Potty Training

“Azka, Ibu percaya Azka pasti bisa potty training dengan baik. Azka sudah besar, jadi belajar untuk mandiri ke toilet ya. Kalau Azka mau pipis, ajak Ibu atau Papa ke WC. Kalau pup, Azka di WC ya”

Dari sekian banyak milestones yang diraih pada tiga tahun pertama dalam kehidupan seorang anak, ada satu yang rada menjadi momok bagi para orangtua/ pengasuh: yup, potty training (saya tidak menemukan istilah Bahasa Indonesia yang cocok). Buat saya pribadi membayangkan Azka potty training itu rada-rada menakutkan. Bukan menakutkan sih, cuman sebagai Ibu yang sehari-hari menggantikan dia popok dan tau betapa nyamannya dia dengan pospaknya itu rada gak kebayang bagaimana harus melatih dia menggunakan toilet untuk buang air.  Saya bahkan sempat pesimis dalam hati, bahwa jangan-jangan dia akan lama bisa lulus potty training hingga usia 4 tahun! (waduh).

Seringkali ketegangan saya bertambah ketika berbincang-bincang dengan para ibu/ pengasuh lain yang saya temui di playgroup-nya Azka. Kebanyakan mengakui bahwa untuk anak laki-laki, proses potty training akan lebih sulit ketimbang pada anak perempuan. Rata-rata mengatakan bahwa anak laki-laki sukses di-potty kisaran usia 2.5 tahun – 3 tahun, sedangkan anak perempuan rata-rata 2 tahun (atau kurang) – 2.5 tahun sudah bisa lepas dari pospak. Dari kebanyakan, juga mengakui bahwa untuk pup, saat menginjak usia 8 – 9 bulan, anak-anak tersebut sudah mau menggunakan potty seat di WC.

Saya tidak ingin membanding-bandingkan Azka dengan anak lain, walau demikian ada sedikit kekhawatiran sekaligus rasa (sedikit) kesal karena Azka sedari awal tidak pernah nyaman menggunakan potty seat-nya. Potty seat sudah saya beli sejak Azka berusia 9 bulan, dengan harapan dia akan seperti anak-anak lain yang jika dari raut wajahnya sudah ada tanda-tanda ngeden, makan bisa dilarikan ke WC. Boro-boro dilarikan ke WC, Azka setiap mau melakukan aksi pupnya malah lari ke sudut ruangan dan berkonsentrasi penuh melakukan aksi kemanusiannya tersebut. Kalau saya tarik ke WC, yang ada dia marah, bete dan nangis. Ini jelas anaknya belum mau, belum siap, dan saya tidak ingin memaksa semata-mata karena tidak ingin dia merasa “personal life”nya saya ikut campur. Jadi saya biarkan saja, walau selalu saya ingatkan “Ka, ayo dong, kalo mau pup jangan di pojokan gitu, masa di popok sih… ayo yuk ke WC….!”

Kendati saya biarkan, sangat besar harapan saya agar Azka bisa mulai lepas dari pospak saat dia menginjak 2.5 tahun -tentunya dengan memperhatikan kesiapan fisik, perilaku dan kognitifnya; Saya rasa itu adalah usia yang tepat, dan bukan hanya tepat buat Azka, tapi juga buat saya dan Ara. Kami, tentunya sebagai ortu harus siap dengan konsekuensi menghadapi insiden-insiden kecil yang sudah pasti membuat stress. Ya, expect some mess when you deal with a potty training child!

Dalam postingan ini saya ingin berbagi tips , bagaimana mem-potty training anak laki-laki , persiapannya apa saja?

1. Persiapan sebelum Potty Training: Pengenalan terhadap kebiasaan buang air di WC

– Sesungguhnya akan lebih mudah bagi seorang anak untuk potty training jika dia melihat orang “besar” melakukannya. Dalam hal ini karena Azka tidak punya teman dekat yang bisa dia lihat ke WC sehari-hari, maka yang diliat adalah papanya. Papa sering kali mengajak Azka untuk menemani kalau buang air kecil ke WC.

– Sediakan buku-buku dan video yang menunjang tentang konsep potty.

Potty

2. Perlengkapan yang dibutuhkan:

Potty seat yang menarik dan atau potty chair yang bisa dibawa-bawa dan ditaruh di luar kamar mandi. Btw, saya tidak menggunakan potty chair karena menurut saya akan lebih ribet untuk proses bersih-bersihnya.

– Beli undies yang menarik untuk dipakai. Jauh-jauh hari sudah saya belikan dia beberapa macam celana potty (yang bagian tengahnya lebih tebal, sehingga masih bia menyerap kalau ada “accident”, lalu saya belikan juga undies “anak besar” bergambar tokoh kegemarannya: Thomas dan Fire Trucks (atau ya, yang anak cowo banget).

