Belajar Berbahasa

“Cha, awas ya kalau sampe Azka gak bisa Bahasa Indonesia pas pulang nanti…! Dimusuhin ama semua keluarga lho!”

Kata itu diwanti-wanti oleh tante saya sebelum saya dan Azka menyusul Papa Ara ke AS dua tahun yang lalu. Bukan tanpa sebab beliau mewanti-wanti seperti itu, karena di keluarga saya ada beberapa sepupu lain yang tinggal di luar negeri (dan anaknya lahir di luar negeri), kemudian pulang menetap ke Indonesia dan anak-anaknya tidak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Para keponakan yang tidak bisa ngomong Bahasa Indonesia itu kemudian mendapat sorotan dari para tante dan neneknya (para om dan kakek sih lebih santai); “Kok ga bisa Bahasa Indonesia???”. Nah loh. Sekarang udah bisa sih, karena sudah balik ke Indonesia, hanya ketika masih tinggal di AS bahasa sehari-hari para keponakan saya adalah Bahasa Inggris.

Sungguh aneh memang bagi saya, kok bisa punya orang tua yang keduanya adalah orang Indonesia (lahir dan besar) kemudian hijrah ke luar negeri yang Bahasa Inggris merupakan bahasa utama, lantas membuat anaknya tidak bisa berbicara dengan bahasa ibu? Memangnya di rumah tidak diajarin Bahasa Indonesia? Itu pemikiran saya ketika itu…. Kemudian beberapa waktu yang lalu ketika merayakan Lebaran di Boston, saya melihat fenomena yang sama: bahwa semua anak-anak Indonesia (ada yang usia 2, 5, 6, 9, 11 tahun) yang lahir dan besar di AS dari keluarga yang kedua orang tuanya adalah Indonesia asli, namun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Ketika saya tanyakan kenapa tidak bisa Bahasa Indonesia, ada yang menjawab karena di sekolahnya anak-anak tersebut menggunakan Bahasa Inggris (yaiyalah), sehingga mereka tak paham Bahasa Indonesia. Karena anaknya tidak paham, orangtua tersebut kemudian jadi berkomunikasi dengan Bahasa Inggris juga di rumah.

Saya tidak mau ambil pusing mengenai bagaimana akhirnya si anak-anak tersebut tidak bisa berbahasa ibu. Mungkin keadaan akan tinggal lama di Amerika membuat mereka tidak terlalu ambil pusing jika anaknya tidak bisa berbahasa Indonesia. ..Tokh ga digunakan juga, sehari-hari khan lebih kepake Bahasa Inggris? Hmmm….tapi itu pemikiran yang sangat salah menurut saya. IMHO. Bahasa ibu penting sekali sebagai fondasi dasar pemikiran anak, selain tentuya terkandung juga unsur estetika, pelestarian budaya, dan identitas kebangsaan suatu suku bangsa. Mau lahir di Amerika, di Perancis, di Belanda….di mana pun, darahnya ya anak bangsa Indonesia. Sudah sepatutnya mereka belajar bahasa nenek moyang/ bahasa ibu/ bahasa nasional dan kalau perlu bahasa daerah asal nenek moyang mereka.

Baca-baca beberapa sumber, maka ada dua kondisi dalam membesarkan anak yang bilingual:

1. Kondisi pertama, orangtuanya berasal dari suku bangsa yang berbeda, contoh: Ibu Indonesia, Bapak Perancis, seperti teman saya Anouk. Anouk menerapkan OPOL (one parent one language). Anouk memilih bahasa yang paling nyaman, yakni Bahasa Sunda, untuk ia gunakan dalam percakapan sehari-hari dengan Wulan dan Aline (kedua putri Anouk yang geulis), sementara Nico menggunakan Bahasa Perancis. Dalam kasus Wulan, ternyata tidak ada kendala “sulit atau tertunda” untuk bisa ngomong kedua bahasa tersebut. Canggihnya, malah Wulan di sekolah menggunakan Bahasa Inggris dan Melayu untuk percakapan dengan teman-temannya. Hebat ya!

