Selamat Hari Ibu, Bunda

Untuk pertama kalinya, semenjak menjadi Ibu, di tanggal 22 Desember – sebagai peringatan Hari Ibu Nasional – saya mengingat sosok Bunda sebagai Ibu, bukan saya sebagai Ibu. Ya khan, awal-awal menjadi Ibu rasanya kewalahan banget mengemban tanggungjawab besar ini, dan di Hari Ibu biasanya jadi punya ada waktu untuk refleksi perjalanan menjadi Ibu (atau kalo pun ga refleksi, setidaknya buat konten di Instagram YA KHAN GAES).

Nah, tadinya, saya berniat posting untuk Bunda di Hari Ibu, namun karena mengingat -ngingat tentang beliau itu ternyata menguras emosi (baca: bikin saya nangis mengingat dosa-dosa saya ke Bunda dan mengingat jasa-jasa Bunda selama ini), walhasil tulisan saya tidak akan bisa sebatas di Instagram caption yang terbatas dalam kalimat ye kan.

38262103_10155972192203229_5794722124316803072_n

Jadilah ini sebuah postingan tentang dan untuk Bunda. Kenalan dulu ya sama Bunda…

Bunda sebagai Anak

Bunda terlahir di Bandung, tanggal 22 Maret 1957 di RS. Borromeus dengan nama Lydia Freyani Hawadi. Ia terlahir sebagai anak pertama dari 7 bersaudara, dari pasangan “Papi” Doelli Hawadi dan “Mami” Poeti Dalima Iskandar. Bunda hanya numpang lahir di Bandung, karena beberapa bulan setelahnya beliau diboyong ke Jakarta. Aki (begitu saya memanggil “Papi Doelli”) adalah seorang Perwira Menengah (Pamen) TNI-AD berpangkat Kolonel dan Uci (“Mami Dalima”) sebagai istri binangkit mendampingi suaminya bertugas. Uci berasal dari Minang dan Aki berasal dari Tasikmalaya.

1771_1075487368167_2228_n
Uci Dalima dan Aki Doelli

Bisa dibilang Aki dan Uci dikaruniai kecukupan dalam berumahtangga. Setidaknya itu yang selalu Bunda sampaikan kepada saya sewaktu kecil. Bahwasanya, rumah yang mereka tempati di daerah Dr. Wahidin (circa 1957 – 1967) dan Kayu Putih kala tahun 60-an itu merupakan rumah dengan 16 kamar yang sangaaaaaaaaat luas dan bisa dibilang keluarga berada/ dengan ekonomi atas. Karena Bunda sering bercerita tentang sejarah keluarganya (dan beliau selalu ingin anak-anaknya juga tahu bagaimana para leluhurnya), Bunda jadi suka cerita banyak tentang masa kecilnya, sampai detail seperti di tahun 1965 keluarga Aki-Uci sudah punya mobil Mercedez dan Impala. Kamar-kamar pun ber AC (yang mana cukup mewah ya pada masanya). Bunda juga selalu menekankan, bahwa dirinya adalah anak kesayangan Aki yang selalu diajak jalan-jalan sama Aki x) Memory ini sangat kuat disimpan oleh Bunda, “Pas Bunda usia 10 thn sudah diajak Aki dinas ke Eropa di Zurich, London,Perancis, Amsterdam dan Tokyo”. Belakangan hal inilah yang membuat Bunda juga selalu ajak salah satu anak-anaknya untuk ikut mendampingi saat beliau ke luar negeri.

32053_1423614664484_7136969_n
Ki-Ka: Bunda, Tante Siska, Tante Wina & Om Bibin (kembar), Tante Nita

Ketika Bunda masih di SMU dan berusia 17 tahun, Aki meninggal dunia. Dunia bagi keluarga Hawadi saat itu bagai terbalik. Uci yang kala itu tidak bekerja full time, terpaksa rela menjual rumah besar di Kayu Putih tersebut dan menggantinya menjadi dua rumah lebih kecil (jauhhhhh lebih kecil) di daerah Pulomas, tak jauh dari Kayu Putih sana. Mobil dari 5 menjadi 1. Dan pokoknya cuman terombang-ambing kondisi perekonomian keluarga Uci saat itu.

29653_1434751142889_6957281_n
Bunda dan teman-teman SMU Santa Ursula-nya (berkacamata)
1910059_104916498228_5035819_n-2.jpg
Di rumah Pulomas 1/F inilah, saya dan adik-adik saya kelak menghabiskan masa kecil kami.

