The Greatest Gift

IMG_6667

Tanggal 1 Juni kemarin, Khalif berulang tahun yang ke-2. Tidak ada rasa galau dan gamang yang saya rasakan seperti ketika Khalif berulang tahun yang pertama, walau pastinya pikiran “I can’t believe he’s two already”  terus bergema di kepala setiap kali saya melihat si anak mungil ini. Dan setelah beratus-ratus kali menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”, saya baru sadar mengapa lirik lagu Selamat Ulang Tahun berisi ucapan “Selamat panjang umur! Kita ‘kan doakan. Selamat Sejahtera, sehat sentosa!! Selamat panjang umur dan bahagia!”. Dulu-dulu saya menyanyikan lagu itu sebatas hafalan saja, namun beberapa tahun terakhir ucapan saya setiap kali ada yang berulang tahun, kurang lebih sama: “Semoga sehat, sejahtera dan bahagia”, because actually, that’s what really matter in our life. Isn’t? 

Apa hubungannya lirik Selamat Ulang Tahun dengan Khalif?

Sehat. Sesuatu yang kadang kita abaikan sebagai satu bentuk rasa syukur. Dititipi karuna berupa anak aktif, sehat, dan lengkap adalah berkah yang tidak semua orang tua diberikan. Alhamdulillah selama ini Azka dan Khalif selalu dalam kondisi sehat jasmani (dan rohani). Namun sebuah kejadian di awal usia Khalif ke-22 bulan, membuat saya down luar biasa: Khalif mengalami serangkaian episode kejang (seizure). Patut diketahui, saya tidak pernah punya pengalaman anak kecil kejang, walau pernah sekali melihat orang kejang ketika saya sedang hamil besar Khalif. Saat itu saya pun panik luar biasa. Tapi tak pernah terpikir satu kali pun kalau itu bisa “menjangkit” anak sendiri.

IMG_6806

Selama ini Khalif adalah anak yang sehat aktif, ceria, dan suka “menggoda” kami semua (baca: menomplok dan mencakar Azka, Ibu dan Papa), namun tiba-tiba saja hari Sabtu pagi di akhir bulan Maret 2014, Khalif tak sadarkan diri sekitar 1 menit. Ya, 1 menit melihat anak tercekat, dengan bola mata rolling back, dan badan terjuntai kaku, bukanlah waktu yang singkat. Satu menit yang membuat saya histeris sejadi-jadinya dan takut luar biasa. Melihatnya dalam kondisi itu yang ada dalam benak saya hanyalah mengutuk diri, mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana bisa?? Kalau ada apa-apa dengan Khalif lebih baik saya lenyap dari dunia ini. Dalam kondisi panik saya menghubungi 911, dan tak sampai 4 menit dari saya telepon dengan menceritakan secara singkat apa yang terjadi, mobil pemadam kebakaran dan paramedics datang tergopoh melihat kondisi Khalif yang tertidur pulas. Dari penjelasan Ara yang melihat proses hilang kesadaran Khalif, paramedics menyimpulkan bahwa Khalif terkena “febrile seizure”, artinya adalah kejang yang akan diikuti dengan demam tinggi.

Pagi itu Ibu dan Khalif pergi ke UGD dengan ambulans. Sesiangan kami cukup lega dengan penjelasan dokter di UGD, bahwa kejang ini akan bersifat sementara. Nyatanya malam itu, dan dua kali pada keesokan paginya, Khalif mengalami total 4 kali kejang dalam kurun 30 jam, yang anehnya tidak diikuti dengan demam tinggi. Apakah demam tingginya teredam karena diberi obat? Tidak jelas.IMG_1629

