Nenek Elly Akbar

Tulisan ini saya buat ketika Nenek Elly, Ibu dari Ayah saya, meninggal tahun lalu di tanggal 26 Maret 2017 dan saya unggah di akun Facebook saya. Tanggal 2 Februari kemarin adalah hari kelahiran beliau, saya jadi teringat beliau dan pengen posting tulisan ini di blog. Bagi saya, nenek merupakan sosok yang tak tergantikan dan saya bersyukur memiliki pengalaman dan kesan mendalam tentang beliau.
============================================================================
Diketik dalam perjalanan Bandung ke Jakarta, 26 Maret 2017.
Nenek Cilacap, begitu biasanya saya dan saudara-saudara sepupu merujuk beliau. Cilacap karena dulu rumah Nenek berada di Jl. Cilacap No.7, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah tempat Ayah saya dan saudara-saudara kandungnya menghabiskan masa kecil mereka. Dari cerita Ayah, beliau sangat bangga pada masanya untuk menyebut diri mereka sebagai “Anak Menteng”. Jika disejajarkan, pada saat saya menjadi remaja di tahun 1998, Menteng itu semacam Pondok Indah-nya. Daerah elit, tak heran karena Keluarga Pak Harto dan para pemimpin negeri ini tinggal di sekitaran daerah itu.
 
Rumah Nenek luas, dengan dua bagian rumah (1 bangunan utama dan 1 paviliun). Di antara bangunan ini ada sebuah dapur, tempat Nenek biasa menghabiskan 4-5 jam dalam sehari untuk memasak: mengupas aneka bawang, meracik bumbu, mengulek cabai/bawang/rempah, menggoreng, menanak, pokoknya semua kegiatan memasak. Kalau datang ke Cilacap, aroma bumbu khas masakan Minang: Rendang, Dendeng Balado, Gulai Lidah, Sambal Goreng Ati, dll menyeruak dan sering kali (atau mungkin selalu) membuat perut berteriak-teriak (karena mendadak lapar). Nenek adalah pemasak ulung – bahkan nasi buatannya terasa spesial karena ditanak dengan sempurna. Kalau ke sana, saya bisa tambah hingga 3 piring nasi (nasi boleh nambah, namun lauk selalu dibatasi oleh beliau karena memang porsi sudah ditentukan dengan presisi). Nenek menyimpan semua masakannya di sebuah lemari coklat dari kayu dengan aroma yang khas juga. Ohya, semua barang-barang Nenek awet sekali, dari tahun 1940-an hingga sekarang. Yang paling terkenang adalah sebuah Lemari Es (kulkas) besar berwarna hijau telor asin yang kalau membukanya harus ekstra hati-hati, karena salah buka bisa kesetrum ;)). Walau saya yakin nenek mampu membeli kulkas keluaran terbaru sekalipun, namun salah satu sifat dominan beliau adalah: hemat. Jadi, memang kalau masih bisa difungsikan, kenapa harus beli baru?
 
Lalu, setiap liburan sekolah tiba, mulai dari SMP hingga SMU, Bunda saya selalu menyuruh (menyarankan) saya untuk belajar masak ke rumah Nenek Cilacap. “Belajar masak ke rumah Nenek. Jangan kayak Bunda, gak bisa masak sama sekali. Nanti kalau kamu jadi istri harus bisa masak” ujarnya empat-lima kali. Dan berkali-kali pula selama liburan saya memantapkan niat untuk belajar masak bersama Nenek, tidak pernah kejadian sampai akhir hayat beliau.
 
Saat saya kelas 3 SMP, keluarga saya mengalami berbagai permasalahan pelik. Saya tidak akan cerita lebih jauh perihal ini. Pokoknya pelik sebagaimana kondisi Indonesia kala itu (Krismon 1998). Di masa akhir SMP itu, saya menerima hasil ujian matematika. Nilai saya 1 (dari skala 100). Pak Darto, guru matematika, kala itu, hanya bisa menasehati agar saya belajar lebih baik. Dengan melihat kondisi di rumah tinggal keluarga kami yang memang tidak kondusif untuk belajar, maka saya meminta izin kepada Ayah dan Bunda, untuk pindah rumah, ngekos….atau ke manalah yang bisa bikin saya kondusif belajar. Usia saya waktu itu 14 tahun, mungkin gak tega juga kali ya disuruh ngekos.
 
