Menjadi Ibu

Kemarin malam akhirnya saya menyempatkan diri untuk membaca buku ‘Habibie & Ainun’ yang telah lama bertengger manis di rak buku rumah. Sudah lama saya mendengar bahwa buku ini bagus dan cocok dibaca untuk saya sebagai ibu yang merantau dan tinggal jauh dari keluarga dan utamanya bagus secara umum sebagai bagian dari memotivasi seorang wanita agar bisa menjadi istri dan ibu yang hebat sebagaimana Alm, Ibu Ainun Habibie. Saya belum selesai membaca bukunya (dan tak sabar ingin menonton filmnya yang menuai banyak pujian itu!) – tapi sejauh ini saya menikmat membacanya. Selain karena menemukan banyak kesamaan keadaan dengan kel. Bapak BJH saat masih hidup ‘susah’ di awal-awal membangun rumahtangganya, saya juga mendapat tambahan potongan sejarah yang menarik tentang Indonesia.

Nah, ketika membaca bagian ini saya merasa seperti mendapat dukungan sebagai seorang ibu rumahtangga:

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)” ― A. Makmur Makka, dkk.Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

Walau mungkin karena datangnya dari Ibu Ainun yang mana pada dasarnya udah ‘sejahtera’ sehingga tidak cocok buat keluarga pejuang seperti kebanyakan dari kita (kita?? elo kaliii! hee),  tapi sebetulnya quote ini cocok ditujukan untuk siapa pun yang baru menjadi Ibu -mau bagaimana pun kondisinya. Dan setiap Ibu mau tidak mau – suka tidak suka – siap tidak siap-, akan selalu dihadapkan pada pilihan: “Menjadi Ibu rumahtangga atau Ibu Bekerja”.  Terlepas dari pro dan kontranya, seorang Ibu baru akan mungkin mengalami salah satu skenario di bawah ini:

  • Ada yang dengan mantap akan meninggalkan pekerjaannya kalau punya anak dan yakin akan menjadi stay at home mom 
  • Ada yang masih ragu-ragu (dan merasa bersalah) karena tidak yakin akan sanggup membiayai tingginya kebutuhan hidup berkeluarga jika tidak bekerja (turut andil bekerja membantu meringankan ‘beban’ suami). Sehingga tetap terus bekerja secara terpaksa.
  • Ada yang dengan tenang meninggalkan anak karena ada nenek/ pengasuh yang bisa merawat anak dengan baik – dan meyakini waktu kerja tidak akan mengurangi quality time dengan anak. Sehingga tenang menjalani peran sebagai ibu bekerja.
  • Ada yang plek mantap melaju melanjutkan karir dan bahkan tak sabar hingga hari pertama kembali masuk ke kantor lagi setelah sekian bulan cuti hamil dan melahirkan.
  • Ada juga yang memutuskan akan kembali bekerja ketika anaknya sudah cukup besar untuk bisa ditinggal-tinggal.
  • Ada yang dalam posisi paling enak (menurut saya): bekerja dari rumah agar sekali dayung dua tiga pulau terlalui (walau kenyataannya pasti jungkir balik juga membagi waktu untuk bisa konsen penuh ke kerjaan sementara di samping ada anak yang perlu diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya).

Dan lain-lain lagi yang tak terpikir oleh saya. Yang mana pun kondisinya, saya tetap kagum akan setiap perjuangan dan pengorbanan setiap ibu. Karena pasti, pasti, pasti….. apa pun yang dijalani akan ada waktunya kita merasa “this is wrong” atau “this is not what I want”. Apa pun pilihannya, yakinkan diri bahwa semua dijalani karena ingin yang terbaik untuk diri, anak (dan keluarga).

Untuk saya sendiri, saya termasuk ke dalam kategori yang mantap menjadi ibu rumahtangga hingga masing-masing anak telah mencapai batasan usia “the golden years” – yang mana adalah lima tahun pertama kehidupan mereka. Dan jika ada yang tanya “Trus buat apa ya saya sekolah tinggi-tinggi sampai S2 kalau hanya di rumah?” – Percayalah, tidak ada ilmu bermanfaat dan pengalaman hidup yang sia-sia, justru mereka yang beranggapan demikian – “buat apa sekolah tinggi kalau hanya di rumah” pasti tidak menyadari betapa ucapannya itu sungguh seperti bukan orang yang terdidik. Semoga bisa dipahami apa maksudnya😉

2 thoughts on “Menjadi Ibu

  1. Dear chicha.. semangat terus ya chaa.. azka dan khalif, they are lucky to have you as their mom🙂
    PS 1 : uie jg suka bgt dgn buku Habibie & Ainun, mereka hidup sederhana tp bahagia
    PS 2 : sama juga mantap menjadi IRT hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s