Kebiasaan Kids Zaman Now yang Bikin Gengges

Another post that stayed in my DRAFT folder, I wrote it back on November 4th 2017 – and since I encountered the not-so-pleasant interaction with this range of age, I continue to finish this article. BUT, before you read it, kindly put in mind that this is written by me: anak yang lahir di tahun 1984 dan besar di era 1990-an yang juga pastinya memiliki “nilai-nilai” berbeda dengan teman-teman yang dari generasi berbeda juga.

Alasan saya menulis ini adalah terlalu banyak kejadian yang membuat hati dongkol karena berinteraksi sama anak2x kids zaman now ini – dan setelah saya ceritakan ke teman-teman sesama generasi saya, ternyata semuanya (iya, semua) merasa dongkol juga…! Tapi sayangnya mereka gak punya blog, wkkk dan lebih baik mengalokasikan waktunya melakukan pekerjaan positif dibanding nulis beginian panjang-panjang, hehe. Jadi semoga tulisan ini bisa mewakili kedongkolan berjamaah ini.

++++++++

Well, sebetulnya saya gak tau pasti sih istilah kids zaman now ini siapa yang pertama kali mempopulerkan, dan ga tau merujuk ke range usia berapa tahun. Dan kalau dalam perbincangan bersama temen-temen atau pun keluarga, kerap kali saya mengeluhkan kelakuan anak millennials, ehhh ternyata saya sendiri masuk dalam kategori millennials (kelahiran 1984). Ara always said “You know that you are  belong to the millennial right?”.

2016-03-03-1457014371-1021462-screenshot20160302at8-38-45pm
Millennials cons: Lazy, Unproductive, SELF-OBSESSED

Jadi dalam postingan saya kali ini yang saya maksud Kids Zaman Now adalah adik-adik yang saat ini lagi dalam akhir masa perkuliahan S1 or fresh graduate dan ke bawah (lahir tahun 1993 – 1997).

Jadi ceritanya begini, selama menjalani kehidupan berkomunitas di Pustakalana, saya sering bersinggungan sama generasi ini, ada yang ngelamar sebagai administrator harian, volunteer, mahasiswa meminta data, mahasiswa meminta izin observasi, mahasiswa nanyain hal-hal remeh-temen di DM (direct message) Instagram, dll. Tapi beberapa kebiasaan ini MENGANGGU banget dan menurut saya adik-adik ini perlu belajar beberapa hal berikut:

Tata Cara Berkomunikasi via Tertulis

Gunakan tata bahasa dan penulisan yang baik

Kita hidup di zaman serba instant dan interaksi melalui tertulis adalah hal yang biasa. Namun, utamanya yang baru kenal/ belum dekat-dekat amat, atau bahkan ke orang asing – misal ke customer (jika punya usaha) atau ke pihak yang lebih senior, biasakan menulis dengan lebih tertata. Bandingkan:

“Selamat sore semuaaaa, bsk hr kms akan diadakan lat. menari pertemuan ke-4 di bln november jam2 di taman cibeunying. absen yaa siapa yang bisa datang”.

Jika tulisan tersebut untuk disebarkan ke dalam sebuah group, alangkah lebih elok jika memiliki effort untuk menulisnya dengan lebih tertata:

“Selamat Sore Ibu/ Kakak-kakak,

Besok, Hari Kamis (31 Januari) akan diadakan pertemuan ke-4 latihan menari bersama Kelompok Tari Suryalaya yang bertempat di Taman Cibeunying pada pukul 14.00 – selesai. Mohon diisi yaa siapa saja yang bisa hadir: “

Intinya sih, walau ini bukan surat resmi (karena pas zaman saya SMP mah saya memang belajar menulis surat dan ada mata pelajarannya), tapi karena fungsinya sama dengan surat, ada baiknya formatnya pun lebih teratur (walau tidak resmi tapi tetap tertata).

Perkenalkan diri dengan jelas

Baik melalui email, WhatsApp, Instagram, dan media tertulis lainnya, adik-adik ini bisa dibilang gagap sopan-santun. Sebetulnya bisa jadi mereka cuman clueless, dan gak menganggap hal ini penting – padahal dalam interaksi mereka dengan generasi lain (yang mana adalah 10-20 tahun di atas mereka), hal ini perlu. Kebiasaan-kebiasaan yang kurang elok dan kurang sopan ini, kalau diteruskan malah akan membuat mereka susah dikemudian hari.

Pernah suatu ketika, karena saya udah dongkol banget sama seorang mahasiswi yang mau melamar sebagai anak magang di Pustakalana. Anak ini sudah sempat ketemu saya dan berinteraksi, namun ternyata tidak dapat dipercaya (intinya ingkar janji yang seharusnya datang namun dua kali tidak hadir di waktu yang sudah ditentukan). Sehingga dia tidak jadi diterima magang. Tak lama kemudian, anak ini (yang tetap menggunakan Pustakalana sebagai contoh kasus tugasnya) mau meminta data  ke Pustakalana dengan cara yang menurut saya tidak sopan. Bagaimana tidak sopannya? Jadi, anak ini mengirimkan email tanpa subject dan ditujukan ke Koordinator Perpustakaan, yang kala itu dipegang oleh volunteer (dan beliau adalah seorang dosen). Isinya kurang lebih seperti ini:

“Halo Mbak xxx, saya boleh minta data pengunjung bulanan Pustakalana dan jumlah koleksi buku Pustakalana beserta klasifikasinya ga untuk tugas kuliah saya?”.

