How On Earth

Ever since I read some articles about HOW BAD the COW’s MILK (especially here, in the United States) to us, humans, I decided to give a long break to all of dairy products and limit to consume meat, poultry, and even eggs to all the family members. I am against the animal cruelty and as far as I am concern, the factory farming in US is the worst in the world. Watch Food, Inc then you know will find out what I meant.

Let’s say, at the moment (and hopefully gradually better): I am an occasional vegetarian; so in my case, if the meat and poultry come from organic and local farm (without any growth hormone, the animals are fed with their naturals + non GMO – genetically modified organisms- foods and a happy kind of animals – a.k.a cage free and got enough sunshine and movements): I gotta say, I’m OK to drink the milk, as well as eat the egg, meat and poultry. Though I actually wanted to becoming a vegan. But I know it’s a long process to becoming one; not to mention if right now I’m in Indonesia, it must be harder to avoid rendang, dendeng balado, ayam penyet, and sop buntut (ini curcol). 

Sebetulnya selama ini juga kami sekeluarga jarang makan daging: maksimal dua minggu sekali kami beli daging sapi, dan hanya kalau jajan makan di luar aja kami pesan daging sekali-kali. Kalau daging ayam memang setiap minggu pasti beli. Alasan membatasi makan daging sapi awalnya lebih karena fakta bahwa penyebab utama global warming itu adalah berasal dari factory farming – hasil buangan gas methane. Dan memang sih, setiap kali ke supermarket terkadang saya sungguh terenyuh dengan banyaknya daging sapi dan ayam yang dijajakan (tapi tetep beli demi mencoba berbagai macam resep enak, huhu). Belum lagi bergalon-galon susu yang terpajang di rak pendingin (dengan embel-embel, “No artificial growth hormone” pada tiap kemasannya). Shock deh pertama kali liat susu-susu itu (saking gede dan banyaknya) – dan saya gak kebayang jadi sapi yang diperah terus menerus selama 360 hari dalam setahun, dalam kondisi mastitis pula! (hanya ibu menyusui yang tau bagaimana sakitnya mastitis itu). Ah, Industri makanan di Amerika ini memang sungguh keji sekali dan amat sangat politis. Kebayang deh busuk-busuknya para lobbyist food industry untuk menyogok USDA (U.S Department of Agriculture) agar produknya dianggap sehat dan tentunya laku dibeli konsumen. Namun, baru-baru ini Harvard mengeluarkan statement mengenai kajian mereka tentang susu sapi, sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka terhadap “MyPlate” kampanye yang digembor-gemborkan oleh gov sini.

Anyhow, as a starter, we began our adventure to explore as many local farms and groceries nearby from our place; some located in New Bedford, Dartmouth and Mattapoisett can be reached within 15 minutes from our home. Last week, we visited “How On Earth” in Mattapoisett (this town is adjacent to Fairhaven, only 11 km from NB but we never been there before!). It was a nice small local store (selling not only whole foods, but also any other organic stuffs like soap and cosmetics) and they also served lunch and dinner. Nice place to visit, and the meals even though it seems so-so, it actually tasted really good and fresh!

How on Earth located in 62 Marion Road, Mattapoisett, MA 02739. Phone (508) 758-1341

Ah, well, wish me luck to stay in the “right” track! For a better and sustainable earth – and happier cows & chickens!

7 thoughts on “How On Earth

  1. “…not to mention if right now I’m in Indonesia, it must be harder to avoid rendang, dendeng balado, ayam penyet, and sop buntut.” And feel good too, considering our traditional farming right here is relatively friendlier toward animals. Even in “meat frenzy” events such as Eid al-Adh the meat came from those cage free animals. :p But no worries. In the future, in order to be more efficient, I think Indonesia will adopt the cruelty and cold efficiency of US farming. Then no one’s been robbed of his rights of sop buntut. *err *something’s wrong

    1. Huahahuhuaa, Mas Ifaaannn >__< BTW, di Indonesia kalo mau jadi vegan itu hambatannya lain lagi ya: walau tempe dan tahu makanan paling populer dan ada dimana-mana, tapi KEDELAI kita khan IMPOR dari AS…yang mana adalah….GMO soy semua huhuhu #pusing. Belom lagi borax, pewarna, dkk. Mungkin yang paling baik adalah makan aja dan ga usah peduliin asalnya dari mana kali ya? #mulaigila

  2. horeee… teracuni menjadi vegan.
    my penny on this: try (at least) one month being a pure vegan or vegetarian and hopefully you will see a difference.
    my experience on being vegetarian in indonesia: it was easier than I thought. gado-gado, sayur asem, tahu tempe, tumis genjer, sayur nangka, sayur kacang.. ah banyaaaakkk.
    once in a while consumption (i did once a month) for sate padang or gulai otak, is fine I guess.