Lusanya, hari Selasa siang, kami pergi ke Boston Medical Center. Di sana Khalif diperlakukan selayaknya orang sakit. Sebagai Ibu hati saya begitu hancur, it was a very heartbreaking moment for me and Ara. Dan bagi Khalif sendiri, semoga saja bukan proses yang traumatik untuknya. Kepala Khalif dibalut perban dan puluhan kabel-kabel untuk test EEG (Electroencephalography), untuk memonitor fluktuasi gelombang otaknya. Oleh Neurologist yang menangani Khalif, kami disarankan untuk bermalam di RS agar proses monitor EEG bisa lebih komprehensif. Ara dan Azka (terpaksa) harus pulang ke New Bedford karena tidak diperbolehkan bermalam di RS. Baru kali itu, selama saya tinggal merantau, saya merasakan betul betapa saya butuh keluarga besar saya. Setidaknya, ada yang bisa menenangkan saya dan atau memberikan second opinion mengenai perawatan yang harus Khalif jalani. Para suster yang datang dan kebetulan melihat saya menangis membantu menenangkan dan membesarkan hati: It can be happened to everyone. Sementara Khalif, begitu pasrah, sabar dan “dewasa” dalam menghadapi perubahan mendadak yang harus ia lalui. Pemasangan kabel-kabel di kepalanya pastilah bukan hal yang nyaman, anak seusianya akan meronta-ronta. Khalif hanya diam, melihat saya dengan kebingungan dan dengan pandangan getir yang semakin menyayat hati saya; dosa apa yang saya lakukan sehingga anak saya harus melalui semua ini. Kenapa bukan saya yang sakit. Ya Rabb. Tak henti-hentinya saya menyalahkan diri saya, mencoba mengingat, apakah Khalif terbentur sesuatu? Bagaimana jika ada sesuatu pada otaknya, bagaimana kalau ini, itu, … segala kemungkinan terburuk berkecamuk.

IMG_6530

Hingga saya tersadarkan: dalam kondisi sulit atau genting, yang dibutuhkan adalah segurat optimisme dan sikap positif. Dan kondisi seperti inilah yang dinamakan ikhlas dan “serahkan semua kepadaNya”. Dia Yang Maha Tahu sebaik-baiknya perkara. Mendengarkan Al-Qur’an di tablet dan sholat membuat saya lebih legowo. Pagi harinya, saya merasa lebih tenang dan pasrah. Apa pun yang terjadi, Allah memiliki skenario yang terbaik.

Singkat cerita, Selain EEG, Khalif juga menjalani MRI (Magnetic resonance imaging) untuk scan otaknya. Berat bagi saya, untuk mengikuti semua prosedur yang diberikan RS. Setiap dokter jaga yang bergantian hadir, saya tanyai, setiap suntikan dan obat yang mau diberikan, saya interogasi terlebih dahulu. Maklumlah, Azka dan Khalif tidak pernah saya berikan obat sama sekali. Dan di RS, “seenaknya” mereka bolak-balik kasih obat x, suntik y, prosedur z. HEY, ini anak usia 22 bulan…!! Bagi para suster dan dokter, saya itu ajaib dan langka, mereka cenderung tidak siap dengan pertanyaan: “Why he has to consume that?” dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya bukan mencecar, saya hanya ingin setiap obat yang diberikan itu memang perlu dan tidak diada-adakan. Hingga waktu tengah malam, karena jengah berargumen, saya relakan si suster dan dokter melakukan apa yang memang dianggap perlu. Selain capek berdebat, saya berusaha mengikuti saran Bunda dan Mamah, “Ikuti saja yang dikatakan dokter, mereka sekolah lama dan panjang, pasti kompeten dalam bidangnya”.

IMG_3968

Alhamdulillah, dari hasil tes EEG dan MRI normal dan tidak ada indikasi epilepsi. Walau demikian ada sedikit aktifitas abnormal pada otak kiri Khalif pada waktu-waktu tertentu yang tidak mengindikasikan penyakit apa pun. Agar aman jika harus menghadapi kejang di kemudian hari, dokter memberikan resep pereda kejang, kami disarankan untuk memberikan obat oral setiap harinya kepada Khalif. Tentu saja, obat tersebut tidak pernah kami berikan kepada Khalif atas pertimbangan bahwa ini adalah unresolved conclusion.

Khalif Arana, Ibu tidak tahu apa yang terjadi dua hari sebelum Khalif berusia 22 bulan itu. Yang Ibu yakini, aktifitas otak Khalif sedang sangat aktif, dan kejang hari itu mungkin menandakan bahwa Khalif akan banyak keahlian baru. Mungkin konyol bagi yang membacanya, saya ambil positifnya dari pesan para tetua dulu: kalau anak sakit, demam, kejang: dia akan menambah kepintaran. Ibu aminkan, dan doa Ibu selalu agar Khalif diberikan usia panjang, sehat sentosa, sejahtera dan bahagia. Amin YRA.

