Menjalani Gaya Hidup Less Waste – Part 1

Sebetulnya saya maju mundur mau menulis tentang topik ini sejak dua tahun lalu baik di blog maupun di Instagram feed. Kenapa? Karena kalau liat di media sosial (Instagram), udah banyaaaaak banget yang ngebahas ini dan ngejalanin dengan lebih optimal dan mantul (mantap betul) gaya hidup zero waste-nya dan saya ngerasa kayak “urang teh belum melakukan sebagaimana si eta dan si eta”, jadi sudahlah ga usah ditulis, masih banyak yang kompeten dan istiqomah menjalani gaya hidup less waste daripada saya.

1-5a20f291fcf6812628441132.jpg
Lautan plastik di Pantai Muaro, Padang. 2017. – Kompasiana

Tapi setelah saya renungkan, daripada cuman berbagi kegelisahan saya di Instagram Story saja, kayaknya akan lebih berfaedah dan bermanfaat untuk banyak orang (jika ada yang membacanya) jika saya tuliskan dalam blog post dengan harapan bisa lebih terakses dengan baik. Karena sejujurnya lagi, setelah melihat kondisi di kehidupan nyata (yaaa sehari-hari liat kelakuan masyarakat) yang gemar sekali menggunakan kantong plastik, buang sampah, masih pakai sedotan, masih pakai botol air minum kemasan sekali pakai, dll, saya rada HOPELESS tentang perilaku orang “kita”. Dan ga cuman di Indonesia aja sebetulnya, pas di Amerika juga sama aja parahnya kelakuan orang-orang. Entah ga peduli, ga mau peduli, atau gimana yah. Padahal sebetulnya kalau alam rusak, bukannya manusia juga ya yang sengsara? Lalu, kenapa ga ada keinginan untuk menjaga alam?

WELL anyway…

Sebelum melangkah lebih jauh, buat yang belum familiar, apa sih sebenarnya zero waste itu?

Zero Waste adalah filosofi yang mendorong pendesainan ulang siklus hidup sumber daya sehingga semua produk digunakan kembali. Tujuannya agar sampah tidak dikirim ke tempat pembuangan sampah, insinerator, atau laut. Proses yang direkomendasikan adalah serupa dengan cara sumber daya digunakan kembali di alam.

Intinya NOL SAMPAH dan tidak akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir karena semuanya akan dapat dimanfaatkan. Buat saya rasanya masih jauh untuk dapat disebut menjalankan gaya hidup zero waste, maka saya selalu sebutnya less waste.

Peduli Lingkungan, Sejak Kapan?

Untuk orang yang kenal saya secara personal, pasti tahu betapa “rese”-nya saya terhadap isu lingkungan sedari dulu. Dulu itu kapan ya? Hmm, mungkin dari SMP (circa 97). Tapiiii dari SMP hingga sekarang, tentu progresnya jauh ya. Kalo SMP masih sebatas tidak membuang sampah sembarangan atau menyimpan sampah di dalam tas/kantong kalau tidak ada tempat sampah, SMA mulai menegur orang lain yang membuang sampah sembarangan, yang merokok dalam angkutan umum, yang buang puntung rokok sembarangan (pokoknya saya caur banget haha), kuliah mulai bawa tas belanja dan menolak plastik, saat jadi pekerja kantoran aktif sebagai ketua organisasi pegawai gitu di perusahaan tempat saya bekerja, lumayan rajin mengadakan event pengumpulan baterai bekas, kampanye mengurangi ngeprint dengan kertas baru (encourage menggunakan reuse), membuat kaos bernafaskan isu global warming “I heart Earth” (yang menurut saya keren banget haha, karena ada cara-cara untuk menyelamatkan lingkungan) dan “It’s Getting Hot”, hingga membuat foldable bag untuk beberapa acara komunitas (era “I am not a plastic bag”).

Hingga puncaknya adalah saat merantau di AS; memisahkan sampah (karena memang kotanya menerapkan prinsip memilah sampah untuk direcycle), mulai aktif di kerja bakti lingkungan, sebulan sekali ke recylce landfill-nya New Bedford karena tempatnya menyenangkan (dan bisa pilah-pilah sampah lebih mendetail sesuai nomor plastik), dan karena menjadi Ibu baru dan sangat tidak ingin banyak harmful chemicals di rumah; membuat sendiri all purpose cleaner, sangat into organics dan NON-GMO products. Sempat juga menjadi vegetarian dan vegan walau hanya bertahan 4 bulan x) HAHA.

Saya ingin jadi vegan pada waktu itu karena anti dengan si sapi-sapi penghasil gas metan dan menyebabkan pemanasan global. Walau akhirnya tidak bisa hidup tanpa yogurt, keju, susu, dan produk-produk turunan sapi. Jadi hingga sekarang yang dibatasi hanya konsumsi daging merahnya saja.

Saya akui proses saya melalui itu semua agak tergesa-gesa dan belum melalui yang namanya proses berkesadaran atau bahasa kerennya “conscious living” lainnya – sehingga menyebabkan kurang istiqomahnya saya dalam menjalani gaya hidup ini.

