Dokter Kandungan dan Bidan di Bandung (Part 1)

HALO GAES…! *KIBASIN DEBU*. Sungguh aku kangen sekali menulis HUHUHU. Banyak banget yang mau ditulis, tapi kayaknya waktu menulis di blog jadi ga prioritas, yang malah sering kulakukan adalah menulis di IG Story-ku (@chiceniza) x’). Dan dari sekian banyak hal yang terjadi beberapa bulan terakhir di tahun 2018 ini, dari yang membuat bahagia hingga yang membuat aku depresi akhirnya postingan perdana setelah sekian lama menelantarkan blog ini adalah tentang… dokter kandungan dan bidan. Kenapa? Karena ini hutang aku.

Hutang?? Tahun lalu pas keguguran aku sempet ngasih link ke beberapa pertemanan  via Instagram untuk menceritakan pengalaman mereka dengan dokter kandungan (untuk yang berdomisili di Bandung). Mereka udah mengisi dan aku baru NGEH bahwa belum sempat aku publikasikan. Jadi ini tulisannya mungkin ga lengkap-lengkap amat dibanding yang menulis di forum Ibu yaa, tapi semoga bermanfaat buat yang sedang cari dokter kandungan di Bandung. Kalau ada yang mau ikutan cerita boleh lho isi ke link: http://bit.ly/obgynbidanbdg

Prof dr Sofie Krisnadi Sp.Og(K)

Tempat praktek: RS Limijati/  tempat praktek di Jl. Sabang. Cerita oleh: @rtmaryama

Prof Sofie adalah OB/GYN pertama saya untuk kehamilan yang pertama. Prof. Sofie ini saya pilih setelah melakukan wawancara singkat dengan rekan-rekan di kantor, cari publikasi ilmiahnya, dan terakhir istikhoroh.

Selama konsultasi dengan Prof Sofie, pengaalaman baik yang saya rasakan adalah, Prof. Sofie orangnya keibuan. Kali pertama konsul sama Prof. Sofie dengan usia kandungan 3 minggu. Kalau sebelum masuk ruangan, saya sempat hampir disuruh pulang sama perawat-perawatnya yang (jutek) begitu. Eh, sama prof Sofie malah dikasih semangat positif. “Oh yaa.. ini sudah ada penebalan dinding rahim. Insya Allah hamil”. Kayaknya dulu bakal janinnya cm seukuran kacang ijo. Boro boro kantong hamil nya 🤣. Kalau menurut dokter, kemungkinan periode menstruasi saya maju. Jadi sudah bisa positif (garis) dua di testpack. Kemudian diberi nasihat yang ga muluk-muluk. Cuma dilarang makan makanan mentah dan alkohol.

Minggu berganti minggu… Tibalah saya kontrol dengan sesuatu yang ga beres karena saya sempat flek beberapa waktu sebelum kontrol meskipun sudah mendapat penanganan karena saya langsung ke RS Hermina Arcamanik pasca flek itu. Kali pertama diperiksa pake spekulum (cocor bebek) di Hermina, luar biasa sakitnya. Pas d iProf Sofie, beliau nenangin banget dan beneran ga kerasa sakit sama sekali 😄. Yaa Alhamdulillah hasil diagnosis beliau juga tidak terlalu buruk, mulut rahim saya ada lesi sedikit.

Selanjutnya.. pasca lesi di mulut rahim itu, saya kena keputihan yang cukup berat. Sebagai anak lulusan mikrobiologi, mikir sejuta keliling kenapaaaa bisa keputihan patologis karena saya cukup jaga kebersihan, berhubungan seksual juga sudah pake kondom. Kesimpulannya satu sih, kayaknya ada ketidakseimbangan hormon yang mengakibatkan mikroflora vagina tidak seimbang. Keputihan ini sempat membaik ketika saya rutin minum yogurt. Tapi ini tidak berlangsung lama karena jumlah bakteri dan candida penyebab keputihannya sudah banyak banget. Saat kontrol ke Prof. Sofie, walaupun dia tampak panik, dan paniknya dia itu bikin pasiennya stress (ini akan saya ceritakan nanti), beliau selalu mengedukasi pasiennya tentang keputihan ini. Dan sudah wanti-wani kalau keputihan ini bisa jadi pemicu kontraksi dini dan berujung pada kelahiran prematur. Ga panjang lebar, Prof. Sofie kasih obat dan beberapa nasihat. Intinya ‘hati-hati’. Ternyata bener aja. Usia kehamilan 35w1d Rafa lahir.

Masuk Limijati jam 10 pagi, Prof. Sofie cek bukaan sejam kemudian, beliau cuma bilang “Kayaknya pasti lahir sore ini “. Yaa sudah lah.. Bismillah aja. Masuk ruang persalinan, dan sekitar bukaan 9 Prof. Sofie baru datang.

