Sepenggal Kisah Yang Tersisa

Sebuah Tulisan Pembuka

Saya setengah memaksa untuk minta pinjem laptop PapaAra – ketika dia menyuruh saya untuk istirahat saja. “Kamu bedrest aja deh, ga usah banyak mikir macem-macem”, katanya protes. Saya sampaikan bahwa terlalu banyak kata-kata berkecamuk dalam pikiran saya saat ini, saya butuh menuangkannya dalam draft tulisan. Walau ngaco isinya gapapa, yang penting menulis. Dia memandang saya dengan tatapan separuh setuju dan separuh pasrah, dan akhirnya memberikan saya MacBook-nya yang sangat berharga itu, sembari membuka sebuah Apps bernama Koala Writer untuk orang menulis  *ada background pemandangan indah sebagai wallpaper dan diiringi lagu penyejuk jiwa. “Walah, ini emang dikondisikan biar yang menulis seolah-olah lagi ada di tempat yang bagus ya”, saya separuh terkagum-kagum. Udik.

Kemudian PapaAra membuat sampel tulisan:

Ibu semoga lekas pulih yah. Semoga luruh semua. Aamiin.

Saya memandang tulisannya, dan membalas

Nuhun Papaaa

====

Catatan di Ulang Tahun ke-33

31 Agustus, 2017. Pagi itu, sebagaimana seminggu belakangan, saya terbangun dari tidur dengan kondisi bugar dan seolah mendapatkan kembali kondisi prima setelah 5 minggu sebelumnya berjibaku dengan kondisi papaehan, hypersaliva, mual, moodswing, dan mudah sekali lelah. Saya hamil (ketiga) dan hari ini memasuki minggu ke-9, tepatnya 9 minggu 5 hari. Kehamilan ketiga ini terpaut 5 tahun dari kehamilan terakhir yakni tahun 2011- 2012. Saya sendiri walau sudah dua kali hamil dan melahirkan, merasa perlu sekali membaca-baca ulang apa yang boleh dilakukan, apa yang tidak boleh, apa yang disarankan dilakukan saat kehamilan trimester pertama, dll.

Nyatanya walau sudah hamil ketiga kalinya, ternyata tidak sekonyong-konyong membuat segalanya lebih mudah. Walau saat ini Azka sudah berusia 7 tahun dan Khalif 5 tahun, plus kondisi sudah tidak merantau lagi, rupanya tak mengurangi grasak-grusuk hal-hal yang perlu saya lakukan sehari-hari – berhubung memang tidak pakai jasa ART, jadi rasanya seharian hanya melakukan pekerjaan rumahtangga, mengurus anak, sesekali urusan Pustakalana, dan tau-tau sudah malam lagi. Saya mendapati diri saya sering kali tumbang di siang dan malam hari. Beberapa kali sempat terlintas dalam benak saya; “Apakah saya akan mampu mengurus tiga anak?”, sering kali pikiran ini terlintas kalau lihat Azka dan Khalif berantem, lari-lari, dan gak mau dibilangin.

Berikan aku kewarasan selalu Ya Allah…  xD

Oh, perlu diketahui bahwa kehamilan ini dilakukan dengan kesadaran ingin menambah anak, bukan kebobolan atau kelepasan. Dan saya menyiapkan mental selama setahun belakangan; maju-mundur antara mau nambah anak atau cukup sajalah. Dua aja kadang bikin kreeyzeeehh. Makanya kalau ada pikiran-pikiran itu lewat. saya katakan pada diri saya “Ya Allah, jika Kau merasa (kehamilan) ini adalah yang terbaik maka berikan kesehatan selalu padaku dan janinku, namun jika tidak (baik) maka berikan aku keikhlasan untuk merelakannya”. Doa yang aneh ya? Seolah-olah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Tapi begitulah yang sering terucap, karena saya sendiri pada akhirnya meragukan kewarasan saya dengan tiga anak nanti (kemudian saya teringat Ayah dan Bunda saya yang anaknya 6 dan MasyaAllah masih tetap waras xD).