Udah gitu doang.

DSRfnW7VAAEqATU.jpg

What I have in mind when I read that email: Ini anak maunya apa ya? Tidak ada perkenalan diri apa-apa, tidak membawa surat dari jurusannya or at least menjelaskan mengapa dia membutuhkan data tsb, untuk mata kuliah apa, dll.

Sehingga email tersebut saya abaikan (dan saya minta Koordinator Perpustakaan untuk abaikan saja tidak perlu ditanggapi). Ternyata anak ini mengontak saya via WhatsApp. Sama, cara bertuturnya tidak santun. Maka saya sampaikan ke dia:

“Mohon maaf, saya tidak nyaman berinteraksi dengan kamu karena kamu kurang sopan. Dan saya tidak bersedia dikontak oleh kamu lagi. Semoga lancar mencari data di tempat lain”. Dan kemudian saya block dia dari WhatsApp saya. Tau gak apa yang terjadi? Anak ini mengontak saya via SMS dan berkata kasar (menurut saya kasar) bahwa dia malah seneng ga jadi magang di Pustakalana karena bayarannya rendah dan bilang bahwa saya childish karena nge-block WhatsApp dia. OMG. Seriously, pada waktu itu saya murka luar biasa. Menurut saya ini anak udah sampai tahap kurang ajar yang keterlaluan. Tak lama setelah kejadian itu, ternyata Kepala Jurusan si anak ini datang ke Pustakalana, dan beliau suka sekali dengan Pustakalana. Saya sampaikan perihal si anak ini kepada Kepala Jurusannya. Si Ibu sampai geleng-geleng kepala, dan beliau bilang bahwa di kampusnya sampai dipasang beberapa x-banner tentang etika berkomunikasi pada dosen.

meme-Qasidah

Yaa saya mah bukan dosen ya, tapi etika terhadap orang yang lebih tua itu harus diperhatikan. Apa yaa yang ada dibenak anak tersebut sampai bisa-bisanya ngontak via SMS dan sempet-sempetnya mencemooh bayaran? Sebulan berselang anak tersebut mengirimkan surat resmi permintaan maaf kepada saya dan Pustakalana atas perilakunya tersebut (saya sih ga merasa perlu harus ada surat resmi, yang paling penting anak ini belajar dari kesalahannya).

Menulis email.

Sering banget saya keki kalau menerima email dan hanya berisi subject dan attachment semata, tanpa adanya badan email. Bahkan ada yang hanya attachment saja, gada subject dan badan emailnya sama sekali. Biasakan untuk selalu mengisi subject dan menulis di badan email, apapun kondisinya – apalagi berhubungan sama orang luar (kalau ke temen sih mangga aja). Misal mau kirim CV lamaran kerja, tuliskan:

Subject: CV Maya Aristrokawatee

Badan email:

Dear Manager HRD PT. XYZ, Sesuai dengan iklan yang saya lihat di IG PT XYZ atas kebutuhan SDM sebagai marketing intelligence, maka dengan ini saya lampirkan CV saya. Semoga dapat diterima dengan baik oleh Bapak/Ibu.

Sesederhana itu. Seringkali juga ketika melamar, adik-adik ini memiliki kecenderungan untuk langsung attach semua hal: yaa fotocopy  ijazah, fotocopy KTP, fotocopy KK, dll. Gak perlu bro-sis, cukup CV aja. Kalau sudah keterima kerja dan dibutuhkan, maka semua itu dapat dilampirkan belakangan.

281.png

CV yang heboh. Saya pahami betul bahwa kids zaman now memiliki banyak tools canggih dan gratisan dalam mendesain sesuatu. Apalagi CV. Kadang CV ini menjadi sangat semarak – namun tak berfaedah. Kalau untuk magang di tempat yang mengutamakan kreativitas mah gapapa, mungkin oke-oke saja dengan banyak warna dan format tidak baku, namun pastikan satu hal: secara tatabahasa sudah tepat. Apalagi kalau pakai Bahasa Inggris, grammarnya harus ekstra diperhatikan. Sering banget menerima CV heboh dengan Bahasa Inggris namun acak-acakan grammarnya *sayangnya saya ga enak kalau harus attach contohnya x’). Lucu-lucu deh pokoknya, antara gemes pengen nakol, sama gemes dengan ke”naif”an mereka.

Penggunaan Kata Panggilan. 

Saya paling risih kalau di email dan DM IG dipanggil “Mimin”. Memang sih, itu adalah istilah yang sering digunakan untuk menggantikan kata Admin. Namun jika kamu belum tahu yang kamu hadapi itu laki/perempuan, lebih tua/muda dari usiamu, dll, amannya sebut aja “Kak”. Kecuali kalau ke perusahaan beneran ya, wajib (menurut saya) untuk merujuk orang yang dikirim sebagai Bapak/Ibu. Biasakan tulis aja seperti ini, misal “Hallo (nama akun instagram/ brand yang dikontak), perkenalkan nama saya Ira, saya tertarik menjadi internship di xxxxx. Jika saya mau mengirimkan email, kepada siapa saya tujukan email tersebut? Terima kasih sebelumnya”. Ohya, biasakan tulis juga dengan spasi, titik koma, huruf besar dan kecil yang jelas sesuai kaidah berbahasa.

