“Ibu, Aku Sedih….”

Suatu sore, di apartemen mungil tempat kami tinggal selama 3 bulan terakhir.. Khalif terbaring lunglai. Saya masih di depan laptop saya, mengetik-ngetik sesuatu, yang berhubungan dengan Pustakalana. Tiba-tiba dia berujar:

“Ibu….Aku sedih Ibu kerja terus….”

JLEB. Saya kaget bukan main kata-kata itu mengalir dari Khalif. Dengan segera saya langsung menutup laptop saya dan meminta maaf sama Khalif, sekaligus merasa sangat sangattt bersalah kok sampai dia bisa ngomong kayak gitu.

Memang sudah tiga bulan terakhir kesibukan saya bertambah, saya punya bayi satu lagi, namanya Pustakalana. Segala sesuatu dari Pustakalana saya mulai dari NOL. Namanya sama dengan Pustakalana 10 tahun yang lalu, namun segala sesuatu, sistem, tempat, pengurus, buku, konsep, dll berbeda: intinya manajemen baru. Pustakalana buka di Bulan Desember aja agak-agak magic, dan karena tergesa-gesa jadi memang sistem yang saat ini berjalan banyak trial dan error, dan masih harus banyak dibenahi dari berbagai macam sisi.

Dengan kesibukan yang bertambah dan perubahan tempat tinggal (saat ini kami sekeluarga tinggal di Cimohay a.k.a Cimahi), secara jujur saya agak terengah-engah untuk bisa menjalankan peran saya sebagai Ibu rumahtangga – dan karena bukan stay at home mom lagi (jam 7 sampai 18 setiap harinya saya habiskan di luar), praktis beberapa pekerjaan seperti: memasak, mengajak anak bermain, mencuci pakaian dan piring dan perabot, membersihkan rumah, dll kerap terbengkalai. Yang paling kerasa sih waktu bermain dan waktu memasak yang sungguh tidak kepegang.

Lima tahun pengalaman merantau dan setiap hari memasak, sesampainya di Indonesia ini lenyap! Paling menyisa 15%. Dan Azka sama Khalif kalau saya masakin (karena kami seringnya jadi jajan di luar), mereka bener-bener tulus mengapresiasi. Makan lahap, habis, dan tertib.

Begitu juga dengan bermain… Waktu yang saya sisihkan untuk bermain jadinya saya persingkat: keterbatasan ruang terbuka (playground nyaman) membuat saya mati gaya. Kalau dalam rumah, saya bahkan sudah tidak ada niatan lagi bikin-bikin mainan atau eksperimen. Yang ada Azka malah “stress” saya kasih “worksheet untuk berlatih menulis angka dan huruf dan mulai saya dorong untuk membaca.

Astaga…. Ibu. Kenapa jadi begini ya…

Akhirnya, sejak Khalif ngomong gitu.. dan pernah suatu waktu setelah seharian saya di luar, dan ketemu anak-anak lalu saya malah cek handphone (saya bahkan seharian sering tidak ada waktu untuk cek handphone, jadi ceknya baru sore/malam hari), Azka menegur:

“Ibu. Please stop playing with your phone!”.

Yep, he was talking to me… asking how was my day, and there… I was busy checking up my phone. Azka bahkan melanjutkan “Ibu… You don’t want to ask me, how was my day?”.

Another JLEB.

I don’t know how real working mother (the 7 am – 7 pm working momma: I added the time when they actually leave and come back home from work, take a shower and be present ) without nanny could cope and have a good quality time with their children.

I’m a bit lost in here.

Kondisi diperburuk dengan sikap Khalif yang suka mencari perhatian ke saya dengan cara yang sangat memancing emosi jiwa. Dia jadi suka mukul-mukul dan pegang-pegang muka saya… Mukulnya sih sambil ketawa dan becanda. Megang mukanya juga dengan becanda-canda… Tapi saya gengges banget digituin. Suatu waktu karena kesal, saya balas pukul-pukul ke dia juga. Khalifnya nangis….Gak siap dengan respon saya yang jengkel karena tingkahnya dia. Saya pun merasa sangat bersalah, karena saya TAU banget Khalif ga ada maksud menyakiti, tapi hanya meminta perhatian saya.

