Menulis Bebas. Bebas Menulis!

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  ― Pramoedya Ananta Toer.

Berawal dari pertengahan Desember lalu, saya dan teman-teman yang tergabung dalam grup WhatsApp Siaware* sepakat untuk menantang diri kami selama bulan Januari untuk meng-update blog milik masing-masing dengan mem-posting satu tulisan di blog kami setiap harinya; kami namakan tantangan tersebut #30tulisan – walau bulan Januari sendiri ada 31 hari, biarlah satu hari menjadi bonus. Sejauh ini ada sekitar 29 anggota yang berpartisipasi, namun entah berapa dari mereka yang selama 5 hari pertama di bulan Januari ini sudah berhasil keep up untuk menulis satu tulisan setiap harinya. Nyatanya memang menulis itu selain membutuhkan bunch of inspirations and good mood, juga membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.

How are you writing today?

Tapi sudah lima malam terakhir, selama dua jam menjelang tengah malam, saya berkutat di depan komputer untuk menulis #30tulisan -yang sialnya saya yang mengusulkan ide itu (Duh, sok-sokan banget sih! Padahal blog ini biasanya cukup puas jika saya bisa meng-updatenya sebanyak 3 tulisan dalam 1 bulan. LAH ini 30 tulisan dalam 1 bulan!). Dan kebanyakan tulisan saya yang saya kerjakan dalam lima malam terakhir semuanya belum rampung; alasannya belum nemu foto-foto yang pas dengan isi tulisan dan rasanya tidak ingin cepat-cepat published tulisan kalau belum yakin betul dengan isi konten tulisan. Tapi ini sudah tanggal 6 waktu Indonesia, bro…! Sementara tulisan saya masih mandeg di tulisan ke-3. Waduh.

Ini mungkin karena saya belagu. Karena ketika awal terlontar ide #30tulisan ini… Banyak diantara teman-teman yang ternyata tidak pede untuk menulis; “Gue gak bisa nulis, jadi pembaca aja yaa..” adalah pernyataan yang banyak terlontar. Ah, masa sih gak bisa nulis? pikir saya. Karena ini yang ngomong minimal menggondol gelar Sarjana Teknik dari “Institut Teknologi Terbaik” di Indonesia looh😀  Pasti kawan-kawan itu merendah adanya dan mungkin saja belum berusaha/ mencoba mengejawantahkan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan. Ada juga yang mengaku lebih mudah “ngomong ketimbang nulis”. Sebagai tambahan, ya memang sih, mereka ini hampir semuanya adalah pembicara yang handal – seumur-umur punya WhatsApp, cuman group ini yang bisa membuat notifikasi sebanyak 1600 unread messages hanya dalam kurun waktu 12 jam. Kebayang khan, kalau dikumpulin semua orang-orang ini bagaimana hebohnya🙂

Lanjut,

Tapi memang menulis itu tidak mudah. Khususnya buat saya, akhir Desember lalu menjadi bulan di mana saya kembali tidak menyelesaikan Clemente Course saya, semata-mata karena saya tidak bisa mau berusaha menulis sebuah paper tentang pemikiran saya terkait dengan mata kuliah Moral Philosophy dan American Literature yang saya ambil. Tapi itu lain soal, itu tulisan akademis. Kali ini tulisannya khan, kita sendiri yang menentukan temanya, word count-nya bebas, gaya bahasanya terserah. Pokoknya bercerita tentang apapun yang menarik buat kita: bisa fiksi, bisa non-fiksi, bisa bahas tentang negara, tentang keluarga, tentang gaya hidup. Apapun. (Harusnya) mudah khan?

You don’t start out writing good stuff. You start out writing crap and thinking it’s good stuff, and then gradually you get better at it. That’s why I say one of the most valuable traits is persistence.” ― Octavia E. Butler

Nah, kali ini saya mau berbagi salah satu kiat untuk memulai menulis bagi siapa saja (pemula maupun yang udah terbiasa menulis), ini cocok diterapkan ketika sedang mandeg akan ide “mau nulis apa yaa”. Dosen writing course saya menyarankan untuk melakukan “free writing”. Saya tulis beberapa kiat yang dia sampaikan dari materi kuliahnya yang juga bisa diliat di sini:

Apa itu free writing? Dari namanya saja sudah bisa ketebak khan? Menulis bebas! Caranya adalah tulis atau ketik apa saja secara terus-menerus selama 5 – 15 menit: ingat ya: non-stop. Jangan mengangkat jari Anda dari keyboard atau alat tulis dari kertas. Teruslah menulis. Jangan berhenti untuk merenungkan atau melakukan koreksi atau mencari arti sebuah kata dalam kamus. Terus saja menulis. Apapun yang ada dipikiran Anda. Tak usah pedulikan format penulisan yang benar, baik EYD Bahasa Indonesia, maupun grammar bahasa apapun yang digunakan. Karena Anda hanya menulis untuk diri sendiri pada saat ini; Anda tidak perlu khawatir tentang struktur kalimat, ejaan atau tanda baca, organisasi atau koneksi yang jelas. Jika Anda menemukan diri Anda terjebak untuk sesuatu untuk dituliskan, terus saja mengulangi kata terakhir yang telah Anda tulis, atau menulis , “I’m stuck, I’m stuck” sampai ada ide lain muncul. Setelah beberapa menit, hasilnya mungkin tidak terlihat bagus, tetapi…Hey! Sudah jadi tuh satu tulisan.

Lalu diapakan itu freewriting-nya? Kalau bagus ya tinggal diedit, kalau kacau banget yang tinggal dibuang. Hehe. Tapi pertama-tama bacalah dengan seksama untuk melihat apakah Anda dapat menemukan kata kunci atau frase atau bahkan mungkin satu atau dua kalimat yang dapat dikembangkan menjadi sebuah tulisan yang lebih mengalir. Freewriting mungkin tidak selalu bisa memberikan sebuah tulisan akhir yang baik, tetapi setidaknya membantu Anda untuk masuk ke dalam kerangka berpikir yang benar untuk menulis.  Dan pada dasarnya, menulis bebas atau menulis secara umum, just like any other things, if you want to master it, practice it! Cobalah menulis bebas sebagai olahraga teratur, mungkin tiga atau empat kali seminggu, sampai Anda menemukan bahwa Anda dapat menulis tanpa aturan nyaman dan produktif. Selamat dan semangat menulis…!

Note: *Siaware = Self Insight Awareness adalah sebuah pelatihan di ITByang terbuka untuk umum untuk mengenali diri sendiri dan bagaimana menyikapi permasalahan dalam hidup dengan simulasi-simulasi yang diterapkan saat pelatihan berlangsung. ** All the images aren’t mine and linked to the source directly

9 thoughts on “Menulis Bebas. Bebas Menulis!

  1. booi keren banget ih tulisan lo… lagi ga ada ide aja begini cobal?!! 😱😱😱 btw, masak menyerah sih cha? mengingat tulisan2 lo kan sangat menginspirasi anak2 siaware yg ikut tantangan ini… yah minimal posting foto instagram dikasih kata2 dikit juga boleh kan yaa… *itumahgwww* 😁✌️

  2. Setujuuu! Metode menulis bebas memang salah satu cara yang amat disarankan bagi yang mengaku-ngaku nggak bisa nulis. Hehe, jadi inget jaman bikin kelas nulis untuk Lana dulu…hasilnya seruuu…tp itu anak-anak, penasaran gimana ya hasilnya kalau bikin kelas untuk dewasanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s