Mencari Sekolah Anak di Bandung (2)

Lanjutan mencari sekolah di Bandung…. *WARNING: POSTINGAN INI SANGAT PANJANG dan hanya menarik untuk dibaca bagi yang sedang cari sekolah anak di Bandung, khususnya daerah Cigadung dan sekitarnya*

1. Rumah Bermain Padi

Ini adalah sekolah yang pertama saya kunjungi. Letaknya tidak jauh dari rumah, dapat ditempuh dalam waktu 10 menit. Metode Montessori Islami pula, COCOK! Karena Montessori, maka satu kelompok TK berisikan anak-anak dari usia 4-6 tahun (kalo ga salah ya), untuk yang lebih kecil (playgroup) 2-4 tahun. Sayangnya untuk anak usia 5 tahun sudah penuh, jadi kalo mau masuk pun hanya Khalif sendiri (awalnya saya ingin Aa dan Khalif satu sekolah). Dan untuk trial pun, lama sekali harus menunggu – karena sistemnya satu hari satu siswa trial. Jadi kala itu saya ke sana awal Agustus, baru dapat trial akhir September. Yawes, wassalam…

Nuansa dan bentuk sekolahnya saya suka, dari bentuk bangunan cukup unik – terbuat dari kayu dengan sentuhan warna hijau. Mengingatkan saya akan rumah tradisional Sunda. Playgroundnya mumpuni dan ada rumah pohon juga…!

IMG_20150814_112151500 IMG_20150814_112146203 IMG_20150814_110834964

Untuk biaya, sebetulnya brosurnya hilang, tapi kurleb demikian:

Pendaftaran  Rp      350.000. Uang Pangkal   Rp 5.400.000. Uang Kegiatan     Rp 2.000.000. SPP PG   Rp 450.000. Tambahan biaya : Tes Psikologi   Rp      250.000. Kaos   Rp    100.000

Alamat: Jl. Cigadung Raya Timur No.106, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40191, Indonesia. Phone:+62 22 2500372

2. Mutiara Bunda

Kesan pertama tentang sekolah ini: saya suka…! Walau aga-aga genges ketika kepsek dan guru-guru berbicara ke saya dengan Bahasa Inggris (yah namanya juga sekolah bilingual!). Ruangan kelas dan sentra bermainnya lengkap: ada buat pretend play, fine motor, gross motor, ruang musik dan perform, ruang kelas yang penuh karya, lalu ada kolam renang juga, ruang stimulus untuk anak-anak ABK (saya dengar MutBun salah satu sekolah terbaik untuk memasukan anak-anak ABK, guru-guru dan staffnya sangat berpengalaman). Di MutBun juga ada kegiatan ekstrakulikuler yang banyak sekali pilihan-pilihannya (tergabung dengan tingkat SD, SMP, SMU walau beda lokasi di Arcamanik).
Ohya, saya suka perpustakaannya! Setiap hari, tiap anak harus meminjam satu buku – dan dikembalikan esok harinya. Buku-bukunya lumayan banyak dan lengkap serta bervariasi.
IMG_20150814_121638994 IMG_20150814_121546998 IMG_20150814_121644920  IMG_20150814_121544004 IMG_20150814_121142057

Untuk trial saya hanya membutuhkan waktu seminggu untuk menunggu – dan memang masih ada beberapa spot kosong di TK B. Kalau ga salah, sekelas batasnya 15 orang, dan saat itu hanya ada 13 orang. Singkat cerita, Azka dan Khalif trial satu hari di sana (gratis untuk 1x trial). Sekolahnya mulai jam 8.00 -10.30 untuk PG dan 7.30-11.00 untuk TK. Khalif sangat menikmati kegiatan-kegiatan saat trial di Mutbun; circle time, sentra musik, “presentasi” dan berkarta tentang tubuh bersama temannya, snacktime, dll.

Sementara untuk kelasnya Azka, saya pun suka dengan guru dan teman-teman di kelasnya. Awalnya mereka berbaris, olahraga singkat, lalu masuk ke kelas dan berdoa, masuk ke kegiatan inti. Dan waktu itu lagi ada kelas musik, jadi mereka bernyanyi diiringi keyboard, lagunya tentang sistem pencernaan! Seru sih, lagunya bagus dan bener-bener catchy.

Saat itu saya udah pikir, this is it! Kayaknya cocok, walau dari harga ga cocok-cocok amat x)))

Kelompok Bermain
Pendaftaran (dan Observasi oleh psikolog): Rp. 400.000
Pengembangan dari luar KB MutBun: 11.250.000
Kegiatan per tahun 3.900.000
Iuran per bulan 875.000
Seragam KB 200.000

TK
Pendaftaran (dan Observasi oleh psikolog): Rp. 400.000
Pengembangan dari KB MutBun: 10.250.000
Pengembangan dari luar KB MutBun: 11.250.000
Kegiatan per tahun 4.000.000
Iuran per bulan 900.000
Seragam TK 350.000

Eh, tapi besoknya Azka pundung dan ga mau balik ke sana lagi..-___-. Yaudah, cari lagiii…..sekolah lain. TK Mutiara Bunda. Address: Jl. Batik Rengganis No.21, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat 40123, Indonesia. Phone:+62 22 2515187.

3. Salman Al-Farisi

Sekolah yang satu ini akrab banget di telinga – karena dulu jaman kos di Tubagus, kosan saya dilalui oleh mobil-mobil yang pada nyekolahin anaknya di Salman Al-Farisi. Dari namanya sudah ketahuan ya kalau ini adalah sekolah yang bernafaskan Islam sangat kental. Sekolahnya luassss sekali, dan terdiri dari PG, TK hingga SMU. Dalam satu kompleks besar: TK paling depan, lalu SD – SMU, dan paling belakang adalah PG. Sekolah berlangsung setiap hari dari pukul 7.30 – 16.00 WIB untuk semua tingkatan. Gak bisa setengah hari ya? Gak bisa ternyata. Sekolah ini kayaknya cocok buat yang kedua ortunya bekerja, sehingga bisa sekalian “nitipin anak”.
Trial sebetulnya tidak diperbolehkan (kata staff di depan), namun ketika saya tanya ke guru, katanya bisa. Sehingga saya trial hanya dalam 1 jam saja – pengen tau suasana di kelas dan bagaimana guru berinteraksi. Untuk TK, ketika saya masuk ruang kelas, sedang ada tampilan “Asmaul Husna” di TV datar yang tergantung di dinding. Guru dan anak-anak duduk melingkar, sebagian memejamkan mata dan mengikuti lantunan Asmaul Husna dari TV. Hmm…ternyata anak-anak dari PG juga diharapkan menghapal Asmaul Husna. Sebetulnya ga ada yang salah dari itu, karena Azkhal juga suka sekali dengerin lagu anak Asmaul Husna di YouTube. Tapi kok dari metode seperti itu untuk di kelas, dan lagunya pun lagu dari ESQ kayaknya agak berat yah. Azka belum apa-apa udah mau kabur aja.. Belum lagi, guru-gurunya pun agak shock pas liat Azka ga mau salim ke mereka (hehe, masalah SALIM – MENYALIM tangan ini masalah banget dehhh).
Lalu ada satu kejadian yang menurut saya GAK banget. Jadi ceritanya ada anak perempuan (TK) yang mau buang air kecil, namun dia membuka celana dan roknya di depan ruangan kelas lalu lari terbirit2x ke WC. Yang membuat saya kurang nyaman adalah, bahwa si anak kok ga merasa malu untuk membuka auratnya dihadapan anak-anak lain (yang juga terkesan biasa saja). Hanya saya, Azka dan Khalif yang bingung (maklum, kami cukup tertutup perihal yang satu ini, jadi asa aneh kalo lihat anak-anak berbeda kelamin bisa secara gamblang nyaman memperlihatkan aurat). Khan jadi ga pas ya dengan konsep sekolah Islam? Walau masih anak-anak tapi khan….. gitu deh (mungkin saya yang lebay ya! haha). Hal ini sudah saya sampaikan ke pihak sekolah, bahwa mungkin lebih baik kalau anak laki dan perempuan dipisah WC-nya dan sebisa mungkin tidak saling menampakan aurat lawan jenis.
Sementara Khalif, saya liat fasilitas di PG cukup bagus. Ruangan bermainnya besar dengan berbagai permainan memadai. Playgroundnya juga enakeun, ruang nakan dan tidurnya nampak nyaman. Hal yang mungkin membuat kami urung, selain karena terlalu “berat” belajar agamanya buat Azkhal, mungkin karena jam sekolahnya yang terlampau lama- walau sebetulnya kalo lihat kegiatan harian, setelah pukul 12 siang, seusai sholat Dzuhur dan makan siang, kegiatannya adalah bercerita, nonton film, tidur siang, sholat ashar, dan pulang deh..
Biaya Salman Al-Farisi 2015-2016:
PG:
Pendaftaran 375.000
Uang Pangkal: PG K 7.000.000 / PG B 5.375.000
Uang Seragam: 525.000
Uang SPP: 1.000.000
Uang Kegiatan 1.585.000
Uang buku: –
Total PG K 10.110.000/ PG B 8.485.000
TK:
Pendaftaran 375.000
Uang Pangkal: TK A 7.500.000 / TK B 5.750.000
Uang Seragam: 625.000
Uang SPP: 1.000.000
Uang Kegiatan TKA 2.395.000/ TK B 2.525.000.
Uang buku: TK A 708.000/ TK B 728.000
Total TK A 12.228.000/ TK B 10.628.000. Buat yang lulusan PG SAF, total RK A 11.728.000.
Address: Yayasan Pendidikan Salman Al Farisi Bandung. Jl. Tubagus Ismail VIII. Tlp. 022-2505584 Fax. 022-2514919. info@salman-alfarisi.com.

4. Rumah Belajar Semi Palar

Sekolah yang satu ini sekolah jagoan saya dan PapaAra sebetulnya. Kami pernah ke sana pas tahun 2009 – sebelum ada Azka. Niatannya mau lamar jadi guru waktu itu, hehe. Beberapa teman dekat kami juga pernah jadi guru di sana dan satu bahkan masih menjabat sebagai koordinator SMP Smipa (Hallo MbaDan!). Tanggal 20 Agustus lalu saya menghadiri acara presentasi konsep dan filosofi sekolah Smipa yang dipimpin oleh Ka Andi, sang empunya sekolah. Sistem pendidikan yang Smipa anut adalah sistem pendidikan holistik.

Walau agama adalah sentra dari pendidikan holistik ini, tapi tidak diajarkan doa-doa dan hapalan, melainkan anak merasa dekat dengan Sang Maha Pencipta dari kegiatan-kegiatan sehari-hari. Jadi, misalkan mau makan, ya harus berdoa sesuai dengan cara masing-masing anak, mau tanam bijih – didoain juga bijihnya agar tumbuh menjadi sayur/ buah/ makanan yang bermanfaat, dll. Keberagaman sangat dijunjung tinggi di sekolah ini.