Dan selalu biasakan menggunakan kata ganti panggilan. Misal saya dan anak magang hubungannya sudah dekat *saya memang sangat tidak jaim dan tidak menjaga jarak kalau berhubungan langsung. Tapi kalau tertulis, biasakan juga selalu menulis “Oke, Kak/Bu” dibanding ‘Okeeeeeeee”.  Dengan menyelipkan kata ganti panggilan ini, akan dirasa lebih sopan (walau mungkin minor, but still a nice gesture) *plus insert smiley emoticon.

Self Obsessed

Synonyms of self–obsessed egoistic (also egoistical), egomaniacalegotistic (or egotistical), narcissisticself-absorbedself-centeredself-concernedself-infatuatedself-interestedself-involvedselfishself-lovingself-obsessedself-orientedself-preoccupiedself-regardingself-seekingself-servingsolipsistic

Saya pahami bahwa kids zaman now ini memiliki banyak kemampuan, pengalaman yang lebih kaya, dan juga tools untuk mempromosikan karyanya – baik itu via blog, instagram, dan lain-lainnya (utamanya anak jurusan Seni nih, yang bisa menaruh banyak portofolio karyanya dan sudah cukup dikenal dengan banyak followers – misalnya) dibanding dengan generasi terdahulu. Misal, saya ketika usia 20 tahun dengan adik saya yang usia 20 tahun, akan sangat berbeda exposure-nya. Saya merasa dia lebih kaya pengalamannya. Dan saya yakini, anak-anak seusia adik saya – selaku kids zaman now- juga kurang lebih sama (okay pukul rata anak di kota besar lah yaa asumsinya).

Anak-anak ini ketika lulus S1 akan merasa “Aing udah banyak pengalaman” dan merasa bahwa dirinya patut mendapatkan gaji setinggi-tingginya. Hal ini wajar, saya juga gitu kok dulu pas abis lulus S1 kepengennya khan gaji 8 juta – padahal pengalaman NOL. Tapi somehow kids zaman now ini, memandang dan menghargai dirinya “terlalu tinggi” (sehingga gak rela dibayar dengan gaji lebih dikittt dari UMR) – mungkin selain pengalaman yang kaya, kebutuhan gaji yang tinggi ini pasti related juga dengan gaya hidup yang bergeser. Kalau zaman saya, traveling backpacking itu bukan sekedar buat dijadikan foto-foto bagus di Instagram (melainkan upaya untuk memperkaya dan “menemukan diri”), sekarang khan sudah jadi lifestyle “gaya-gayaan” ya (apalagi travelingnya memperingati hari jadi ke sekian bulan sama si pacar, HADEHH). Belum lagi smartphone dan laptop yang bagus sebagai penunjang perlu banget. Namun bukan berarti segala-galanya diukur dari material semata. Contoh:

Ini fresh banget kejadiannya. Beberapa waktu lalu Pustakalana mengajak sebuah komunitas seni untuk membantu kegiatan, simple banget sebetulnya: mendampingi adik-adik mewarnai kotak mainan kayu. Yang mana sebetulnya sama volunteer Pustakalana pun bisa, namun saya pikir…..Why not, toh ada komunitas seni nih yang juga suka sama anak-anak, bisa diajak berkolaborasi. Namanya komunitas ya… dipikir spiritnya pun ya komunitas (not for profit, berlandaskan kekeluargaan, kebermanfaatan, dan yang penting mah seru dan senang ketika menjalani kegiatan).

Ketika bertemu dengan si anak angkatan 2013 ini, saya udah ada feeling ga enak: yang pertama, dia meeting baru bangun tidur lengkap dengan rambut acak-acakan dan mata 5 watt, serta suara seperti orang mabuk. Tapi mungkin memang begitulah anak seni. Jadi saya maklumi. Dari meeting tersebut, dia menanyakan ke saya dengan cara yang…. well, agak bikin saya bertanya-tanya. Dia memanggil saya dengan ‘EH…! Nanti ada insentifnya?”. Wah, belum apa2x udah nanya insentif, tapi tipikal deng,.. saya udah beberapa kali ketemu anak seni, yang nomor 1 ditanya itu “Ada insentifnya ga”. Saya bilang “Ada, 15rb per anak yang kamu fasilisasi (bener gasih fasilisasi?) fasilitasi“Oke”. Dari pertemuan itu dia juga bilang dan bercerita bahwa biasanya dia ga mau dibayar fix, tapi per JAM kerjanya. – misal ngemural. Dia ga mau dibayar luasan mural, tapi berapa jam dia habiskan per mural tersebut. Oh, okay pikir saya. Tapi yang jelas udah clear dari meeting tersebut bahwa bayarannya adalah per anak, dan jam mereka harus standby adalah dari jam 10-16 di acara tersebut.

Feeling ga enak yang kedua adalah, dia memanggil saya dengan “Cica” – dalam berkomunikasi via Whatsapp. Satu-dua kali saya masih menahan diri, Lama-lama saya ngerasa ini anak kok ga sopan ya, khan bedanya 12 taun nih sama saya. Sehingga saya merasa harus menegurnya: “Hi, btw aku angkatan 2001. Kayaknya lebih sopan ya kalau kamu manggil dengan Kak”. Setelahnya dia meminta maaf, dan bilang “Maaf kak, saya pikir kakak angkatan 2009 – jadi ga beda jauh”.

9gag-meme-faces-59d4a22c7cf90.jpg

Dari 2013 ke 2009 itu emang ga jauh sih ya….. Tapi….. Yaudah deh. Saya maklumi lagi, lagi-lagi mungkin kultur di jurusannya memang sesantai itu.