IMG_6881

Khalif sayang, Ibu cerita sedikit tentang perjalanan Khalif di tahun kedua ini ya. Sifat yang paling menonjol dari Khalif adalah persistent luar biasa serta mandiri dalam banyak hal. Khalif bisa  pakai baju, celana panjang, kaos kaki, dan sepatu sendiri. Sesekali butuh bantuan, tapi jika diberikan cukup waktu, Khalif sudah bisa melakukannya sendiri. Lalu, Khalif suka sekali pakai baju lengan panjang, celana panjang yang harus menutupi mata kaki, dan kemana-mana senangnya pakai topi, hehe, sungguh menjaga aurat. Mungkin karena kelamaan musim dingin ya Khal.. tapi gapapa dong sesekali pakai baju lengan pendek dan celana pendek x)

IMG_0280

Khalif tidak suka disuapi, hampir setiap makan, sejak Khalif 6 bulan, lebih suka makan sendiri. Makanan kesukaan Khalif adalah oatmeal, cereal, dan hot wheat cereal (Farina). Bener-bener hambar rasanya. Heheu. Ibu bingung juga kenapa kamu suka bubur ya, padahal pas bayi jarang banget Ibu kasih bubur, karena pake ala Baby Led Weaning. Tapi bagus juga makan oat dan wheat karena kaya zat besi atau enriched with iron. Khalif sempat ada masalah dengan kadar zat besi yang rendah dalam darah, sehingga diharuskan mengkonsumsi supplement zat besi dua kali sehari dengan kadar yang sudah ditentukan dokter. Tapi tidak selalu Ibu kasih, mungkin malah hanya seminggu atau dua minggu sekali, seringnya ibu bikinkan Khalif green smoothies dengan bayam sebagai asupan zat besi. Khalif juga suka sekali yogurt vanilla dengan chia seeds. Suka banget pancake dan banana muffins yang kita buat bersama. Lalu untuk makan malam, Khalif (seringnya) hanya mau makan nasi dan kerupuk (atau chips, jika ada). Kalau ada sedikit saja rasa ayam atau ikan atau telur, langsung dilepeh -___-. Atuhlah, Khal.  Selain itu, Khalif suka banget dengan campuran alpukat dan pisang. Buah favorit Khalif adalah: pir (yang baru terungkap sebulan lalu oleh Papa).

IMG_6763

Khalif paling tidak betah berlama-lama nonton TV, bagi Khalif 20 menit sudah terlalu lama. Khalif lebih memilih pindah dari ruang tengah ke ruang bermain, di sana bisa dipastikan Khalif sedang bolak-balik satu – dua buku sendiri. Atau mengambil beberapa balok dan menyusunnya. Khalif amat suka buku The Dark oleh Lemony Snicket, Creepy Carrots oleh Aaron Reynolds, The Very Hungry Catterpilar dan seri Pete the Cat. Lagu terfavorite yang sangat Khalif nikmati ada dari Barefoot Books: Up Up Up. Animal Boogie, dan juga lagu yang kita nyanyikan bersama Five Little Ducks, Over in the meadow, dan Balonku, di luar itu Khalif suka sekali lagu Bob the Builder theme song dan Pooh Up Down Touch the Ground. Basically, hampir semua yang Aa suka, Khalif juga jadi ikut suka🙂

IMG_6533

Ohya, Khalif mungkin kalau sudah besar ingin jadi petualang ya, karena Khalif suka sekali manjat dan sengaja menjatuhkan diri dari belakang sofa dan menjungkalkan diri ke kasur di bawah sofa. Pada kesempatan-keempatan tertentu, hal itu membuat Ibu “menggila”. Sampai pada suatu titik, Ibu bisa lebih santai melihat aksi akrobat Khalif. Ck ck ck.