Anak-anak di Smipa nampak sangat lepas dengan mereka yang berlarian ke sana-ke mari tanpa menggunakan alas kaki. Ya, di sana juga sangat mengutamakan grounding – sehingga anak merasa dekat dengan bumi (bersentuhan dengan tanah, rumput, merasakan sensasi-sensasi dari bertelanjang kaki dan manfaat lainnya). Fasilitas sepertinya biasa saja, saya lihat tidak ada playground, ruang kelas sangat interaktif, dan saya lihat memang Smipa membuat anak-anak lebih kritis dan banyak berkarya – yang tidak memungkinkan mereka untuk mencontek. Saya lihat buku karya anak TK dan SD (dalam bentuk gambar), hasil ujian semester anak SMP dalam bentuk boardgames (ASLI KEREN PISAN!!), hasil reportase dari kunjungan field trip anak-anak SMP dengan angkot ke berbagai tempat di Bandung, dll. Guru-guru Smipa juga beda banget dari guru-guru sekolah lain, mereka kakak-kakak yang kelihatannya sangat mencintai dunia pendidikan dan dunia anak, dan bukan guru biasa (kelihatan dari metode yang mereka terapkan dalam mengajar). Dalam hati, SAYA FIX masukkin Azka dan Khalif ke sekolah ini!

Tapiiiiiiiiii sayangnya TK A, TK B semua sudah penuh, dan untuk SD juga diutamakan dari yang TK-nya di Semi Palar. Jadi waiting list lah ceritanya.. Walau kata Kak Andy, jangan bersedih hati, karena ketemu sekolah itu pada dasarnya jodoh-jodohan, tapi….. kok saya pesimis ya bisa dapet spot di sekolah ini x))

Ohya, sekilas info kurang penting: LOTEK depan Smipa enak banget dan murah banget!

Biaya Pendidikan Rumah Belajar Semi Palar 2015-2016 :

PG: 5.900.000. PG- TK 12.800.000. Uang sekolah: 790.000. Uang kegiatan: 1.350.000.

TK: Umum: 8.400.000, dari Smipa 7.900.000, TK B 5.000.000. Uang sekolah umum: `910.000. Dari Smipa 860.000. Uang Kegiatan: 1.650.000.

Address: JL. Sukamulya, No. 77 – 79, 40163, Indonesia Phone:+62 22 70173412

5. Jagad Alit

Sekolah pertama di Bandung yang menganut filosofi pendidikan Waldorf. Sekolahnya belum buka sih, hehe, tapi bakal open untuk tahun ajaran 2016/2017. Sementara itu, ada diskusi terbuka setiap 2x dalam sebulan di Jagad Alit. Yang mau ikutan, lihat info-info di page mereka.

IMG_20150822_151458

IMG_20150919_104303397

Jagad Alit Waldorf School: Jl. Babakan Jeruk IIIB No 18, Jawa Barat, Indonesia. Phone:+62 878-2315-2314. jagadalit.waldorfschool@gmail.com

6. Cendikia Leadership School

Sekolah ini yang dari awal diperkenalkan kepada saya oleh Akiya (Bapak mertua). Akiya mendapat info dari beberapa dosen muda di Geodesi ITB bahwa banyak anak-anak yang tadinya tinggal di luar negeri dan pulang ke Indonesia, lalu sekolah di Cendekia. Awalnya saya agak takjub melihat biaya masuk sekolah ini. Lalu saya melihat review tentang sekolah ini di sebuah blog, makin membuat saya penasaran.. Karena katanya warna bangunan sekolah ini rada-rada kampring gimanaaa gitu, hehe.
Bener aja, ketika saya lihat bangunan sekolah yang didominasi warna kuning dan biru, saya langsung rada ilfil. Lalu saya bertemu dengan mba resepsionis yang ramah, dia menunjukkan fasilitas-fasilitas di Cendikia dan menjelaskan sedikit tentang kurikulum di Cendekia yang menganut sistem pendidikan berbasis leadership. Anak-anaknya juga diajarkan untuk bisa pede memberi presentasi melalui project dan tema bulanan sekolah mereka, juga didorong untuk bisa berwirausaha. Ok, saya suka konsepnya. Lalu, sekolah ini juga bilingual, jadi pasti akan lebih memudahkan Azka dan Khalif (walau sebetulnya, saya lebih senang bahasa pengantar Indonesia untuk PG dan TK). Saya lihat sekilas ruangan kelas dan murid-muridnya – saat itu sedang pada bersiap untuk pergi berenang ke Resort Dago Pakar. Lalu liat ruang tidurnya – nampak sangat sederhana (dibandingkan di Salman yang sama-sama sekolah full day). Bedanya dengan di Salman, Cendikia bisa ada opsi setengah hari.
Azka pun trial 1 hari (maksimum 3 hari), dengan bayar biaya 75.000/hari. Boleh ikut half-day atau pun full-day. Wah, Azka luar biasa gak bisa diem saat trial ini. Saya sampai takjub melihat dia jalan-jalan di kelas (saat circle time berlangsung), buka-buka laci, manjat, dll… OH MY GOD. Tapi saya lihat ada guru yang sigap mengakomodir kebutuhan Azka, “Karena belum terbiasa aja Bu. Nanti juga bakal bisa kok mengikuti. Jadi saat ini diakomodir aja maunya apa.. Tadi dia mau gambar dan bikin topeng Captain America, jadi saya bantu buatkan”, jelas seorang guru. Saya pun yang tadinya udah memandang sebelah mata sekolah ini, hanya karena bentuk bangunannya.. Langsung jadi mengerti mengapa sekolah ini begitu banyak direkomendasikan orang-orang.
Malam setelah trial, saya merasa sudah cocok untuk Azka lanjut ke Cendekia. Azka juga nampak happy pas pulang dari trial… Tapi keesokan harinya dia mogok lagi sekolah, dan minggu-minggu ke depannya saya ajak lagi (paksa) tetap tidak mau. Huffffhhh….baiklah, mungkin bukan ini jodohnya. Mari cari lagiiii…
Untuk Biaya, brosurnya hilang x)) Tapi total untuk TK kalau ga salah sekitar 11 juta-an, dengan biaya per bulan untuk half day: 955.000, untuk fullday: 1.155.000.
Address: JL. Ligar Taqwa No. 2 Komp. Bukit Ligar, Jl. Ligar Melati, Jawa Barat 40191, Indonesia
+62 22 2516778.

7. Gagas Ceria

Secara pribadi saya suka dengan Gagas Ceria “Innovative Learning” yang dijadikan taglinenya. Tapi sekolah ini out of my reach pisan lah, ehehe. Pertama memang saya sempet denger (sebelum ke sana), bahwa ini sekolah buat anak-anak dari keluraga borju (*uhuk*). Dan memang kelihatannya begitu x)). Tapi secara fasilitas memang seru, walau lokasinya rada-rada di pinggir jalan yaaa..!

Yang paling saya suka dari Gagas mungkin karena ada perpustakaan Elmulokanya! Biaya keanggotannya murah (karena udah ditopang sama sekolah Gagas-nya sih ya), hanya 25.000 dan untuk ganti refill card, hanya perlu bayar 15.000 (untuk 10 kali cap). Ada kegiatan mendongeng juga, setiap Rabu jam 11.30 dan 14.00 oleh Komunitas Dongeng Bengkimut.

IMG_20150819_112958892 IMG_20150819_131253043 IMG_20150819_131538424_HDR IMG_20150819_131637321 IMG_20150819_131437780IMG_4640 IMG_4636

Taman Kanak-kanak Gagas Ceria: Jl. Malabar No.80-82. Bandung 40262. Jawa Barat – Indonesia. Telp. (022) 7304754

8. Bunda Ganesha

Dari namanya ketauan khan, kalau lokasinya berdekatan dengan kampus ITB? Dulunya BG memang merupakan TPA, hingga sekarang menjadi sekolah. Sekolah ini juga menganut sistem sentra-sentra – jadi dari hari- ke hari akan berbeda sentranya: sentra musik, science, drama, dll.

Yang bikin saya super ilfeel adalah ketika saya masuk ke ruangan Kepseknya yang mungil itu. Di dalamnya ada beberapa Ibu yang saya asumsikan adalah para pendiri BG (soalnya ada foto mereka dipajang di dinding). Salah satunya bercakap-cakap dengan saya… Ternyata anak beliau adalah senior saya di Oseanografi ITB, seorang wanita yang juga menjadi dosen tamu. Ketika tahu bahwa saya alumni Ose, dia menanyakan “Ketika suaminya sekolah (S3), kamu sekolah juga?”, “Oh, enggak.. Saya menjaga anak-anak saja, mereka masih pada kecil-kecil. Dan prioritas saya memang masih ke mereka. Ga kebayang kalo ikutan sekolah S3”. “Ohh, sudah S2. Ambil apa S2nya?”, lanjut si Ibu. “Manajemen Komunikasi, di UI”. “Lalu sekarang kerja apa, di mana?”. “Saya Ibu rumah tangga, tapi..”, belum sempat saya mengutarakan apa yang sedang saya kerjakan, si Ibu salah satu founder BG tersebut berucap sambil menunjukkan wajah “jijik”, “Ih….S2 ga kerja…!” Dan itu belum cukup, dia sembari mesem-mesem dan mengangkat bahunya. Seolah menjadi Ibu Rumah Tangga dengan berbekal pendidikan S2 adalah hal yang hina. Untungnya, stock sabar saya hari itu cukup banyak – dan selera humor saya masih baik. Sesampainya di mobil, saya ceritakan ke Ara perihal kejadian tsb. Ara langsung “Gak akan pernah kita masukin anak kita di sana!!”. Super bete dia x))). Ya ya ya, saya pun kalo inget-inget kejadian tersebut, ingin rasanya “menceramahi” beliau. Tapi untuk apa? Biarlah dia memandang dunia dengan pikiran kerdilnya. Ketika pekerjaan menjadi Ibu Rumah Tangga dianggap begitu hina, siapa lagi yang lebih pantas mendidik anak-anak kalian sendiri?

Waktu sekolah: 7.30- 10.30, Senin-Jumat. TK A 4-5 tahun, TK B 5-6 tahun. Biaya pendidikan: Pendaftaran 150.000, Pengembangan 4.500.000 (4.000.000 alumni BG TK A), Kegiatan 2.000.000/tahun, SPP 500.000/bln, seragam 320.000 (3 stel).

IMG_4621

9. Playgroup Mualimin

Agak menyimpang dari mencari TK, saya penasaran dengan playgroup di Masjid Mualimin. Karena ada Rakeem – anaknya Angke dan Igun- yang bersekolah di sana, saya jadi penasaran. Kali-kali aja iseng berhadiah.. EHH, ternyata beneran cocok..! Cocok untuk Khalif maksudnya..Saya senang dengan sekolahnya yang main-main aja (yaa namanya juga buat usia 2-4 tahun), guru-gurunya (bageur pisan), teman-temannya (kebanyakan yang dari komplek deket-deket sana), dan suasana sekolahnya. Anaknya Kang Emil (Ridwan Kamil) yang kedua juga alumni dari playgroup ini lho… *info kurang penting lagi* hehe.

Dan biayanya relatif murah meriah. Biaya awal pendaftaran 2.600.000 (sudah termasuk uang pangkal, kegiatan, dan seragam), dengan SPP/ bln 225.000. Sekolahnya Senin-Rabu-Jum’at, dari jam 8.30 – 10.30. Pokoknya sangat sederhana sekolahnya, namun bersahaja :) Yang pasti Khalif happy main dan bersosialisasi di sana..! Dan sudah sempat field trip berenang, ke puskesmas, cooking class, dll.