Anyway, saya belum mengumumkan kehamilan saya kepada keluarga besar, baru kepada orangtua dan mertua – dan juga teman-teman dekat atau yang secara ga sengaja ketemu dan mendapati saya yang chubby, sebelum dibilang “Cha, kok lo gendutan”, saya akan langsung bilang ‘Bo, gw hamil”, haha. Nah, berhubung hari itu saya berulang tahun, maka di grup keluarga diumumkan oleh Mamah mertua “Minta piduana, Azka dan Khalif mau punya Ade”.

Tak lama, kaka ipar saya kirim japri: Setelah menyelamati dll, beliau bertanya “Masih mual ga, Cha?”. Saya jawab dengan senang bahwa “Alhamdulillah, sudah seminggu ini kerasa bugar sekali. Mual, hypersaliva dll sudah tidak ada”. Saya memang merasa bersyukur, mungkin karena sudah 3 kali hamil, jadi kali ini saya ngerasanya dapat diskon proses mual dan morning sickness yang biasanya berlangsung selama 12 minggu jadi diskon hingga 9 minggu saja.

Ternyata respon kaka ipar saya di luar dugaan, “Wah. Belum lewat trimester pertama ya padahal? Justru kalau masih mual harusnya seneng Cha, hehe”. Beliau menyarankan untuk periksa ke dokter, karena biasanya usia kehamilan di bawah 10 minggu itu rentan sekali keguguran. “Apa ada flek pink?” katanya. Saya berpikir, memang dua hari ini saya melihat ada semacam flek, tapi sedikit sekali dan saya tidak yakin warnanya apa. Kakak ipar saya sudah dua kali mengalami keguguran, sehingga beliau cukup waspada. Saya pun jadi kepikiran dan waswas sendiri. Dalam beberapa saat kemudian, saya browsing beberapa artikel terkait dengan ciri-ciri keguguran pada kehamilan. Semakinlah saya panik ketika membaca ini:

Tanda keguguran lainnya yang mungkin kurang diperhatikan yaitu hilangnya gejala kehamilan yang sebelumnya dirasakan, seperti rasa sakit dan nyeri payudara. Hal ini terkait karena tingkat hormon yang menjadi turun atau rendah. Oleh karena itu Jika ibu mengalaminya apalagi bersamaan dengan gejala keguguran lainnya seperti telah disebutkan di atas, maka bisa jadi itu merupakan pertanda keguguran. Bersumber dari: Ibu Hamil Harus Tahu Tanda-tanda Keguguran Berikut Ini – Mediskus

Waduh….hilangnya gejala kehamilan ini persis yang saya rasakan seminggu terakhir. Kemudian saya semakin parno sendiri ketika menyadari bahwa malam sebelumnya saya makan buah nanas, hari-hari sebelumnya saya minum kopi + teh + coklat, makan permen karet dengan pemanis buatan (untuk meredakan mual – yang setelah saya perhatikan di kemasannya “tidak direkomendasikan untuk ibu hamil dan ibu menyusui”), angkat barang-barang berat, kelelahan. Saya merasa harus segera ke dokter siang nanti. Dan bener saja. jam 12.30 setelah menjemput Azka, saya ke kamar mandi untuk buang air kecil, ternyata sudah ada flek pink yang lebih banyak… sehingga saya asumsikan benar bahwa saya keguguran. Saat itu saya masih berusaha tenang, walau sesaat kemudian saya menangis. Saya merasa ini semua karena saya tidak menjaga kandungan saya dengan baik.

Rasa berkecamuk dan sedih saya sempat mereda ketika cerita ke Ozu via telpon. Setelah itu karena ada janji di Pustakalana untuk meeting, saya keukeuh untuk tetap pergi ke Pustakalana dulu (ga langsung ke dokter), dan ternyata di sana mendapat surprise party dari kawan-kawan volunteers.  Di antara kegamangan hati, saya merasa sangat bersyukur ada teman-teman yang pada care – bela-belain datang di antara kesibukan mereka untuk dapat merayakan ultah saya. Terima kasih untuk Ami yang telah merancang acara ini – juga semua yang berpartisipasi, I love you all.

