9 Essential Skills

Minggu lalu saya menerima message via Facebook dari Bunda tercinta. Isinya singkat dan rada menggelitik saya:

Bun kagum luar biasa liat aktivitas Malik Azka. Bun terus berdoa untuk cucu-cucu. Khusus Azka semoga jadi Rektor ITB dan duduk di Kabinet menjadi Menristek… take Care Chayo…

What?? Rektor ITB dan menjadi Menristek?? Setelah beberapa detik tertawa kecil, saya pun membalas message tersebut sembari meng-Amin-kan doa tulus dari seorang uci (-nenek dalam bahasa Minang) kepada cucunya. Namun kemudian saya ceritakan ke Ara, dan Ara pun responnya juga sama….tertawa. Sebetulnya enggak ada yang lucu sih dari harapan Bunda tersebut. Saya sudah mahfum dengan cara pandang Bunda yang sering kali menilai sesuatu/ seseorang dari jabatannya. Beliau pun menerapkan kepada dirinya target-target hidup seperti menjadi Profesor atau Dirjen atau pun Mentri Pendidikan dalam target hidupnya. Yang mana tidak salah sama sekali, banyak orang melakukan itu. Saya pun seperti itu dulu dan sekarang sudah tidak lagi -menargetkan sesuatu berdasarkan posisi/jabatan. Saya diingatkan betapa saya tumbuh menjadi orang yang sangat berbeda dengan Bunda – karena justru dengan cara mendidik beliau kepada saya dan adik-adik saya, saya kemudian menjadi tahu mana yang ingin saya terapkan dalam keluarga saya dan mana yang tidak (aren’t we all learn from our Parents’?).

Sejujurnya sampai saat ini saya belum tahu mau mengarahkan Azka kemana nantinya (dan saya pun belum tau apa harus diarahkan? atau dia akan mencari sendiri passionnya? One helluva parenting job!). Apa dia mau menjadi koki handal, musisi, pelukis, arsitek, ilmuwan, psikolog, atau profesi apa pun…Harapan saya bukan terletak pada tingginya jabatan yang akan dia pegang nantinya. Itu hanya poin plus kalau pun nantinya dia menjadi seorang ahli atau tokoh dalam bidang tertentu. Tugas saya (yang juga berupa harapan dan doa) adalah membesarkan dan mendidik Azka agar ia menjadi pribadi yang santun (sholeh), cerdas, jujur, berprinsip, passionate, berjiwa petualang, dan kreatif. Tentunya untuk mencapai itu semua ia harus tumbuh menjadi anak yang sehat dan bahagia. Kalau Azka berkarakter baik juga sehat lahir-batin, saya rasa apa pun profesinya nanti akan mendatangkan berkah dan manfaat bagi diri, keluarga, dan lingkungannya kelak. I guess it’s the most important of it all.

Apalah artinya menjadi presiden kalau tidak bisa memimpin? Apalah artinya menjadi mentri semata-mata karena jatah kursi partai tapi ilmunya minim dibidang yang dipimpin? Apalah artinya jabatan kalau waktu bersama keluarga (anak dan pasangan) menjadi terbengkalai? Apalah artinya uang banyak tapi hasil korupsi? Dan masih banyak apalah-apalah lainnya yang saya rasa hanya akan memberi kesan betapa saya memandang sebelah mata sebuah jabatan tinggi. Tapi at least itu yang terjadi di pemerintah Indonesia khan? Semakin tinggi jabatan, godaan untuk sikat uang rakyat semakin besar. Hanya mereka yang berkarakter kuat dan memiliki intergritas diri yang tinggi yang tidak akan terbuai dengan godaan korupsi..

Ini jadi ngelantur… Hueee. Daripada makin melantur kemana-mana, ini ada artikel (yang disarankan oleh Ara untuk saya baca) yang bagus dari seorang Leo Babauta bertajuk “9 Essential Skills Kids Should Learn”. I found it relevant to parents to deal with their kids in nowadays condition where we’re facing the ever-changing hi-tech-world in our everyday basis. I summarize the nine skills:

  1. Mengajukan pertanyaan – Asking questions
  2. Memecahkan masalah – Solving problems
  3. Menangani proyek- Tackling projects
  4. Mencari hal yang diminati dengan segenap jiwa raga (? kurang bisa menemukan padanan kata Indonesia untuk passion) – Finding passion
  5. Kemandirian – Independence
  6. Bahagia dengan dirinya – Being happy on their own
  7. Kasih sayang – Compassion
  8. Toleransi – Tolerance
  9. Berhadapan dengan perubahan – Dealing with change

Mengutip perkataan seorang sahabat Manda Wellang (kepada Ara via chat): ” Saya ingin karir utama saya menjadi Ibu”. Karir yang hanya terbayar dengan melihat anak-anak kita kelak menjadi orang yang sukses – what ever the definition is. Semoga saya bisa menjadi pendidik pertama dan terbaik bagi Azka dan adik-adiknya kelak. Amin.

Wihh….tugas menjadi ibu nampaknya masih panjang dan tidak akan pernah selesai ya😉 Teriring #selfnote semoga saya bisa lebih sabar, sabar, sabar, ikhlas, dan kuat dalam menjalani peran menjadi ibu (dan istri) ini. Semangat!

2 thoughts on “9 Essential Skills

  1. Subhanallah! Harapan yang indah (dan tulisan yang bagus) sekali Chaa..
    Pemikiran yang perasaan yang sama banget nih dengan gw! Benar, memang pasti tiap anak punya pendiriannya sendiri dalam menjadi orangtua, namun harus melakukannya tanpa mengurangi hormat pada orangtuanya sendiri yang tentu jauh lebih berpengalaman dan bijaksana.
    Turut mengaminkan doa indahmu, semoga sukses menjadi seorang ibu: Azka tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat dan sholeh. Amiin!

    1. “Turut mengaminkan doa indahmu, semoga sukses menjadi seorang ibu: Azka tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat dan sholeh” –> Amin, Amin Ya Rabbal Alamin. Semoga Heidy yang mendoakan jg kelak menghasilkan keturunan yang sholeh dan bermanfaat bagi umat dan semesta. Amiiin…

      Btw Dy, 2 hari yang lalu Azka nunjuk2x CD Murotal Qur’an darimu dan Hamdan, pas gw puterin gw tinggal bentar….Pas balik2x surat Al-Baqarah si Azka lagi posisi “Looo…barr..” (Takbiratul Ihram)🙂 #terharu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s