IMG_20150909_101354028 IMG_20150909_101431424

10. TK Istiqamah

Belum sempat trial – hanya sempat melihat lokasinya saja. Menurut saya sekolah ini terlalu crowded dan akses pendatang/ umum sangat bebas, karena sekolahnya menyatu dengan Masjid khan.Walau ruangan untuk PG-nya terasa nyaman dan kondusif untuk bermain.

Sekilas yang saya liat dari brosurnya, anak-anak lulusa TK diharapkan bisa khatam Iqro 1-6, hafal 17 doa-doa harian, 17 surat pendek, 13 hadits praktis, dapat praktek wudhu dan sholat, mempraktekan kalimat Thayyibah, mengenal Asmaul Husna, dll. Melihatnya brosurnya (sasaran output lulusan TK) saya udah merasa tak akan cocok dengan Azka saat ini.

IMG_4643 IMG_4645

Address: Jl. Taman Citarum Bandung, telp. 022-70814758. http://www.tkistiqamah.com

11. Sekolah Alam

Setelah 13 sekolah saya cari untuk Azka (dua lagi tidak akan saya tuliskan, karena sekolah TK konvensional banget dan deket rumah)  – awalnya saya sudah mau menyerah. Tapi beberaa orang yang mendengar “keluhan” saya tentang Azka yang sangat kinestetik (alias banyak gerak dan belajar lebih efektif dengan bergerak), mereka menyarankan saya untuk mencoba Sekolah Alam.

Setelah melihat lokasinya, saya pikir cukup menyenangkan – karena ruang kelasnya terbuka, dan namanya juga sekolah alam, jadi dekat dengan alam dan fasilitas-fasilitas pendukungnya memang buat main kotor-kotoran lah. Walau ada kesan “kurang terawat juga” jadinya. Untuk sampai ke sekolahnya, kita harus menuruni turunan yang LUMAYAN yaa kalo dilalui turun- naik 4x/ hari. Udah gitu, melewati tempat pembuangan sampah….. yang baunya lumayan. Pertanyaan saya: kalo musim hujan macam mana ya penampakannya? Sampah, licin, genangan air, lumpur…Dan usaha untuk drop-jemput ini bikin  males,hehe, abisan rintangannya lumayan.Ini satu-satunya sekolah yang HARUS daftar buat trial 100.000, dan trial HARUS 3 hari, per hari 100.000 – termasuk makan siang. Okelah, dicoba ya Azka…

Setelah Azka coba, rupanya dia menjadi sangat amat “caper” kalo kata gurunya. Azka melakukan hal-hal diluar kewajaran: mencuci tangan di dispenser Aqua, gak mau ikutan sholah Dzuhur, main tissue dengan air lalu dibuang, dan Azka katanya bermain sendiri aja (tidak mau dengan teman2nya). Waduh. Saya sampai bener-bener drop pas hari terakhir diberi tahu kelakuan Azka seperti itu. Gurunya pun bilang “Nanti pokoknya Ibu dikabari lagi, akan ditelpon untuk bicara dengan kepseknya dan evaluasi dari trial”.IMG_20150918_165431658_HDR IMG_20150918_165251236 IMG_20150918_165235717_HDR IMG_20150918_165204282IMG_20150918_165030621_HDR

Nyatanya, seminggu dari hari terakhir trial.. Saya ga ditelponin samsek tuh. Ini agak bikin kecewa sihh… Udah dari awal bayarnya mahal, trus ga ada kelanjutannya gini…! Plus saya udah ilfil dan Azka kelihatannya jadi ga suka juga… Sampai di titik ini, saya hampir menyeerah. Mau ke mana lagi ya? x)  Saya paham sih, yang Azka butuhkan hanya WAKTU untuk BERADAPTASI. Karena dia selalu membandingkan sekolah di Indonesia dengan ketika di Massachusetts. Jadi ritme harian (makan pagi bareng, free play berbagai macam mainan, dll) sangat melekat di dia.. Ketika dihadapkan ke sekolah-sekolah yang berbeda ini, dia jadi bingung, sepertinya. Bukan hanya adaptasi dari bahasa (walau Azka berbahasa Indonesia baik, tapi tak jarang ada yang ga paham apa yang dia bicarakan) tapi juga dari kultur (ya cium tangan, dan doa-doa), hingga prasarana dan fasilitas kelas.

IMG_4642

Address: Dago, Coblong, Bandung City, West Java 40135, Indonesia.

12. Bandung Montessori Preschool

Gak sempet trial juga, gak sempet lihat dalam dan suasana kelas. Tapi saya suka sekali lokasinya (di Kartipah Guest House), dari penampakan depan sekolahnya terlihat asri, bersih dan menyenangkan. Sayangnya untuk TK B sudah penuh. Kalau mau trial tidak dipungut biaya, btw. Dan bahasa pengantar: bahasa Inggris.
Biayanya per term (2 bulanan) dan jam masuk 8.30-11.00 WIB:
Preschool:
Form fee: 100.000. Admission fee: 7.500.000.
Usia 2 (3x/mgg)  term fee: 1.505.000. Usia 3 (3x/mgg): 1.620.000.
Kindergarten:
Usia 4-6 tahun (5x/mgg) term fee: 2.635.000.
Ini termasuk uang pangkal dan uang kegiatan serta snack. Tapi dipungut biaya lagi untuk farewell party, field trip, renang, dll.
Address: Jl. Dago Asri No.21, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40135, Indonesia

13. TK Prof. Dr. Moestopo

Jadi ini sebetulnya sekolah ke-15 yang saya datangi – entah kenapa pagi itu, setelah lemasss karena Azka belum dapat sekolah juga, saya iseng tanya ke sepupu Ara: “Kalo di TK Moestopo gimana?”. Jadi   Moestopo ini sekolah SD-nya Ara bersaudara dan juga kedua sepupunya. Ara bisa dibilang sangat bangga jadi lulusan sekolah ini.. Tapi saya gak permah kepikiran mau mencoba ke Moestopo untuk Azka. Pas last  minute banget baru kena wangsit untuk ke sana.

Ketika saya sampai, saya cukup terkesima dengan bangunan sekolahnya yang bagi saya terkesan bersih dan lega. Saya pun nyelonong masuk, eh..ternyata sama pak satpam diminta untuk menuliskan buku tamu + diantarkannya saya ke dalam ruang TU. Hal itu cukup berarti buat saya, karena sekolah-sekolah lain satpamnya cuek banget… Ga ada yang kaya si Pak Agus ini. Artinya, sekolahnya aman, InsyaAllah. Lalu, saya dipertemukan dengan kepseknya (ini juga rada luar biasa, karena biasanya kalau mau ketemu kepsek gitu aga ribet… ya gak sih? Hanya oleh staff resepsionis aja biasanya). Bu Masni namanya. Dari penampakan beliau, relatif masih muda sekitar 35-an, kesannya sangat intelek, lugas dan berwibawa. Cocok jadi presenter acara berita ketimbang jadi kepsek, hehe. Dari awal saya utarakan kondisi Azka… Dan beliau pun menyambut dengan baik. Bu Masni bilang ” Di TK ini tidak ada calistung ya Bu, kami sangat mengutamakan aspek sosialiasi anak dan pembentukan karakter. Akademik belakangan”. “Lalu kami juga sangat terbuka dengan orangtua, segala sesuatu dengan anak akan kami komunikasikan”, Setelah manggut-manggut tanda saya setuju, langsung saya tanya apakah bisa trial? Ternyata di Moestopo ini, tidak pernah ada sistem trial. Semuanya masuk dari awal tahun ajaran. “Tapi silahkan saja Bu, kalau mau dicoba untuk beberapa ke depan”.

Trial lah Azka selama 3 hari tanpa dipungut biaya. Satu kelas TK B hanya 7 anak (dengan Azka jadi 8), dan TK A hanya 7 – dari maksimal 10 anak. Sementara SD yang berbagi gedung, ada 6 kelas saja, satu kelas maksimum 20 orang. Guru kelasnya Azka juga tak kalah membuat saya terkesan, kelihatan berbeda dengan guru-guru sekolah lain yang pernah Azka trial – mereka pun nampak lebih intelek, sabar, dan lugas. Sementara teman-teman Azka tak kalah bikin saya semakin semangat memasukan Azka ke sekolah ini… Mereka begitu baik dalam menyambut Azka (anak-anak sekolah lain baik juga sihhh, cuman yang ini anak-anaknya kelihatan lebih KLOP dengan Azka). Dan lagi, kebanyakan anak yang sekolah di Moestopo adalah anak-anak alumni Moestopo juga! Jadi ada beberapa ortu yang Ara pun kenal.

IMG-20151007-WA0027 IMG-20151007-WA0028 IMG-20151007-WA0029 IMG-20151007-WA0030

Alhamdulillah..setelah 3 hari trial, dan Azka nampak happy, saya daftarkan Azka di TK Prof.Dr Moestopo. Biaya: total biaya pendaftaran (all include): 5.000.000, form 50.000 dan SPP 360.000/bln.

Address: JL. Tubagus Ismail III No.3, Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40134, Indonesia.

——-

Pencarian sekolah telah berakhir, saat ini harapan saya cuman agar Azka happy di sekolah barunya – bisa menemukan sahabat-sahabat baru di sana pengganti Jayden, Mason, Kevin, Rylee, Gabby, Lycia.. Kelak, akan menjadi sahabat-sahabat pertama Azka (dan Khalif) dan melalui masa-masa SD nan seru bersama.

Semangat Aa dan Khalif..!! Semangat juga IBU antar-jemput anak-anak dan les lalalailili x))

Mencari Sekolah Anak di Bandung (1)

Dulu-dulu kayaknya sering banget liat postingan Ibu-ibu yang sedang kebingungan mencari sekolah untuk anaknya. Dan dulu saya mikirnya “Repot amat yah cari sekolah anak… Emangnya kriteria apa sih yang harus diperhatikan sampe segitunya cari sekolah, sampe harus waiting list dan rela merogoh Rupiah yang tidak sedikit demi masuk di sekolah tertentu”. Dan sekarang pun saya akhirnya mengalami kejadian di mana terasa rempongnya cari sekolah anak. Ini baru cari sekolah buat TK loh… belum yang SD, SMP, SMU.

Sebetulnya sebelum pulang ke Indonesia saya dan Ara sudah sepakat untuk tidak menyekolahkan anak-anak untuk setahun ke depan. Inginnya homeschooling saja dulu, bermain dan belajar di rumah dan bisa menggali minat dan potensi mereka secara lebih. Namun sebetulnya ada beberapa pertimbangan lain juga. Faktor pertama sebetulnya karena kami tau, bahwa anak-anak (utamanya Azka yang sudah sekolah 2 tahun pre-K di AS) akan mengalami adaptasi yang mungkin tidak mudah di sekolah umum di Indonesia dan pindah dari sistem di AS. Mungkin salah saya juga ya, karena saya menyamaratakan kurikulum, metode, filosofi dari tiap-tiap sekolah di Indonesia (atau Bandung). Jadi dari 2 bulan sebelum pulang, saya bilang ke Azka “A, nanti di Indonesia Aa bakal belajar yang lebih sulit dari ini… Temen-temen Aa mungkin udah pada bisa baca, berhitung, dan menulis. Jadi Aa juga harus latihan dari sekarang”. Saya, yang awalnya ga ada niatan untuk terlalu mengekspos Azka ke ranah calistung, jadi termakan juga sama yang namanya peer pressure (walau akhirnya tetep ga saya lanjut lakukan). “Edan, anak si eta udah bisa baca dari 4 tahun! Dan si Ibu Y anaknya yang 3 tahun udah bisa nulis huruf A-Z…bagus lagi!”. Padahal udah sering mengingatkan diri, bahwa balik lagi ke minat anak dan kesepakatan dalam keluarga, dalam hal ini saya dan PapaAra emang maunya menunggu hingga at least usia 6 tahun deh, baru mulai belajar baca dan berhitung.