Selesai dari Pustakalana, saya memutuskan untuk segera memeriksa kondisi kandungan saya – sendirian (karena ada pekerjaan tukang di rumah, sehingga Papa Ara dan anak-anak tidak menemani, selain tentunya saya ingin lekas saja dan tidak mau menunda). Entah ke dokter mana saja lah, saya hanya butuh kepastian dari kondisi janin saat ini. Barulah saya ingat bahwa dokter kandungan saya, Prof S, membuka praktek tak jauh dr Pustakalana. Di daerah Cihapit sana. Sesampainya di sana saya disambut oleh pihak registrasi/ administrasi – yang kurang ramah – tapi ya demikian lah. Tak lama datanglah Prof S, dan mempersilahkan saya masuk ke dalam ruangannya. Dari ratusan pasien yang dia tangani, tentulah dia tak mengingat saya, walau terakhir ketemu baru 2 minggu lalu ketika cek pertama kandungan di usia 7 minggu 2 hari. Saya ceritakan pada beliau bahwa kondisinya demikian dan langsung dicek USG.

Ternyata dari USG memang sudah tidak ada lagi kehidupan “Janinnya tidak berkembang. Meninggal di dalam” katanya seraya memperlihatkan warna merah dan biru di layar USG dari plasenta ada – namun dari janin tak ada. Innalillahi (untuk membayangkan, janin 9 minggu ukurannya sebesar buah cherry – dan belum ada ruhnya). Saya menata perasaan saya. Setelahnya beliau langsung duduk ke mejanya, saya diperkenankan berdiri oleh suster untuk memakai celana dan kemudian duduk berhadapan dengan Prof S.

Saya sempet mereka ulang kejadian di ruangan ini dalam memori saya.. Saya memikirkan jika saat itu saya berada di Amerika, dalam kondisi yang sama, pastilah nurse dan dokternya – walau hanya dengan formalitas dan kode etik kedokteran yang wajib mereka lakukan- akan mengatakan setidak-tidaknya “I’m sorry for your loss” dan kemudian saya membayangkan mereka akan menjelaskan fakta bahwa kejadian seperti ini normal terjadi dengan fakta-fakta bahwa lebih dari 80% keguguran terjadi dalam tiga bulan pertama kehamilan, jangan menyalahkan diri, dll – kemudian memberi informasi kepada pasien apa tindakan yang harus dilakukan beserta opsi-opsinya. memberi waktu kepada pasien untuk berduka.

Tapi tahu kah apa yang Prof tersebut lakukan? Beliau langsung menanyakan kepada saya, sambil ngambil kertas resep dan kertas rujukan “Ini nanti mau gimana nih bayarnya? Ada yang bayarin?” Saya bingung mendengar pertanyaannya. “Ya.. ada” jawab saya (maksudnya apa sih?). “Ada asuransi?”, “Engga ada, pakai biaya pribadi” ucap saya *agak shock karena saya tidak mendapat penjelasan apapun tentang kondisi janin dan proses apa selanjutnya. Ujug-ujug langsung ke biaya.

“Ini langsug kuret saja. Di RS Limijati 11 juta, atau ada juga di Klinik Jasmine 6 juta, mau yang mana?” – dia berucap seraya mau menuliskan surat rujukan.

Masih dalam shock beruntun, saya tidak menyangka biaya kuret setinggi itu (tidak menyangka sama dengan biaya mau lahiran normal)

“Ehm…..Saya ga mampu sih Dok, kalau 11 jt, apa ada pilihan lainnya?”, “Ya itu, di Klinik Jasmine Aa Gym”

Saya mencoba berpikir, karena saya ga ngerti proses kuret itu bagaimana (I’ve heard the term but have no ideas about the procedures), dan apa memang perlu kuret? (saya takut ini semacam pertanyaan pas dulu hamil pertama “Ibu mau lahiran normal apa caesar?”, ga ngerti caesar itu perlunya apa dll pada masa itu) . Tadi saya sempat baca sedikit penggalan artikel, tapi ga yakin juga karena cuman baca dari 1 artikel. Apa tidak bisa meluruh dengan obat ya? Ahh saya jadi menyesal tak banyak membaca perihal ini sebelumnya. Tak pernah saya bayangkan akan mengalami kejadian ini.

