Mencari Sekolah Anak di Bandung (1)

Dulu-dulu kayaknya sering banget liat postingan Ibu-ibu yang sedang kebingungan mencari sekolah untuk anaknya. Dan dulu saya mikirnya “Repot amat yah cari sekolah anak… Emangnya kriteria apa sih yang harus diperhatikan sampe segitunya cari sekolah, sampe harus waiting list dan rela merogoh Rupiah yang tidak sedikit demi masuk di sekolah tertentu”. Dan sekarang pun saya akhirnya mengalami kejadian di mana terasa rempongnya cari sekolah anak. Ini baru cari sekolah buat TK loh… belum yang SD, SMP, SMU.

Sebetulnya sebelum pulang ke Indonesia saya dan Ara sudah sepakat untuk tidak menyekolahkan anak-anak untuk setahun ke depan. Inginnya homeschooling saja dulu, bermain dan belajar di rumah dan bisa menggali minat dan potensi mereka secara lebih. Namun sebetulnya ada beberapa pertimbangan lain juga. Faktor pertama sebetulnya karena kami tau, bahwa anak-anak (utamanya Azka yang sudah sekolah 2 tahun pre-K di AS) akan mengalami adaptasi yang mungkin tidak mudah di sekolah umum di Indonesia dan pindah dari sistem di AS. Mungkin salah saya juga ya, karena saya menyamaratakan kurikulum, metode, filosofi dari tiap-tiap sekolah di Indonesia (atau Bandung). Jadi dari 2 bulan sebelum pulang, saya bilang ke Azka “A, nanti di Indonesia Aa bakal belajar yang lebih sulit dari ini… Temen-temen Aa mungkin udah pada bisa baca, berhitung, dan menulis. Jadi Aa juga harus latihan dari sekarang”. Saya, yang awalnya ga ada niatan untuk terlalu mengekspos Azka ke ranah calistung, jadi termakan juga sama yang namanya peer pressure (walau akhirnya tetep ga saya lanjut lakukan). “Edan, anak si eta udah bisa baca dari 4 tahun! Dan si Ibu Y anaknya yang 3 tahun udah bisa nulis huruf A-Z…bagus lagi!”. Padahal udah sering mengingatkan diri, bahwa balik lagi ke minat anak dan kesepakatan dalam keluarga, dalam hal ini saya dan PapaAra emang maunya menunggu hingga at least usia 6 tahun deh, baru mulai belajar baca dan berhitung.

Anyway… Karena asumsi di awal yang salah (bahwa semua sekolah PAUD/TK) akan mengajarkan calistung dari usia dini (4 tahun), maka saya dan Ara sepakat ingin homeschooling saja. Kalau mau belajar pun, bisa dari rumah dan saya akan menerapkan acara belajar yang lebih menyenangkan dan less stress.

Tapi untuk menjalankan homeschooling itu tidaklah mudah sodara-sodara! Dan sesungguhnya tidak sulit, asalkan memang ada KOMITMEN dari ortu, visi yang JELAS apa yang mau dicapai dari kegiatan belajar di rumah, dan misi yang sejalan dari kedua ortu dan anak melalui kegiatan harian yang sudah tersusun. Sudah jelas, saya dan Ara missed di yang satu ini: bukannya tidak komit, kami berdua memang masih sering tidak sejalan dengan cara menangani anak-anak. Terkadang saya merasa Ara tidak pas cara menangani Azka dan Khalif di waktu-waktu mereka sedang tidak kooperatif, dan seringnya saya juga yang “disalahkan” karena bagi Ara saya tidak tegas (alias permisif ke anak-anak yang menyebabkan tingkah laku mereka kadang bikin KZL). Padahal menurut saya, saya bukanlah permisif…melainkan negotiable, ehehe. Dalam banyak kasus memang saya menanyakan ke anak-anak “Jadi mau apa, gimana yang membuat kamu nyaman?”, sementara buat Ara beberapa adalah harga mati dan tidak ada tawar-menawar. Nanti deh kapan-kapan dikasih contoh-contohnya..