Singkat cerita, untuk dapat membantu Uci dalam mengurus/ membesarkan saudara-saudara kandungnya (adik) Bunda, maka Bunda bekerja giat untuk dapat menghasilkan uang tambahan dan mandiri dalam memenuhi kebutuhannya. Termasuk juga dalam hal pendidikan, Bunda berjuang untuk mendapatkan beasiswa Supersemar full dari S1 hingga S3. Menurut Bunda, beliau diamanahkan oleh Aki sebelum meninggal, bahwa Aki ingin Bunda bisa menjadi “Dokter”. Sayangnya, Bunda kepalang jatuh cinta sama jurusan Psikologi, alih-alih menjadi dokter, beliau menjadi “Doktor”, dan tahun 2009 lalu (tepatnya 2 hari sebelum hari pernikahan saya), bunda dilantik menjadi Guru Besar dari Fakultas Psikologi UI, yang merupakan almamater dan tempat beliau mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk mengajar sehari-hari.

I think Bunda has found her Ikigai since she was very young. Sebagai seorang Psikolog, Speaker, dan Organizator. Dan sebagai seorang babyboomer sejati, beliau adalah pekerja keras yang sangat loyal terhadap sebuah entitas tertentu (dalam hal ini adalah kampus dan partai yang beliau “anut” hehe).

1*qNNzYd3SE1Z09d_IaJOdGA

Bunda sebagai Ibu dan Istri

Sebagai seorang anak perempuan, tumbuh menjadi anak gadis, menjadi wanita dewasa, dan sekarang menjadi Ibu… Saya banyak sekali belajar dari Bunda. Ya, memang tak bisa dipungkiri, banyak juga hal-hal dari Bunda yang kayaknya ga cocok aja sama saya. Dan ditambah dengan karakter saya yang juga responsif/sensitif tingkat dewa, sering menimbulkan percekcokan antara saya dan Bunda. Padahal sebetulnya Bunda ga maksud buruk, hanya sayanya kelewat sensitif, apalagi semenjak menjadi Ibu dan stay at home mom.

Pertanyaan yang Bunda ajukan (yang saya tau banget tujuannya biar saya kepancing), kadang bikin saya rungsing. Misal, “Cha, kamu kapan mau S3?”, “Cha, kamu ga mau balik kerja aja?”, atau pas baru lahiran “Cha, kok mukanya kayak ga happy gitu sih?”.

Hehhee kalau inget-inget sekarang, sebetulnya kalau sayanya slow, maka pertanyaan seperti ini tidak akan menjadi sebuah permasalahan. Tapi yang namanya baru menjadi Ibu dan dalam kondisi “pencarian jati diri”, pertanyaan kayak gini bikin sensi. Dan belakangan saya sangat menerima perbedaan ini, simply because we’re just having different prespectives, values, and goals in life. And I accept that, I accept that she can be happy with those that bring her happiness, and I accept things that make me happy too. Dengan menerima perbedaan cara pandangan dan cara melakukan apapun ini, membuat saya bisa lebih tolerable dalam menghadapi Bunda dan Bunda ke saya.

40799_1524433104882_6492409_n

Di foto ini Bunda seusia saya sekarang, 34 tahun 5 bulan. Bunda sedang berada di Amsterdam (dan dalam kesempatan yang sama berkeliling ke beberapa kota lainnya di Eropa), di mana beliau melangsungkan international conference perdananya di luar Asia, sebagai bagian dari tugasnya sebagai seorang mahasiswa doktorat. Saat itu Bunda masih dalam masa postpartum selama 7 bulan, setelah melahirkan anak keempatnya, yakni Ozu. 

29153_1418402174175_5576566_n
Toronto, September 1993. Ikut Bunda konferensi (sembari liburan). Salah satu “kebiasaan” Bunda adalah membawa satu anak ketika beliau konferensi tahunan di luar negeri. 

Kalau saya serapi peran yang beliau emban kala itu, dan yang saat ini saya emban, rasanya ga kebayang… Hebat banget ya Bunda bisa melakukan semua itu (sekolah S3 dengan 4 orang anak), tentunya karena support Ayah juga yang mendukung Bunda.

Dan menjadi anak perempuan pertama Bunda artinya mengemban “tugas” yang cukup berat. Setidaknya itu yang saya rasakan. Kalau saya lihat temen-temen perempuan saya yang punya hubungam so sweet or love and love mother-daughter relationship, saya tidak bisa relate hubungan saya dengan Bunda seperti yang teman-teman saya rasakan.