Namun minggu lalu, beberapa kali saya segerakan untuk pulang lebih cepat. Sebisa mungkin jam 16 sudah sampai di apartemen. Dengan demikian, kami masih memiliki sisa waktu untuk menikmati sore yang kerap sejuk, main sepeda, berenang, atau sekedar main di playground belakang apartemen. Without gadget whatsoever, I feel that it’s the best time of the day to be present with them. Dan tentunya, 30 menit sebelum tidur story time dengan mereka.

Maafkan Ibu ya Khal…dan Aa… I promise I’ll have much quality time with each of you and better time management so we could have a more healthy and balance mother-sons relationship. Huhuhu.

IMG_6109.jpg

IMG_5597
Soon. Ok?

Sabtu, 19 Maret 2016

-Dari Ibu yang sudah dua hari dua malam ditinggal Aa Khalif dan Papa sendiri di The Edge-

15 thoughts on ““Ibu, Aku Sedih….”

  1. Aduh Ibu, sedih benerrr T________T

    Gue merasakan hal yang sama ketika tahun lalu Menik banting laptop gue, tengah malam. Sampai ketemu sama psikolog segala, karena takut ada apaan coba anak umur segini ngamuknya kok serem, sampe mikir jangan-jangan anak geu ADHD atau apaan, lah.. Cerita lengkapnya di sini http://mommiesdaily.com/2015/01/28/antara-temper-tantrum-add-dan-adhd/

    Tapi ada komen temen gue yang bikin gue jleb jleb jleb “soal ibu bekerja di rumah alias WAHM, gue pernah baca artikel di sebuah majalah parenting ternama (hehe) soal riset tentang hubungan antara “jenis” titel yang dipegang ibu (WM, SAHM, or WAHM) sama efek abandonment yang dirasain anak. Hasilnya, jreng jeng, ternyata yang paling merasa diabaikan adalah anak dari WAHM. Kaget dan heran juga, pas tau. Penyebabnya, si anak merasa kalau ibunya memilih mengabaikan dia padahal secara fisik ada di dekatnya. Maybe that’s what makes it worse. “Tantangan” besar yak buat kita para WAHM… fiuh.”

    Semoga cepat ketemu formulasi time management! Semangat, Caaa🙂

    1. Sazz…HUAHH Menik sampe banting laptop? x((( Iya bener sih, WAHM….kebayang lah ya… kita di samping mereka.. tapi kitanya sibuk sendiri, dan kalo mereka “ganggu” (minta diajak main), kitanya jadi sensi dan sebel (karena kadang memang harus segera dikerjakan – dan mumpung ada idenya). Pas di New Bedford, gw ada ruang di mana mereka gak bisa ganggu gw – jadi setidaknya bisa tentram mengerjakan sesuatu, nah pasalnya di Cimohay ini…. karena keterbatasan space lah yaa.. x)))). Gue harus buat peraturan baru ini terhadap diri nih… Kalo bisa gadget2 ini dijauhkan selama anak2 masih bangun. Thanks ya Saz, brb baca artikel lo segeraaa…!

  2. Uuunn sedih banget bacanya si Azka sm Khalif sampe kaya gitu :(( Tapi emang sih kebayang sih susahnya nyari time management yang paling tepat yaa buat ibu super sibuk kaya uni *terus tiba – tiba kepikiran gimana Bunda dulu yang mesti ngurus enam anak ya!*. Semoga segera bisa teratasi segala per-pustakalana-annya supaya tetep bisa balance semuanya. Tetep semangat un dan jaga kesehatan! Peluk-cium dari jauh!