Anyway… Karena asumsi di awal yang salah (bahwa semua sekolah PAUD/TK) akan mengajarkan calistung dari usia dini (4 tahun), maka saya dan Ara sepakat ingin homeschooling saja. Kalau mau belajar pun, bisa dari rumah dan saya akan menerapkan acara belajar yang lebih menyenangkan dan less stress.

Tapi untuk menjalankan homeschooling itu tidaklah mudah sodara-sodara! Dan sesungguhnya tidak sulit, asalkan memang ada KOMITMEN dari ortu, visi yang JELAS apa yang mau dicapai dari kegiatan belajar di rumah, dan misi yang sejalan dari kedua ortu dan anak melalui kegiatan harian yang sudah tersusun. Sudah jelas, saya dan Ara missed di yang satu ini: bukannya tidak komit, kami berdua memang masih sering tidak sejalan dengan cara menangani anak-anak. Terkadang saya merasa Ara tidak pas cara menangani Azka dan Khalif di waktu-waktu mereka sedang tidak kooperatif, dan seringnya saya juga yang “disalahkan” karena bagi Ara saya tidak tegas (alias permisif ke anak-anak yang menyebabkan tingkah laku mereka kadang bikin KZL). Padahal menurut saya, saya bukanlah permisif…melainkan negotiable, ehehe. Dalam banyak kasus memang saya menanyakan ke anak-anak “Jadi mau apa, gimana yang membuat kamu nyaman?”, sementara buat Ara beberapa adalah harga mati dan tidak ada tawar-menawar. Nanti deh kapan-kapan dikasih contoh-contohnya..

Alasan kedua, homeschooling ini ga terlalu akrab dengan kultur di Indonesia – utamanya di keluarga saya dan Ara yang banyak dari mereka adalah termaktub dalam lingkungan akademik. Jadi opsi “gak sekolah”itu dianggap sesuatu yang “tidak puguh” (gak bener). Saya, yang mudah sekali gamang kalo “diomongin”, akhirnya mengalah… *kebayang gak sih kalau tiap hari ada yang tanya “kapan sekolah? kenapa ga sekolah? sekolah..sekolah..dan sekolah*. Sampai saya sendiri ngerasanya Azka jadi “muak” tiap denger kata “sekolah” (it supposed to be a fun place to learn and meet your best friends..!).

Akhirnya, saya pikir, yaudahlah, anak-anak gapapa sekolah, cuman sekolahnya mesti dipastikan memang bisa mengakomodir Azka dan Khalif. Kedua anak ini cukup kritis, utamanya Azka. Dan saya harus memastikan, guru-guru di sekolahnya pun tidak “mematikan” kekritisan Azka yang senang sekali bertanya.

Ketiga, ketika pulang, awalnya saya merasa anak-anak beradaptasi dengan sangat baik, bahkan mereka ga nanya-nanya tentang New Bedford atau merasa ada yang berbeda (kecuali macetnya yang suka bikin Azka males berpergian, utamanya ke Jakarta). Tapi ternyata, walau mereka ga komplen, tanpa disadari ada perubahan dalam tingkah laku mereka.. Saya ga tau apakah ini emang USIA-usianya mereka kayak “gitu” atau karena faktor kepindahan. Yang jelas, Khalif yang tadinya cenderung anteng, sekarang sering banget tanrtum dan nangis for something that is REALLY unimportant. I’d say unimportant karena hal-hal kecil yang ga dituruti bisa bikin dia nangis sampe 30 menit dengan hebohnya. Awal-awal pulang malah dia jadi suka dorong-dorong dan cubit anak lain, sampe suatu ketika dia kena batunya.. Ketika Arkin yang usianya 6 tahun, balik mencubit Khalif dengan tanpa ampun, dan di wajah pula! Sejak saat itu, Khalif jadi relatif lebih jarang dorong dan nyubit. Sementara Azka…. Dia menjadi kurang kooperatif dalam banyak hal, pundungan, dan clingy ke sebagian orang; which make some of them irritated to him (sadly). Tapi itu sebagian downsidenya aja… Di sisi lain, Azka banyak membantu dan very thoughtful. Malam hari dia suka menawarkan untuk pijet kaki Ibu, kalau liat saya kecapean, dia bawain makanan dan bikinin teh hangat, kadang dia juga terlalu baik… Semua orang disalamin, dipeluk, termasuk tukang TELKOM yang dateng benerin kabel Internet pun dia peluk2x! Haddeeeeh, haha. Tapi kalo lagi ga mood, boro-boro peluk, orang mau salaman aja dia males nanggepin.

Terakhir, walau Azka terekspos pendidikan agama di rumah selama di AS.. Nyatanya kehidupan beragama di Indonesia ini, yang sudah kami terapkan terasa kurang. Artinya gini.. Saya sebetulnya masih santai dengan kebiasaan sholat Azka, kalo dia mau ikut ya ikut, ga juga gapapa. Khan masih 5 tahun, pikir saya. Hafalan surat juga demikian. Al-Fatihah aja masih cukup saat ini, walau surat-surat pendek lainnya sering dibacakan sebelum tidur. Dan doa-doa harian: sebelum belajar,  tidur, makan dan doa untuk ortu. Juga belajar huruf Hijaiyah, saya pikir khan cukup ya…..TERNYATA gak. Bahkan kesannya saya ga ngajarin dia sama sekali, dan saya dianggap ga kasih contoh yang cukup untuk ajak sholat, dan menghapal doa-doa. Kalau bagi saya dia hanya anak 5 tahun yang lebih deserve meluangkan waktunya untuk (belajar sambil) bermain, sebagian merasa justruuuuu ini saat paling bagus untuk menghapal sebanyak-banyaknya surat dan pengenalan ke agama secara lebih mendalam. Tidak ada yang salah, mau yang manapun disesuaikan dengan visi dan misi keluarga masing-masing.

Hal ini sempat membuat saya gundah dan mempertanyakan kembali apa yang ingin saya lihat di Azka dan Khalif ketika mereka tumbuh besar nanti? Tentu saya ingin dia jadi anak yang sholeh. Tapi apakah itu dengan sebanyak-banyaknya menghapal surat-surat sedari dini? Apakah dengan memasukan anak ke sekolah pesantren? …. Tak jarang saya perhatikan, mereka-mereka (teman dan kenalan) yang pernah mencicipi sekolah pesantren atau asrama pun, gak berarti menjadi orang yang “sholeh”. Iya sih, bacaan sholatnya bagus sekali, hapal banyak surat dan hadits, namun dari keseharian ketika mereka dewasa, gaya berpacaran, gaya hidup, tidak mencerminkan ilmu yang telah mereka dapatkan ketika mereka sekolah dulu. Jadi… soal hapal-hapalan, belakangan aja deh, yang penting buat saya adalah lingkungan yang mendukung character building anak saja, membangun akhlaknya menjadi anak yang baik, santun, disiplin, dan kreatif dengan cara yang positif. Ketika ini terbangun, InsyaAllah dia akan menjadi pemuda harapan bangsa nantinya (kayak nama band yeuh).

Singkat cerita…. PENCARIAN sekolah ini memakan energi dan stok kesabaran yang tidak sedikit, not to mention time-consuming too. Kenapa? Sekolah yang saya (dan semua orang) pikir bagus, belum tentu cocok dengan anaknya. Jadi ketika saya berkeliling ke sekolah-sekolah “unggulan” dan direkomendasikan banyak pihak…nyatanya Azka tidak betah.

Sekolah yang saya suka sebetulnya tidak neko-neko: kurikulum tidak mengutamakan calistung -melainkan ke pembentukan karakter, guru-gurunya terlihat “pintar” dan sebisa mungkin bisa bahasa Inggris, bahasa pengantar: Bahasa Indonesia – bilingual gapapa, tapi tidak menjadi prioritas, secara bangunan, sarana dan pra-sarana layak, ada tempat mereka bermain, kegiatan harian membuat anak banyak berkreasi, berinteraksi, bermain, dan tampil (agar tidak malu/ cukup pede untuk bisa berada di depan umum, misal dengan kegiatan drama, bernyanyi, dll), teman-temanya terlihat baik, ortu-ortu terlihat satu frekuensi (yang ga borju dan gaul berlebih lah pada intinya), dan lokasi yang dapat ditempuh dalam waktu 15-20 menit.

Inilah beberapa sekolah yang saya dan Azkhal kunjungi untuk trial… (bersambung di II).

Taman Main Daycare

Awal minggu lalu saya dapet kabar dari seorang teman yang sedang merintis daycare baru di daerah Jakarta Selatan, Taman Main namanya. Seumur-umur saya belum pernah ke yang namanya tempat penitipan anak, jadi bentukan daycare yang biasa seperti apa (khususnya di Jakarta dan Bandung) sama sekali ga ada bayangan. Plus lagi, selama ini saya dan PapaAra juga merasa tidak nyaman kalau menitipkan anak ke yang non-keluarga (ke keluarga aja saya jarang menitipkan Azka dan Khalif) dan non-sekolah. Tapi setelah melihat konsep Taman Main, dan fasilitas-fasilitas pendukungnya yang diperkuat dengan elemen interior Taman Main yang keren banget, rasanya saya gak akan keberatan kalo kapan-kapan nitipin Khalif di sana, hehe (batasan maksimal usia anak yang dititip adalah 4 tahun). Apalagi kalau dari sisi keamanan, perbandingan yang menjaga dengan anak adalah 1:3 (1 caretaker: 3 anak) dan termonitor oleh CCTV di setiap ruangnya, jadi lebih tenang kalau mau ninggalin anak.

AgbRGpn6E0olpQz5RHgIHrsmH9HWbPlnx2wIHP7dbZfx
Nuansa ruangan di Taman Main

AoQcG3c5f_QUpUMu7hCZT9Kep3PU0gfeahCR5Eljt_MJAhfr4MmseGPJ-fyCF_joirJ7rp7g2F4QVjLzstDGpXEf

Karena saya suka sekali melihat interior ruangan, fasilitas, visi-misi, serta pengelolaan Taman Main yang terkesan profesional dan family/kids friendly, saya share lah info tentang Opening Taman Main (tanggal 3 Oktober lalu) di laman Instagram, Facebook dan Path saya. NAH, tak dinyanya… ternyata hampir sebagian teman-teman (dan followers IG) menganggap daycare tersebut milik saya x)) Hahaha.. Aduhh, sampe banyak yang memberi selamat segala..! Sayangnya enggak yaaa… Walau, saya memang punya niatan untuk suatu saat bikin daycare atau sekalian sekolah PAUD di Bandung. Dan saat ini ada kemungkinan Pustakalana bisa supply sebagian koleksi buku-buku anak di mini library-nya Taman Main. Amin..!

fasilitas
Kelompok kelas dan program daycare Taman Main

Jadilah, tanggal 3 Oktober 2015 kemarin, saya, Azka, Khalif, dan Papa Ara bela-belain tektok ke Jakarta untuk datang ke pembukaan Taman Main. Acaranya dimulai  jam 10 pagi hingga jam 13.