“My mom is my queen”,

“My mom is my everything, she’s the love of my life”, some kind like that.

I couldn’t imagine to actually say that to my mom. Of course this not because she is less than a queen or less than “a love of my life” kinda person to me. 

Bunda bukanlah ratu. Bukanlah cinta dalam hidup saya. Bunda bahkan bukan sosok yang kalem, elegan, selalu mendampingi, dan sabar sebagaimana beberapa teman mendeskripsikan sosok Ibu mereka. Bunda adalah sosok yang kuat, gesit, dan… unstoppable. Sepertinya itu juga salah satu resep Bunda untuk bisa menikmati hidup dan segala permasalahannya.

29653_1438964328216_4326210_n
Padang, 2004

Saya ingat, ada masa-masa di mana saya terbangun tengah malam karena mendengar Ali (anak kelima) atau Gladyz (anak keenam) menangis, dan diminta untuk membantu Bunda membuat susu formula untuk mereka sambil terkantuk-kantuk. Oh, Bunda memberikan ASI kepada anak-anaknya, tapi ga sampai 2 tahun. Kecuali ke (Alm.) Ardha yang diberikan ASI hingga 18 bulan, dan jadinya memang Ardha yang paling pintar dan cerdas dari anak-anak Ayah Bunda lainnya xD #HidupASI!.

Atau ada masa-masa di mana saya rajin sholat Tahajud *doa kenceng biar lulus EBTANAS* wkwkw (maafkan aku Ya Allah, tahajud kalau ada maunya aja x’(), dan mendapati Bunda sedang mengerjakan presentasi untuk ceramahnya/ koreksi tugas/ bikin paper/ packing untuk dinas ke luar kota. Dan di pagi harinya, saat Subuh beliau sudah sigap kembali untuk pergi ke pasar, menyiapkan sarapan, lalu mampir ke Pacuan Kuda untuk ikutan tai chi/senam aerobik/sekedar berkeliling lapangan parkir Pacuan untuk mendapati udara segar. Sampai rumah sudah bergegas kembali untuk menyerahkan menu kepada ART (menu yang Bunda buat selalu “pas” dengan salero rumah, padu padannya tepat sekali). Lalu kemudian beliau pergi ke kampus untuk mengajar di beberapa universitas, lalu mengurus Biro Psikologi beliau, dan setiap hari (YA HAMPIR setiap hari), beliau akan ada waktu sekitar 30 menit – 1 jam to actually going for courses: les melukis/ les Bahasa Belanda/ les piano (she used to be an advanced piano player, kursus piano hingga kelas 3 SMA).

Sampai di rumah, Bunda akan mencatat laporan keuangan dalam sebuah buku hardcover khas beliau, baik keuangan pribadinya, maupun keuangan untuk supir (sebuah catatan berisi jam/waktu supir bekerja yang harus ditandatangani oleh supir). 

Sering kali saya mendapati dia kelelahan dan menawarkan untuk memberikan pijatan selama 20 – 30 menit. Bunda selalu bilang “Enak banget Chayoooo…” sambil terkantuk-kantuk.

44345_1524430624820_8297803_n
Bunda selalu ajak dan mengatur jalan-jalan keluarga (kami semua tau beres dari booking hingga packing).

Saya juga ingat waktu masih TK-SD, sebelum tidur Bunda selalu menyempatkan untuk menceritakan ke saya dan saudara2x kandung saya dongeng sekitar 15 – 20 menit, dan bahkan suka diulang-ulang karena cara beliau mendongeng itu seru…!

Kalau Bunda lagi jauh, Bunda mengirimkan postcard untuk saya dan adik-adik. Postcard dari Bunda adalah yang selalu kami tunggu saat beliau pergi berbulan-bulan lamanya untuk keperluan riset di luar negeri.

Kalau dilihat #ibuberdaya sekarang, Bunda adalah wanita seperti itu. Bunda is a lady boss, an avid traveler, very organized, well-planned, suka bersih-bersih (dan kalau ke rumah saya pasti Bunda gatel pengen beres-beres karena saya berantakan), suka tanaman, selalu mengupgrade dirinya (selalu belajar hal-hal baru yang seru), selalu rajin bersihin muka (penting! dari saya SMP selalu diajarin cara membersihkan wajah dan senam wajah. Bahkan saya diles-in di The Body Shop dan Mustika Ratu untuk les make-up), selalu baca Al-Qur’an di setiap pagi (dan bukan saja membaca tapi juga mengkaji), an avid reader (buku beliau memadati setiap bagian rumah, bahkan di mobil bertumpuk-tumpuk buku bacaannya untuk menemani kala macet), a passionate psychologist, what else?

