Pulang

IMG_8218

Akhir-akhir ini saya banyak bertukar cerita dengan teman-teman saya yang sesama Ibu muda dengan anak balita. Para teman ini mengaku lebih rela tinggal berjauhan dengan suami mereka, ketimbang ikut merantau 1- 2 tahun dengan para suami yang melanjutkan sekolah. Jawaban mereka antara lain: “Gue gak bisa masak samsek”, “Takut kehilangan pekerjaan yang sudah mapan sekarang, soalnya gaji gue udah lumayan”, dan “Ga ada pembantu, ga kebayang mau ngurus anak di sana”. Jawaban yang aneh walau saya bisa mengerti alasannya.

Awalnya saya pikir mereka itu manja. Tapi ketika dipikir ulang, kayaknya malah saya yang manja semenjak tinggal di Amerika. Iya, akhir-akhir ini saya didera penyakit akut: Takut Pulang yang membuat perut saya melilit dan kepala saya pusing dengan membayangkan: pulang ke Indonesia.

Yang namanya merantau itu khan ujungnya pulang ya… Dan pulang ke kampung halaman alias negara asal harusnya membuat orang yang lagi di rantau senang dong. Terbayang dalam benak bisa berkumpul dengan Ayah, Bunda, juga Bapak dan Mamah. Terbayang bentuk rupa Mie Atjeh, Nasi Rames Padang, Sate Banjar, Soto Betawi, Batagor, Siomay, Martabak Mesir, Mie Djawa…. dan list panjang makanan yang ingin disantap (!!!). Terbayang juga bisa berkumpul dengan adik-adik, keluarga besar, para sahabat, dan mempertemukan Azka dan Khalif pada para sepupu yang belum pernah mereka temui selain lewat layar komputer via Skype.

Tapi kemudian pikiran yang menyenangkan itu berhenti di situ. Pikiran lain, yang kurang lebih semuanya berisi pikiran negatif, muncul. Lalu, habis kumpul-kumpul, haha-hihi, terus ngapain? Semua punya kehidupan masing-masing. Ada tempat tinggal masing-masing. Problem masing-masing. Kumpul dan bercengkrama itu hanya habis dalam waktu dua jam, maksimal. Ntar palingan ketemu lagi pas Lebaran dan Bukber. Setelah itu mau apa? Sehingga “berkumpul bersama keluarga” bukanlah motivasi utama dari pulang kampung.

Terbayang dalam pikiran saya dua kota tempat saya tumbuh: Jakarta dan Bandung. Banjir. Polusi. Macet. Nyamuk. Kecoak. Panas. Lembab. Pengemis. Koruptor. Mafia. Geng Motor. Jalanan sempit. Orang buang sampah sembarangan. Orang merokok sembarangan. Metromini sumpek. KRL penuh. Busway apalagi. Trotoar tidak nyaman. Padat mall, sedikit taman. Pengeluaran berat di lifestyle. Belum lagi minder (psikologis), karena gaji teman-teman seangkatan dan senior/ junior yang terpaut 1-5 tahun sekarang mungkin sudah berkisar 15-30 juta? (Atau lebih?). Ah, mau tinggal di mana gue? Mau disekolahin di mana anak-anak? Apa gaji Ara akan cukup? Kalau saya kerja lagi, anak-anak siapa yang menjaga? Berapa gaji baby sitter? Berapa gaji ART? Berapa gaji supir?

Memikirkan segala kendala tersebut saja rasanya kepala saya pening. Papa, bagaimana ini nanti kalau kita pulang.. Apa kita jadi gembel? Kita investasi apa gitu Pa?| Investasi apa, investasi kebaikan dulu saja lah, Bu.