“Jadi gimana??” tanyanya lagi seperti mendesak, padahal saya hanya diem 5 detik (!!). “Yaudah..” saya berkata pelan. “Yaaudah gimana??” katanya lagi. Buat teman-teman yang ga tau bagaimana bentuknya Prof S ini, beliau memang terkenal seantero Bandung Raya sebagai dokter senior OBGYN, dosen juga di UNPAD, nada bicaranya memang ketus, tapi saya pikir saya masih bisa deh menerima gaya bicaranya yang seolah-olah ngomong ke saya kayak ke mahasiswanya, atau kayak ke orang yang udah tau macem-macem. Sayangnya saya orang AWAM yang buta sama sekali perihal ini.

Dalam hati, saya udah ga bisa menahan perlakuan orang ini. Mau dia profesor, mau dia lebih tua 40 tahun dari saya, statusnya saat ini adalah saya seorang pasien,dan dia dokter. Saya punya hak untuk diberikan penjelasan mengenai kondisi saya.

Saya tatap matanya, setengah menyentak dan dengan suara bergetar menahan tangis dan marah saya berujar,

‘Dokter ini sama sekali tidak mempunyai rasa EMPATI ya? Saya baru saja keguguran. Saya belum paham apa yang terjadi, kenapa bisa meninggal? Dan kalau pun sekarang pilihannya mau dikuret, apa dokter bisa menjelaskan kepada saya bagaimana proses kuret itu? Ada berapa macam teknik kuret? Saya ini orang awam dok, kasih informasi yang jelas dong…!.

Dua suster yang berdiri di samping Prof S dan belakang saya, bisa saya rasakan ikutan tegang. Mungkin kaget dengan saya yang ngomong demikian, akhirnya beliau sampaikan intinya keguguran ini adalah hal yang normal terjadi dan proses alam saja. “Ya Dok, saya sudah ikhlas.. kok. Tapi bisa ga dijelaskan, kira-kira apa penyebabnya, kenapa bisa demikian agar nanti tak terulang?”, “Ya telurnya kurang bagus aja, tidak unggul. Tidak bisa ada kepastian apa-apa kenapa bisa demikian” jawabnya. Oke saya menerima jawabannya, dan setelah baca-baca artikel (sekarang di waktu-waktu bedrest) ; a miscarriage sometimes happens because there is a weakness of the cervix, called an incompetent cervix, which cannot hold the pregnancy. Dalam video di YouTube dan dari buku “What to Expect when You’re Expecting” juga kurang lebih sama; bahwa bukan karena olahraga, angkat barang berat, kelelahan, minum kopi, dll penyebab keguguran. Utamanya karena memang si incompetent cervix tadi. 

Atas permintaan saya, beliau jelaskan juga ada teknik kuret tajam dan kuret vakum. Yang direkomendasikan adalah kuret vakum. Diresepkan juga kepada saya obat untuk meluruhkan dan rekomendasi ke RS rujukan. Beliau mengingatkan bahwa 2 minggu tidak boleh berhubungan badan, 3 bulan dari kuret belom boleh hamil lagi, dan… that’s it.