Selama persalinan, Alhamdulillah berjalan lancar. Karena tidak sempet senam hamil, minim pemahaman tentang melahirkan, alhasil saya cuma mengikuti instruksi Prof Sofie aja. Suntik dan gunting perinium juga tidak jadi pengalaman buruk, waktu dijait juga biasa aja… Alhamdulillah semua lancar. Sehari setelah melahirkan, beliau visit jam setengah 6. Salam sapa seperti biasa. Kontrol H+7 hari dan H+40 hari juga Alhamdulillah lancar-lancar aja.

Ada yang kurang berkenan? Prof. Sofie ini pasiennya lumayan banyak. Tapi kalau datang ke tempat praktiknya di Jalan Sabang, Insyallah ga akan lama antri. Yang kurang berkenan ini malah perawatnya 😄. Galak jutek huhuhu… Trus Prof. Sofie ini kadang ga bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Jika ada yang kurang beres, beliau suka “to the point” komen. Efek psikologis ke pasiennya akan beda-beda. Seperti kasus saya keputihan berat, keluar dari ruang Prof. Sofie saya nangis. Nangisnya karena takut ada apa-apa sama calon anakku…

Biaya periksa: Kalau tidak salah sekitar 250.000 – 300.000 (tahun 2015)

Tempat lahiran: Saya pilih limijati karena dulu limijati kerjasama dengan kantor. Pelayanannya baik, lokasi strategis.

Biaya: Seinget saya, untuk VIP menginap 3 hari 2 malam, biaya totalnya 13jt an ( 2015).

***

Bidan Farida Agustiani

Tempat praktek: RBPM Bidan Farida (Bumi sehat Bahagia) di daerah Jalan Peta, dekat Festival Citilink. Cerita oleh: @silviaanugrah

Setelah “hunting nakes”, mendatangi 4 dokter berbeda, 3 bidan berbeda, akhirnya memantapkan hati untuk memilih Bidan Farida sebagai Plan A melahirkan anak pertama saya. Singkat cerita, saya mendapat rekomendasi bidan ini dari kelas persiapan melahirkan Amani Birth yang saya ikuti dengan suami saya. Pertama kali datang dan konsultasi, saya langsung jatuh hati, dengan keramahan asisten bidan yang sedang berjaga dan juga keramahan dari ibu Farida. Begitu saya masuk ruangan konsultasi, saya langsung dipeluk, rasanya seperti sudah mengenal lama, padahal itu pertama kali kami bertemu. Kami mengobrol lama, kurang lebih satu setengah jam, dari mulai pandangan kami tentang proses melahirkan hingga nasihat-nasihat beliau dalam membekali saya selama masa kehamilan (pada saat itu sudah trimester 2 akhir).

Saya juga kagum terhadap sosok beliau yang sangat terbuka, memberikan banyak nasihat dan tips layaknya seorang ibu kepada anaknya. Sesekali juga beliau bercerita tentang pengalaman melahirkannya. Saya selalu senang ketika waktunya check up ke bidan farida, rasanya antusias dan sangat nyaman tanpa ada vonis “kalau sudah 40minggu tidak kontraksi, kita induksi ya (hmmmmmmm)”. Bidan Farida selalu menenangkan saya bahwa bayi punya waktunya sendiri untuk dilahirkan, tinggal kita bersabar dan terus ikhtiar. Bidan Farida juga sangat terbuka dengan birthplan yang saya ajukan, mana yang dapat beliau akomodir dan mana yang butuh penyesuaian, beliau juga memberikan alasan-alasannya.

Biaya periksa: Biaya sekali periksa dengan print USG 60ribu rupiah sajaa (ini salah satu yang membuat saya senang setiap kali mau check up hehe, kalau di rumah sakit jauuuuuuuuuuh lebih mahal)

Ada yang kurang berkenan? Hampir tidak ada 🙂 kalaupun ada mungkin saya sudah lupa saking senangnya setiap bertemu bidan Farida dan asisten-asisten bidannya.

Tempat lahiran: BPM Bidan Farida (Bumi Sehat Bahagia) Seperti melahirkan di rumah saudara sendiri. Semuanya ramah dan sangat membantu. Suasana kamar pun sangat nyaman, ada bathtub yg bisa digunakan untuk relaksasi terutama saat masa-masa kontraksi. Ada AC untuk kenyamanan ruang dan pendamping persalinan, ada TV juga walaupun bukan cable TV. Penampilan klinik memang tidak mewah, tapi bagi saya cukup dan layak. Pada saat saya melahirkan, fasilitas kamar perawatan hanya ada 2, 1 VIP dan 1 lagi kamar standar berisi 2 ibu. Saya dipersilahkan untuk memilih ingin melahirkan di kamar perawatan atau di kamar bersalin. Saya lebih memilih di kamar perawatan dan mereka dapat memfasilitasinya. Hanya saja, karena lokasi klinik berada di jalan yang tidak lebar, parkir kendaraan menjadi masalah. Sehingga pada saat itu saya dan suami memutuskan untuk menggunakan taksi saja, pada saat pulang kami meminta untuk dijemput orangtua.