2. Kondisi kedua: kedua orang tua berbahasa ibu sama = bahasa Indonesia, tinggal di Amerika yang mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Inggris. Kondisi seperti kami ini menerapkan ML@H (minority language at home).  Saya dan Ara ketika tahu akan hijrah ke AS,  dari awal sudah sepakat untuk selalu membiasakan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia ke Azka dan Khalif. Bahasa adalah kebiasaan, dan semakin sering diterpa oleh suatu bahasa, yaa…anak tersebut akan belajar bahasa yang paling sering ia dapat terpaan tertinggi. Sehingga di rumah dan komunikasi antar kami selalu berbahasa Indonesia. Kalau di luar, saya biasakan menggunakan Bahasa Inggris (sementara Ara hampir gak pernah ngomong pake Bahasa Inggris ke anak-anak, kecuali kalau sedang baca buku). Ara pun berkomunikasi dalam Bahasa Sunda. Sampai lucu, beberapa minggu lalu Azka melontarkan kata-kata “Sakit, euy!” dan “Enak, euy!”. Hihi.

Saya tambahkan:

3. Kondisi ketiga: Yakni fenomena yang lagi marak terjadi di Indonesia, eh Jakarta kali ya. Keturunan Indonesia (asli!) dan tinggal di Indonesia, tapi menggunakan BAHASA INGGRIS sebagai bahasa pengantar/ percakapan sehari-hari. WOW. Tidak jarang saya membaca status Facebook, Twitter, atau Path teman dan menemukan beberapa teman yang berkomunikasi dengan  anaknya dengan Bahasa Inggris. Menurut pengakuan teman-teman lain, bahkan di mal-mal sekarang semakin sering menemukan anak kecil aseli Indonesia, tapi cas cis cus Bahasa Inggris. Of course ya bro, tidak ada yang salah sih dengan itu…..suka-suka orangtuanya juga sih. Mungkin memiliki visi yang berbeda. Tapi kalau sampai Kemendiknas menghapuskan Bahasa Inggris dari kurikulum SD, kayaknya yang khawatir Bahasa Ibu punah bukan cuman yang terhormat bapak Kemendiknas khan? Walau saya tidak mendukung beliau ya. Menurut saya itu  salah langkah. Walau demikian saya mengerti kekhawatiran beliau.

Coba bayangkan. Kita aja (Gen X dan Gen Y), kurang jago apa sih ngomong Bahasa Inggris (sebagai bahasa international)? Kayak saya, walau grammar masih acak kadut dan pronunciation suka masih salah, tapi bisa lah mengerti dan ngomong Bahasa Inggris dengan baik. Kalau di CV saya taruh “Good” biasanya x) Bandingkan dengan adik saya, si anak ke-5 dan ke-6 yang saat ini baru masuk perguruan tinggi dan sekolah menengah, Bahasa Inggrisnya jauuuuuh lebih jago dari saya! (kakak dan adik-adik saya yang lain juga sih, lebih bagus dari saya). Ya ini karena terpaaan mereka (apalagi dengan kemudahan internet dewasa ini) terhadap Bahasa Inggris (dan bahasa asing lainnya, seperti Jepang lewat manga atau Korea lewat K-pop) semakin tinggi! Sehingga menurut saya pribadi, adalah KONYOL memasukkan anak ke sekolah berbasis Bahasa Inggris untuk tahap sekolah awal atau dini pada anak. Cik atuh! Mun menurut saya, bagusnya di sekolah belajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Betawi/Sunda/Minang/ Daerah dulu lah….Bahasa Inggris mah cincay. Bisa lewat film, buku, mainan, games, dll. Anak akan menjadi bilingual (atau multilingual) dengan sendirinya. Bahasa Indonesia aja sekarang sudah semakin “aneh” dengan masuknya bahasa al4y dan bahasa “miapah” ciyusss, dll.

Terpaan generasi anak-anak kita dengan Bahasa Inggris (dan bahasa lainnya) akan lebih besar daripada Bahasa Indonesia. Bahasa daerah Indonesia saja sudah banyak yang punah..Entah berapa ratus yang sudah punah karena tidak ada yang menggunakan lagi. Apa kita mau, 20xx nanti Bahasa Indonesia akan punah? Ini saja saya sudah sangat menyesal karena tidak bisa berbahasa Minang. Sering banget ketemu orang Minang di mana-mana, yang saya bisa ucapkan hanya: “Tambo ciek!” dan  “ranca’ bana” “Pant* lagadang”. Jorok ya? Karena hanya dua kata itu yang akrab saya dengar semasa kecil saya. Sementara Ara patut bersyukur, karena dia besar di Bandung dan hampir selalu menggunakan Bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari baik di rumah mau pun di sekolah.