IMG_4421

Karena telat datang dan tiba di sana pukul 11 lewat, maka saya melewatkan sesi dongeng dengan Kak Yanie. Tapi masih ada sesi face painting dan kreasi balon dari Amatik For Kids, serta suguhan snacks dari Little Langit yang berlangsung di area ruang makan anak-anak. Cukup seru, walau Azka dan Khalif ga terlalu berminat untuk sesi face paintingnya (as always), tapi terhibur dengan dapet pedang-pedangan dari balon dari Amatik For Kids.

IMG_4416IMG_4400 IMG_4423IMG_4386

Bingkisan buatan dari @idekuhandmande dan @dreamesh

2015-10-04-021505_1600x900_scrot
Bingkisan buatan dari @idekuhandmande dan @dreamesh

Sesampainya di Taman Main, Azka dan Khalif otomatis langsung into all the toys..! Ada sandbox, mainan masak-masakan, slide dan ayunan mini, piano mat elektrik, bola-bola, buku dll:

AiJ9h675zHb4h_GDNYid5UbH2t9IIfKgdb6PhG_Lo5FH

IMG_4428  IMG_4451 IMG_4459 IMG_4413

Karena banyak kakak-kakak dari Taman Main, dan kelihatannya aman (karena anaknya juga asik sendiri main), saya pun berkeliling untuk lihat fasilitas Taman Main:

IMG_4405 Anc-fkWN5qWuVNgNTzz6XYk9LQ-KON5_kW-LkNxX0VDP

IMG_4408IMG_4407IMG_4411IMG_9420IMG_9412 IMG_9392

Ahh seru ya tempatnya…! Leluasa, terang dan bener-bener tempat yang kondusif untuk bermain! Saya melihat sekeliling, ada Ibu dan anak-anak yang berseliweran dan asik bermain bersama (sendiri-sendiri). Dan mendapati beberapa teman saya dari ITB dan Labschool juga pada datang… Asikk..! Bisa sekalian “reuni kecil” dengan mereka. Tak lama saya perhatikan juga ada beberapa Ibu-anak yang nampak familiar (hasil kepo di IG, haha), salah satunya ada Nesya dari Productive Mamas yang baru saya ketahui keberadaannya 3 hari yang lalu (bener-bener telat tau yah!). Seneng deh bisa ngobrol walau singkat:

IMG_4440

IMG_4375

Yang bikin saya terkesan juga,  walau daycare, tapi Taman Main juga sangat memperhatikan kurikulum pendidikan yang tersusun rapih di setiap tahun ajaran, serta menggunakan pendekatan kepada character building, serta fokus pada life skills sesuai dengan standar tahapan tumbuh kembang setiap anak.

Kemudian saya jadi penasaran, siapa sih pengurus manajemen Taman Main? Kalau dari keterangan yang diberikan Yasmina (salah satu founder dari Yayasan Timur Kelana – yang mengelola Taman Main), para pengurus, kepala sekolah, dokter anak, psikolog yang terlibat di Taman Main memang sudah lama malang-melintang di dunia pendidikan anak. Ada dr. Arifianto dari Markas Sehat, yang merupakan dokter anak, lalu Binky Pramitha dari Klinik Psikologi Bingkai & Rumah Dandelion yang akan datang ke Taman Main setiap bulan untuk melihat perkembangan anak dan memberikan report untuk orang tua anak. Juga ada drg. Riezky Annisa yang akan datang untuk melihat kesehatan gigi anak-anak yang bermain di Taman Main. Lengkap yaa..!

Berikut rincian biaya di Taman Main:

Uang Pangkal: Rp. 1.500.000 (diskon selama masa promo bulan Oktober 2015). Biaya Bulanan: Rp. 4.000.000. Biaya harian: Rp. 300.000. Biaya Weekend: Rp. 800.000. Biaya keterlambatan pick-up: Rp.10.000/ 20 menit. Waktu kegiatan: Senin-Jum’at pukul 7.00 – 18.00 WIB.

Kira-kira begitu review singkat saya tentang kunjungan selama beberapa di pembukaan Taman Main..! Ohya, Taman Main buka hingga overnight loh… Jadi buat Ayah-Ibu yang mau pergi kencan, atau ada kawinan, dll.. Bisa titip di Taman Main juga dengan reservasi dari beberapa hari sebelumnya (ga bisa mendadak yahh!).

Taman Main Daycare: Jl. Wijaya XVI, No. 23, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. More info: info@tamanmain.co.id atau 0813 1413 6300.

Some pics are courtesy of Taman Main daycare.

Kembali Ke Tanah Air

HELLO BLOG! *bersih-bersihin debu blog yang sudah terlalu lama tak disentuh ini*. Susah banget mendapatkan mood menulis, mengedit foto dan spend sometime di blog sendiri. Tapi harus disempet-sempetin… Kalo gak, sampai kapan tahun gakan ke-update. Cerita sedikit yaaaa (dengan foto segambreng):

New Bedford, June 30th 2015

That morning, after unceremonious goodbyes to our apartment that we lived in for the past 3.5 years, a farewell to our neighbors, and to the city we called home, New Bedford… we drove our rental car for a 10 hours trip to Washington DC.

I tried to be as casual as possible as we passed by the familiar sights in New Bedford, Dartmouth, Providence, Newport, to the south…passed Connecticut, New Jersey, New York, Pennsylvania, Virginia,…  I tried not to get too sentimental about this farewell. One day, we’re gonna come back.. But we don’t know for sure, when and what kind of occasion to bring us back to US.

Sunset terakhir di Greater New Bedford - tepatnya di Fort Phoenix, Fairhaven.
Sunset terakhir di Greater New Bedford – tepatnya di Fort Phoenix, Fairhaven.

Kepulangan kami ke Indonesia bukannya tanpa rencana – rencana awal kami memang Juni 2015 akan balik ke tanah air terkait dengan habisnya grant beasiswa dan masa berlakunya visa dan I-20. Walau tak dapat dipungkiri bahwa selama 2 tahun terakhir kami juga memiliki our kinda version of American dream: memiliki rumah, membangun bisnis, dan menyekolahkan anak-anak di sana. Namun sehebat apapun rencana-rencana dan mimpi kami, kenyataannya kami memang harus pulang saat ini. Semua harus dihadapi dengan sukacita dan semangat positif :)

Saya sengaja memesan tiket pesawat dari DC untuk pulang balik ke Indonesia, karena Khalif belum pernah menjejaki kakinya di ibukota Amerika Serikat, negara kelahirannya ini. Apalagi Khalif yang sangat suka geografi dan hapal semua 50 negara bagian, bentuk, dan posisi masing-masing states hanya dengan melihat sekilas – rasanya sayang jika tidak sempat mengunjungi DC. Selama perjalanan dari New Bedford ke DC dia juga sangat sigap menyebutkan nama-nama states yang dilalui oleh kami.

Sesampainya di DC, kami disambut oleh hujan dan badai petir yang membuat saya ketar-ketir (!). Sementara Ara yang saya yakin luar biasa capek menyetir nampak lebih tenang mendengar dan melihat kilat menyambar dan hujan deras sekali di luar. Alhamdulillah pukul 2 AM kami tiba di apartemen Rizli (kawan di ITB) di kawasan Georgetown, DC. Si empunya apartemen sedang berlibur ke Indonesia selama 3 bulan, jadi dengan baik hati dia merelakan apartemennya untuk kami isi selama seminggu.

IMG_20150706_091233 IMG_20150706_091640

Di DC kami berkeliling dari satu Smithsonians museum ke museum lainnya. Gratis dan edukatif. Kota ini sungguh impian bagi kami yang gemar menjajal museum. Di DC pula kami merayakan ulang tahun Papa ke 32 dan ulangtahun perkawinan kami yang ke-6.

IMG_0730
National Monument
IMG_0639
National Monument – before 4th of July
IMG_0479
National Gallery of Art

IMG_0472

Setelah 6 hari, kami pulang ke Indonesia dari bandara Ronald Reagan International Airport. Bye, US… Bye DC, Hello Indonesia, Jakarta, … Halo-halo Bandung :)

July 8th 2015,

That strange and awkward feeling when you arrived at Soekarno-Hatta airport after 5 years living in abroad….. That’s it? Udah kembali lagi nih ke Indonesia? Dalam sepersekian detik itu juga rasanya lima tahun berakhir tanpa jejak (pasti ada jejak di memori masing-masing dari saya, Ara dan anak-anak). It was really awkward to see your hometown filled with some unfamiliar buildings (mostly new apartments and malls). Tapi syukurlah, segala ke-awkward-an itu sirna seketika bertemu dengan keluarga dan teman-teman, yang rasanya tak banyak berubah dari mereka. Rasanya 5 tahun memang begitu cepat dan they didn’t change very much (kecuali mungkin kondisi finansial, bisnis dan karir mereka yang rata-rata sudah pada mapan).

Seperti yang sudah saya perkirakan, euforia berjumpa dengan keluarga hanya berlangsung sangat singkat. Yang membuat kami lebih terasa spesial adalah sambutan dari para sahabat-sahabat kami. Saya selalu merasa lebih banyak bersyukur jika mengingat betapa saya dan Ara dikaruniai sahabat-sahabat yang senantiasa mendukung langkah dan rencana-rencana kami.

IMG_1494
Museum Geologi Bandung yang ciamik!

IMG_1499

GengA
Kumpul pertama dengan teman-teman di Bandung – Geng A (sobat Ara dari SMU 5)
IMG_1710
Dari atas Bandros di Alun-alun Bandung
IMG_1870
Naik kereta ke Jakarta
IMG_1784
Bandros with The Hakims
IMG_1913
Keluarga Besar Hawadi – Lebaran 2015

Processed with VSCOcam with c1 preset

IMG_2059
First time mudik ke Garut: 6 HOURS driving (one way).
abd4a3befa120020ed9fabda0baccc92
With Vita, Imee, dan Ria Sarwono

 

IMG_20150714_162710
Little farm and petting farm animals at PVJ – too expensive, but the kids love it.
IMG_2043
View from hotel in Garut
IMG_1960
Garut
mtf_xnYaQ_101.jpg
Rimba Baca dengan Bhumi dan Winda
IMG_20150824_065337
Organized 17 Agustus-an Kita-kita with fellow mommas
IMG_20150826_110751
Waiiting for Go-Jek.
IMG_20150824_065148
Ciwalk – 2nd movie at theater for them. the first one is Ant-Man
IMG_20150823_145426
Taman Hutan Raya Bandung
IMG_20150823_073753
Flamboyan di Dago Atas
IMG_20150822_151458
Jagad Alit Waldorf School Bi-weekly Study Group
IMG_20150820_081054
Aqualis flowers – during 17 Agustus. Red and White.
IMG_20150819_134142
Elmuloka Library – Gagas Ceria. During Bengkimut storytelling sessions wvery Wednesday 11.30 and 14.00
IMG_20150819_200934
Layang-layang with this boy
IMG_20150816_142133
Make his own puppets – The Avengers -at Dini Sony’s house
IMG_20150816_114155
Pasar Simpang encounter
IMG_20150813_181206
Merdekaaaa
IMG_20150812_223318
Puspa IPTEK Kota Baru Parahyangan
IMG_20150812_163638
Bale Pare

  IMG_20150812_224138

Processed with VSCOcam with g3 preset

IMG_2426
Kuntum Farm Field – Bogor
IMG_2437
A day well spent with Rati Anky Arkin
lib
Library with Nita dan Wiko – Labs best friends..!

