Happiness Is Riding My Own Bike

Source: designyoutrust.com via Pinterest

Bu, kenapa sih gak mau iPod? Kok malah mau sepeda…??

Setengah kebingungan papa Ara menanyakan saya hingga beberapa kali, kembali meyakinkan apakah saya bener-bener gak kepengen dibelikan hadiah ulang tahun berupa sebuah iPod touch. Rasanya tidak masuk logikanya kok mau dikasih barang bagus malah nolak (secara dia jarang banget beliin saya barang yang bagi kami tergolong mewah itu). Saya yakinkan dia berkali-kali juga bahwa saya tidak kepengen iPod. Kalau boleh memilih, saya lebih kepengen dibelikan sepeda (the used one is completely fine, I said. Dasar wanita murah.) dan atau sepasang sepatu TOMS; merek sepatu yang saya idam-idamkan sedari dulu tapi gak pernah kesampean beli karena harganya yang menurut saya terlalu mahal (iya, semua barang diatas harga $20 bagi saya mahal, hehe).

Kembali ke sepeda, Ara mendesak saya lebih lanjut, “Kenapa sepeda??”

Sederhana saja, sepeda membuat saya lebih bahagia – selain tentunya membuat saya lebih sehat. Saya suka sekali bersepeda. Dulu ketika masih tinggal di Jakarta,  pagi hari sering saya manfaatkan untuk olahraga – sekedar mencari udara segar sebelum balik ke rutinitas suasana kantoran dan menghadapi gilanya macet di Jakarta. Pengen sih ya Bike to Work, tapi jauh banget bo. Sekarang di New Bedford kotanya sangat kondusif buat sepedaan! Memang tidak ada jalur khusus untuk pengendara sepeda kayak di Eropa gitu, tapi pengendara sepeda mendapat prioritas kedua setelah pejalan kaki di jalanan. Udara bersih, banyak taman kota, dan nuansa kota New Bedford yang terletak di semenanjung, adalah poin tambahan kenapa bersepeda begitu tempting untuk dilakukan.

Want to pose like this with my bike xD

Saya sudah kebayang bisa jalan-jalan pagi atau sore sambil bonceng Azka (ya, kalau cuaca mendukung pastinya), ikut gabung ke komunitas New Bedford Bike Society dan seseruan dengan kegiatan-kegiatan mereka, dengerin musik favorit (pake mp3 biasa aja) sambil berkeliling bagian paling selatan kota ini, semenanjung yang mengarah ke laut lepas – menikmati indahnya matahari tenggelam. Romantis gak tuh? Hehe.

Sementara punya iPod touch gak akan membuat saya kemana-kemana. Palingan seneng banget  bisa dengerin musik favorite tanpa perlu mengandalkan koneksi internet (selama ini kalau dengerin lagu selalu dari Pandora), terus bisa download banyak-banyak apps yang bikin saya candu mantengin layar hape trus nyuekkin Azka dan Khalif. Ugh….Males banget deh. Punya satu smartphone Samsung Android ini aja rasanya udah membuat saya terkadang tidak fokus dengan kedua anak kecil yang lagi pada lucu-lucunya ini. Apalagi ditambah iPod? Makin saja saya keasyikan sendiri dengerin musik-musik ke-saya-an plus ber-socialmediaan. Uhuk.

Memang sih, punya gadget itu seru. Gadget connects you with people you love. Saya baru punya smartphone itu kira-kira bulan Maret tahun 2012 ini. Sebelumnya handphone saya hanya bisa digunakan untuk sms dan telepon. Titik. Nah, semenjak punya smartphone komunikasi saya dengan orangtua dan keluarga besar, serta teman-teman jadi jauh lebih mudah dan intens. Senang sekali rasanya bisa kirim-kiriman foto dan puas kirim text messages secara gratisan! Kalau gak ada gadget saya juga akan sering mati kutu kebosanan di rumahsakit sehabis persalinan, kalau gada gadget saya gak akan bisa update berita secara cepat, gak bisa ngikutin tweet2x orang yang suka nyeleneh dan menghibur, dll. Banyak banget kegunaan gadget, saya akui… Tapi kemudian apakah kualitas hidup saya membaik dengan adanya gadget?

You got some, you lose some.