Salah satu cara memperkenalkan bahasa daerah adalah dengan bernyanyi (dan berjoget) lagu-lagu Nusantara. Seru! Kata Azka: “Bu, Pitang! Pitang!” –> Maksudnya “Tipang” di lagu Rambadia🙂

Intinya sih. Menjadi bilingual bukan berarti menghapus identitas diri sebagai orang Indonesia “seutuhnya” yang berbudaya dan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Banyak sekali orang yang secara random bertemu saya dan Azka di jalan, kemudian serta merta si orang tersebut bilang ke saya:

“Teach your son your mother language. I regret that I teach my children only English, now they can’t speak Portuguese”

Kejadiannya bukan hanya sekali-dua kali(dan bukan orang Portugis aja, ada juga yang hispanic lainnya), melainkan sering. Otak anak itu ibarat spons, mereka menyerap terus bahasa yang mereka dengar. Jadi jika ada telat atau lambat berbicara, tidak perlu khawatir, cepat atau lambat dia akan bisa ngomong kedua (atau lebih) bahasa dengan baik.

Bahasa Ibu adalah yang utama. Itu identitas kamu sebagai bangsa Indonesia. Bukan warna rambut, kulit, mata (kalau itu doang, orang kita sih sering disangka orang Malaysia, Thailand, Cambodia, dan Philippine). Melainkan bahasa.

Yuk , berbahasa Indonesia dan berbahasa daerah! 

16 thoughts on “Belajar Berbahasa

  1. Tenang ca, skrg ada program ‘Rumah Indonesia’ yg bikin program2 budaya Indonesia + kelas bahasa Ind buat anak2 Ind yg tinggal di Amerika

  2. yaaaaaaaaaayyy chicaaaaa!!!!!!!!!
    unyil sejak sekolah bahasany jd pabaliut wkwkwkwkwk

    tadi pagi pas dmandiin, maksutny dia ada aer masuk idung…
    dia ngomongnya…
    ambuuu… inih water ayew upil nose….. (baca: aernya bikin gatel kyk upil dlm idung)

    klo dia lg ngamuk…
    that’s mine.. that’s mine…
    apaan sih ” that’s mine”
    unyil : that’s mine itu punya kirana

    hweheheheh

  3. Hi Cha…

    gue juga lagi ketar-ketir ma ponakan gue di sini. Secara, di singapore ga ada yang ngomong bahasa apapun dengan baik dan benar. All english speaking people told me that singaporeans does not speak proper english (well, they speak singlish, and I also have no idea what they are talking about). All chinese speaking people I met told me that singaporean chinese does not speak proper chinese. Gimana ga serem?

    But you gave a really good idea. Bahasa Indonesia di rumah, kalau keluar rumah ya pakai bahasa inggris (yang baik dan benar. Not singlish or even singaporean accent). Sejauh ini, kita sekeluarga ngomongnya masih campur (sometimes english, kadang bahasa indonesia, kadang bahasa mandarin, atanapi jawa, sunda and sunglish-sunda-english, kekeke).

    Satu hal lagi yang bikin prihatiiiiin banget. Banyak anak kecil yang bisa ngomong cas cis cus itu pada ngga bisa ngomong bahasa indonesia. Besar di Indo, orang tua Indo, tapi ngga bisa bahasa Indo. Hmmmm… seperti ada yang salah… tapi orang-orang sekitarnya malah bangga. Saya bingung. Sungguh.

    1. Hi Tya! Ah iya, di Singapore kebayang deh….Males banget ya kalo nantinya ngomong Singlish (alias ga proper English). Sebisa mungkin memang di rumah berbahasa ibu aja, kalo kita konsisten seperti itu mungkin si anak (ponakan) akan paham dan jadi bisa fasih juga Bahasa Indonesianya. Barulah dia di luar sana memutuskan sendiri aksen yang dianut: singlish, english, chinese, or even malay, hehe.

      Iya kasus anak kecil metropolitan casciscus Inggris dan ga bisa Bahasa Indonesia itu sangat memprihatinkan, dan ga ngerti jalan pikiran ortunya kenapa bisa bangga?!!

  4. Bucha!! Setujuh bgt deh ama tulisan mu.. Gw walo blm nikah+punya anak, udh prihatin bgt liat kondisi anak skrg, entah liat dijalan atau liat anaknya temen/ponakan. Sampe sering bgt mikir sendiri, kalo udh punya anak, gmn ya cara ngedidiknya? Heuheue..