Setelah itu saya tak mau melihat muka si dokter tersebut, heran juga dipikir-pikir kenapa saya masih mau dengan beliau setelah pengalaman melahirkan Azka dengannya pun bukan pengalaman melahirkan yang menyenangkan untuk diingat (plus suster-susternya yang tidak pro ASI eksklusif pada masanya). Makin heran, kenapa saya tetap ke dia ketika terakhir ketemu 2 minggu lalu – setelah antre 2 jam dan merogoh Rp.350.000, dan bertemu dengannya hanya 5 menit – dengan cuman dikasih tau “Janinnya hidup, usianya 7 minggu dua hari”. Tak ada kalimat apa pun, menanyakan atau antisipasi “Oh, ini kehamilan ketiga ya? Ibu sudah 30 tahun, maka akan berbeda ketika kehamilan pertama dan kedua, jadi perbanyak konsumsi sayuran, suplemen penguat rahim xxxxxx yaaa” – misalnya. Tidak ada sama sekali. Saya berusaha mengajak ngobrol dan menceritakan juga perihal kekurangan sreg saya saat lahiran Azka dulu di RS Tedja dan rencana saya untuk nantinya akan melahirkan dengan bidan. Saya ceritakan juga proses persalinan saat Khalif di Amerika yang suster-susternya bisa kooperatif, mendukung, dan sangat support apapun keputusan Ibu (mau rooming in, mau exclusive breastfeeding, mau ga diimunisasi dulu, dll). Heran juga mengapa saya masih memilihnya semata-mata karena gelar Prof yang disandangnya at some point membuat saya merasa lebih “dengan ahlinya”.

Betapa menyedihkannya… Mungkin memang kondisi saya ini sama sekali “ece-ece”, masih banyak kasus yang beliau tangani dengan aneka ragam kepelikan masalah. Namun bagaimana pun, be a professional. Dokter bukankah seharusnya punya sisi humanis yang lebih besar dari tuntuan pekerjaannya ya? At least perlakukan pasien lo bukan cuman sekedar Pasien 1, Pasien 2, Pasien 3… Tiap pasien punya kepelikan masalahnya juga, mereka datang ke dokter berharap dapat informasi, bukan sekedar orang teknis yang memeriksa pake mesin dan bilang  ” ini dia janinnya, ada detak jantungnya” atau “janinnya meninggal” atau “Usia kandungan sekarang 9 minggu 2 hari”, informasi berapa minggu mah bisa pake Apps. Pasien berhak mendapatkan informasi – informasi yang perlu diwaspadai, perlu diketahui untuk dipelajari.

Pasien di era sekarang memang serba salah: banyak baca, alih-alih pinter kadang beda tipis menjadi sotoy (ini yang saya lakukan pas di Amerika, seringggg banget diskusi/ debat sama dokter – dan sangat hati-hati sama semua jenis medical intervention). Ga baca, pasti dianggap “Buuu sekarang ada Google loh yaaa, itu dibaca aja semua informasi, waktu gw terlalu berharga untuk berlama-lama diskusi sama lo”. Tapi sebetulnya mungkin ga gitu juga, mungkin saya cuman salah pilih dokter. Atau semuanya balik lagi kepada: cocok-cocokan.

Begitulah ceritanya… sepenggal kisah di ulang tahun ke-33 saya. Worth to remember. All the beautiful feelings because you feel that you’re loved by so many people and the worst feelings because you keep blaming yourself because of those caffeine, pineapples, carried or moved heavy objects, stress and all the negative thoughts that lead to this condition. Namun untuk apapun yang terjadi, saya tahu bahwa ini adalah hadiah terbaik dari Sang Maha Menghidupkan dan Sang Maha Mematikan berikan kepada saya.

Terima kasih telah menemaniku selama 9 minggu 5 hari ya Nako III,

Bandung, 1 September 2017 (10 Dzulhijjah)

*Ditulis setelah seharian bedrest dan kebosanan di rumah. Ditemani buku-buku Eka Kurniawan yang tak kunjung selesai dibaca. Ditemani Red Velvet dari Mom’s Bakery pemberian kawan-kawan Pustakalana. Ditemani dengan pendarahan hebat dan kram perut. Ditemani dengan suara merdu Muzammil Hasballah yang membuat luluh hati ini, dan cirambay mendengar dan membaca arti dari Ayat-ayatMu. Ditemani dengan papa Ara yang seharian setia menemani dan menyajikan beragam makanan ke tempat tidur, dari Gulai Kambing, Sate Ayam Maulana Yusuf, Indomie Kari Ayam pake Keju, Teh Tarik Thailand, dan Teh Manis Hangat. Ditemani dengan kata-kata dalam pikiran yang akhirnya tertuang.