Biaya persalinan: Sekitar 4.5 juta untuk keseluruhan. Saya menginap di klinik 4 malam lamanya (2017).

Cerita lainnya: Bidan Farida dan salah satu asistennya pernah mengikuti Amani workshop untuk menjadi childbirth educator dan doula*. Pandangan kami terhadap proses melahirkan menjadi sama karena materi Amani yg saya dapat bisa saya wujudkan. Bidan Farida dan salah satu asistennya yang lain juga pernah mengikuti workshop hypnobirthing sehingga pada saat proses kontraksi saya sangat terbantu dengan asisten yang selalu mendampingi dan memberikan afirmasi positif terus menerus, membuat saya jauuuh lebih rileks.

*Doula adalah seorang profesional yang terlatih dalam proses persalinan dan memberikan dukungan terus menerus untuk ibu sebelum, selama, dan setelah kelahiran. Doula berasal dari kata Yunani yang berarti “seorang wanita yang berfungsi” atau “hamba.

***

Anita Deborah Anwar

Tempat praktek: RS Limijati. Cerita oleh: @intanhow (2017).

Saya memilih beliau setelah pencarian dan belanja dokter sana sini. Kriteria utama dalam mencari dokter obgyn untuk kehamilan kedua adalah dokter yang pro normal dan pro VBAC (vaginal birth after caesarian). Setelah didapatkan beberapa nama, satu persatu dikunjungi dan ternyata sreg dengan Dr. Anita. Sosok beliau sudah tidak muda, menandakan jam terbang yang tinggi. Selain itu beliau merupakan ahli fetomaternal dan di RS Limijati terkenal dengan tingkat keberhasilan VBAC-nya tinggi.

Dr. Anita merupakan dokter yang tegas, tidak bertele-tele, menjelaskan sesuatu secara rinci terutama jika kita bertanya maka beliau sabar menjawab dan mau berdiskusi panjang lebar. Beberapa testimoni teman saya yang pernah mendatangi beliau bilang kalo beliau ‘galak’, bisa jadi sih soalnya beliau ini bukan tipe yang sering ber-hahah hihihi bercanda kayak dokter OB/GYN kebanyakan (eh ini sih pengalaman saya dengan bbrapa OB/GYN lain ya), ya walau saya sih beberapa kali bisa bercanda dengan beliau. Banyak hal yang berkesan dari beliau, terutama setelah melahirkan. Beliau memeluk saya dan membesarkan hati karena saya gagal VBAC (karena gawat janin) . Dan karena beliaulah diketahui rahim saya abnormal, sehingga memang tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, dimana oleh OB/GYN lain (bahkan yg membantu persalinan pertama) tidak diketahui.

Ada yang kurang berkenan? Tidak tepat waktu saat praktek. Di Limijati jadwal praktek jam 16, kenyataan bisa ngaret 30-45 menit. Hal tersebut dikarenakan beliau adalah PNS di RS Hasan Sadikin, dan baru bubar pulang jam 16…! Kebayang kan? 😂 Lainnya, panikan (sifat perempuan banget); sewaktu baca hasil CTG (rekam jantung bayi), beliau bisa tiba-tiba panik karena hasilnya jelek, gawat janin harus operasi saat itu juga (ya wajar sih), cuma menurut saya seharusnya beliau lebih bisa ngontrol emosi, karna saya sebagai pasien bisa lebih panik lagi (cenderung bingung dan marah) begitu tau bayi nyaris meninggal. Ya tapi itu bukan masalah besar gimana sih. Memang situasinya begitu 😀

Biaya dokter: 350rb (incl usg ) utk kontrol rutin kehamilan.

Tempat lahiran: RS. Limijati karena nyaman, bersih, staf ramah, makan enak, ideal untuk melahirkan dan setelahnya. Hanya berat di biaya dibandingkan dengan RS lain 😂

Biaya persalinan: SC, menginap 3 hari kelas 1 habis skitar 35jt ( include rawat bayi) .

Cerita lainnya: Di Limijati ini tidak ada kamar dengan 2 bed pasien. Kelas 2 itu 3 bed. Kelas 1 dan VIP, 1 bed . Range harga kamar perawatan dari kelas 2 ke kelas 1 jauh. Kelas 1 dan VIP beda tipis (emang cuma beda di kulkas sih). Ohya, sistem pendaftaran bisa via telp / sms ke RS supaya dapat kuota pasien, hari kerja 15 pasien . Weekend 20 pasien utk dokter Anita.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s