Perkara baik atau tidaknya punya gadget adalah kebijaksanaan si pemakainya. Gadget diciptakan untuk memudahkan hidup orang. Bukan malah jadi bikin susah, bikin gak konek dengan orang sekitarnya – suami ngomong tapi mata tertuju ke layar hape, bikin tangan pegel, bikin susah tidur -karena sang hape akan bergetar acapkali ada berita baru/ yang bisa saja di non-getarkan tapi dipilih mode tetap getar supaya bisa menanggapi cepat sang pengirim pesan/ update berita, anak nangis pengen diajak main – “Sebentar ya Azka, ibu lagi bales tante x, om y dan nenek z!”, belom lagi permasalahan iri hati. Iri liat foto-foto instagram orang…bagus-bagus ya sepatunya, bajunya, tasnyaaa…….Waaa, dia lagi traveling ke bulan!! (mulai lebay).

Duh kalau dilist gakan beres deh ya. Social media is the heart of all this gadget-apps things. Tapi kemudian jadi menurunkan kualitas hidup. Kasian. Itu kasus saya loh ya, hehe. Walau gak ekstrim-ekstrim banget. Kalau saya lagi “ngeh” saya lagi tune in dengan gadget, saya pasti taruh si gadget jauh-jauh dari saya supaya gak minta diperhatikan. Malam hari juga off the phone, sebisa mungkin waktu menjelang tidur difokuskan ke ritual: baca, lullaby, pijat, dan memeluk Azka dan Khalif.

Jadi kalau ditanya pilih iPod atau sepeda? Dengan kondisi harus MEMILIH karena budget terbatas. Ya pilih sepeda. Tapi kalo ada rezeki bisa dapet iPod ya boleh juga lah, hahhaa *maruk*. Baru aja mikir gitu, ternyata ditawari Ayah Bunda mau kado apa. Yaudah deh, dapet iPodnya. Tapi sampai sekarang belom saya apa-apakan (karena ribet ternyata ya mindahin lagu-lagu harus dengan iTunes). Ada sedikit sesal karena terlalu mengikut “want” ketimbang “need”.  Tapi gapapa, iPodnya buat nemenin jalan-jalan naik sepedanya aja🙂

Sementara sepeda idaman sudah dibayar tapi bari dikabari tadi siang bahwa ada masalah dengan si tipe yang saya inginkan. Hiks. Tertunda lagi deh sepedaannya…. Semoga tidak perlu menunggu hingga Summer tahun depan.

Bentuk sepeda idaman. Klasik.

8 thoughts on “Happiness Is Riding My Own Bike

  1. hey, those are two of my fave things, Chica. I love love love love riding a bike, I bike almost to everywhere in Manhattan. And iPod, don’t be too skeptic, sweetie. Aside from Social Media, iPod is my music library, adzan reminder and kiblat guide, I store many many maps in it so I don’t get lost, I write in notes, and I love the shopping list and reminder (no more wasted paper)! It’s all up to us how to use the gadget.
    Once again, happy birthday and congrats for the iPod and bikes.
    Would love to join you biking and wearing TOMS🙂

    1. AHAHAHHAHAH! Iya bener juga, kenapa gw skeptis banget ya dengan si iPod x)) Mungkin karena gue belom memaksimalkan penggunaanya secara benar. Btw, when you ride your bike in Manhattan jungle, do you use GPS or what? Ga kebayang (eh, tapi nomer/nama jalannya lebih mudah sih yaa…blok2an gitu). Kapan2x kita ke Boston trus pinjem sepeda rental dan jelajah Boston yuuukkk! Summer tahun depan!! *amin*

  2. Ah, meski gw blm punya anak, persaan soal gadget kurang lebih sama. Tapi syukurlah di tangan gw sepertinya si ponsel pintar sama aja nasibnya dengan ponsel jaman baheula: suka terlupakan, ketinggalan, dsb…hahaha..notifikasinya pun gw ubah jadi ‘phone calls only’, jadi berkala aja gw ngeceknya.

    Oya ihiyy..asyiknya akhirnya dapet dua-duanya ya, iPod & sepeda. Semoga sang sepeda idaman segera tiba ya! Sepeda ontel gw& Hamdan malah nangkring doang nih di carport, gak kepake…gegara bannya kempes mulu dan susah dipompa ><

  3. gw juga lagi hunting sepeda kebo for female nih cha hahahahahha pernah nyobain sampe ke kota gede dan nagih!
    cari yg 2 boncengan donk yaaa..atau Khalif titipin ke gw biar maen ama JEne hahaha berasa deket ajahhh

    1. Hihi, di sini ada yang tambahan trailer buat digeret sepeda gitu Di…Jadi bisa sekaligus menampung dua bocah..Lumayan banyak jg gue liat yang make, walau rada2 serem juga sihh bisi lepas x( Tapi ini mulai dingin, sedih, kayaknya baru taun depan bisa sepedaan…hiks..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s