    1. Zuuu, baru baca komen inihh. Iyaaaa makanyaa.. Dulu kita suka ngeluh2 ga sih kurang perhatian? x)) Atau malah jadi perilaku aneh2 aja jadinya, haha. Thank you Zuuu! Wish me (and us) luck! Mwahhh

  3. Chiccc, I feel you…
    As a single mom, working from 8 am to 7 pm everyday, I know exactly how you feel.
    Kinar, belum 2 tahun, sudah mulai suka lempar-lempar dan mukul muka kalau sampai di rumah gue masih nonton TV. HP sih biasanya udah gue simpen, tapi TV masih jadi gangguan seringkali. Sedih deh Chic, Kinar belum bisa protes kayak Khalif, but in my heart I know that she’s protesting and screaming for my attention.
    Belum lagi, di rumah dia cuma sama eyang yang terkadang juga main hp. I cannot blame my mother, karena tugas jaga Kinar harusnya jadi tugas gue sebagai ibunya… Hiks, kalau udah gini, pengennya bisa di cloning biar bisa ngerjain semuanya…
    Maaf jadi curhat ya Chic, but I thank you for writing this post. Protesnya Khalif adalah protesnya Kinar juga…
    Hugggssss…..

    1. Teh Dhiniiii….I think I missed something…Kok single mother teh? Kapan ya kita bersuaa, lama pisan ga cerita2 ya huhu. Iya, aku kebayang Kinar… (dengan si Khalif seperti ini), dan itu bentuk protesnya ya, karena belom bisa disampaikan secara verbal. Huhu… Pokoknya ketika bersama kita harus optimalkan perhatian dan quality time sama anak2 ya TehDhin. Peluksssss :*

  4. Hi teh cica klo boleh share emang enak kerja di ktr 7-7, kmrn kaya gt sampe rmh hp mati ngajak main tidur, wiken jg quality time, skrg wkt emang lebih byk di rmh tp krn mostly kerjaan pake gadget ya kebanyakan jd mantengin gadget, sulit memang tidak mudah hiks, hp mati kdg ke ide an ngedraft blog promo apa :”( jd nyalain lagi balik ke gadget..

  5. mbaaa ini aku jg sedih bacanya. semangaat ya mbaa. smga bs makin mem-balance keluarga & karir. aku jg skrg klo mikirin karir jd pedomannya gmna nnti bs balance antara keluarga&karir.

  6. Yang komen kebanyakan ibu-ibu (kayaknya semuanya deh, haha), jadi… aku mau komen juga dari sudut pandang laki-laki (yang belum menikah).
    Hhmm… Aku bisa membayangkan kalau aku jadi Azka dan Khalif, aku juga bakalan uring-uringan minta perhatian lewat cara ekstrim kayak mukulin atau gangguin adek sendiri. Dulu waktu aku SD, aku inget banget kalau mama lagi sibuk bikin soal, ngawas ujian, ngisi rapor para siswanya (apalagi kalau lagi jadi walikelas) aku jarang diajarin pelajaran sekolahku langsung dari mama, biasanya ‘guru penggantinya’ adalah kakak-kakakku yang suka marahin aku kalau aku bego ga nangkep apa yang diajarin, dan di saat itu aku maksa mama yang harus ngajarin aku, karena mama ga pernah marah ngajarin, huhuhu. Hasilnya memang lebih enak dapat perhatian langsung dari mama.
    Aku salut lho sama Uni Ca ini yang langsung merubah pengaturan jam kerja demi perkembangan anak yang lebih baik. Saluuutt… Aku bisa jadikan contoh kalau nanti udah jadi ayah. Pokoknya perkembangan anak di usia dini: fisik, mental, dan spiritual adalah tanggung jawab orangtua, dan keluarga. Karena guru pertama dari seorang anak adalah orangtuanya. Anak yang baik dan teladan adalah hasil dari didikan orangtua yang bernilai A. Thanks for sharing, Uni Ca… Aku hadir lagi di blog ini, yay!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s