Sementara kehidupan kami di sini memang masih jauh dari mapan. Budget makanan mingguan yang super hemat. Gak usah beli daging dulu ya Pa | Iya gapapa, makan telur, tempe dan tahu saja sudah senang kok Bu. Mobil pake yang keluaran tahun 1998. Yang penting masih bisa jalan bu, kalau gak ada mobil lebih berabe khan, disyukuri saja yang dimiliki. Beli baju di consignment store, thrift store, atau pun mega clearance yang hanya saya beli jika sale-nya sudah mencapai 80% off dari harga asli. Sabar-sabar ya Bu, nanti kalau Papa gajinya udah 16 juta dollar per bulan, Ibu boleh beli baju yang bagusan. Duh, 16 juta dollar, sampai kapan yaa.. Haha.

IMG_5404

Tapi kehidupan kami jauh dari yang namanya macet. Ga ada cicak, nyamuk, semut, kelabang, tikus, kecoak, dll yang menganggu ketenangan tidur. Udaranya bersih, Kadang panas menyengat, kadang dingin menusuk, kadang langit biru cerah indah, kadang abu-abu gelap hujan tanpa henti. Yaa namanya juga cuaca. Menikmati pantai dan laut yang bersih. Menikmati angin musim semi. Warna-warni musim panas. Daun musim gugur. Salju musim dingin. Orang-orang yang kami temui, mau kaya, mau miskin, mau homeless, hitam, putih, pake celana hipster kedodoran, berjas rapih: semua menahan pintu jika satu sama lain berpapasan. Semua menyapa “How are you today?” atau “Have a nice day!”. Semua bilang “excuse me” dan menjauh atau mematikan rokok mereka jika melihat ada Ibu dengan anak di dekat mereka. Tertib membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan (walau ada saja satu-dua yang buang sembarangan). Menghormati saya dengan jilbab saya, membiarkan saya masuk ke rumah agama mereka – “It’s always open to everybody. Christian, Muslim, Catholic, everyone”.  Ini mungkin tidak berlaku di seluruh Amerika Serikat, setidaknya di New Bedford, Massachusetts ya begitu dari pengalaman saya. Dan dari sisi lainnya, saya tak perlu khawatir dengan pakai tas yang itu-itu lagi. Pake warna dan model jilbab yang itu-itu saja. Pakai sepatu dan boots yang sama tiap tahunnya. Gak ada yang peduli. Tak ada yang bergunjing hal-hal yang tak perlu dipergunjingkan.

IMG_9617

Singkat cerita, kehidupan di sini mengantarkan saya kepada kehidupan yang lebih menentramkan jiwa. Peace of mind. Apa ada yang lebih penting dari itu? Apa saya sudah menjadi manja sekarang? Jika ingin pulang ke Indonesia, bolehkah saya menunggu hingga pekerjaan, penghasilan dan ilmu kami sudah cukup untuk bisa membiayai sekolah, beli/ cicil rumah, menerapkan ilmu dan memberi manfaat buat masyarakat sekitar? Sampai kapan? Dan kalau saya memilih untuk tetap tinggal menetap di Amerika atau di mana pun Bumi Allah, apakah saya dianggap tidak cinta tanah air? Apa dengan saya pulang, Indonesia akan menjadi lebih baik? Apakah anak-anak saya akan tumbuh menjadi pribadi bebas, bermoral, kreatif dan bahagia dengan lingkungan mereka di sana? Apakah quality time bersama keluarga akan tetap terjaga dengan jadwal kerja 9-5 plus lembur dan macet? Apakah saya terkesan tidak ingin bekerja keras dengan menulis ini? Apakah saya terdengar seperti orang yang pesimis? Apakah saya sudah seperti desperate housewife (kalau kata teman saya, menanggapi ocehan saya di Twitter)?

Ah entahlah. Ini hanyalah sebuah tulisan meracau hasil gundah karena memikirkan akan pulang (walau belum tentu kapan). Kita lihat ke mana angin membawa keluarga kecil kami: satu, dua, lima, delapan tahun mendatang. Karena banyak tanah di muka bumi, yang ingin kami pijak dan tempati. Semoga ada kesempatannya untuk kembali ke tanah kelahiran kami.

Kembali, kami pasti. Itu janji.

