3 hari udara terbuka. Tinggal ditaruh saja di tanaman, lalu ditutup kembali dengan tanah.
ampas-kopi-jar-570x320
Ampas kopi bisa dijadikan pupuk karena masih banyak sekali kandungan yang terdapat dalam kopi
“Ampas kopi punya banyak kandungan yang berguna bagi kesehatan tanah. Kandungan gas nitrogen yang relatif tinggi –dengan rasio karbon dan nitrogen 20-24:1, membuat ampas kopi berkontribusi banyak untuk membuat kompos berkualitas. Tinggal campurkan saja dengan daun-daunan dan kompos organik yang kamu punya. Keasaman ampas kopi yang relatif lebih rendah (6.9-6.2 pH) membuatnya ramah untuk dikonsumsi tanaman. Tingkat keasaman ini bisa tinggi apabila penyeduhan sebelumnya ekstraksi tidak optimal”

Selain itu, ampas kopi juga mengandung senyawa fosfor, potasium, magnesium, dan sedikit tembaga. Artinya, kamu tidak perlu beli bahan-bahan tambahan, karena semua itu sudah ada pada ampas kopi. Selain cuaca, salah satu tantangan ketika berkebun adalah hama. Kalau kamu punya ampas kopi, hama bakal terkontrol. Ampas kopi yang sudah dicampur dengan tanah terbukti bisa menghalangi masuknya hama seperti siput masuk ke area kebun. Ini sudah dilakukan di perusahaan olah ampas kopi Reground, Melbourne, Australia.”. Baca selengkapnya di sini.

Cangkang Telur
4_eggshell-calcium-how-to-remineralize-teeth-naturally-500x332

Pupuk dari cangkang telur yang kaya kalsium dapat bermanfaat untuk pertumbuhan batang tanaman. Caranya mudah banget, cuci (biar ga bau), keringkan, tumbuk lalu sebarkan dalam pot/tanah. Dapat berfungsi sebagai pertisida alami dalam membasmi semut/serangga tanah juga.

Jeruk/ Lemon/ Citrus  

Saya belum istiqomah untuk hal satu ini. Kalau duluuu pas anak2x masih kecil, selalu dibela-belain bikin pakai vinegar dan baking soda aja untuk bebersih. Tapi sekarang suka mager x)

Yaaa tapi barangkali mau coba, kulit dari buah2an citrus ini bisa dicampur dengan cuka. Biarkan selama 2-4 minggu dalam wadah tertutup. Setelah itu dapat digunakan untuk multi purpose cleaner.

Lanjut di Part 3 yaa…!

One thought on “Menjalani Gaya Hidup Less Waste – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s