17anKita

IMG_20150809_143659091
Volunteering at Rumah Kail
PhotoGrid_1439254100966
Kineruku with Mas Bud, Mba Rani, Amel, Polpot, Sinar dan Gati
PhotoGrid_1438993579704
Perpustakaan dan Badan Arsip Jabar

  IMG_3901

Dua bulan pertama ini banyak saya habiskan untuk menjajaki tempat-tempat baru di Jakarta dan Bandung – yang ramah untuk anak tentunya, sekalian kenalan sama beberapa komunitas baru yang bisa bersinergi dengan rencana-rencana ke depan saya. Selain itu mengunjungi dan bertemu dengan beberapa sahabat dan kopdar dengan para baby mereka yang tadinya hanya bisa saya liat di layar hp. Hehe.

Ohya, ternyata setelah pulang… Azka dan Khalif relatif tidak banyak mengalami banyak kendala (saya pikir mereka akan “stress” dengan segala perbedaan di sini). Memang mereka sempet digigit banyak nyamuk dan bedbugs (*sigh*) serta ada perubahan kelakukan (terutama pada Khalif yang mendadak sering tantrum). Tapi overall, I think they’re enjoying their time in Bandung (not Jakarta – because they already said to me several times.. how hate they are to Jakarta due to the traffic jam madness).

Selain itu saya sedang mengerjakan beberapa project lain yang memerlukan banyak fokus – tapi sayanya kadang fokus kadang gak -____-“. Doakan yaaaa… !

Warmer Days Are (Finally) Here

Suddenly it’s May and my babies are turning 5 and 3 in the next couple of days…! *WHAAAAT*. Will talk about that in a separate post, but I’d say I’m glad the weather is finally getting warmer today..! And since Mba Esti, Mas Afif and their children (Abby and Shafwa) visited us from Newport, we did a little picnic and trekking at Parsons Reserve’s Daffodil Patch.

IMG_6969 IMG_6953

It doesn’t look tempting from this picture, but there good combinations of what I made: Salmon and caramelized sauce, Bala-bala a.k.a corn + spinach+ tofu + carrot fritters and what Mba Esti made: Terong Balado (with paprika not chillies)  + Sambel goreng ati & kentang + Opor Ayam. Desserts: fruit salad, apple sauce for kids, and apple pies. With 18 C, this is just perfect:

IMG_6943 IMG_6940

We still had around 4-9 C along April, some days are 14-18 C which were the awesome-est weather. During that days, usually me and Khalif spent some time around the park and playground, sometime Papa came along too (so I can asked “Please take a picture of me under that Magnolia!” ahaha).

IMG_6837 IMG_6782 IMG_6778IMG_6675

Apart from that – life is just swell. Me and Ara talked about some major changes in the next couple of months – I can’t talk much about that right now, because of the uncertainty about our future. Sometimes I could be really panic about this/ sometimes I just don’t want to stress about it and choose to enjoy what we have right now, but maybe a little plan would make everything easier. Like build a new dream and goals together. Wish us luck!

IMG_6733 IMG_6705 IMG_6556 TukartuposAt the mean time, let’s embrace this beginning of life. Welcome springtime and picnic season..!

Yang Tersisa dari Winter

Winter kemaren bener-bener intense dan terpusat di satu bulan saja: Februari. Saya tidak menghitung sudah berapa kali snowstorm terjadi di New Bedford (dan wilayah Northeast Amerika) – yang pasti hampir setiap weekend kami di rumah saja, karena selalu ada badai. Beberapa hari (mungkin total 8 hari kerja) sekolah dan kantor pun ditutup akibat badai salju ini. Terus terang saya menikmati segala macam badai yang terjadi, seperti yang mungkin pernah saya tulis, waktu di Jakarta dulu hampir setiap musim hujan di rumah nenek saya yang keluarga saya tempati selama 22 tahun selalu diterjang banjir. Jadi kalo hanya tumpukan salju yang tingginya sampe sekepala Azka dan membuat susah satu kota mah, ga ada apa-apanya dibandingkan dengan banjir yang walau “hanya” selutut membuat riweh satu komplek Pulomas. Dan kalo badai salju, kita ga bisa menyalahkan pemerintah karena ga becus ngurusin lahan kota dan ga bisa nyalahin warga juga yang suka buang sampah sembarangan. Ini tidak bisa dihentikan, dan sudah kehendak Ibu Bumi. Manusia sewajarnya pasrah dan tidak terlalu banyak mengeluh…! Some of these moments, I’ve already shared them on Instagram, Path or even Facebook. But I want to compile them – blog is an instant way for me to recap our life lately.

Persin depan pintu apartemen
Persin depan pintu apartemen
IMG_4356
Di perjalanan ke sekolah, yang cukup bikin keder karena tumpukan salju dan kadang licin
IMG_4365
Biasanya banyak para orang tua dan caregivers lain yang menunggu di sini ketika pagi dan siang hari untuk drop off dan menjemput anak-anak mereka. Tapi karena tumpukan salju ini, sebagian menggunakan pintu lain di Summer St.
IMG_3569
Sebagian es yang mulai mencair – kebanyakan laut, sungai dan danau yang dangkal membeku
IMG_3557
Saya suka dimarahi Ara karena suka sok-sok “Gak dingin ah” dan ga pake jaket tebel, hehe

  Di rumah pun jadi produktif lagi foto-foto hasil dunia per-bakingan. Memang di rumah ini setiap hari atau minimal 2 hari sekali pasti harus bikin aneka muffins, scones, donat, pancakes, atau roti. Karena satu rumah ini suka sekali ngemil, dan saya memang jarang beli-beli cemilan di luar, karena gulanya suka ga kira-kira – selain tentunya upaya penghematan…!

Ini sebetulnya pengen bikin poffertjes, tapi pake resep kue cubit, ehh jadinya malah kayak cake pops.
Ini sebetulnya pengen bikin poffertjes, tapi pake resep kue cubit, ehh jadinya malah kayak cake pops.
MalikAzka
Azka yang paling suka “ga sabaran” kalo Ibu bilang “Tungguuuu buat difoto dulu..!”

IMG_5137 IMG_4474

IMG_5647
Sweer Dinner Rolls
IMG_5672
Cinnamon buns
IMG_5783
Chocolate Brioche
IMG_5332
Challah

Untuk roti ini, saya menggunakan breadmaker, jadi jangan bilang “ihhhh hebat banget!”, hehe. Sebetulnya bread maker ini udah ada sejak tahun 2011, seorang sahabat kami dari Brazil menghibahkan kepada kami ketika mereka pulang ke kampung halaman mereka. Bread maker tugasnya adalah sampai tahapan “dough”, setelah itu saya dan anak-anak yang uleni dan membentuk menjadi roti yang diinginkan – bisa juga sihh sampai jadi roti (bentuknya ya satu loyang roti gitu), tapi kurang menantang :pIMG_5817 IMG_5791IMG_5925IMG_5944

Selain itu bulan Februari – Maret ini kami sempat kumpul-kumpul dengan teman-teman Indonesia di Rhode Island dan sepupu saya dari keluarga Akbar (keluarga Ayah) datang berkunjung..! Senangnya bukan main, karena selama ini belum pernah dikunjungi sepupu yang membawa anak kecil. Azka dan Khalif sangat happy bisa ketemu sepupu mereka: Naira.

IMG_4696
Naira
IMG_4687
Nia, Apri dan Naira di Fort Phoenix
IMG_4665
Apartemen rusuh dan penuh ketawa tak henti-henti dari tiga bocah ini (Naira di dalam mobil)

Dengan teman-teman dari Rhode Island, sebagian dari Brown University, Johnson and Wales University, sebagian adalah para akademisi dan pengajar di universitas sini.

IMG_5160 IMG_5165

Sore-sore dengan sledding di Clasky Common: dua bocah ini sudah berani bolak-balik meluncur berduaan dan sendirian..! Terutama Khalif yang tak kenal lelah dan kuat banget sama dingin.

IMG_3074 IMG_3091 IMG_3065

IMG_4845 IMG_4824

Sering banget kayaknya kalo kami berpergian, anak-anak tertidur di mobil. Momen seperti ini kami manfaatkan untuk ngobrol tenang, kadang ga tenang juga deng (ahahhaha), baca, dengerin musik, tulis-tulis rencana ke depan, dll. Saya dan Ara tidak pernah ke bioskop sejak April 2010, jadi sudah 5 tahun ga kencan..! Kencan kami yaa di mobil ini saat anak-anak tidur pulas, atau malam hari ditemani dengan DVD, Netflix, dan Indomie atau ramen. Pokoknya makanan yang ga sehat dikeluarin deh kalo malem x))

WestportSekali waktu saya cuman sendiri dan iseng foto-foto berbekal kamera SLR dan cap mobil – ini foto selfie ala saya: dengan timer dan ngambilnya juga bukan cuman bagian wajah, tapi menggambarkan suasana sekitar. Gabungan dari sisi ketidakpedean saya dan narsis, ahaha. Asli deh, kalo selfie wajah kayaknya saya paling ga pede sedunia.

IMG_4406 IMG_4419 IMG_43912

Beberapa sunset dan suasana kota New Bedford:

IMG_4259 IMG_4255 IMG_4263 IMG_4252IMG_1901 IMG_1966 IMG_4047 IMG_4217

Yah segitu dulu update-annya. Pengen cerita tentang Azka dan Khalif, cuman belum sempet, nanti aja menjelang Azka ulang tahun direkap hasil perkembangan beliau-beliau ini yaa..!

Lost in Manhattan

This post has been in my draft since November 2014 – I know, it’s that LATE to post something back from 2014. But just today, I looked up some of the pics, and I love how this event reminds me this feeling: 1. lost and confused. 2. warm and acknowledged. Both feelings are exactly opposites to each others, but that’s what I felt.

IMG_9793

Lost and Confused. Thanksgiving 2014 yang lalu saya pergi ke NYC. Tujuan utamanya hanya untuk melihat Macy’s Thanksgiving Parade yang tersohor itu. Tentu ide untuk berjejal-jejalan dengan ribuan manusia lain dan menempuh perjalanan 5 jam ke kota lain hanya untuk menonton sebuah parade tidak masuk dalam akal sehat Ara.