 

Advertisements

13 thoughts on “Sepenggal Kisah Yang Tersisa

  1. Chicaaa..peluk. Stay strong. Lekas sehat, dan kudoakan yang terbaik buat semua termasuk si dokter. Semoga beliau sekarang lebih memahami bagaimana seharusnya memiliki empati dan menghadapi pasien.

    1. Nikee, Happy Belated Bday..! Terima kasih doanya Nikeee, iya semoga beliau dapat mengingat kejadian ini dan mau merubah diri – terlalu banyak yang mengalami perlakuan serupa namun bungkam. Kurasa itu bukan hal yang baik dari seorang dokter senior “Prof” – kebayang anak-anak didiknya kalau jadi serupa beliau. Huhu…

  2. Been there. Sama kehamilan ketiga, dikuret pas 11 mgg. Flek terus gak ada hormon mual kaya di kehamilan pertama dan kedua dan pas mulai flek ke dokter via bpjs yg ngantri edan, di usg sambil diliatin sama dokter2 koas, si dokter cuman bilang “gak berkembang nih bu, kuret ya”, udah. Saya yang bengong belum pernah kuret dan langsung diproses untuk rawat inap (karena sudah siang menuju sore) malam mules dan mulai bleeding. Bsk siangnya masuk ruang operasi, kuret dan sorenya saya diperbolehkan pulang. Cepat kilat tapi nangisnya 2 hari setelah kuret 😁. Akhirnya nanya ko bisa gak berkembang, dijelasin mungkin bibitnya lagi gak bagus, sedih. Semoga cepat pulih ya dan berkegiatan lagi.

    1. Mbaa… dirimu sama dokter yang sama? Huuhu – ada tulisan yang ga aku masukan. Jadi aku minta diberikan opsi dengan obat peluruh, beliau bilang “Minum obat ini, nanti pendarahan, besok langsung kuret aja pas dilatasi”. Abis itu, aku nanya2x ke beberapa teman yang pernah keguguran *karena dokter second opinion udah ga ada, waktu itu udah kemaleman dan besoknya Idul Adha pada libur… , katanya pada disarankan untuk luruh alami dulu aja… menunggu 2-3 hari, ada juga yang seminggu. Yang aku sedih….. Prof S ga bilang, bahwa saat pendarahan itu akan ada gumpalan janin, gumpalan kantong kehamilan, dll yang ikut keluar malam itu (jadi aku ga menguburnya, dan diflush aja hiks). Barusan dari Dokter Widyastuti dan dijelaskan detail banget… hingga katanya tidak perlu kuret sejauh ini karena dari obat luruh hampir sebagian sudah luruh, nunggu seminggu baru cek lagi. Mudah2an ga perlu kuret huhu. Thanks for sharing ya Mbaa

      1. Bukan sama dokter itu, ini dokter di salah satu rs di kopo. Aku pun kuret di umur 33, 4 setelah kuret diberi kepercayaan lagi buat hamil, alhamdulilah bayinya udah 8 bln skr. Kalau aku kayanya janin jg ga ada hanya kantong, dan baru tau kalau belum berbentuk janin dengan organ ttp sholat aku malah ampe nifas mens ga sholat karena bukan haid jd ttp sholat. Dokter yg second opinion jg mau ks obat buat luruh ntah knp lebih memilih kuret biar terasa bersih dan menganggap anggap aja sekalian dibersihin rahimnya. Tapi temen luruh sendiri tp ternyata masih ada yg ketinggalan akhirnya dkasi obat luruh. Cpt pulih ya, gpp mgk kata Allah waktunya blm tepat.