12 thoughts on “Pulang

  1. Bagus…. Saya suka sekali tulisan ini. Jangankan Chica yang sudah lebih lama di luar ngeri, saya yang baru tiga bulan saja sudah merasakan kekhawatiran soal pulang. Mungkin dalam bentuk kekhawatiran yang berbeda, kekhawatiran soal termanfaatkannya ilmu nanti ketika kembali ke negeri sendiri. Tapi insya Allah… ada jalan yang sudah ditetapkan oleh Allah, dan saya yakin itu yang terbaik.

    1. Terima kasih Ilham…! Iya, saya yakin Ara (suami) pun mengalami kekhawatiran yg sama dgn Ilham, mungkin karena sesama student yaa.. hehe.

      Iya, InsyaAllah ada rezekinya, Ara tuh sangat optimis orangnya jd dia kayak yang “take it easy” mau pulang dengan kondisi gimana pun x) Malah saya yang pesimis gini yahh…Hiks.

  2. Hi, salam kenal, 🙂 rasanya ini adalah kegundahan semua org Indonesia yang pernah dan sedang tinggal diluar negeri,
    Kota2 besar Indonesia, atau mungkin Jakarta, yg sy tahu dan tinggali, memang tidak menjanjikan dari sisi peradaban perkotaan. dan manusia2nya pun akhirnya terbentuk keras akibat dari kotanya yang semrawut td. Tp memang beruntunglah org yang bisa memilih…
    mau pulang atau stay, bahkan ganti paspor sekalipun., ke-Indonesiaan kita gak akan hilang dengan satu dua generasi kok.. Common interest-nya pasti masih sama dan kebawa🙂
    Kita sendiri walau hanya 1.5 jam dr jakarta, rencana awal 2-3 tahun…akhirnya sudah bertahan sampai 8 tahun..walau sekarang ada kemajuan.. sudah ada goal..🙂..walau itu rencana dan Allah lah yang menentukan🙂

    1. Hii…! Salam kenal, suka sekali liat2 foto di flickrnya🙂 Wah, jadi ini udah 8 thn di Singapore (eh, bener ga?) dan ada goal mau pulang ke Indo? Iya InsyaAllah goalnya ada utuk pulkamp, tapi ini asli belum siap bgt, mungkin krn kondisi finansial -mikirin beli rumah, bayar sekolah, dll di Jkt/Bdg kayaknya “belum sanggup” plus faktor2 penambah stress itu (kemudian manja). Semoga Allah memberi rencana yang terbaik, Amin YRA

  3. Seru banget baca blognya cha. Perasaan kita kok sama ya. Setelah 3 thn tinggal di belanda dan 4 thn tinggal di jerman, gw jadi udah comfort dgn keadaan disini. Yg bikin pusing itu gmn sekolah anak2. Biayanya brp? Apa gaji suami cukup? Kalo kerja, anak ama siapa? Trus..kalo anak sakit gmn? Setiap ke dokter hrs bayar dong. Apa tabungan kita cukup? Mau investasi..investasi apa yah? Kalo mau jalan2 ke taman dimana ya? Hirup udara segar dimana ya? Hahaha.. bilang ke suami, apa kita perpanjang lagi kontrak kerja disini ya.. :p

    1. Hahhaha, kebayang Meli yang udah lebih lama – apalagi di Belanda dan Jerman jauh lebih advanced dari pada di US (rata2x infrastruktur dan transportasinya)…! Iya perpanjang aja yuk kontraknya, haha x)) Iya khan… bener, di Indo semua2 kerasa lebih mahal, krn gaji dengan spendingnya ga setara.. Kecuali kalo gajinya udah mapan banget ya Mel. Semogaa selalu rezeki dariNya untuk kel kita, Amin YRA..!