Macy’s Thanksgiving Parade – via adweek.com

Saya memutuskan untuk pergi sendiri saja (as part of my me-time) dengan menggunakan MegaBus langsung dari New Bedford – New York City. Seperti biasa, tiket sudah dipesan dari 3 bulan sebelumnya. Namun pagi hari-H Jam 4.55 AM saya terbangun dan mendapati diri saya ragu-ragu untuk berangkat (walau tas sudah dipacking rapih); as you might notice, I always have this ragu-ragu thing every single time I go by myself – it is part of being a mother I guess. You just naturally feeling guilty when you left your family alone, apalagi untuk kepentingan hura-hura semata. Sementara jam bus akan berangkat ke NYC adalah jam 5.15 AM, yang mana saya harus memutuskan dalam waktu 10 detik sangat cepat: PERGI atau TIDAK. Perjalanan dari rumah ke terminal memakan waktu 7 menit dengan anggapan: jalanan super lancar. Singkat cerita saya berangkat menggunakan taksi ke terminal bus di Fairhaven – dengan hanya ada uang cash $25 dalam saku. Si supir taksi bilang ketika baru 1/4 perjalanan ke terminal bus, bahwa dia belum punya kembalian. Artinya saya harus bayar dengan uang pas. Saat itu saya baru sadar bahwa saya gak bawa debit card, hanya credit card, agak panik juga ke NY 2 hari cuman berbekal $25. Setibanya di terminal bis, argo taksi menunjukan $12, sementara karena saya hanya punya 1 lembar $20 dan $5, maka dengan bergegas saya bilang ke si mbak supir taksi: “Just a minute, I will ask the bus driver for the changes”. Bus saya sudah HAMPIR mau berangkat, karena memang waktu menunjukan jam 5.15 AM; saya bergegas lari ke dalam bus yang sepi dan tidak ada penumpangnya – sang supir menyambut saya dengan “You’re so lucky, I just about to leave in a sec..!”. Saya utarakan maksud saya untuk menukar uang $20 untuk bayar taksi, si supir bus bilang dia tidak punya uang cash sama sekali – makin paniklah saya. “Ok, I will tell the taxi driver first, please wait for me…!”, sedikit bete dia bilang bahwa dia tidak bisa menunggu saya.“I have other passengers, I can’t be late!” ucapnya, saya memelas: “Please, wait for me, only 30 seconds!”, yang ditanggapinya dengan muka datar dan rada kesal. Saya berlari ke arah taksi dan bilang: “I will pay the rest of the fee after I came back from NY” – ucap saya bersungguh-sungguh sambil menyerahkan $5. Artinya saya berhutang $7 ke dia. Supir taksi wanita dengan wajah memelas itu pasrah, “What’s your name?” tanya saya. “Ashley” balasnya singkat, wajahnya gusar. “Listen, I promise. On Saturday, I will pay the rest, Ok? My name is Puti and you know where I live. Happy Thanksgiving..!”. Saya kembali berlari masuk ke dalam bus, duduk dan bisa bernapas lega. Saya satu-satunya penumpang dari New Bedford dan 40 menit kemudian bus tiba di Providence membawa sekian puluh penumpang lainnya untuk dijejalkan di double-decker bus tersebut. Alhamdulillah, 5 jam kemudian bus sampai selamat di Manhattan.

IMG_9770

Setibanya di Manhattan – saya dan ribuan turis dan newyorkers- ikut dalam padatnya kerumunan manusia-manusia lain untuk melihat parade. Saat itu sudah jam 11 AM, artinya parade sudah berlangsung dari Upper West Side Central Park menuju ke Macy’s di 6th Ave. Penjagaan polisi ketat sekali, kami tidak bisa masuk dalam kerumunan massa yang sudah lebih dahulu memadati 6th Ave. Ingin rasanya menangis, karena sudah melalui perjalanan panjang dari New Bedford -plus bawa-bawa ransel gede berisi pakaian untuk bermalam- masa ga dapet view liat paradenya?! Hingga perjuangan detik akhir, saya hanya bisa mendapatkan view seperti ini:

IMG_9761

IMG_9725 IMG_9728 IMG_9732 IMG_9785

Itu pun liat viewnya, sambil berdempetan dan sebagian besar orang udah bersumpah-serapah – karena saling mendorong ada yang ingin maju ke depan, ada yang udah ga kuat lagi jadi menyerah balik berjalan menjauhi keramaian, bener-bener gak kerasa “Thanksgiving”nya di antara kerumunan itu. Saya bahkan gak bisa melihat artis-artis yang (katanya) ada dadah-dadah di parade itu. Huu… Memang benar, enakan liat di TV aja yang beginian, ehehu. Harapannya liat kayak gini – dan memang harus masuk ke dalam gedung atau antre dari jam 6 pagi:

Ya sudahlah ya… Setelah parade itu saya merasa sangattttttt gamang, Kangen banget sama PapaAra, Azka dan Khalif – karena merasa tidak pamit dengan proper. Terbersit niatan (gila) untuk pulang kembali ke New Bedford dengan bus yang jam 2 PM. Tapi karena bolak-balik nyasar mencari tempat tunggu MegaBus (dodol banget orientasi arah saya) yang tidak ada haltenya itu, bus yang jam 2 tak terkejar – dan akhirnya saya memutuskan untuk menikmati apa yang bisa Manhattan tawarkan untuk saya *hadehhh secara ya, udah di NYC gitu*.

IMG_9841 IMG_9836 IMG_9830 IMG_9819 IMG_9816 IMG_9808

IMG_9804 IMG_9810IMG_9773IMG_9794

Memandangi Christmas window display di department store besar NY adalah salah satu kegiatan favorite saya, ini yang di Lord and Taylor:

IMG_9853 IMG_9850 IMG_9846 IMG_9845 Tapi jalan-jalannya beneran random, bahkan saking gak fokusnya (karena ngerasa “homesick”), saya jadi ga mengunjungi Rockefeller Center yang terkenal dengan dekorasi cantiknya untuk menyambut Christmas. Huhu. Kira-kira beginilah penampakannya:

Dan menutup perjalanan di Manhattan hari itu dengan pergi ke Brooklyn, untuk acara Thanksgiving dinner di apartemen Manda. Naik Subway pun ada hiburannya tersendiri, memandangi artworks, orang lalu lalang, street performer, dan poster-poster di Subway:

IMG_9788

IMG_0144 IMG_9857IMG_9861 IMG_9863 IMG_9858

Warm and Acknowledged. Setibanya di Apartemen Manda sudah ada beberapa teman dari kantornya. Sembari menunggu ayam (bukan kalkun – karena Manda sebagai host ingin memasak ayam halal) matang, kami bermain beberapa boardgames dan games yang hanya melibatkan tangan- sederhana tapi serunya keterlaluan, Saya males jelasin secara detail cara mainnya, cuman ini permainan recommended banget buat menggila bersama. I had so much fun with Manda’s friends – yang tidak ada satu pun di antara mereka yang main gadget selama kami berinteraksi – satu-satunya yang foto dokumentasi pun cuman saya. Ohya, Manda ini sesama alumni ITB, tapi dia 6 tahun lebih muda, hee, dan dari jurusan design. Di US dia meneruskan masternya di RISD (semacam ITB-nya untuk design gitu, sangat prestisius). Teman-teman kantor Manda adalah para expat muda arsitek berbakat dan kece, mereka berasal dari Mexico, Lithuania, China, Korea, dan sisanya ada dua teman Manda yang orang Indonesia. Singkatnya saya sempat merasa sedikit minder, karena ketika ditanya oleh mereka, “what do you do?”, saya menjawab seadanya: “I’m a stay at home mom”. Semuanya kaget, karena tebakan mereka, saya masih berusia 23 tahun dan ga ada tampang Ibu-ibu, dengan dua anak pula. Ahaha. Walau berkeluarga dan settle belum masuk dalam cita-cita mereka saat ini, tapi dari percakapan dengan mereka, saya merasa bersyukur: telah menjadi Ibu bagi Azka dan Khalif, dan istri bagi Ara. Saya tidak merasa tertinggal dengan karir saya dan menikmati kegiatan saya sebagai Ibu saat ini. Ya, mungkin akan berbeda kalau kumpul-kumpulnya dengan Ibu-ibu lain yang sudah sama-sama berkeluarga dan sukses secara profesi dan finansial.

IMG_9885 IMG_9905

Apartemen sublet Manda kece sekali – pemiliknya adalah seorang writer yang sedang berada di Dominican Republic untuk mencari inspirasi dalam menulis. Seru ya..! Apartemennya pun penuh karakter, saya suka sekali:

IMG_9913 IMG_9909 IMG_9907

Black Friday. Hari Jumat itu saya tidak punya agenda khusus apa-apa. Hanya ingin sight-seeing dan dengan mengunjungi pusat hipster di New York, yakni di Williamsburg, Brookyln. Kalau ke NY, saya tidak pernah lihat orang-orang kece Newyorkers seperti yang ditampilkan di kebanyakan media, kebanyakan mungkin hanya turis kali yaa yang saya temui. Nah, kalo di beberapa daerah di Brooklyn, memang pusatnya kaum hipster – yaaa, macam para Instagrammer itu lah, hehe. Tapi saya gak berani ambil fotonya, takutnya ada yang tak berkenan. Ini aja saya mau ambil foto si mas-mas berkacamata, rada gak enak, harus pake Manda sebagai bumper model, haha.

IMG_9937IMG_0002 IMG_9994 IMG_0005IMG_9954 IMG_9956 IMG_9960 IMG_9976 IMG_9980 IMG_9981 IMG_9989IMG_9946

Setelah makan pagi dan berkunjung keluar-masuk cuci mata liat barang-barang yang sedang sale Black Friday, toko buku, dan toko vinyl di Williamsburg dan SOHO, kami makan siang di sebuah kedai Jepang yang kecil banget di daerah Greenwich Village. I think that was the best vegetable udon I’ve ever tasted -second to the one that I tried while in Tokyo. Nah, dan di resto ini mereka hanya menerima pembayaran secara cash. Saya mengintip sisa uang di dompet: masih ada $17 – setelah sebelumnya sempat terpakai untuk beli vinyl seharga $2 dan churros mbak-mbak Hispanic di subway $1. Sementara harga udon paling murah: $11, tambah tip $2. Okelah cocok. Saya ikutan pilih yang vegetable karena rekomendasi Manda yang ternyata sangat sholehah: dia hanya makan daging halal – hebat ya? Kadang-kadang malah saya dan Ara ga terlalu memperhatikan hal-hal demikian kalau makan di restoran. Cukup: daging ayam dan sapi anggapannya: halal. Manda juga mengingatkan saya untuk sholat zuhur dan ashar di subway (iya, di tempat duduk sambil nunggu kereta datang) – lagi-lagi membuat saya terkesan dari dia, karena selama ini saya kalau sholat ketika lagi traveling, seringnya dijama aja semua dari zuhur, ashar, maghrib, isya. Suka lupa bahwa Allah memberi keringanan bagi yang sedang dalam perjalanan, untuk bisa sholat di manapun (tentunya tempat yang bersih) dengan tayamum.  Setelah pertemuan dengan Manda, saya dan Ara setiap berpergian ke kota lain, saling mengingatkan untuk sholat di mobil atau di tempat lain yang memungkinkan. Thank you Manda, for the hospitality and reminder for being a better Muslim!