  3. Setelah memutuskan utk hamil lagi, apakah sebelumnya melakukan full general check up? Bukan hanya si mamahnya saja, papahnya jugak. Dalam hal ini dapat diketahui fungsi organ2 tubuh kedua orang tua works just ok, owkay, atau perfectly owkeh. Volume zat2 yg dibutuhkan dan tidak terlalu dibutuhkan tubuh juga diperhatikan ambang batasnya pada masa pra conceiving. Hikayat/sejarah kehamilan sebelumnya juga termasuk variabel yg signifikan untuk diperhatikan. Hasil dr general check up ini harus dianalisa secara seksama oleh dokter spesialis Obgyn, utk dapat menyimpulkan beresiko tidaknya kehamilan yg akan dilakukan. Dan mengambil tindakan2 diagnosis dan observasi lebih lanjut terhadap resiko minor, seandainya kesimpulan yg ditarik adalah kehamilan yg akan dijalani ini kurang beresiko (tidak mungkin tanpa resiko). Ini hak dari kedua orang tua, calon jabang bayi, calon abang/kakak dr si jabang bayi, extended family si jabang bayi, dan yg jauh lebih luas lagi hak seluruh rakyat bangsa Indonesia. Karena setiap kelahiran manusia baru akan menambah jumlah manusia yang akan berkontribusi utk kemajuan negara dan bangsa ini, yang ujung utamanya adalah terciptanya kesejahteraan dan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini yang tidak dipahami oleh dokter Obgyn dalam kasus ini. Mungkin beliau paham, tapi lupa..

    1. Mas thank you for sharing dan poin-poinnya membuat aku berpikir juga. Aku setuju untuk general check-up Ibu (dan Papanya perlu juga ya ternyata), serta harus diketahui apa penyebab janin tdk berkembang…setelah sebelumnya ada kehidupan saat cek di minggu ke-7. Hal ini sama sekali tidak dijelaskan… tidak disampaikan, bahkan terkait efek menggunakan obat luruh (apa yang terjadi dari pendarahan yang banyak itu), dll. Keliatannya beliau ini – entah sibuk sekali, entah memang menganggap pasien itu sudah pintar dengan sendirinya. Yang jelas bagaimana pun juga hak pasien untuk mendapat informasi yang memadai ya..