Namun di hari pelaksanaan kegiatan, kegiatan mewarnai box tersebut ternyata tidak banyak peminatnya. Dari slot kegiatan jam 11-15 hanya ada 5 anak. Sebetulnya di kegiatan ini, Pustakalana pun merasa ga efektif dengan slot waktu on going activity (biasanya khan 2 jam workshop beres. Kali ini memang diminta seharian stand by. Oke lah, dicoba aja karena belum pernah yang seperti ini). Nah, anak-anak dari komunitas ini merasa gak fair, karena cuman sedikit dapetnya – sehingga mereka minta dibayar PER JAM, dimana perjamnya adalah Rp. 50.000 (serta merta mereka menetapkan harga ini TANPA proses komunikasi ke saya dan ada kata sepakat sebelumnya). Mereka ini ada 3 orang, jadi untuk 4 jam, Pustakalana harus membayar sebesar Rp. 600.000 buat mereka. Alasannya? “Ya karena kami khan sudah sarjana S1 SR, jadi sudah seniman. Jadi bayarannya memang dihitung per jam.

Ketika saya membaca WhatsApp tersebut rasanya saya:

x8qfe

Saya sampai speechless pas baca kata-kata “SARJANA”. Betapa arogannya. Saya mikir, apa kabar Ibu Wila, Ibu Thasya, Ibu Diana, dan kawan-kawan lain di Pustakalana yang pada udah jadi direktur perusahaan, kepala sekolah, lulusan luar negeri, dan dosen kalo anak bau kencur kayak gini minta dihargai waktunya per JAM. Dan semakin saya berusaha memahami jalan pikiran si anak ini, logika saya gak sampai. Saya bilang padanya: “Seumur-umur saya berkegiatan komunitas, ini pertama kalinya saya ketemu komunitas semacam ini. Sangat oportunistik, materialistik, dan di mana sisi berkomunitasnya?”. Ketika segala-galanya diukur dengan keprofesionalisme yang semu dan… self-obssesed itu. Anak ini ketika saya telepon pun dengan sangat sopannya mematikan telepon di tengah pembicaraan. Ya, mungkin saya “kasar” juga dengan bilang mereka ini oportunis dll, tapi matiin telpon?

triplefacepalm

Guys, please. Perjalanan masih panjang, percaya deh gak semua kepuasan itu datang dari jumlah uang yang kalian dapatkan. Lebih dari itu kepuasan batin untuk dapat memberikan ilmu dan kapasitas yang kalian miliki ke banyak orang yang bikin hidup tuh lebih berarti. Dan poin utama yang ingin gue sampaikan ke si anak ini: have some attitude and integrity lah Dik.

attitude-behavior-character-integrity-Favim.com-3894429.jpg

Lazy

Sebetulnya mungkin enggak. Tapi ini kejadian nih. Ketika sudah bilang akan hadir di jam 12 untuk sebuah acara – anak ini kok ga datang-datang yaa. Ketika saya kontak jam 12.10 dia bilang “Waaa maaf kak aku ketiduran”. Saya bilang, gapapa tetep datang saja yaa karena tetep butuh SDM. Namun hingga jam 15 anak ini ga datang, ketika saya kontak lagi “Waaa maaf kaaaaakk aku ketiduran lagiii :((“.

Udah aja. GITU DOANG penyesalannya x’)) Disitu aku merasa, SERIOUSLY DUDE.

Jackie-Chan

Nada-nada serupa yang pernah saya temui antara lain: “Halo Kak Chiceniza (not even bothered to search for my real name), saya X dari jurusan X – Institut Y. Saya tertarik banget nih untuk wawancara kakak untuk tugas kuliah saya. Tapi saya agak susah waktunya untuk datang ke tempat kakak karena mau liburan dulu ke Jakarta dan nanti pas masuk udah ada UAS. Boleh ga Kak saya minta aja data untuk: ……”. Waktu saya baca ini email, dari sisi penyampaian udah bener – lengkap. Tapi GA ADA WAKTU untuk datang or melakukan usaha lebih untuk mendapatkan data, menurut saya “Siapeee eluuu”. Sibuk banget ya adik-adik ini, sampai kita harus disuruh memaklumi kondisinya – dan menurut saya sih, masa 2 jam aja dari kampus ke Pustakalana ga ada waktu?  x))

Hal “males” lainnya adalah menanyakan hal-hal yang one click away: “Kak, alamatnya di mana ya?” –> padahal di profile IG, di blog ada alamat lengkap. “Kak, jadi volunteer gimana dan ngapain aja ya kegiatannya?” —> padahal kalo search (let’s say spending 20 menit baca-baca tentang organisasinya via Googling ataupun IG) dengan mudah informasi ini bisa didapatkan.

Sama satu lagi: Nanya-nanya macem-macem dari A-Z, trus mengajak meeting. Tapi ngajak meetingnya KITA yang disuruh dateng ke tempat mereka. Ya, ya, ya….

4093d6dcc7f70cf687c05af6e0b58879
No 1, 2, 3, 4, 6, 9, 10 buat adik-adik dengan contoh di atas

Tidak bisa memutuskan sesuatu dari diri sendiri. 

Seinget saya ada 3 orang yang saya temui masuk dalam kategori ini. Mereka memutuskan sesuatu bukan karena hasil perenungan mereka, tapi mereka akan bilang bahwa “Kata Ibu saya” atau “Atau kata Bapak/Kakak/dll”. Sedih sih, saya ingat yang paling bikin saya sedih adalah ketika saya sudah mempercayai satu anak ini, dan seinget saya (inilah makanya dibutuhkan segala sesuatu dalam format tertulis/ hitam di atas putih) dia menyatakan kesediaannya untuk menjadi admin hingga akhir November 2016 (kala itu).