179605_1741992143722_6666565_n
Bunda sebagai Guru Besar dan Senat dan Ayah sebagai Wisudawan S2 (2009)

Mungkin satu-satunya yang Bunda “ga bisa lakukan” adalah memasak. Tapi pernah dalam sebuah kesempatan di Idul Fitri, dan ga ada sama sekali ART, seinget saya Bunda memasak rendang dan opor yang lezat sekali (walau belakangan saya ngeh, bahwa beliau beli bumbu halus di pasar dan tinggal cemplung2x wkkwwk).

44345_1524430664821_3961925_n

Menjadi Bunda tidaklah mudah. Tapi jarang sekali saya mendapati beliau marah/ berteriak/ berkata kasar/ melakukan kemarahan fisik (mencubit/memukul). Tidak, Bunda tidak pernah sama sekali melakukan itu. Melihat beliau menangis ada atau mungkin sering di beberapa tahun-tahun yang berat, tapi yang selalu saya lihat Bunda tidak pernah berlama-lama dalam periode “grief”. Mungkin karena menyempatkan waktu untuk duduk hening setiap paginya, untuk berdoa, untuk bersyukur, untuk merenung/ bermuhasabah mencari solusi, Bunda dapat terus melangkah. “Hidup ya mengalir saja”. Mungkin karena sudah banyak “drama kehidupan” yang beliau lalui sepanjang 61 tahun kehidupannya, maka bisa bijak dalam menyikapi sebuah masalah ya… Tapi proses mencapai bijak itu juga yang saya hargai dari Bunda.

283958_2129274665543_169698_n
Pacific Place, 2010
16800_10204588458445528_7368125707718952003_n
Perth, 2014
10458662_10204164701211862_4640476041946425819_n
New Bedford, 2014

Bunda sebagai Kakak

Terlahir di keluarga yang kebanyakan perempuannya, adalah sebuah hal yang tak terelakkan kalau diisi dengan banyak drama. Begitu pula Bunda dengan adik-adiknya (4 orang perempuan) dan 2 laki-laki. Saya tumbuh lebih banyak dekat dengan keluarga Bunda, dan yaaa… Love and hate relationshipnya super banget sih x)) Bunda selalu merasa sebagai “kakak”, sementara adik-adiknya “Apa sihhh” gitu deh. Tapi mereka now and then sering jalan bareng, ya berantem jalan, jalan-jalan juga jalan.

Namanya juga kakak-adik, ya khan?

14570477_10154203530683229_1647933904573719750_n.jpg

10487338_10203458191269555_3788376829666717776_n

29653_1434857505548_5496211_n
DC 1993

Bunda sebagai Dosen/ Organisator/ Pekerja

Saya sering ditanya “Apa rasanya jadi anak Ibu Reni?”. Karena Bunda terkenal akan perannya sebagai “dosen killer”. Saya bilang, di rumah Bunda ga killer x) Dan citra ini pelan-pelan Bunda ingin hapus, kayaknya terbukti dari Bunda yang suka ajak nonton bareng, buka bareng, atau traktir kecil-kecilan sama mahasiswanya. Mungkin biar gap antara dosen dan mahasiswa ga terlalu besar.

Selain sebagai dosen, Bunda super aktif dalam berkegiatan organisasi. Rasanya jabatan ketua banyak sekali yang beliau sandang, I can’t keep track on that, yang jelas dari mulai himpunan psikologi, partai politik, dharma wanita, FKPPI, senat kampus, … pokoknya banyak…! Dan beliau nampak sangat menikmati semua peran dan networkingnya ini. Hmm, kok saya jadi inget seseorang ya *brb ngaca dulu mbaknya* (tapi asli deh, saya ga seaktif Bunda!).

