Akhirnya Tuntas

Akhirnya tanggal 2 Oktober lalu, setelah sebulan lebih menunggu luruh semua sisa jaringan dan darah di rahim, saya dikuret. Dua hari sebelum dikuret, saya ditelpon seorang kawan lama yang lama tak berkabar. Antara terharu dan panik setelah dia menelpon, pada intinya dia dan istrinya khawatir dengan kondisi saya yang pada waktu itu dianggap sudah tidak wajar lagi: mengalami pendarahan terus-menerus selama 4 minggu pasca keguguran bukanlah a good sign. Dia sendiri bekerja di sebagai seorang ahli something-something related with Ibu hamil dan baru melahirkan. Intinya dia menyarankan “segeralah kuret, karena udah ga wajar banget. Takutnya bisa tumbuh kista atau bahkan keganasan”. Saya bersyukur banget dia nelpon pagi itu, thanks ya Andang dan Mirza..! Walau lucu juga kalo dipikir-pikir, karena teman-teman dan sepupu saya yang pada dokter ga ada yang mewanti-wanti hal ini kalau udah lewat sekian minggu *untuk menyegerakan kuret. Kemungkinan besar mereka baca cerita saya  dan tau saya memang berupaya luruh alami sehingga ingin memberikan saya ruang untuk “berjibaku dengan kekekeuhan” saya.

Anyway, keesokan harinya saya langsung ke dr.Larry (perempuan) di Mutiara Cikutra. Ya dia dokter pilihan saya, yang saya anggap cocok dari sisi: keilmuan dan komunikasi. Merasa nyaman dengannya, jadi apapun yang dia katakan, saya berikan kepercayaan sepenuhnya. Ternyata pagi itu ada sesuatu yang aneh – penampakan di USG. Dua minggu sebelumnya buletan hitam jernih itu ga ada….. “Ini apa ya??” ujarnya, kalem. Saya jawab agak-agak sotoy, karena sehari sebelumnya saya pergi keee…………… sebuah Klinik Prana di daerah Cigadung. Ara sudah ingetin saya “Bu, ga usah dehhhh coba-coba. Besok aja ke dokter”. Tapi saya penasaran dengan metode pengobatan alternatif ini… Soalnya tanpa sentuh dan dengan cara membersihkan energi. Saya ga ngerti bagaimana mekanisme bekerjanya, soalnya saya diminta duduk berhadapan dengan si Bapak ini (wajahnya baik, cerah, dan beliau adalah doktor di bidang arsitektur – nah loh, tapi menekuni prana ini). Selama duduk kami bisa ngobrol ternyata dan tangan dia bergerak-gerak menjuntai ke bawah. Salah kaprah saya selama terapi 45 menit itu, adalah ketika si Bapak bilang: “Sudah bersih. Nanti kalau belum, dua hari lagi kembali”. Saya iyakan, sembari memberikan dia Rp. 249.000 – kurang seribu dari seharusnya.  Sehingga, ketika dia bilang bersih, saya mikir yang udah bersih adalah rahimnya..! Ternyata pas di USG darah pada rahim ga berkurang se-centi acan (tetep 2 cm dari dua minggu sebelumnya, dan udah menjadi kerak), ehhh dapet bonus: si buletan hitam itu. Yang ternyata adalah kista. Kistanya ga main-main….dalam kurun 2 minggu tumbuh sebesar 6 cm.

ovariancystanduterus
Penampakan buletannya kayak gitu

Pas kejadian, saya langsung drama babak kedua. Lagi-lagi pas info penting kayak gini saya minta gausah ditemenin Ara karena ada orang lain di rumah (kali ini karena ada bibi yang bantu beresin rumah sekali seminggu – dengan kondisi rumah yang udah berantakan banget, saya lebih rela ga usah ditemenin). Jadilah saya nangis, karena saya ga tau sebetulnya kista itu apa dan bagaimana. Apalagi pas nanya apa perlu operasi dll? Kata dokternya “Yaaa…kalo tetap tumbuh harus diangkat”. Dan saya tanya biayanya, beliau jawab sekitar beberapa belas juta, jadi dengan kuret bisa puluhan juta. Dududuududud……. dokter-dokter emang ternyata kalo ngomongin biaya itu enteng banget yah x)))