Ternyata di suatu sore, dia meminta saya menandatangani sesuatu (form magang atau apalah), dan setelahnya dia bilang “Kak, hari ini saya hari terakhir ya”. Waktu itu saya sampai speechless. Gila banget, mau cabut tapi ngasih taunya di HARI YANG SAMA. Dimana-mana ada namanya: Two weeks notice atau even a month ya. Dan saya tanya kenapa, disampaikan bahwa “Karena orangtua saya menyuruh saya untuk fokus ke TOEFL”.

Saya sama sekali ga ada masalah, karena di seusianya saya pun ikutan les Bahasa Inggris, pemantapan dll. Namun sebaiknya ketika memutuskan sesuatu apapun, dipertimbangkan dengan matang dan dari diri sendiri. Bukan menggunakan backup “orangtua” atau   orang lain yang menentukan jalan hidup kita. Memang di usia muda pasti banyak kegalauan, tapi keputusan akhir tetap harus dari diri sendiri (pertimbangan bisa dari mana-mana).

*****

Yaa begitulah beberapa hal yang saya amati dan rangkum dari hasil berinteraksi dengan kids zaman now ini.

Saya ingat, ketika kecil pun Uci Bunda (nenek saya) sering bilang: “Kurang ajar ngomong begitu ke orangtua”. Pada waktu itu saya mungkin gak sadar, kalau yang saya lakukan itu “kurang ajar”. Bisa jadi saya memang ga tau aja aturan main yang benernya gimana. Contoh pas pertama kali hijrah ke Bandung, saya khan ga tau ya kalo lewatin orang di gang harus bilang “Punteeen” – nah itu aja saya pernah disepet pas di gang oleh ibu-ibu yang sedang duduk karena merasa saya selonong boy. Baru kemudian saya ngeh… OHHHH harus bilang punten. Jadi saya pun merasa MUNGKIN kids zaman now ini simply have no idea aja, bukan maksud ga sopan.. tapi just being clueless.

Jadi tulisan ini dimaksudkan supaya adik-adik generasi ini, supaya ga “clueless-clueless” banget. Basically this is a common courtesy (courtesy: polite behavior that shows respect for other people) in dealing with others. Semoga bisa jadi masukan yang baik ya buat adik-adik semua.

Please feel free to write the comments below, dengan menggunakan kata-kata yang baik buat teman-teman lain yang mungkin pernah mengalami kejadian serupa. Karena masukan buat anak-anak ini perlu dan penting buat masa depan mereka x)))

Tabik…!

Advertisements

27 thoughts on “Kebiasaan Kids Zaman Now yang Bikin Gengges

  1. Terima kasih Kak Chica, dengan membaca post di blog Kak Chica saya jadi dapat banyak reminder untuk bagaimana berkomunikasi secara baik dan benar 🙏.

    Ada yang mau saya tambahkan sedikit mengenai cerita di atas supaya tidak ada salah persepsi dari pembaca blog Kak Chica, mengenai salah satu pihak yang bekerjasama dengan Kak Chica (berhubung saya juga berkaitan dengan kegiatan tsb.)

    Mengenai fee itu sebetulnya adalah sebuah kesalahpahaman yang bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik, tidak perlu menguras banyak energi dan emosi negatif.

    Lalu, yang terjadi di akhir dari konflik tersebut adalah pihak tsb., kemudian sama sekali tidak meminta fee dan hanya minta digantikan bahan yang digunakan untuk kegiatan yang dilakukan. Menurut saya hal ini perlu diketahui oleh pembaca blog Kak Chica yang lainnya, sehingga tidak ada kesan negatif yang ditujukan pada salah satu pihak, atau dalam konteks ini keprofesian seniman, untuk menghindari adanya stereotip negatif dan prejudice terhadap orang-orang lain yang juga memiliki profesi tersebut.

    Saya ucapkan terima kasih sekali lagi untuk Kak Chica, semoga semua kesalahpahaman yang terjadi bisa diselesaikan secara damai 🙏😊😊

  2. Teh Chica terima kasih buat pengingatnya, walaupun aku mungkin ga masuk kategori milenia yang teteh maksud hehehe (1993-1997, yaps aku udah tua -_-), tapi sifat-sifatnya mungkin masih mirip apalagi yang being on time dan skipan (salah satu istilah anak milenia 😂) 😢.

  3. Sebagai seniman saya bisa memposisikan diri saya sebagai salah kelompok orang yang disebutkan. Jujur saja, saya merasa kalau memang kesepakatannya adalah profesional, bukan voluntary collaboration menurut saya feenya cukup pantas kok. Justru menurut saya agak aneh kalau seniman muda harus dibandingkan dengan direktur atau senior-senior yang sudah settled dan memang berkontribusi pada Pustakalana atas dasar voluntary. Gak semua orang / seniman ada pada posisi sudah settled dan menganggap berkomunitas sebagai CSR. Ini sih asumsi saya saja tapi kalau kakak merasa pantas ngeblok WA orang lain karena nggak sopan, apakah menurut kakak ngatain orang ‘oportunis dan matere’ itu sopan?

    Just my 2 cents. Semoga approved deh ya komentar saya.

    1. Halo Aulia, thanks for your two cents. Yes, I think for that matter (karena too much ketidaksopanan dari anak ybs, untuk bilang dia materialistik dan oportunistik kategorinya masih sopan kok.

