Kisah Memasak

Buat saya, memasak sebuah hidangan sama seriusnya seperti menciptakan sebuah puisi. Setiap huruf berloncatan mencari jodoh membentuk kata; setiap kata meliuk, melesat, dan mungkin saling bertabrakan dan rebutan mendapatkan jodoh untuk membentuk kalimat yang berisi sekaligus mempunyai daya puitik. Setiap huruf mempunyai ruh, mempunyai nyawa, dan memilih kehidupannya sendiri. – Pulang, oleh Leila S. Chudori

Tulisan ini saya tulis minggu lalu, ketika sedang asyik membaca buku “Pulang”;

Sebetulnya sebagian dari yang ingin ditulis sudah saya twitkan tadi siang dalam kondisi gundah gulana. Tapi tak apa, nampaknya kalau belum diejawantahkan ke dalam sebuah tulisan di blog, nampak kurang afdol.Yakaaaannn….

Ceritanya beberapa hari terakhir saya (dan Ara) sedang membaca novel karya Leila S. Chudori, “Pulang”. Buku tersebut saya beli atas rekomendasi dari twit-nya Ratie beberapa bulan silam. Sampai saya menulis ini, saya belum selesai membaca bukunya – karena berebutan sama Ara tea-, tapi sejauh ini saya sangat menikmati membacanya, karena bukan saja saya menjadi merasa “lebih pinter” dengan fakta dan potongan sejarah yang disampaikan, tapi juga gaya penulisannya Mbak Leila yang begitu indah dan saya pun larut dalam kisah Dimas Suryo, Vivienne dan Lintang Utara.

Adalah Dimas Suryo seorang eksil politik yang tertahan ingin pulang ke Indonesia dan tinggal di Paris. Saya tidak akan menceritakan detail bukunya, tapi si Dimas ini sebagai tokoh utama diceritakan sangat gemar memasak. Cara ia memasak yang begitu mesra dengan bumbu-bumbunya (yang artinya adalah mengenal satu per satu ‘karakter’ bumbu), meracik dengan begitu khidmat setiap bumbu pada masakannya, membuat saya menjadi gundah seketika ketika membaca dan menampar saya dengan kegagapan saya terhadap masakan Indonesia.

Saya memang tumbuh di keluarga yang tidak gemar memasak, Ayah dan Bunda kayaknya ga pernah menyentuh dapur kecuali urusan cuci piring jika tidak ada ART. Dapur di rumah juga bukan tempat yang ideal sih untuk bereksperimen, mungkin bisa jadi itu alasan kenapa keduanya ga suka masak… Atau entahlah. Walau begitu Bunda tak pernah bosan mengingatkan; “Kamu jangan kayak Bunda, ga bisa masak gini. Belajar masak gih ke rumah nenek selama liburan ini…! Belajar bikin rendang atau dendeng” , repetnya ketika suatu kali liburan SMA – dan berulang lagi pula beliau katakan ketika saya lulus kuliah S1 dan belum bekerja selama beberapa bulan (kali ini usulnya adalah belajar ke ART-nya Tante Nita yang memang jagoan dalam memasak). Saran beliau tidak buruk, tapi memang pada waktu itu saya tidak merasa bisa masak itu penting (“Ahh, khan ada pembantu” – so typical of gadis metropolitan). Bahkan ketika kuliah dan para sobat pria saya Nando, Aris, dan Gosha yang (jauh) lebih mahir memasak dari saya – juga tidak membuat saya sebagai satu-satunya wanita dalam geng tersebut merasa harus bisa memasak. Sejauh yang saya ingat, saya tidak terlalu peduli apa itu yang ada di dalam soto, rawon, rendang, dan apa yang membuat siomay bisa begitu kenyal, atau apa yang membuat sop buntut terasa begitu spesial. Saya tidak tahu bumbu-bumbu, tidak tahu bagaimana bentuk rupanya, bagaimana cara memperlakukan bumbu-bumbu dasar tersebut hingga bisa menghasilkan aroma dan citarasa yang begitu orgasmik.