Tapi yaudah, akhirnya walau saya nangis-nangis pada saat kejadian.. sampai di rumah, saya dan Ara mencari tahu tentang kista ini. Dari mulai definisi dan alternatif selain operasi untuk pengangkatan. Malamnya saya kontak dr.Indi Arum (istrinya Rahmadi kawan baik di Geng A) – saya baru inget punya temen yang dsOG tulen, bahagia banget pas nelpon Indi, dan Indi jelasin panjang lebar dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam. Intinya kista yang saya idap masuk dalam kategori Kista ovarium fungsional atau disebut juga kista folikular, yakni kista yang terbentuk dari  sel  normal pada ovarium. Kista tipe ini muncul dan hilang seiring siklus menstruasi. Kista tipe ini aman – dan InsyaAllah tidak akan menuju keganasan. Indi hanya mengingatkan untuk rajin kontrol ke dokter, sebulan sekali hingga tiga bulan mendatang.  Jadilah saya tenang dan ikhlas – intinya ga mau mikirin yang gimana-gimana.

Anyway… malam itu (pagi periksa), saya diminta ke klinik jam 22.00. Lagi-lagi entah saya yang skip atau susternya emang kurang jelas menyampaikan, ternyata saya diminta untuk bermalan di Klinik. Haduuuu padahal ga bawa baju ganti dll..Dan anak-anak ikut. Setelah berembug dan ga ingin berlama-lama menunda, malam itu kami berempat stay di Klinik Mutiara Cikuta 😀 Tanpa bawa baju ganti, makanan untuk bocah dll (maaf ya anaks).

Kondisi mulut rahim saya sudah tertutup, jadi harus diberikan sebuah obat yang ditaruh di mulut rahim tersebut – agar paginya bisa dilangsungkan proses kuret. Malamnya jam 2 pagi saya sudah tidak boleh konsumsi apa-apa (puasa) hingga jam 8.00 WIB kuret. Yang saya agak sedikittt sebel, bidan di Klinik Mutiara Cikutra sebetulnya mungkin bagus-bagus, saya apes aja kembali mendapatkan yang rada-rada bikin emosi jiwa HUHU. Bukan hanya saya yang merasakan, tapi Ara juga. Yaa salah satu contoh, ketika mau menyuntikkan infus, salah satu suster/bidan terlihat kesulitan mencari pembuluh darah. Dia menyalahkan mengapa saya ga banyak minum (“Ya Mbanya bilang aja kalau harus banyak minum malam sebelumnya, pasien mana kepikiran hal-hal kayak gini” – by default minum saya memang banyak.. tapi malam itu saya memang hanya minum 3 gelas), sehingga katanya menyusahkan cari titik buat masukkin si infus. Walau akhirnya berhasil.

Tak lama saya dibius total – dan terbangun dua jam kemudian dengan kepala super pusing. Ara cerita setelah saya sudah bener-bener sadar, bahwa 30 menit pasca seleai kuret (prosesnya hanya 10 menit), si bidan yang sama menyuruh Ara bangunin saya. Ya namanya efek obat bius dengan 50x efek morphine, gimana coba banguninnya?? Ara diemin aja si bidan tsb. Dan menunggu saya siuman. Saat saya siuman pun diminta langsung jalan – dan saya haus luar biasa. Saya minum sedikit air, dan beberapa detik setelahnya sukses saya muntahkan. Ternyata ga bisa langsung minum atau makan yaa abis dibius. Pengalaman lah..!

Alhamdulillah, saya ngerasa lega banget abis kuret tersebut. Dan saya ga menyesal juga sebulan menunggu luruh, hingga ada kista, dan badan udah ga ngerti rontoknya kayak gimana, hingga akhirnya dikuret… Saya merasa kalau sedari awal saya dikuret tanpa “usaha” atas apa yang saya yakini baik, pasti saya selamanya akan dihadapkan pada rasa bersalah atas sebuah tindakan yang tak perlu. Jadi ketika kemarin kuret, rasanya lega dan tuntas

Sekian ceritanya – terima kasih buat semua sahabat dan teman-teman yang udah baik banget dan perhatian banget selama daku kemarin sakit. IT MEANS A LOT to me; Ozu dan Mama Nissa di awal-awal yang sudah menemani. Para sahabat: Winda, Tia, Dina, Ami, Wila, Mita, Dini, Desti, Diana, Gosha, Iyem, untuk kiriman makanannya (terharu). Segala kebaikan kalian, semoga diberikan yang lebih baik oleh Allah SWT.

 

====

Advertisements

One thought on “Akhirnya Tuntas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s