      Coba dibaca ulang kenapa sampe saya bilang kata-kata tersebut ke dia:

      1. Kesepakatannya bukan 50rb per jam. Silahkan saja sejumlah ini pun saya bisa terima kalo memang perjanjian di awal kesepakatannya demikian dan sejam itu full berkarya yaa. Bukan duduk-duduk nungguin orang datang.
      2. Dari tindak tanduknya, mungkin kamu merasa hal tersebut sopan – karena mungkin kamu dari golongan yang sama 🙂 Gapapa, saya sudah memaklumi segala ketidaksopanan anak tsb. Tapi at the end, yang paling saya rasa ga ada integritasnya adalah: semena2x menetapkan harga tanpa persetujuan di awal.

      Tapi then again, tulisan saya bukan buat kamu setujui atau enggak – karena beda cara pandang aja.

  4. Keren tulisannya, greget bacanya, sepertinya “kids zaman now” budaya membacanya sangat kurang yaa, kadang kesel juga pas tiba-tiba ada yg nanya hal-hal yang bisa dia dapatkan jawabannya sendiri cukup dengan meluangkan waktu 5 menit untuk membaca. Terkecuali setelah membaca ia belum juga paham, baru deh nanya, alhasilkan double pemahamannya. Memang harus sabar yaa.

    1. Haha, Iya benar Mbak, sudah banyak2x sabar dua tahun terakhir x) Pas awal2x ketemu kids zaman now sampe nangis2x ke suami saya (karena buat saya sangat melelahkan sih berinteraksi yang aneh gini haha). Pada akhirnya ternyata banyak yang mengalami hal serupa… dan sudah tidak bisa dibiarkan, jadilah ditulis 😀

  5. Kalo minta hanya minta ganti bahan, kenapa ngga ngomong dari awal, malah bilang minta dibayar per jam?
    Saya bingung dengan argumentasi raisa.

    1. Hehe iya Mas, jadi di awal, mereka memang ditugaskan untuk beli bahan (yang kemudian diganti oleh Pustakalana pada saat kegiatan). Walau si anak2x dari komunitas ini “pundung” karena saya tegur tea, mereka ga mau nerima bayaran. Namun dari Pustakalana tetap membayarkan sejumlah fee yang telah dijanjikan sebagai bentuk kewajiban yang memang disepakati di awal. Perihal mereka ga mau nerima ya itu terserah mereka, aku minta via Raisa untuk disumbangkan saja kemanapun biar berkah aja.

    2. Halo Mas Darmono.
      Iya, hal ini diawali dengan adanya kesalahpahaman mengenai fee ini, kemudian berujung penyelesaiannya dengan kurang baik-baik spt yang disebutkan Kak Chica di atas, kalau beliau sempat menyebut mereka “matere dan oportunis” yg akhirnya membuat pihak tsb mematikan telefon. Akhirnya, komunitas ini memustuskan untuk tidak meminta fee di akhir dan hanya diminta untuk mengganti bahan yg digunakan. Memang bisa dari satu sisi dapat dilihat kalau mereka “pundung” tp dilihat dari sisi lain pihak tsb. juga merasa sakit hati atas perkataan “matere dan oprtunis” shg sudah tidak meminta untuk dihargai dalam bentuk materi tapi dari cukup dari sikap saling menghargai saja, dan apa yg menjadi kewajiban Pustakalana untuk membayar mereka tetap dilakukan. Begitu maksudnya 🙏

  6. 1. pernah dibahas sih tentang perlu tidaknya kampus membuat x-banner yg berisi ttg tata krama berkomunikasi di kampus. dan most discussion berakhir dgn setuju bahwa banner semacam itu perlu ada.

    2. harga pasar tenaga kerja. iya sih mereka minta dibayar tinggi. tapi ingat ada namanya supply tenaga kerja. makin banyak supply-nya, makin berkekuatan lha si pemilik kerjaan. apalagi pemilik kerjaan bisa mendesain pekerjaan sehingga hanya diisi oleh seperlunya orang. semisal: anak magang, atau pekerja paruh waktu, dsb.

    entah ya. tapi kemapanan pekerjaan jg penting. gak mungkin selamanya kerja pindah2 pekerjaan kan. ini yg belum saya pahami jg sama strategic plan-nya si kids jaman now ini.

    lagian, makin banyak sarjana. lulusan S2 aja makin banyak. apalagi cuma lulusan sarjana.

    3. clueless. somehow, para kids jaman now ini kudu banget dikasi tahu. alias gak otodidak. kembali ke kasus x-banner tadi. generasi sebelumnya mgkn bisa mikir sendiri ya. tapi kayaknya generasi ini kudu banget dikasi tahu directly. secara langsung. entah tertulis atau lisan, tapi harus dikasi tahu langsung. mungkin gak bisa mencari dan belajar (atau membayangkan sendiri) dari peristiwa orang lain.

  7. Waw, bacaannya menarik
    Sedih ya. Aku aja bingung mau komen gimana, hehe

    Perihal etika menghubungi dosen, perusahaan, atau yang berkepentingan melalaui whatsapp atau email, Alhamdulillah udah kuterapin dari dulu. Aku pikir, teman2 seangkatanku juga beretika yang baik seperti aku, eh ternyata enggak. Maka aku kaget saat ada banner etika menghubunhgi dosen, kira2 satu tahun sebelum aku lulus. Aku kaget, kok ada ya yang menghubunginya nggak beretika seperti itu? Hmm rupanya sudah banyak
    Dan aku juga udah ngerasain sih. Di DM IG, aku sering dapat pertanyaan dari orang2, tapi mereka biasanya memperkenalkan diri dulu, lalu aku cek ig nya untuk mengira-ngira umurnya berapa dan melihat profil sekilasnya. Eh ada orang, tiba2 tanya, profil ig nya gak ada 1 postingan pun, ya kujawab aja pertanyaannya, kupanggil Pak, kukira bapak2. Eh saat kupanggil Pak, dia marah2. Mbok yo bilang kalo masih SMA. duh lah.