Awal-awal hidup merantau, saya masih semangat belajar masakan Indonesia – tapi lama kelamaan, karena keterbatasan waktu memasak yang hanya mendapat jatah 30 menit saja per hari (maksimal sejam), saya kesulitan untuk bisa bereksperimen dengan masakan Indonesia yang prosesnya tidak bisa singkat itu. Bisa jadi ini excuse, tapi coba deh, misal untuk bikin menu Telor balado + sayur tumis saja saya membutuhkan waktu sejam di dapur. Karena pembuatan balado, kupas- goreng telor, dan pelengkapnya berupa kerupuk, gak bisa 30 menit. Sementara jika saya bikin Salmon kecap atau tuna burger dan sayuran panggang atau salad – 30 menit pun beres! Sambel tinggal pakai ABC atau iris bawang merah, cabe, potongan tomat dan kecap. Oh, FYI, 30 menit adalah batasan bocah-bocah bisa duduk tenang dengan tayangan TV, lebih dari itu mereka akan mengerubuti saya ke dapur.

Masakan Indonesia yang pernah saya buat tidak banyak, bolak-balik saya hanya memasak yang relatif simple seperti sate ayam, ayam bakar, gado-gado, tahu goreng, tempe mendoan, dendeng, semur, bakso dan sesekali soto (itu semua tidak pernah saya buat lagi setelah kami menjadi vegetarian rumahan). Semuanya saya buat tanpa bumbu sachet-an (pernah beberapa kali dengan bumbu instant, tapi ga kuat sama after taste MSG-nya), tapi juga tidak menggunakan bahan dasar secara lengkap – karena terkadang saya hanya menggunakan yang ada di lemari dapur saja (yakni ground turmeric, ground coriander, ground cumin, dll). Dan hasilnya memang tidak buruk, kalau mau dibilang mendekati aslinya pun sebetulnya tidak – tapi ada sih kemiripan rasanya, hehe, dan selama Ara bilang enak secara tulus dan tetap lahap memakan hasil masakan abal-abal saya, maka saya pun cukup puas. Huhu.

Nah, bisa jadi keinginan saya untuk lebih menghemat waktu memasak menyebabkan skill memasak masakan Indonesia saya tidak kunjung berkembang (ada aja ya alasannya, haha). Hingga saat ini – memasuki tahun keempat bulan September nanti hidup merantau, saya ga pernah tuh turun tangan langsung dengan yang namanya kunyit, cengkeh, lengkuas, kemiri, ketumbar, laos, dll…Paling-paling yang pernah hanya bawang merah, putih, bombay, sereh, dan jahe. Itu pun jarang-jarang, biasanya cuman bawang aja sama cabe. Sisanya dengan tanpa rasa bersalah, saya gunakan bubuk/ ground turmeric, dll itu. Karena merasa itu yang paling praktis dan mudah ditemui. Tapi setelah membaca buku ‘Pulang’, saya jadi banyak berpikir sekaligus tertampar. Bagaimana bisa saya, yang orang Minang (walau cuman dari darah dan tak pernah tumbuh di tanah awak) tidak tergugah untuk membuat masakan asli kampung halaman leluhur saya? Bagaimana bisa saya yang sudah beratus kali makan rendang tidak tahu bagaimana mengolah bumbunya? Saya pernah sih, beberapa kali membantu Pak Marsin (ART yang sudah seperti keluarga) mengulek bumbu2 di dapur, bantu meres santen, aduk-aduk hingga menjadi rendang, tapi saya tidak tahu bagaimana rasio dari tiap2 bumbu, teknik mengolahnya bagaimana hingga bisa daging selunak dan seempuk itu.

Sedih ya… Betapa saya telat menyadari bahwa selain bahasa, hal penting untuk ‘diajarkan’ kepada keturunan kita terkait dengan pelestarian budaya asli Indonesia, adalah dalam bentuk masakan. Dan saat ini saya hanya tertegun membayangkan masakan nenek dan uci bunda saya – yang masakan keduanya alamak, sedapnya!- ; saat ini sudah tidak bisa lagi saya minta ajarin (atau mengamati) keuletan keduanya mengolah bumbu-bumbu di dapur, menggodok, dan memberi cinta pada masakan mereka yang tak ada duanya di dunia. Tidak di rumah makan Sederhana atau Pagi Sore atau di restoran mana pun. Sungguh saya berharap mereka memiliki salinan resep-resep “khas keluarga Akbar” atau “Hawadi” untuk diwariskan ke anak dan cucu mereka.

Ah, masih banyak waktu untuk belajar, semoga saya bisa mahir memasak masakan Indonesia – yang tak ada tandingannya dengan kuliner mana pun di dunia itu. Semangat mendapur…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s