Dan saat ini di Bandung, melalui kegiatan-kegiatan di Pustakalana saya juga aktif mengkampanyekan acara berbasis zero waste. Jadi segala macam konsumsi dan dekorasi, diusahakan tidak “nyampah”. I’ll tell more about how managing a zero waste event for small scale and big scale in a separate post. 

Manajemen Sampah Rumah Tangga

Sekembalinya di Indonesia di 2015, saya dihadapkan pada isu-isu yang menurut saya pada akhirnya sudah menjadi budaya turun-temurun yang AGAK sulit untuk diubah. Awalnya saya begitu kesal kalau datang ke rumah teman atau ke rumah orangtua dan mertua saya yang mencampurkan begitu saja sampah-sampah; organik dan anorganik. Bahasa sederhananya sampah basah dan sampah kering. Jika perlu dielaborate lebih jauh, sampah basah: sisa kulit buah, sisa sayuran, cangkang telur, roti jamuran, intinya sisa makanan. Sementara sampah kering secara umum berisi : plastik, kertas, gelas, alumunium, dll.

Saya selalu menanyakan dengan hati-hati kepada mereka “Kenapa tidak dipisah sampahnya?”, “Ya ngapain Cha dipisah, nanti udah capek-capek dipisah sama mamang sampah (petugas kebersihan) juga digabung lagi. Males khan, jadi yaaa gabung ajalah!”. Biasanya kalau dibalas demikian, ingin rasanya saya jawab lagi “Gapapa, dipisah saja, karena sampah-sampah yang memiliki nilai ekonomis jadi ga bisa terpakai lagi/ didaurulang kalau digabung dengan sampah organik. Jadinya bau dan kotor. Belum lagi sampah organik itu menghasilkan biogas, dan bisa berbahaya lho kalau diikat dalam kantong kresek. Bisa bikin meledak kayak kejadian di Leuwi Gajah, Bandung tahun 2004 silam”.  Tapi setelah 2-3x seperti itu dan tak menuai tanggapan yang baik dari yang empunya rumah, dan malah bikin saya kayak makin rese dan sotoy jadi saya biarkan saja.

Jadi harus bagaimana? Bagaimana manajemen sampah yang baik untuk di rumah? Dan solusinya gimana?

Langkah paling sederhana untuk memilah sampah:

  1. Siapkan 1 container ukuran sedang di dekat tempat cucian. Sehingga jika ada sampah sisa makanan, semua akan dimasukan ke dalam 1 container tersebut
  2. Siapkan 2 container lainnya untuk: sampah kering berupa plastik, kertas, gelas, dll. Ketika membuang sampah-sampah ini, pastikan bahwa plastik (misal sisa beli sayur organik) itu bersih. Kalau kotor atau ada sisa daunnya, Anda memang harus mencucinya terlebih dahulu, lalu dijemur. RIBET ya? Emang ribet x) Kalau belum sanggup, ya setidaknya dipisahkan dulu saja yaa kedua jenis sampah ini.
  3. Sampah lainnya adalah sampah residu: sampah jenis ini termasuk kayak pembalut wanita sekali pakai, pospak, cotton buds, tissue bekas, kapas, tempat dus makanan yang udah kena minyak, pembungkus makanan yang berminyak (bungkusan coklat), dll. Ya intinya udah ga bisa dimanfaatin dan ga ada nilai ekonomis
WhatsApp Image 2018-10-15 at 2.51.13 PM
Di Bandung ada program Kang Pisman, yakni Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan. Yang menurutku kece banget, tinggal gimana supaya masyarakat luas bisa lebih tersosialisasikan.
47586100_372155643534644_2998529776972425597_n.jpg
Pustakalana menjadi salah satu komunitas yang mendapat penghargaan Kang Pisman ini di bulan Desember 2018.

Pengelolaan Sampah Organik

Sampah organik itu, idealnya adalah dikompos dan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk tanaman. Ada banyak metode mengkompos; menggunakan biopori, takakura, composter bin, atau open composter. Saya sendiri pake metode open composter yang sebetulnya setelah saya baca-baca ada tata caranya tersendiri dan ada kontranya. Tapi so far saya pakai itu sejak 2017 dan ga ada kendala yang berarti.

WhatsApp Image 2019-03-01 at 20.20.47
Saya membangun bak sampah di belakang rumah sejak 2017.

Pemilihan buat komposting ini disesuaikan dengan lahan tempat tinggal Anda saja. Kalau memang ga memungkinkan sama sekali mengkompos, ya sudah apa mau dikata 😀 – tapi tetap usahakan dipilah ya sampahnya…!

takakura.jpg
Takakura ini cukup efektif juga lho, dan murah banget berbekal keranjang seperti ini, sekam, dan kardus. Yang paling berat emang; NIAT…!
biopori-2-638
Biopori – membuat lubang biopori salah satu upaya untuk permasalahan sampah organik skala rumah tangga
153646779069558_d68ab204-2f85-42bf-ad23-94c21de474f4.png.jpeg
Bio Minikomposter merupakan alat sederhana yang digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.