    Sebenarnya aku mau ngomentarin dan berpendapat banyak hal sih terkait kids zaman now ini, hmm tapi akan panjang komentarnya, hehe. Bisa2 jadi satu tulisan post blog, hehe

    1. Haha, ditulis aja Mbakk… Menarik lho bisa sharing pengalaman2x – setidaknya kita semua jadi tau kalo ini emang COMMON case dan harus ditegur sih anak2x ini, entah bagaimana xD

  8. Dan saya jadi ikut geregetan baca tulisan ini
    Saya guru di sebuah yayasan pendidikan, yang muridnya dari level SD sampai SMA
    Duuuh… banyak-banyak narik nafas dan ngelus dada deh sama cara berinteraksi anak-anak ini dengan orang yang lebih tua

  9. tapi saya setuju dengan kids jaman now, entah harus kuapakan termasuk murid murid saya dan saya khawatir dengan anak saya kelak hiks

    semoga msh byk ortu yg mendidik anaknya dengan baik

    1. Ini bisa jadi karena kurikulum anak2x ini beda sama zaman “kita’ (kalo ditilik anak2x ini pake kurikulum 2004) dan mungkin masa2 itu perkembangan teknologi lagi cepat; termasuk medsos (FB seingetku 2004 ya, dst). Mempengaruhi cara mereka berinteraksi secara sosial… mungkin…mungkin x’) *menarik utk ditelitii

  10. Hai kak, ini pertama kalinya saya ke blog ini. Feel related banget dengan cerita di atas. Gak jauh-jauh, dari adik sendiri pun berasa gengges banget..hihi..

    1. Haha iya adikku juga… Trus kalo dibilangin super SENSI bangets. Jadi yasudah….aku bebaskan saja maunya apa x) Kecuali kalo emang ditanya, baru kasih saran. Kalo ga ditanya mending diemin x)))

  11. Lagi musim ya meme qosidah *eh entar aku dipikir kids jaman now yang ga sopan lagi. Hehehe.
    Tulisannya bagus, semoga anak-anak itu baca dan jadi tau “ooo seperti itu saya ga sopan ya berarti”.

  12. Maaf mbak sebelumnya kalau boleh tau, apakah ada perjanjian hitam diatas putih antara pihak Pustakalana dan pihak tertuduh (dalam kasus ini, anak-anak “zaman now” seperti yang mbak sebutkan)? Meskipun bentuknya “kolaborasi”, rasanya perlu untuk membuat kesepakatan tertulis agar klaim-klaim dan permasalahan seperti ini tidak akan muncul lagi. Terutama untuk menyamakan pemahaman antara kedua belah pihak, agar tidak ada yang dirugikan dalam bentuk apapun.

    Lalu, sepertinya kata yang tepat adalah “fasilitasi” mbak.

    Terakhir, kalau memang mbak dan rekan-rekan lain sebegitu jengahnya dengan fenomena ini, kenapa tidak bikin kampanye saja? Atau mungkin kelas kepribadian yang menyasar anak-anak yang dibahas dalam tulisan ini. Kenapa? Karena tulisan ini hanya mencemari dan mendiskreditkan segelintir profesi/pekerjaan/latar belakang tertentu yang sebenarnya hanya karena beberapa orang mengeneralisir kasus yg terjadi. Sekalian saja mbak, dituntaskan sampai ke akarnya. Nah, bila akhirnya diadakan, mohon gunakan strategi marketing yang tepat ya mbak agar tidak ada keluhan kalau anak-anak “zaman now” ini tidak ada yg mengikuti acaranya karena kurang menarik.

    Sejujurnya saya setuju dengan komentar Mbak Aulia. Ada batas-batas kesopanan yang sepertinya dilanggar oleh Mbak Chica. Tapi, seperti yang mbak bilang, “Tapi then again, tulisan saya bukan buat kamu setujui atau enggak – karena beda cara pandang aja”. Tipikal relativistik, tidak ada benar dan tidak ada salah, yang ada hanya berbeda.

    Hal ini mengingatkan saya pada akun CountMeInID di Twitter beberapa waktu lalu:

    It’s not social media. It’s tribal media. Your Facebook and Twitter feed is full of people you agree with telling you things that will make you feel better about yourself.
    5:44 AM – 17 Nov 2017

    Semoga sejahtera selalu.

    1. Hallo Nadia, terima kasih ya sudah menulis panjang seperti ini.

      Jujur aja Nad, saya sempat konsultasi dulu loh untuk nulis ini sama sobat saya yang dari jurusan sama dan almamater yang sama dengan contoh2x di kasus ini. Karena……. sebagian besar berasal dari jurusan + universitas yang sama. Tapi daripada mencoreng satu institusi, lebih baik tidak secara gamblang yaa saya kemukakan? Walau ya mungkin jadinya se-anak2x seni jadi tak nyaman ya. Maafkan jika demikian. Saya juga ada pengalaman yang menggembirakan dengan anak seni, hanya memang perbandingan senang dan “tergengges” 1:8.