    Tapi seneng bgt deh baca blog mu, gw jd punya gambaran dan makin yakin gmn nanti klo ngedidik anak2 gw😀
    Dan ada satu lagi, mgkn bisa jd tambahan jg buat Bucha, bbrp bulan yg lalu wkt gw ikut acara kelas inspirasinya indonesia mengajar, waktu acara pembukaan sama pak Anies Baswdan, ada seorg ibu yg juga melontarkan kekhawatiran seperti ini ke pak Anies daaann.. Jawaban pak Anies adalah begini:

    “Sebenarnya setiap jaman sama kok bu, wkt kita masih kecil, para orang tua kita jg khawatir bagaimana nasib generasi yg akan datang ya? Tapi nyatanya kita baik2 saja kan? Apakah dulu kita sehari2 diajak bicara bhs inggris wkt kecil? Tidak kan? Tapi nyatanya skrg kita semua bisa berbahasa inggris kan? Yang terpenting anak itu harus dididik utk adaptif, sehingga ia akan dengan mudah membaur dlm segala kondisi. Ketika harus bisa bhs inggris, dia akan belajar dan bisa dengan sendirinya, begitu juga dgn bhs lain. Dan ketika harus bisa sesuatu yg lain pun begitu..”

    Benar jg ya bu (menurutku), selama kita mudah beradaptasi dgn sendirinya kita bisa membaur dgn segala kondisi yg ada. Ya, gw jg sama, dulu waktu kuliah bhs inggris masih kacau balau bahkan baca teks bhs inggris aja kesulitan, tp krn tau bahwa bhs inggris itu kebutuhan buat gw, ya akhirnya gw belajar dan skrg bisa jg kok berkomunikasi sama org walau kadang msh suka salah. Kayaknya anak pun gt ya, selama dia adaptif, dari segala informasi yg mereka dapat mereka pun akan belajar sendirinya. Tugas kita sbg ortu ya mendidik mereka supaya mereka bisa adaptif dan menyerap informasi yg terbaik, hihihi.. Mungkin gt yak😀

    1. Putri…! Trims udah sharing omongannya Pak Anies. Iya bener banget kok, untuk menjadi adaptif itu tertuang juga dalam 9 essential skills untuk anak: http://zenhabits.net/kid-skills/ –> dealing with change. Gw juga selalu berpikir yang sama terhadap banyak kondisi lainnya (bukan hanya kemampuan berbahasa). Misal, yang suka jadi topik hangat antar ibu2 adalah mengenai ASI dan sufor, vaksinasi atau tidak, home schooling atau sekolah formal, dll. Intinya kita semua survive! Generasi kita kebanyakan anak sufor, nyatanya pinter2 aja khan…sehat2 aja, tapi tentunya ANDAI kata diberi ASI mungkin akan jauh lebih pinter, jauh lebih kuat daya tahan tubuhnya, jauh lebih dekat dengan ibu, dll. Atau begitu juga dengan anti-imunisasi, katanya malah bikin daya tahan tubuh turun, bikin autis dll…Sementara kita semua juga produk imunisasi, Alhamdulillah baik dan normal saja. Wallahualam kalau tanpa itu apa kita akan lebih sehat/ tidak? Masalah berbahasa yang memprihatinkan sebetulnya lebih kepada kenapa ortu2 tersebut sangat mengacu pada Barat untuk segala hal? Orang Amerika yang gue perhatikan itu tidak kaya akan budaya, tapi kalau pun ada sangat dilestarikan..! Gw sangat kagum bagaimana cara mereka menghargai sejarah mereka…bener2 semua di”museum”kan, disimpen arsip dan memorabilia dengan baik. Intinya sih, kalo kita pengen mengadopsi nilai2 barat jangan hanya: junk food nation, fashion, Hollywood, sex bebas, dan stylenya aja..tapi juga budaya tertib, antri, murah senyum, dan lain yang baik2nya. Duh kok ini jadi melantur kemana2, hehehe. Gue pengen bisa mendidik anak2 gw menjadi manusia yang berbudaya (sesuai ajaran islam juga). Gak muluk2 kok tapinyaa.
      Balik lagi ke topik….Anak Indonesia masa mendatang harus bisa lebih menghargai budaya mereka, dan itu salah satunya tercermin dari cara mereka berkomunikasi…menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (caelah)/ nasional. Jangan sampai kita terjajah terussss…….dr segala aspek.

      1. setuju banget Bucha!! sama euy, gw juga sering bgt mikir, kenapa sih ngambil budaya barat kok cuma fashion, hollywood, style, dll.. pdhl banyak bgt nilai2 mereka yg bagus kok ya malah ga ditiru sama kita ya? terutama budaya tertib dan antri, ramah, suka menolong, lebih bagus lagi kalo bisa niru juga semangat maju dan ketekunan mereka.
        Mudah2an generasi kita ini bisa bener2 bisa jadi yang membentuk generasi Indonesia yang begitu ya Bucha! Amin!!😀