Alasan kedua, homeschooling ini ga terlalu akrab dengan kultur di Indonesia – utamanya di keluarga saya dan Ara yang banyak dari mereka adalah termaktub dalam lingkungan akademik. Jadi opsi “gak sekolah”itu dianggap sesuatu yang “tidak puguh” (gak bener). Saya, yang mudah sekali gamang kalo “diomongin”, akhirnya mengalah… *kebayang gak sih kalau tiap hari ada yang tanya “kapan sekolah? kenapa ga sekolah? sekolah..sekolah..dan sekolah*. Sampai saya sendiri ngerasanya Azka jadi “muak” tiap denger kata “sekolah” (it supposed to be a fun place to learn and meet your best friends..!).

Akhirnya, saya pikir, yaudahlah, anak-anak gapapa sekolah, cuman sekolahnya mesti dipastikan memang bisa mengakomodir Azka dan Khalif. Kedua anak ini cukup kritis, utamanya Azka. Dan saya harus memastikan, guru-guru di sekolahnya pun tidak “mematikan” kekritisan Azka yang senang sekali bertanya.

Ketiga, ketika pulang, awalnya saya merasa anak-anak beradaptasi dengan sangat baik, bahkan mereka ga nanya-nanya tentang New Bedford atau merasa ada yang berbeda (kecuali macetnya yang suka bikin Azka males berpergian, utamanya ke Jakarta). Tapi ternyata, walau mereka ga komplen, tanpa disadari ada perubahan dalam tingkah laku mereka.. Saya ga tau apakah ini emang USIA-usianya mereka kayak “gitu” atau karena faktor kepindahan. Yang jelas, Khalif yang tadinya cenderung anteng, sekarang sering banget tanrtum dan nangis for something that is REALLY unimportant. I’d say unimportant karena hal-hal kecil yang ga dituruti bisa bikin dia nangis sampe 30 menit dengan hebohnya. Awal-awal pulang malah dia jadi suka dorong-dorong dan cubit anak lain, sampe suatu ketika dia kena batunya.. Ketika Arkin yang usianya 6 tahun, balik mencubit Khalif dengan tanpa ampun, dan di wajah pula! Sejak saat itu, Khalif jadi relatif lebih jarang dorong dan nyubit. Sementara Azka…. Dia menjadi kurang kooperatif dalam banyak hal, pundungan, dan clingy ke sebagian orang; which make some of them irritated to him (sadly). Tapi itu sebagian downsidenya aja… Di sisi lain, Azka banyak membantu dan very thoughtful. Malam hari dia suka menawarkan untuk pijet kaki Ibu, kalau liat saya kecapean, dia bawain makanan dan bikinin teh hangat, kadang dia juga terlalu baik… Semua orang disalamin, dipeluk, termasuk tukang TELKOM yang dateng benerin kabel Internet pun dia peluk2x! Haddeeeeh, haha. Tapi kalo lagi ga mood, boro-boro peluk, orang mau salaman aja dia males nanggepin.

Terakhir, walau Azka terekspos pendidikan agama di rumah selama di AS.. Nyatanya kehidupan beragama di Indonesia ini, yang sudah kami terapkan terasa kurang. Artinya gini.. Saya sebetulnya masih santai dengan kebiasaan sholat Azka, kalo dia mau ikut ya ikut, ga juga gapapa. Khan masih 5 tahun, pikir saya. Hafalan surat juga demikian. Al-Fatihah aja masih cukup saat ini, walau surat-surat pendek lainnya sering dibacakan sebelum tidur. Dan doa-doa harian: sebelum belajar,  tidur, makan dan doa untuk ortu. Juga belajar huruf Hijaiyah, saya pikir khan cukup ya…..TERNYATA gak. Bahkan kesannya saya ga ngajarin dia sama sekali, dan saya dianggap ga kasih contoh yang cukup untuk ajak sholat, dan menghapal doa-doa. Kalau bagi saya dia hanya anak 5 tahun yang lebih deserve meluangkan waktunya untuk (belajar sambil) bermain, sebagian merasa justruuuuu ini saat paling bagus untuk menghapal sebanyak-banyaknya surat dan pengenalan ke agama secara lebih mendalam. Tidak ada yang salah, mau yang manapun disesuaikan dengan visi dan misi keluarga masing-masing.