– Siapkan kursi pendek dekat dengan toilet agar anak bisa mandiri naik ke potty seat-nya

potty2

Potty Books

3. Hari-hari sebelum potty training:

– Bikin tidak nyaman dengan pospak, tunggu sampe penuh dan tunggu hingga dia minta diganti. Ini bagus untuk mengetahui sense “basah” atau tidak nyamannya sudah ada atau belum. Azka sering banget bilang “basah…basah..”, lalu melorotin pospaknya. Ini salah satu indikasi dia siap di-potty.

– Menunjukkan tanda2x kejijikan terhadap pup: ini rada lucu sih, jadi semenjak dia mulai jijik terhadap pup-nya sendiri, tiap habis pup di popoknya, dia gak mau berdiri untuk jalan ke WC, melainkan merangkak, hahaha, biar ga nempel kali ya xD

4. Hari H!

– Jelaskan terlebih dahulu bahwa hari ini hingga seterusnya Azka akan belajar untuk pipis dan pup di toilet. Dan berikan kepercayaan kepada sang anak. Memberikan kepercayaan itu penting! Dan jika gagal, terus diberi semangat bahwa itu adalah hal yang wajar karena Azka masih belajar dan kedepannya akan lebih baik.

– Perhatikan kapan dia minum, dan kisaran 30 menit -hingga 1 jam setelah dia minum, ajak ke WC. “Ayo Azka, kita potty!”. Ajak dengan penuh semangat membara :) Dalam kasus Azka, ternyata pipis lebih mudah baginya untuk selalu kering ketimbang pup. Ketika sudah sukses kering terus siang dan malam untuk pipis, Azka masih tidak mau ke WC untuk pup. Kalau pun dia ajak ke WC, sering kali dia seperti kurang nyaman dengan keberadaan kami yang sengaja menemani dan menghibur (agar betah duduk di potty seat). Eh…sudah 30 menit di WC (baca, nyanyi, nonton YouTube!), ternyata gak keluar sedikit pun pupnya. Ujug-ujug pupnya di popok lagi dan dipojokkan kamar bermainnya! *haduh*. Tapi terus beri kepercayaan, dan ternyata seminggu setelah dia lulus dari potty pipis (potty pipis selesai dalam 3 hari), tiba-tiba saja dia mau pup “Bu, pup bu! Potty!”, dan sejak hari itu 2.5 tahun + 7 hari = Azka dinyatakan lulus potty training!

Alhamdulillah.

Note:

– Awalnya saya ingin Azka bisa mulai potty training ketika dia mau berulang tahun ke-2, namun karena lahirnya Khalif, maka ada baiknya ditunda – karena dari baca-baca, akan tidak baik untuk memulai potty raining ketika ada perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Beberapa bulan setelah mulai settle  dengan keberadaan adiknya, eh… Azka ditinggal pergi ke Indonesia oleh Akiya dan Eni. Jadi ditunda lagi…Dan kayaknya pas juga dengan kesiapan dirinya yang memasuki usia lebih “matang”, yakni 2.5 tahun.

– Distraksi yang dibutuhkan selain buku dan video, biasanya mereka suka mainin flush (boros air!) dan tarik-tarik tissue (boros tissue!). Butuh waktu dan kesabaran untuk bilanginnya bahwa itu boros dan tidak baik untuk lingkungan (ga ngaruh, tetep aja diflush berkali-kali… #maafkanakuair)

– Kegagalan pasti ada, apalagi kalau anaknya memang belum siap. Kejadian seperti pipis di celana (karena dia lupa sedang belajar potty dan tidak menggunakan popok), pup di celana, sampai pernah juga tiba-tiba dia menunjukkan pupnya….di TANGAN. Alamak. Pokoknya ada-ada saja lah…. Orangtua butuh kesabaran ekstra dalam persiapannya, tapi percayalah, mereka belajar dari kegagalan dan pengalaman. Jadi jika tanda-tanda kesiapannya sudah keliatan, ayo ajak si kecil potty training! Lumayan penghematan dan mengurangi sampah pospak😀

– Azka sampai saat ini belum pede untuk menanggalkan popok. Jadinya dia masih menggunakan clodi (cloth diaper) tanpa insert sehari-hari (tapi sudah say good bye to disposable diapers).

–  Ternyata kalau malam dan berpergian pun Azka sejauh ini selalu kering! Soalnya tanya sana-sini, banyak yang kalau malam masih suka kebablasan (alias ngompol) dan akhirnya dipakaikan popok. Tapi kami tidak ingin membuat Azka bingung dengan memakaikan dia popok kalau malam, jadi solusinya adalah Azka mulai dibiasakan untuk tidak banyak minum menjelang tidur. Kalau pun dia banyak minum, dua jam setelahnya dibangunin dan diajak ke WC. Seringnya sih, dia gak mau pipis dan ternyata sampai pagi pun tetep kering (good job Azka!). Pernah sekali waktu dia kebangun sendiri dan minta ditemani pipis ke WC, terharu jadinya Papa-Ibu… :’)

Selamat jadi anak besar, Azka!🙂 You are officially a toddler now!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s