Sampai akhirnya saya diperbolehkan untuk pindah sementara ke rumah Nenek Cilacap di Cawu I itu. Kepindahan sementara ini membuat saya jiper, karena Nenek sangat identik dengan gaya disiplinnya yang strict. Standar disiplin tersebut yang membuat saya sempat tidak yakin untuk mau “pindah ke rumah nenek”.
 
Nenek memang sangat keras, namun hasil didikannya (dan juga Alm Inyik Ali Akbar) menghantarkan anak-anaknya menjadi para pribadi ulung dan cerdas. Hampir semua tante dan om saya (kakak-kakaknya Ayah) adalah dokter, dan semua sepupu-sepupu saya dari keluarga Akbar selalu menjadi juara umum dan masuk ke sekolah-sekolah terbaik selama SD-SMU. Pressure sekali bagi saya kala itu, ketika ada acara kumpul keluarga.. di saat mereka semua juara umum, saya rangking 34 dari 40 siswa. Nem saya rata2x 6.5 dll dsb.
 
Tapi sudahlah, yang jelas semua sepupu saya ini baik, sholeh/sholehah, pintar, dan juga tak pelit berbagi ilmu. Saya diajarkan cara agar belajar lebih efektif oleh Putri Ramadhani, dijemput tiap pagi bareng ke sekolah sama Dede “Rama NIDJI”, dibantu tugas makalah oleh Kak Lia, dll.
 
Dari sekian malam yg saya habiskan di Cilacap dan tinggal di kamar paviliun belakang (kadang ditemani oleh Ashri Rahmania), ada 1 malam di mana saya tidur bersama Nenek. Tidur bersama Nenek artinya juga harus memastikan tangan dan kaki dicuci bersih (karena Nenek orangnya bersih banget), tidak ada basah (kering memasuki kamar), harus sudah sholat, dan tidak bersuara. Kamar Nenek dingin sekali (beliau tidak tahan kepanasan) dan tidak ada nyamuk (di luar nyamuknya ganas). Malam itu saya berusaha mencari posisi tidur dalam kondisi kaku dan tidak bebas bergerak karena takut mengganggu Nenek. Tapi rupanya beliau mengajak saya ngobrol.. menceritakan pada masa beliau kecil (yang dihabiskan di Ranah Minang) untuk pergi ke sekolah, beliau harus menempuh jarak kurang lebih 2 km perjalanan darat dan dengan jalan berbatu. Mau belajar juga ga ada listrik, jadi menggunakan lilin. Tapi nenek tetap bisa berprestasi dan berpendidikan tinggi. Hanya itu yang saya ingat, tapi kemudian dari malam itu, membuat saya semangat untuk belajar lebih giat dengan segala kemudahan yang telah saya dapatkan di masa itu.
 
Pada ulangan matematika selanjutnya, nilai saya 100.
 
—-
 
Nenek Elly sedari saya kecil, begitu saya hormati. Dengan beliau saya merasa terlindungi (ada masa di mana saat saya takut atau berantem sama abang dan adik saya, yang saya teriakan adalah “Neneeeeekkkkkkkkk tolong akuuuuuu”).
 
Nenek meninggal di usia 91 tahun, setelah 7 tahun lamanya beliau sakit dan terkulai di tempat tidur dengan selang infus. Di sela kesakitannya beliau tetap teguh bangun setiap malam untuk menunaikan sholat Tahajud.
 
Aku berduka dan bersyukur hari ini, karena sakit nenek telah berakhir. InsyaAllah di Jannah mendapat tempat terbaik di sisi Allah Nek… semoga telah gugur dosa2x nenek selama sakit kemarin.
 
Terima kasih telah memberikan sosok seorang Nenek yang kuat, tegar, dan penyayang.
 
Aku sayang Nenek. Doa kami: anak-anak, cucu, cicit Nenek mengiringi kepergian Nenek. Sampaikan salam rindu kepada Inyik Ali. Until we meet again, InsyaAllah.
 
“Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.” Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memberikan keselamatan dan memaafkan kesalahannya. Aamiin.
*Ditulis oleh Chica yang cirambay dalam perjalanan ke Jakarta. Maaf aku tidak sempat melihat Nenek untuk terakhir kalinya. Sayang Chica selalu untuk Nenek.
====
 
Advertisements

One thought on “Nenek Elly Akbar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s