Khalif suka sekali mencakar dan mengambil, melempar kacamata Ibu dan Papa. Perihal cakar, ketika Khalif di RS, sebagai salah satu bentuk rasa bersalah Ibu dan Papa, kami berdua pasrah dicakar Khalif yang mengamuk pada pagi hari menjelang MRI; Khalif ngamuk karena tidak diperbolehkan minum sama sekali 6 jam sebelum tes berlangsung. Pastilah Khalif marah besar, luka cakar di kedua pipi Papa cukup panjang dan dalam. Semua yang melihatnya pasti tidak tega, semacam abis dicakar kucing berkali-kali, hehehu. Mohon jangan diulangi lagi ya, Khal…

IMG_5249

Khalif hingga dua minggu sebelum usia kedua, baru bisa mengucapkan beberapa kata: “Baba” untuk Papa, “The Dark” untuk buku, “It did” satu kata dalam buku The Dark, “Pete, “Pooh” dan “Bob” . Tapi dalam dua minggu terakhir, Khalif bisa mengucapkan “duck, sun, tree, bee, owl, moon, door, turtle, nose, ears, eyes, lips, head, hands, hat, poke, squeeze, Aa, Ibu, kaya (square), kel (circle), gon (octagon), dll”. Kebanyakan dalam Bahasa Inggris, tapi tak apa, Ibu yakin kamu akan sama pandainya berbicara kedua Bahasa tersebut. Khalif juga selalu menggunakan “more” dalam ucapan serta sign language jika ingin tambah sesuatu. Penambahan vocab dan sign language ini tak luput dari peran serta Raquel dan Becky selaku speech therapist Khalif yang sudah 2 bulan terakhir datang, sejam sekali dalam seminggu untuk mengajak Khalif main dan memberi masukan ke Ibu, bagaimana cara yang efektif agar membantu Khalif mengucapkan lebih banyak kata.

IMG_6554

Kesenangan Khalif adalah main di luar, di playground tepatnya. Saat ini Khalif suka sekali naik dan turun tangga tanpa mau dibantu. Khusus untuk turun harus selalu dibantu pegang ya, Ibu belum berani melepas kamu. Di playground, kesenangan Khalif adalah main di ayunan dan perosotan. Khalif senang meniup bubble, mandi bubble-bath berlama-lama, main lempar tangkap bola, main masak-masakan dengan Aa. Khalif baru menguasai bermain clothes pins, dan senang berkonsentrasi menjepitkannya ke karton atau kontainer.

IMG_7081

Khalif kesayangan Ibu, maafkan Ibu atas segala kekurangan Ibu ya. Ibu juga masih (dan akan terus) belajar untuk menjadi Ibu yang baik, dan terbaik untuk Khalif dan Aa. Sementara ini dulu yang Ibu ingat, InsyaAllah Ibu tambahkan jika ingat ya, Nak. Sayang Ibu selalu, untuk si mungil kesayangan Ibu, Papa dan Aa.

ArIMG_6672Peluk sayang,

Ibu

6 thoughts on “The Greatest Gift

  1. Selamat ulang tahun untuk Khalif🙂 Semoga selalu dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan lindunganNya… *lagi-lagi berkaca-kaca baca birthday letternya* Peluk buat Khalif :*

    1. Amin Ya Rabb Bu Wid doanyaa…! Peluk sayang dari Khalif untuk Bude..dan kiss kiss :* Huhuw, yang ini dibikinnya juga dengan berkaca2 mengingat kejadian Sabtu pagi itu *tak berdaya*

    1. Hallo Medina..!

      Amin YRA doanya untuk Khalif🙂

      Anak2ku di imunisasi -walau awalnya sempet selalu mempertanyakan dengan dokter di sini, kenapa banyak sekali imunisasi. Jadi setiap mau suntik, pasti harus dibujuk rayu oleh si dokter, bahwa imunisasi X,Y,Z dll itu sangat perlu. Bismillah saja… Di sini, kalo untuk low income family, imunisasi gratis – dan wajib lengkap imunisasi untuk masuk sekolah2 umum (ada juga sedikit sekolah yang sudah tidak mengharuskan).

      Ini jadwalnya bisa dilihat ya: http://www.cdc.gov/vaccines/schedules/hcp/imz/child-adolescent.html

      Semoga menjawab (seadanya)😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s