  4. Cha …. he he … sangat dimaklumi perasaanmu seperti itu. Teteh aja cuma 7 bulan di Inggris sdh merasakan nyamannya. Fasilitas yg diberikan kota di negara maju memang sangat memadai, bahkan di Leicester, kota kecil …ibukota Midland, kota lingkungan … kota pejalan kaki … nikmatnya berjalan kaki dan lokasi taman2 dan lapangan2 luas. Harga utk sembakonya juga benar2 murah …. Untuk membuat semangat kita pulang adalah berbagi .. baik dengan keluarga .. teman .. tetangga dll.. Berbagi apa saja .. waktu .. tenaga … pengalaman .. apa saja …Banyak yg bisa kita lakukan disini, masih banyak masyarakat miskin, kampung kumuh, balita kurang gizi, ibu2 kurang pendidikan, kota yg kering fasilitas dll …. panjang kalau ditulis semua .. Jadi kalau mikir gampang … kalau mau banyak beramal ibadah yaaaa tempatnya di lingkungan kita mudah sekali … kesempatan ladang amalnya banyaaak ….
    Memang ada hal2 yg harus disiapkan sebelum pulang … memperbanyak network di kota tempat tinggal juga di tanah air .. mulai dijajaki kerja sama dengan berbagai pihak … kemungkinan nya apa saja … supaya kembali ke Indonesia sdh ada planning yg lumayan jelas ..( bisa juga ngobrol dengan kang Irhan yang pengalaman 13 thn hidup di Jepang)
    Insya Allah .. kalau semua dimulai dangan Bismillah, niatnya baik … ada saja jalannya … ada saja rejekinya ..

    1. Nuhun Teh Ida… Hehe, iya sedari awal di sini, aku udah banyaaaaaaaaakk banget kepikiran pengen menjalin kerjasama dgn pihak2 di sini, tapi nyatanya ga semudah itu (walai belum dicoba juga. which is probably not THAT difficult). Yaa.. InsyaAllah nanti pas pulang udah siap mental,planning dan financial juga, supaya sampe di Indo ga ‘linglung’ dan galau

  5. Cha, bener banget!! Ga kebayang yaa nanti pulang gimana.. Huhuhu.. 1 alasan yg bikin gw manteb pulang adalah, anak2 gw akan lebih baik belajar ilmu agamanya di Indonesia dibanding disini. Ini mungkin krn gw nya yg ga telaten ngajarin mereka ngaji & hafal quran kali yaaa, keburu cape. Krn menurut gw, agama itu pondasi, dan gw….ilmu agamanya masih cetek, masih hrs banyak belajar. Dan gw ga dapetin itu disini. Lbh seneng di Indo, dimana gw bs dateng ke pengajian biar ilmu agama gw nambah. Klo masalah rezeki insha Allah Cha, kalau qt mau usaha Allah ga akan membiarkan qt susah. Jadi kesimpulannya, aku pulang!! Hahaha.. Emg mesti pulang sih krn ada ikatan dinas :p

    1. Haha Ayu… Iya, itu juga terpikir.. Cuman buat gue sih harusnya gue dan Ara yang bisa lebih disiplin dalam membimbing dalam urusan agama. Di Indonesia memang lebih terexpose dengan kegiatan masjid, pelajaran agama ada dalam kurikulum, dll, tapi menurut gue itu gak jadi jaminan juga.. Intinya balik lagi ke keluarga😀 Tapi InsyaAllah gue pulang kok.. Sukses utk keluarga kt yaa!

  6. Hi salam,
    benar sekali, sindroma “Takut Pulang” benar-benar melanda istri dan anak2 saya. Bahkan anak saya selalu protes, “ayah, negara kita kacau sekali” dalam bahasa inggris, setiap kali kami pulang. semoga hati dan perasaan kita tetap di Indonesia selalu

    salam dari Doha-Qatar

    1. Hi Anto,

      Wah.. Anak2ku gimana ya kalu pulang nanti.. Mungkin komennya bakal mirip x) Semoga Indonesia akan menjadi (jauh) lebih baik dalam beberapa tahun mendatang… Start from “revolusi mental” dan membudayakan hal-hal baik, InsyaAllah seiring perubahan budaya ke arah positif, pembangunan infrastruktur yang lebih baik, “kekacauan” di Tanah Air akan berganti menjadi negara yang aman dan nyaman ditempati.. Amin amin amin.

      Salam utk keluarga di Doha..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s