      1. Medical service memang sebuah Industri yang menguntungkan. Paradigma ini yg bergeser, karena tidak seharusnya bentuk pelayanan ini ada logika kapital didalamnya. Kudu berparadigma pure pengabdian masyarakat, karena hidup dan mati anggota masyarakat tsb bergantung sama pelayanan ini. Dalam hal ini, negara (state) yang dipilih oleh rakyatnya harus menjamin pelayanan ini bebas dari logika kapital, sehingga akan terjadi kegiatan penyembuhan, perbaikan, pencegahan (dll) pada aspek kesehatan jasmani yang sangat manusiawi.
        Utk general check up preconceiving, harus dilakukan terhadap kedua belah bibit. Ga bisa cuma perempuannya saja. Karena DNA dari laki2 kan juga berkontribusi membentuk jasmani dan rohani si manusia baru ini. Dan tentu saja secara sosial, memiliki/menambah keturunan itu idealnya hasil dari konsensus bersama yg demokratis, rasional dan logis. Sehingga langkah2 teknis selanjutnya akan sistematis dan terukur, dlm arti kata menghitung semua resiko mulai dr yg neh/meh.., sampek yg oh good no!
        Utk masalah diagnosis janin yang tidak berkembang yang menjadi penyebab misscariage, mustinya itu bukan misteri alam yg tidak dapat dijelaskan. Doktermu aja yg males kemungkinan. Males karena kemungkinan tingginya biaya yg dibutuhkan utk menjawab pertanyaanmu itu. Harus tes ini itu, lab ini itu, dsb.. Kamunya jugak akan lelah sendiri kmungkinan (kemungkinan ya, aku bukan dokter soalnya).
        Tapi yang pasti ada kesalahan SOP pelayanan medis dlm kasus ini. Bukan ketidak emphatian nya si dokter (karena kalok ini berkaitan dgn pelanggaran hak azazi pasien dan jelas krn efek logika kapital). Yg aku maksud, prosedur pelayanan utk pasangan yg ingin membuat/menambah keturunan, terlepas dari segala macam bentuk motif yg mendasarinya. Pelayan medis harusnya mulai memberikan layanan sejak sebelum pasangan ini melakukan misi/idealisme hidupnya. Full body general check up, yg akan menghasilkan gambaran detil kondisi fisiologis pasangan tersebut. Fungsi organ (agar tidak diturunkan ke janin) kudu berfungsi spenuhnya. Nutrisi yg ada didalam tubuh pasangan ini kudu diukur, terutama si perempuannya utk memastikan si janin nanti tidak akan mengalami kekurangan gizi (yg mungkin menghambat perkembangannya dalam rahim 9 bulan kedepan). Gambaran hasil check up ini akan berupa item2 dgn ambang batas bawah-atas sebagai ukurannya. Dokter yg bijak akan detil melihat dan menganalisa ambang batas ini, utk menghasilkan kesimpulan yg objektif tingkat resiko kehamilan yg akan dijalani pasangan ini. Jika resikonya kurang ok, dokter harus menyarankan pasangan ini menetralisir resiko tsb, tentu saja dgn layanan medis lainnya, bisa dokter internis, jantung, dokter saraf, dokter otot dan tulang, ahli gizi dll. Setelah everything is ok, barulah dokter boleh mengizinkan pasangan ini melaksanakan idealisme hidupnya, dengan tetap harus melayani/mendampangi secara ketat proses2 selanjutnya.
        All Science (Natural, Social and Humanity) pada awalnya ada utk menjawab permasalahan2 hidup manusia. Akan jadi pengkhianat lah namonyo kalok manusia yg menguasai science tersebut justru menambahkan masalah bagi kehidupan manusia lainnya dan tidak menyadari bahwa itu kesalahan dirinya sendiri.
        Pertanyaannya: apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?

  4. Kak i’m sorry for your loss.. peluk dulu huhu..

    Anw aku jg milih dokter akhirnya ga yg senior2, muda gpp asal empati.. setelah perjalanan mencari dokter paru yg ajaib2 komennya 😂 pertama kali sakit dibilang “kamu saya diagnosa TB ya!” Aku cmn “ha?” *Shock dan speechless* 😂

    Semoga mendapat dokter yg cocok ya kak dan diberi kekuatan sekeluarga :*

  5. Chiiiiic gw baru sempet baca dan sedihnya double gini :(( sedih karna telat ngucapin selamat ulangtaun (Happy belated birthday, Chic!) dan sedih krn gw baru tauu ceritanya huhu sorry to hear that ya Chica dan Ara 😦 … doa terbaik buat kalian & peluk erat pokoknya!!! 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

  6. Turut berduka ya mba, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik. Jadi, baru tau…kalau gejala kehamilan tiba2 hilang sebelum waktunya penting sekali diwaspadai ya mba. Sepertinya banyak para ibu yang belum tahu juga ya.

    Waktu petama hamil aq ngalamin keguguran juga mba (6w). Trus pas bleeding itu lsg bebersih di kmr mandi, aq inget ada darah yg lebih solid dan menggumpal, tapi kesiram biasa aja mba, krn belum paham kalo itu kemungkinan si janin x_x

    Alhmd dokternya baik, dan membesarkan hati aq dengan bilang, janinnya kurang baik, justru kalau dia terus hidup dan lahir, nanti ada kekurangan, ibu ga lebih kasihan lagi. Hiks. Salam kenal dari Bekasi mba. Makasi sharingnya *peluk

  7. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun 😦 Our deep condolences. Semoga Allah SWT selalu menunjukkan yang terbaik versi-Nya dan memberikan kekuatan serta keikhlasan. And, happy belated birthday. Semoga selalu dirahmati Allah, disayang keluarga dan teman-teman, sukses dunia akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s