14731227_10209515117608928_2925434775807617171_n
Sebelum UTS sempet-sempetnya foto bareng
155669_1660255500357_2821736_n
Traktiran

Apalagi? Dosen, organisator, dan… Pengusaha…! Bunda sempat punya Biro Psikologi Reni Akbar-Hawadi dan Rekan. Yang karenanya juga, saya dan saudara-saudara kandung saya bisa sekolah di sekolah “bergengsi” pada masanya. Ya bayangin aja, kalau hanya mengandalkan pendapatan dari gaji PNS mau sampai kapan juga ga akan bisa hidupin 6 anak, apa kabar dana pendidikan. Dengan usaha Bunda ini, yang dulu sempat berjaya (dan semoga akan kembali berjaya, Aamiin), maka perekonomian keluarga kami bisa di taraf yang “pas”. PAS ada duitnya bisa bayar sekolah, pas ada duitnya bisa liburan, pas ada duitnya bisa beli tas di mall, dll. Alhamdulillah ya x’)

1544958_10203761189084311_8228133789720882955_n.jpg
Semasa jadi Dirjen PAUDNI – keliling Indonesia. Wakatobi, 2013.
10400216_1062966448504_9616_n
Pada masanya, Bunda itu seperti “Elly Risman”nya sekarang. Tiap minggu roadshow keliling kota-kota menjadi speaker tentang keberbakatan anak.
18119573_10211206208645147_4814997785060719657_n
Dengan Geng FKPPI-nya

Kalau sekarang Bunda sibuk apa? Masih sibuk menjalani ketiga hal tersebut 🙂

Dan ketika saya tanya: “Bun, apa ga cape tiap hari berangkat dari rumah jam 6 pagi, pulang nyampe rumah jam 11 malam? Macet di Jakarta, apa ga lelah?”. Saya lupa jawaban Bunda apa, tapi yang jelas rutinitas ini walau membuat Bunda lelah ya tetap dijalanin, obatnya cuman 1: traveling…! The harder she works, maka waktu yang dialokasikan untuk traveling pun akan lebih lama. Sounds pretty fair to me.

230852_1963341557319_1546387_n

38405548_10215054023038102_7366906623983353856_n
Got invited to Commission on the Status of Women – at the United Nations Headquarters in New York from 12 to 23 March 2018. Sambil kerja, lanjut jalan-jalan sama Ayah 🙂
49616513_10216228092029093_3155235382556098560_n
Part of AyBun UK trip berujung ke Switzerland, Desember 2018.

So…

Namun kenapa? Kenapa saya tidak bisa menjadikan Bunda queen saya…? Ini yang baru saya sadari, mungkin karena bunda mempraktekkan kepada saya dan adik-adik tough love.

Tough love is a way of dealing with someone who has a problem in which you do not show a lot of kindness so that they try to solve it themselves

Kejadian terdekat adalah, ketika tahun lalu saya keguguran. Waktu itu saya marah sama Bunda bahkan sampai ngeblock WA Bunda segala x). Karena yang saya harapkan adalah beliau datang ke Bandung, menemani saya, atau sekedar dengerin saya galau-galau aja. Tidak kejadian. Walau sekian bulan kemudian saya baru menyadari kenapa saya begitu kekanak-kanakan, padahal Bunda punya banyak sekali tanggungjawab di Jakarta yang tak bisa ia tinggalkan serta merta, dan karena dia juga tahu saya ada keluarga yang mengurus di Bandung. Belakangan beliau juga cerita, bahwa pernah keguguran dua kali ketika seusia saya. Yang pertama adalah “adiknya” Ozu, keguguran, dan bahkan waktu itu dikuret lalu setelah kuret Bunda harus kembali kerja naik angkutan umum. 

Ya Allah, rasanya aku merasa DRAMA sekali ketika keguguran. Maaf ya Bun…

Aku mungkin ga akan menye-menye ke Bunda untuk sampaikan ini, tanpa Bunda ga akan ada Abang, Chica, Ardha, Ozu, Ali, dan Gladyz hingga kami di titik ini (even with all of our problems too, kadang kami suka blame it to you. But I know it is not fair).

And I want you to know how big your influences to me to be a woman I become. I might not have my PhD title (yet) nor having my own coorporate, or let alone financially independent as a woman. But thank you for trusting me and letting me choose my own role and path as woman I envisioned, Bun.   

Selamat Hari Ibu, to the strong, kind, and a dedicated mother for the 6 of us. Thank you for raising the 6 of us, you might not be a perfect mother, but you are the real version of super mom for all of us. We love you unconditionally through your quirks and wits. I am grateful to be one of your children and I wish you nothing but peace at heart and happiness in dunya and akhirah. 

Sehat-sehat dan umur panjang ya Bundo. Love you.

============

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s