Hal ini sempat membuat saya gundah dan mempertanyakan kembali apa yang ingin saya lihat di Azka dan Khalif ketika mereka tumbuh besar nanti? Tentu saya ingin dia jadi anak yang sholeh. Tapi apakah itu dengan sebanyak-banyaknya menghapal surat-surat sedari dini? Apakah dengan memasukan anak ke sekolah pesantren? …. Tak jarang saya perhatikan, mereka-mereka (teman dan kenalan) yang pernah mencicipi sekolah pesantren atau asrama pun, gak berarti menjadi orang yang “sholeh”. Iya sih, bacaan sholatnya bagus sekali, hapal banyak surat dan hadits, namun dari keseharian ketika mereka dewasa, gaya berpacaran, gaya hidup, tidak mencerminkan ilmu yang telah mereka dapatkan ketika mereka sekolah dulu. Jadi… soal hapal-hapalan, belakangan aja deh, yang penting buat saya adalah lingkungan yang mendukung character building anak saja, membangun akhlaknya menjadi anak yang baik, santun, disiplin, dan kreatif dengan cara yang positif. Ketika ini terbangun, InsyaAllah dia akan menjadi pemuda harapan bangsa nantinya (kayak nama band yeuh).

Singkat cerita…. PENCARIAN sekolah ini memakan energi dan stok kesabaran yang tidak sedikit, not to mention time-consuming too. Kenapa? Sekolah yang saya (dan semua orang) pikir bagus, belum tentu cocok dengan anaknya. Jadi ketika saya berkeliling ke sekolah-sekolah “unggulan” dan direkomendasikan banyak pihak…nyatanya Azka tidak betah.

Sekolah yang saya suka sebetulnya tidak neko-neko: kurikulum tidak mengutamakan calistung -melainkan ke pembentukan karakter, guru-gurunya terlihat “pintar” dan sebisa mungkin bisa bahasa Inggris, bahasa pengantar: Bahasa Indonesia – bilingual gapapa, tapi tidak menjadi prioritas, secara bangunan, sarana dan pra-sarana layak, ada tempat mereka bermain, kegiatan harian membuat anak banyak berkreasi, berinteraksi, bermain, dan tampil (agar tidak malu/ cukup pede untuk bisa berada di depan umum, misal dengan kegiatan drama, bernyanyi, dll), teman-temanya terlihat baik, ortu-ortu terlihat satu frekuensi (yang ga borju dan gaul berlebih lah pada intinya), dan lokasi yang dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit.

Inilah beberapa sekolah yang saya dan Azkhal kunjungi untuk trial… (bersambung di II).

2 thoughts on “Mencari Sekolah Anak di Bandung (1)

  1. Kak chicaaa huah peer pressure di indo emg jos gandos yaa.. hahaa aku jd inget cerita teh kiki barkiah pas anak2nya barucpindah jg.. smg azka khalif bisa adaptasi dgn baik yaa.. x)

    Emg yg plg ngerti memoles potensi anaknya dan mendidik anaknya harus emak bapaknya no 1 yaa

    1. Iya Rey..! haha…super jos gandos x) Kalo kita lemah dalam menghadapi peer pressure ini, pasti jadi galau2 ga jelas dan banding-bandingin anak kita dengan anak lain. Ga sehat banget khaan! xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s