      Thanks juga utk koreksi: fasilitasi (duh).

      Untuk hitam di atas putih ini saya akui banget, pas saya bersinggungan dengan si anak – saya langsung NYESEL banget ga melaksanakan SOP untuk bikin MOU dengan komunitas yang terlibat kerjasama. Karena memang persiapan acara yang mepet dan “sesederhana” idan sesimple itu tasksnya. Santai lah saya pikir. Gak pernah kebayang sih bahwa akan mengalami kejadian seperti ini. Tapi ya jadi pembelajaran banget, mau kerjasamanya cuman short term dan ecek-ecek tugasnya, ttp harus ada MOU.

      Perihal Kampanye, sepertinya itu bukan ranah saya yaaa. Ini aja kalo baca komen2x orang-orang (yang mengalami perlakuan serupa dari kids zaman now ini), kami semua bingung: APA YANG SALAH YA. Mau dirunut tapi keknya sih lebih baik ada yang ngeriset dulu secara serius (apa yang missed dengan anak-anak ini sampai terjadi pergeseran value yang sedemikiannya) , karena emang udah mengakar, jangan2x bukan di Indonesia aja – tapi globally si digital native ini emang clueless aja.

      Perihal relativistik memang demikian. Saya yakin kamu juga punya segala macam argumentasi yang membuat pengalaman saya menjadi tidak perlu “dibesar-besarkan”. That’s okay lah: bersosialmedia bukan untuk cari dukungan toh. Saya dari awal menulis juga udah siap kok kalo bakal ada komen2x yang against tulisan saya, which totally fine if not anyone can relate with it :). Saya menulis di blog bukan juga mencari tanggapan orang, simply I need to channeling my thoughts. The way I act and react with these kids, is based on what values that I believe. Buat saya sih gengges banget.

      You too, salam sejahtera dan damai.

  13. UUUN! Itu yang bagian email sih, aku pun ngalamin banget. Bukan puma satu dua orang mahasiswa tapi HAMPIR SEMUA mahasiswa yang pernah aku ajar (angkatan 2013 – 2015), tiap kali ngirim tugas lewat email, enggak ada tuh pake kata pengantar. Dibiarin blank aja gitu. Kosong. Sesekalinya ngasih kata pengantar isinya “Ini ya miss tugasnya :)”. EAAK. Jadi bingung kan lebih kurang ajar yang mana :))) Tapi aku mikir, ini apa aku aja yang lebay ya. Dan pas aku baca ini, aku baru nyadar kalo aku enggak lebay :’) makasih un udah mewakili uneg – uneg buat anak jaman now :)))

  14. Yaampun miris ya sampe di kampus perlu ada banner tata cara berkomunikasi sama dosen segala… ini ada yang salah sama pendidikan SD/SMP/SMA nya kali ya? aku gak terlalu banyak bekerja sama dengan anak jaman now ini Ca, tapi dulu pernah beberapa kali pas aku terlibat di Indonesia Mengglobal. Banyak anak2 lebih muda dari aku tapi surprisingly cara bekerja nya nggak kalah professional lho, makanya aku rada kaget baca tulisan ini, masa segitu parahnya? tapi setelah aku pikir2 lagi… itu anak2 di Indonesia Mengglobal rata2 lulusan luar negeri semua :\ jadi sedih dong, asumsiku ya bener pendidikan di Indonesia ada yang salah kalo gitu… :\

    1. Halo Christa, somehow anak2x yang beda usia 2-4 tahun di atas usia anak2x ini (yakni angkatan 2007-2010) aku merasakan interaksi yang sungguh berbeda. Seperti anak 2009-2010 aja gak “clueless” dan lebih santun. Tapi ini bener2x samplenya yaa sample seadanya yang aku rangkum dari berhubungan dengan segelintir anak2x mudah Bandung ya x)

      Untuk yang 1993-1997 sendiri aku lbh sering nemuin ga enaknya, yaa kayak beberapa contoh yang kutulis ini. Surprisingly banyak banget yang komen di IG dan Fb mereka ketemu kasus yang kurleb mirip tindak-tanduknyaaa. Bisa jadi beda kurikulum + “gaya/pola asuh” + the rapid changes in techology pastii ngaruh banget – anehnya bisa merata kelakuannya ini x))

  15. Wah.. habis baca tulisan ini aku nggak merasa langsung punya ‘pandangan yang sama’ ke komunitas seni lainnya. Karna mau kerja sama dengan komunitas lain, bisa aja terjadi hal yang sama bukan? Tergantung gimana etika masing2. Justru yang berpendapat menjatuhkan 1 profesi, kayanya beda hal, sengaja memelintir inti dari artikel ini, tata krama dan sopan santun. Wajar kalau baru mulai percakapan udah nanya insentif rasanya kurang santun. Terlebih lagi kegiatannya untuk pengembangan anak-anak dan tiba2 berubah sepihak dari kesepakatan awal. Kids zaman now waktu dan pikirannya terkuras dengan gadget mba, makanya ruang penerimaan nilai2 budayanya juga berkurang banyak

    Pengalaman mengenai kata sapaan di aku tapinya ga sama kids zaman now aja, yang seangkatan bahkan temen sekolah sendiri kadang tiba2 nanya barang jualan tanpa manggil nama, tiba2, “yang itu berapa”. Akunya cuma, kita bukannya temen ya? Plis deh lo ga bisa lebih sopan manggil nama dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s