  5. Yang lagi kuliah bahasa & budaya sangat terharu deh baca tulisan lo ini Ch..hiks. Terimakasih, semoga banyak yang baca & terpengaruh, dan andai semua orangtua muda seperti lo…
    Oya gw tambahkan sedikit ya. Sebenarnya Bahasa Indonesia jauh kok dari ancaman punah, karena pada akhirnya kalau dihitung jumlah keluarga yang tidak mengajarkan bahasa Indonesia ke anak-anak mereka itu hanya beberapa persen dari jutaan penduduk Indonesia (bisa diperkirakan, kalangan menengah ke atas). Namun pada saat yang bersamaan, ‘posisi’ Bahasa Inggris thd Bahasa Indonesia yg kita prihatinkan itu pun ditempati oleh Bahasa Indonesia thd bahasa-bahasa daerah. Jauh lebih banyak lagi jumlah bahasa daerah yang terancam (atau sudah) mati akibat sikap pemerintah yang berlebihan dalam melindungi/mengagungkan bahasa Indonesia. Seperti halnya cerita lo tentang orangtua yg hanya mengajarkan bahasa Inggris itu, jauh lebih banyak lagi orangtua yang tidak mau mengajarkan bahasa daerah ke anaknya karena takut anaknya tidak ‘survive’ di PAUD/TK karena bahasa Indonesianya terpengaruh logat daerah dll. Menurut gw ini hanya bisa ditolong dengan kebijakan pemerintah. Seharusnya bahasa pengantar di PAUD/TK/SD bisa bilingual, bukan Indonesia-Inggris tapi bahasa Indonesia & daerah😉

    1. Heidy…! Iya setuju juga, untuk punah mungkin masih jauh ya…(makanya gue tulis 20xx, ehe); Secara persentase penduduk Indonesia menengah ke atas (yang dianggap bisa berbahasa Inggris secara proper) juml tidak ‘seberapa’. Masalahnya yang jumlahnya tdk seberapa ini kemungkinan besar khan yang akan jadi putra-putri “terbaik” bangsa…garda terdepan dan jadi role model. Ga lucu aja, kalau sesama mereka berbahasa bukan bahasa nasional? Mungkin gw terlalu khawatir berlebihan.
      Iya, semoga pemerintah bisa memberi aksi untuk menjadikan bahasa daerah masuk sbg bahasa pengantar di PAUD -SD (!)

  6. waduh gw masuk artikel euy..hehe thanks Cha..gw setuju bgt ama semua yg lo tulis n komentar tmn2 yg lain. Tp yg paling menarik adl komentar ttg betapa lebih pentingnya kalau si anak itu bs beradaptasi di lingkungan yg berbeda2. Ini bener banget..Menurut gw kemampuan ini bs ditunjang kalau si anak diajak berbicara bhs ibu dan bahasa2 lainnya dr kecil karena itu melatih otak dia u/ berfikir paralel, terutama dlm segi berbahasa. Jd ketika dia udh gede pun gak akan sulit u belajar bhs baru d lingkungan baru.

    Satu hal lg yg menurut gw penting u anak2 indonesia yg lahir/besar/tinggal d luar negeri…yaitu gmn org tua mereka mengajarkan sejarah Indonesia. menurut gw, sejarah sama pentingnya dgn bahasa dlm memberikan jati diri anak. Ini gw krn anak2 gw sendiri terlahir dr dua org tua beda bangsa..dan lahir dan tinggal d luar negeri. I dont want them to be confused and lost hehe. Tp ya itu..susah jg ngajarin sejarah..kumaha cing? Kita bener2 hrs byk baca ya haha

    1. Setuju Nouk ttg kemampuan anak untuk dapat beradaptasi di lingkungan yang berbeda2x – dan melatih otak untuk berpikir paralel! Tantangan mereka dalam menghadapi perbedaan akan semakin besar dibanding kita pas kecil dulu, jd in order to survive the globalization, they have to be exposed with their local identity dulu ya. Nyambung teu? hehe.

      Ngajarin sejarah itu PR banget buat kita ya! Gue dan Ara akhir2 ini baru sering ngebahas tentang sejarah bangsa Indonesia semenjak baca Nasional Is Me-nya Pandji. Jujur aja gw ga pernah tertarik belajar sejarah, krn suka kebanyakan BOKISnya x( Tapi ini sekarang jadi semangat mencari tahu…Sampe2 Ara yang tadinya ANTI ke Belanda, jadi kepikiran mau lanjutin post-doc di Belanda. Kenapa? Suapay bisa cari tau lebih lanjut ttg sejarang bangsa Indonesia! Di sana pasti lebih lengkap arsip2, iya ga? Haha *ironis*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s