Sigur Ros

Tiket sudah dibeli dari jauh-jauh hari, tepatnya empat bulan sebelum hari-H, namun semakin mendekati hari konser tanggal 26 Maret 2013, saya semakin ragu: “Apa saya benar-benar ingin pergi nonton?”. Entah kenapa saya ragu-ragu, padahal menonton konser live Sigur Ros adalah mimpi saya sedari pertama saya mendengarkan musik mereka 11 tahun silam melalui video klip Svefn-g-englar. Tiket konser bahkan sudah sempat saya taruh di eBay – dijual dengan harga fix price 3 kali lipat dari harga yang saya beli. Namun foto-foto dan komen-komen orang di Instagram dengan #sigurroslive membuat saya YAKIN bahwa saya harus pergi nonton.

Dua hari sebelum pergi, saya kembali uring-uringan – kali ini lebih kepada hasil ASIP (ASI perah) saya yang sangat sedikit sekali hasil pompa. Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan Khalif dengan hanya meninggalkan bekal ASIP sebanyak 50ml?? Ditinggalinnya memang tidak lama, hanya 8 jam – dari jam 5 PM hingga 00.45 AM. Karena perjalanan dari New Bedford – Boston memakan waktu 1 jam, dan di dalam Boston sendiri menuju venue di Agannis Arena membutuhkan waktu 40 menitan dengan subway T. Sempat terpikir untuk ikut memboyong Khalif untuk nonton, tapi itu adalah ide gila yang pasti akan menuai protes luar biasa dari papanya (yaiya kalee).

Singkat cerita, saya jadi pergi ke Boston. Sedikit mengalami permasalahan pada tiket dan membuat saya hampir menangis menggila, namun akhirnya dapat teratasi (fiuhh). Dapet tempat duduk (iya, konsernya LAGI-lagi seated concert) di-floor dan cukup dekat dengan stage. Namun ternyata ada saja kendala dalam menikmati konser ya… Sama seperti ketika nonton Death Cab for Cutie tahun lalu, saya perhatikan crowd di Boston ini memang rada-rada bikin emosi jiwa. Entah apa tipikal crowd orang Amerika seperti itu pada umumnya. Yang jelas, saya sangat terganggu sekali dengan keterlambatan para penonton yang hingga lagu ke-10 pun masih berdatangan dan menghalangi view plus mengurangi kekhidmatan konser. Para penonton yang telat itu saya duga mendapat tiket dengan yang sangat sangat sangat murah – tempat duduknya di paling depan banget pula! Mungkin hasil jualan sisa calo yang tidak laku. Sigh. Sepanjang konser saya berusaha tidak bete dan emosi, dengan tetap berusaha fokus dan menikmati konser, namun ada beberapa saat pikiran saya tidak pada konser dan melanglangbuana entah kemana. HIks.

Itu dukanya.

Sukanya, konser Sigur Ros ini sangat sempurna dari sisi performance Jonsi dkk. Suaranya Jonsi tanpa cela dan sama persis dengan kualitas musik seperti rekaman. Saya tidak menangis, entah kenapa (padahal selama ini kalau membayangkan akan nonton mereka suatu waktu, pasti bakal nangis darah). Pada beberapa lagu, saya tidak memperdulikan orang disamping dan belakang saya (yang nampaknya menertawakan saya beberapa kali, karena saya heboh terlalu bahagia ketika lagu favorite dimainkan ; Vaka, Saeglopur, Hoppipola, Olsen Olsen, …), tidak peduli loncat-loncat kegirangan saat Hoppipola dimainkan (Jonsi mengajak kami semua berdiri, mungkin dia gerah juga kali ya melihat kami semua anteng duduk menonton mereka), dan berhasil melipir ke bagian terdepan panggung saat lagu terakhir dimainkan Glosoli dan Popplagio (penjagaan bagian deret terdepan agak ketat oleh mas-mas bertampang sangar, namun ketika encore dia menghilang yang tentunya saya manfaatkan untuk melipir).

Rasanya masih tidak percaya bahwa saya telah menoton mereka… Tapi saya belum cukup puas. Suatu hari, saya akan menonton mereka di kampung halaman mereka..

Sedikit oleh – oleh..

The Icelandic band’s songs either billow out deliberately or stomp majestically, and in every case entail the building of layers upon intricate sonic layers. Plus, singer Jónsi — he of the otherworldly voice, singing mostly in a ghostly language of his own devising — is no Mick Jagger when it comes to calling attention to himself. He’s created an air of shyly vulnerable mystery that seems antithetical to showmanship.

IMG_2884Jonsi Birgisson

IMG_2881Georg Holm

IMG_2862

And yet it’s not hyperbolic to suggest that Sigur Rós is one of the world’s great live bands, creating a hypnotic, almost overwhelming experience.

IMG_2852

IMG_2843 IMG_2840

Though it occasionally builds up to a furious clamor, most notably in “Varúð,” Valtari floats around in a dreamy sweet spot: calming but portentous, with every moment milked for maximum drama and beauty. On the live stage in Brooklyn, Sigur Rós indulges in its specialty, as it fuses uncommon delicacy with uncommon power, while compromising neither.

 

IMG_2846

Jonsi IMG_2894Set List:

IMG_2900

*words by Stephen Thompson.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s