Buat saya pribadi, permasalahan sampah paling mendasar itu memang ada pada pemilahan sampah ini. Dan sampah organik itu yang bikin berat kalau dibawa ke TPA khan sebetulnya. Dengan mengurangi memasok sampah organik ke TPA, maka 50% permasalahan sampah dapat teratasi. Dan ini emang menurutku WAJIB dilakukan di setiap rumahtangga. Sayangnya ga semua wilayah dapat edukasi perihal ini (saya sendiri bahkan masih dalam tahap wacana untuk melakukan edukasi pilah sampah).

Pengelolaan Sampah Non Organik

Saya baru menyadari perlunya sharing tentang ini karena ada banyak yang belum tahu tentang keberadaan Bank Sampah.

Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah. Bank sampah dikelola menggunakan sistem seperti perbankkan yang dilakukan oleh petugas sukarelawan. Penyetor adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi bank serta mendapat buku tabungan seperti menabung di bank. (Wikipedia)

Di Bandung sendiri terdapat banyak sekali lho Bank Sampah. Yang pasti ada Bank Sampah Induk Hijau Lestari dan Bumi Inspirasi. 

Sampah apa saja yang diterima di Bank Sampah? Secara umum adalah ini, namun lebih lengkap bisa lihat di sini. atau di sini. Setiap jenis sampah akan ditimbang dan dihargai sesuai dengan kategori sampahnya per kg.

Contoh sampah yang diterima di Bank Sampah Rumah Harum Depok:

Jenis Karung 1 Karung besar lebih dari 50 Kg atau lembar
2 Karung kecil
Jenis Ban 1 Ban dalam
2 Ban luar mobil 1 buah
3 Ban luar motor 1 buah
Jenis Plastik Emberan 1 Plastik emberan hitam
2 Plastik emberan warna lunak / lentur
3 Plastik emberan warna keras
Jenis Aneka Plastik 1 Gelas A
2 Gelas B
3 Botol A
4 Botol B / Botol warna
5 Plastik mika
6 Toples kristal
7 Keping CD, VCD, DVD
8 Tutup Galon
9  Kresek / asoy
10 Plastik bening / kiloan, bersih bening tidak ada tulisan
11 Plastik warna sablonan
12 Bungkus kopi
13 Plastik selopan
14 Karpet talang / jas hujan / kolam air anak / ban renang anak
15 Kulit kabel
16 Sepatu / sandal
Jenis Logam 1 Per / kawat spring bed
2 Wajan / penggorengan / regulator / kran air besi
3 Besi super / tebal / stainless / besi untuk cor
4 Besi kosong / tipis / paku / kawat
5 Kaleng / Seng
6 Aluminium
7 Tembaga
8 Aki
Jenis Botol Kaca 1 Botol kecap dan sejenisnya, tidak pecah
2 Botol / gelas / piring bening
3 Kaca / gelas / piring / botol, berwarna
4 Lampu / per
Jenis Minyak 1 Minyak Jelantah

Dan lumayan lho, kalau jadi nasabah Bank Sampah, jika rajin menyetor bisa buat bayar listrik, pulsa, dll. Sistem onlinenya juga cukup mumpuni kalau aku lihat-lihat. Ohya, Bumi Lestari ini ada ecotour-nya, saya juga baru tahu dan semoga sih masih bisa dilaksanakan. Dalam waktu dekat saya mau adakan ecotour ini, ada yang mau ikut?

POSTER ECOTOUR UMUM

Selain dibawa ke Bank Sampah untuk sampah plastik khususnya, bisa dimanfaatkan menjadi ecobrick.

whatsapp-image-2019-03-01-at-20.20.51.jpeg
Alternatif lain buat sampah plastik, kita bisa bikin ecobricks.

Ecobrick adalah metode untuk meminimalisir sampah dengan media botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik hingga benar-benar keras dan padat. Tujuan dari ecobrick sendiri adalah untuk mengurangi sampah plastik, serta mendaur ulangnya dengan media botol plastik untuk dijadikan sesuatu yang berguna. Contoh pemanfaatannya adalah untuk pembuatan meja, kursi, tembok, maupun barang kesenian lainnya yang bahkan memiliki nilai jual. Metode ini terbukti mengurangi jumlah sampah plastik di Kanada, negara tempat bernaung pencipta Ecobrick ini, yaitu Russell Maier.

Kalau bentuk ecobrick yang kece bisa jadi seperti ini:

ec3
Ecobrick dibuat menjadi tempat duduk – sumber: catatanalam.wordpress.com

Dan banyak kreasi lain untuk didaur ulang JIKA sampah-sampah yang berpotensi didaur ulang tersebut sampai di lokasi yang dapat memanfaatkannya (bukan berakhir di TPA).

Kalau belum tergerak untuk mengurangi sampah atau memisahkan sampah, gimana kalau liat video ini, sedikit gambaran tentang kondisi Bantar Gebang:

Kalau belum tergerak juga, gimana kalau sama-sama meresapi ayat QS AR RUM ayat 41-42:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). (41). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (42)

Apakah mau terus-menerus melakukan kerusakan di muka bumi?

Yuk, mulai gencarkan gaya hidup less waste…!

—-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s