On Being 30 Something

Tulisan ini ada di draft sejak awal tahun 2015 x). Baru dipublikasikan sekarang, karena masih relevan tulisannya dan terlalu banyak draft tulisan – biar agak ramean postingan tahun ini. 

Dalam benak saya ketika masih jaman kuliahan dan awal jadi orang kantoran, bayangan tentang usia 30 tahun itu identik dengan masa beranjak ke jenjang karir yang lebih tinggi dan sukses. Definisi sukses bagi saya kala itu: punya mobil, rumah sendiri, karir dengan posisi setingkat manager atau project director, ber-makeup, ber-high-heels, menenteng tas branded puluhan juta, traveling ke luar kota dan negeri dibiayai kantor dan duduk dengan cihuy di business class maskapai penerbangan terbaik, presentasi di hadapan jejeran bos-bos tinggi, dll yang sifatnya kurang lebih sama: sukses, mandiri dan mapan. It’s all about image.

Kenyataannya saat ini: di usia awal 30 tahun saya, saya masih saja berkutat mencari passion hidup saya, masih berkemeja, bersweater dan bercelana jeans sebagaimana saya di usia 17 tahun, masih bersepatu sneakers dan sendal casual kemana-mana. Tentengan tas juga ga seberapa, tapi dengan embel-embel “Kate Spade” diskonan saya cukup pede-lah kemana-mana menenteng itu. Traveling masih mengandalkan maskapai penerbangan apa pun di kelas ekonomi – atau berbekal bus, yang penting murah, aman, nyaman dan bisa sampai Manhattan – walau itu berarti harus berjam-jam dihabiskan di jalan.

Saya menikmati semua itu dan merasa nyaman, anehnya begitu.

Ukuran dan parameter kesuksesan saya semakin ke sini semakin berbeda dengan ketika saya sekolah dan kuliah dulu. Bisa jadi ini karena pengaruh Ara – oh tidak, ini sudah pasti karena pengaruh Ara. Ketika saya kuliah dulu, saya pernah bertanya ke Ara: “Ra, what do you want in life?” ; dia jawab ketika itu: “Saya ingin hidup tenang”. Jawaban Ara yang terdengar sangat tidak ambisius, sangat abstrak, dan tidak “terukur” itu membuat saya terperangah dan meng-counter dia habis-habisan kala itu. “Masa hidup tenang? Jawabnya tuh: pengen S2 di luar negeri, trus kerja di perusahaan X, trus ntar pas 30 sekian bisa udah keliling dunia, bikin inovasi dalam bidang kelautan, bla..bla..”. Saya lupa balasan Ara apa ketika itu.

Cuman kalau ada yang tanya ke saya saat ini, apa yang saya inginkan dalam hidup, jawaban saya: “Saya ingin hidup tenang”.

1910059_104916523228_7591519_nFoto ultah ke-10, tahun 1994 – bersama sahabat SD Siemens

Saat ini hidup saya masih jauh dari yang namanya tenang – akibat hal-hal kecil yang selalu saya besar-besarkan sih seringnya. Tapi kalau ditanya apa yang membuat saya tenang, jawabannya adalah: kehidupan rumahtangga yang sehat, rukun, penuh perhatian, respect, trust, sayang dan ceria. Anak-anak yang tumbuh sehat, selamat, santun, cerdas, dan kreatif. Berada di lingkungan yang aman, nyaman ditinggali, tentram dan asri. Duh. kesannya memang terlalu ideal, mengawang dan mungkin membosankan bagi sebagian orang.

Tapi memang itulah yang membuat saya tenang. Mungkin tambahan lainnya: punya banyak uang di tabungan yang cukup buat jalan-jalan dan belanja (HAHAH.teteup).

Saat ini saya menyadari bahwa kebahagiaan, ketenangan, dan kesuksesan hidup bukan diukur dari berapa puluh kota dan negara yang pernah kita datangi, bukan dari koleksi tas dan sepatu, bukan dari CV panjang (walau  itu juga ukuran kesuksesan), bukan banyaknya konser yang pernah ditonton, bukan juga dari banyaknya emas yang dimiliki, atau jumlah uang di tabungan (walau tentu, kalau punya, saya juga akan lebih tenang, hahah), bukan banyaknya mobil mewah yang berjejer di garasi, bukan gengsi masukin anak di sekolah internasional, dll dsb; Tapi bagaimana keberadaan kita membawa inspirasi bagi orang lain, bagi anak, suami, keluarga, dan komunitas. Waktu yang di”sumbangkan” untuk menjadi sukarelawan. Uang yang tersalurkan dengan membeli barang dan makanan lokal. Pakaian, barang, waktu yang diberikan ke charity setempat. Karya yang bisa dinikmati banyak orang. Interaksi yang menyenangkan dengan orang-orang yang ditemui atau bersentuhan di dunia maya.

Saya masih jauh dari itu semua, tapi itu adalah ide dari yang ingin saya jalani dan membuat saya tenang. Semoga.

====

Anyway… Sedikit nostalgia – foto-foto sebelum ada Azka dan Khalif 🙂

1910059_104916503228_4405295_n
Waktu kecil saya suka diajak Bunda ikut beragam lomba; dari mulai bayi sehat, lomba nyanyi (konon saya hafal 40 lagu anak ketika saya usia 2 tahun), hingga fashion show x))
1910059_104916513228_2436147_n
SD Siemens – kelas 4; Puti, Windy, Marizka, Asti, saya, Ayu
1910059_104919028228_7185773_n
With Bunda – somewhere in Nashville, TN
1910059_104919038228_811503_n
Sama Abang di UI Depok (nemenin Bunda kerja I suppose)
29153_1418399854117_1842863_n
Sama Kak Seto – sobat Bunda. Dulu sempet TK di tempat Kak Seto setahun doang.
29153_1418400534134_44309_n
Puncak dengan sepupu Hawadi.
29153_1418400694138_87447_n
Ultah pas kelas 1 SD. Saya duduk paling depan (deket Bu Elly wali kelas kala itu) – berbando hijau.
29153_1418400894143_1749630_n
with Ayah – SD kelas 6 kayaknya x)
29153_1418400974145_1979664_n
Sama sepupu dari kel. Ayah – Ali Akbar’s
800px-Keluarga_Reni
Ini kayaknya Lebaran tahun 2000

 

Sekian nostalgianyaa…!

Advertisements

6 thoughts on “On Being 30 Something

  1. Hahahahhaha Kilaaauuu xD.

    Iyaaa tapi kalo di keluarga nyokap pasti yang dibilang “Chica kecil” itu si Azkaaa..x) Walau makin ke sini gw ngerasa emang Khalif bingitzz plek ketiplekk 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s