    1. Ditaaa! Nampaknya masih susah jadi vegan -secara ibu menyusui-, jadi vegetarian dulu, ehehe. Udah 2 minggu ini makan ikan dan beans, juga telor (lagi cari supplier dr farm untuk telur dari ayam yang bahagia). Iya sih, gado-gado dan lotek adalah makanan sehari2 pas jadi mahasiswa, pernah 3 bulan makan loteeekkk dan gado2x waee… siangnya pecel! Yang bikin enak bukan sayurnya, tapi si kuah kacang. Ehehheuu…

      Gule otak sounds nasty!! (cuman pernah sekali makan), tapi yess eating meat once in a while is completely fine🙂

      Nanti kalo gw ke NY ajak ke tempat makan yang vegetarian friendly yaaa! *di east village, ihiy!

  3. ya ampun…Dita sekarang udh jadi vegetarian? thumbs up🙂

    Neng Chica, gw jg mirip2 ama lo gitu ngatur makanan d rumah. Tp dgn suami yg terbiasa makan sekilo daging sehari (agak hiperbola but u catch my drift) dari kecil, susah jg gak mengkonsumsi daging tiap hari. tp personally u gw sendiri dan anak2, lebih byk mkn sayur dan ikan drpd daging..cuman ya itu, ikan jg lo tau sendiri lah dapetinnya gmn..

    Tp seriously, there is just too many ppl in this world…and we dont hv enough resources to feed all of us. Itulah kenapa susahnya minta ampun buat jaga kualitas daging, susu, telor, ayam dll. Karena demand tinggi pisan. Sejujurnya gw beli susu sampe 8-10 liter per minggu, karena Aline minum fresh milk, bukan formula. Dan gw yakin, susu itu dtg dr sapi2 yg dipakein breastpump all day long. Kebayang ga sih klo kita digituin? Cuman ya itu…it’s a wild world out there…jadi bingung kan hahahah…posting ga penting nih gw…bikin pusing sendiri…hehe…tp klo kata nico, we should try to grow our own food. anjir bunga d rumah gw aja mati…gmn gw bs nanem sayur gw sendiri…toloooong

    1. Anouk! Gw baru baca komen lo *telat*.

      Nah, sama, gw ke Azka gak pernah kasih sufor samsek (dan juga Khalif, insyaAllah), selalu pasteurize milk. Nah, semenjak 3 minggu belakangan gw ganti dengan almond milk dan soy milk (dari non- GMO soy), ternyata dia suka…! Dan dia jadi GAK SUKA banget sama susu sapi (ga pernah minta lagi, biasanya pagi dia selalu minum susu – his first thing in the morning). Padahal dalam kondisi normal (sebelum gw batasi), dia bisa 2-3 kali minum susu (pagi, trus makan siang yang gue olah dalam bentuk white sauce, dan snack sore berupa smoothie. huhu), belom lagi dia suka keju khan…..dairy dimana2x *merasa bersalah*.

      Walaupun ini gue ditentang oleh nutritionist Azka, karena mereka tetep menggunakan standar “myplate” 4 sehat 5 sempurna, dengan SUSU sebagai minuman wajib sehari2. Walhasil, sebulan kita masih terus dapet pasokan sekitar 7 gallon susu sapi dari gov…..Mau gue sumbang2in aja ke temen2 Ara, hehe.

      Gw makan ikan terus nih 3 minggu belakangan…So far so good, cuman gw harus pinter cari padanan resepnya biar ga bosen itu2 aja bumbunya, ehe.

      Trus perihal grow our own foods, gue setuju banget! Itu salah satu cita2 gw dan Ara, semoga kalo ada rezeki bisa bikin semacam kebun organik (syukur2 bisa gede dan bikin farm sendiri), trus melihara ayam (kebayang senangnya makan telur fresh) dan sapi (buat susu), hehhe. Muluk2 ga sih? Gpp ya, namanya juga mimpi🙂

      Ayooo Ibu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s