IMG_0137 IMG_0111 IMG_0077 IMG_0056 IMG_0036 IMG_9988IMG_0042IMG_0037IMG_0022IMG_0118IMG_0119IMG_0116

Tempat terakhir sebelum pulang adalah ke The Union Square Holiday Market, atas rekomendasinya Taza. Tidak seseru yang saya bayangkan siihh, walau tetap menyenangkan melihat produk, desain, dan jenis makanan yang dijajakan oleh small company. Yang membuat saya senang karena menemukan beberapa yang Indonesia banget: “Back from Bali” dan ada juga Nuts + Nuts – yang ternyata asli punya orang Indonesia – direct cashews from local farm in Java..! Tapi agak kemahalan buat saya, satu pouch kecil $4.5, hehe. Nanti dulu yaa belinya, foto-foto aja sebagai bagian dari promosi :)

IMG_0167IMG_0161 IMG_0160 IMG_0153 IMG_0169 IMG_0152IMG_0158 IMG_0145Setelah dari Union Sq Market ini, saya dan Manda sempat mampir belanja ke H&M dan liat-liat di J.Crew dan Antrophologie. Saya berusaha tidak terlalu heboh belanja, walau sale menggila, nyatanya saya berhasil menahan diri hanya dengan membeli baju untuk Azka dan Khalif saja yang memang lagi muraaaaah banget di H&M. Oh well, kini rasa penasaran liat Macy’s parade dan belanja di NYC sudah tidak membuat saya penasaran lagi. Di perjalanan pulang, saya cek keadaan uang cash: masih nyisa $4. Selamat deh, Alhamdulillah. Bye NYC, until we meet again.

Winter Storm Juno

This is our 5th winter, and been an exceptional one compare to the previous years. One of the odd: the first snowfall occurred on October, the day after Halloween and one time during November (still autumn). After that, probably one or two times during December – even during Christmas week, all we got in our region was only rain and now snow. The first 3 weeks in January, the snow appeared just for a moment during nighttimes and after that vanished before noontime. Too soon to begone and actually I’ve been waiting for a snowstorm. We did have several days with temperature below the normal ones, the coldest that I’ve ever experienced: -18 Celsius. At that time, the school was canceled – because they afraid, it might be a problem for parents waiting for the pupils outside.

IMG_2809 IMG_2815During pick-up time at Azka’s school, I usually chit-chat with one of the father or other moms, about how badly I want it to be snow. A heavy ones. They’re not fond of my idea, because they kinda hate when it snows a lot and not want to deal with the mess it created; I understand later on, that they have their own properties and must to take care of it by themselves. Meanwhile, I, rely everything to the maintenance guys in our housing area – not even bothered to think that snowstorm would be inconvenient for many people, including the potent to have power outages in some areas and homeless people, etc. What a selfish me.

Anyhow, here, at the 4th week of January…. With several warnings appear two days prior the storm on my Android: Blizzard Warning in Southeastern Massachusetts; A winter storm Juno. There’s Massachusetts statewide travel ban which not allow residents to use their vehicle during the peak of the storm, the only vehicles allowed are just the essentials (like police, firefighters, medicals, and other essentials state employees), schools and businesses are closed for 2 days (and we’re still waiting whether the will extend it for the next two days or not, the street still looked pretty bad with 2 feet of snow.

IMG_2869 IMG_2875

As for our family, we always love this time of the year – where we’re allowed to wake up late and lazy (more screening time for the kids and parents that is) and just enjoying to bake some Blueberry Streusel Coffeecake, raspberry scones, more coffees, teas, and hot chocolates while watching the gray sky and snowfall that seems never end – I live for that moment (of course, after that there will be tons of dishes to be washed and laundries to be done!). But I just want to embrace it while I can… And the after the storm passed, is another favorite time, where I just always love the cold sensation touched my skin, the soft puffy snow as my bed, and the winter wonderland is here. IMG_2957IMG_2929

IMG_2848 IMG_2841 IMG_2881And yes, I’m being selfish again, because I didn’t do any parts of shoveling and cleared the path.

IMG_2891 IMG_2914 IMG_2972

Inside My Head

Semenjak menginjakan kaki di New Bedford, saya punya banyaaaaaaakk sekali ide yang ingin saya realiasikan. Seringnya sih ide tersebut menguap, dan hanya bertahan dalam hitungan hari saja – dan orang yang sering saya kemukakan ide-idenya siapa lagi kalau bukan Ara. Ara sendiri selalu berusaha memberikan pendapatnya sebijak mungkin terhadap gagasan saya dan saya yang selalu menggebu-gebu dalam menyampaikan gagasan-gagasan saya. Terkadang saya menerima feedbacknya dengan legowo, tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa terkadang saya merasa seperti tidak didukung (biasanya yang bikin Ara ga mendukung saya, adalah sesuatu yang bakal ada potensi konfliknya besar dengan orang lain).

Ya, saya memang manusia dengan potensi konflik yang sangat sangat besar. Saya sadari betul itu… Dan ini bukan hal yang membuat saya bangga ya, justru seringnya jadi bikin saya refleksi terhadap sifat dan sikap saya yang kadang bikin orang-orang yang bersinggungan dengan saya menjadi tidak nyaman. Biasanya hanya ada dua kemungkinan, si orang yang sudah berkali-kali bersinggungan: akan menjadi sahabat baik saya atau.. jadi “musuh”. Gak musuh sih, cuman ya… you know, menghilang saja masing-masing dari peredaran. Dan sayangnya, yang seperti itu: “hilang dari peredaran” jumlahnya gak sedikit. Sedih juga. In my own defense, I couldn’t please anyone.. Ada yang mungkin terganggu dengan postingan saya di sosial media, tulisan saya di blog, foto-foto saya di Instagram, perkataan saya di Twitter, atau hubungan langsung dari suatu kejadian.

Balik lagi ke topik “banyak ide”, ide-ide saya seringnya tidak terealisasikan karena saya gak punya MOTOR penggerak. Saya ada ide, tapi untuk mewujudkannya saya butuh partner, yang kira-kira sevisi. Nyari partner itu ga gampang… Ditambah dengan faktor “potensi konflik” itu. Tapi Alhamdulillah, untuk beberapa project saya menemukan orang-orang yang saya nyaman (dan semoga mereka juga) untuk bekerjasama.

Dalam tiga tahun belakangan saya terlibat dalam beberapa project, walau progressnya tidak cepat, tapi setidaknya sudah dimulai dan saya menjalani ketiganya dengan bahagia. Bahagia sudah cukup, karena dari ketiga project ini sifatnya masih project sukarela: karena memang ketiganya saya jalani bukan dengan tujuan cari uang, hanya sebatas hobby, menyalurkan energi, ingin berbagi inspirasi, dan ingin berbuat sesuatu yang ada manfaatnya bagi orang lain. Saya merasa apa yang bisa saya kerjakan dengan bermodalkan laptop, saya kerjakan..! Saya selalu percaya quote ini: Bukankah sebaik-baiknya manusia, adalah yang berguna baik masyarakat sekitarnya? I don’t have money, but I have ideas and tools. I use what I have.

1. Books For Indonesia, idenya sudah muncul dari akhir tahun 2010 – dan tidak tahu harus memulai dari mana. Ternyata, sepupu dari kakak ipar saya tinggal di Chicago dan dia merintis gerakan ini bersama beberapa temannya di sekitaran Chicago, Illinois. Saya semangat sekali ngobrol dengan Mba Ira selaku President BFI dan beliau dengan senang hati menerima saya untuk menjadi hub BFI di Southcoast Massachusetts dan Rhode Island. Dalam 2 bulan saya berhasil mengumpulkan 500 buku – yang saya dapatkan dari individual di New Bedford dan sekitarnya. Tapi dari 2014 pertengahan hingga sekarang, dikarena beberapa pendirinya pada merantau ke negara lain – BFI vakum sementara (setidaknya saya belum aktif lagi mencari donatur). Namun buku-buku yang sudah didonasikan oleh perpustaakan, individu, dan organisasi sudah diterima dengan baik di perpustakaan-perpustakaan di berbagai wilayah di Indonesia.

"We’ve received books donation from Books for Indonesia. Thank you very much, we are really appreciate your effort to give good books for our students. We will distribute this books also to our students in Bangkalan, Madura. Attached is picture of our students with the books. Again, thank you very much" Regards, Femmi Tsanita Youth Program Coordinator CCE Indonesia ä Jl. RP Soeroso No. 41, Gondangdia Lama, Jakarta Pusat, INDONESIA Tel/Fax: 62 21 31907958 ä Mobile: 62 816 1623968 ä PinBB: 261728F7 Website: cce-indonesia.org
“We’ve received books donation from Books for Indonesia. Thank you very much, we are really appreciate your effort to give good books for our students.We will distribute this books also to our students in Bangkalan, Madura. cce-indonesia.org

BFI Team

2. Tweedehands. Ini penyaluran hobby thrifting saya dan adik saya: Ozu. Walau menggarap idenya bareng, yang paling banyak kerja pastinya Ozu ya… Dari styling, pricing, fotografer, editing, tumblr, packaging dan shipping. Tugas saya cuman kebagian upload foto di Instagram aja saat ini. Hiks. Cita-cita besarnya pengen punya toko yang menjual barang-barang vintage di salah satu kota di Indonesia – bisa vintage store, atau thrift store. Either way, selain toko yang profit, kami berdua juga kepengen nantinya bikin suatu badan charity yang menampung barang-barang preloved dari peroangan yang bisa kami distribusikan untuk anak-anak atau keluarga yang membutuhkan di Indonesia. Karena di Indonesia (atau di Jakarta dan Bandung deh, biar ga “Indonesia” banget) seringnya, kalau barang-barang disumbangkan langsung ke Panti Asuhan, walau di luar itu banyak anak dan keluarga yang juga membutuhkan pakaian, mainan, dan yang sifatnya kebutuhan sandang. Yah itu cita-citanya masih agak kejauhan x)

SONY DSC

3. Mamarantau.  Saat ini saya sedang memusatkan fokus saya ke mamarantau – makanya jarang saya sentuh blog pribadi ini, heheu. Yang membuat saya senang dari mamarantau, saya jadi banyak mengenal sosok Ibu-ibu hebat yang sedang merantau. Kebanyakan juga sambil sekolah dan bekerja – sambil urus rumahtangga. So far saya jalani dengan happy, karena ga ada beban apa pun. Ada juga sih yang bikin sedihnya, terutama kalau merasa si Ibu yang diinterview seolah tak tertarik untuk berbagi di mamarantau. Saya pahami betul itu.. Karena gak semua Ibu senang terekspos, gak semuanya juga ada waktu luang untuk nulis panjang-panjang disela waktu sibuk sekolah, mengurus keluarga, dan kesibukan lainnya. Maka dari itu, saya suka terharu sama Ibu-ibu yang bales email saya secara cepat :’) Dan hal lain yang membuat saya terharu, dua hari yang lalu saya baru saja publikasi mamarantau di Path dan Instagram saya.. Sungguh saya tidak mengira, antusiasme terhadap mamarantau ini cukup tinggi. Di Instagram saya, yah.. walau cuman di-like 50 orang siiih, cuman seneng aja dengan komen-komen yang saya terima dari beberapa teman SMA saya, yang saya idolakan :D Lalu di Path, saya berterimakasih kepada Bikka yang me-repath postingan saya dan di-repath oleh banyak teman (dan circle of friends mereka). Hatur nuhun buat teman-teman yang mendukung, mamarantau masih banyak harus berbenah – karena baru dimulai, dan semangat yang kalian berikan kepada saya, sangat berarti. Terima kasih..!

mamadef6

4. PACE The Family Center. Tahun 2014 saya ditawari menjadi tutor di 2 playgroup di New Bedford. Walau saya pengen banget, tapi rasanya kalau kerja illegal ga tenang – mengurus visa F2 ke visa kerja butuh effort cukup tinggi, dan harus ada biaya sponsor dll. Saya putuskan, saya mau volunteer aja saja sebelum mikir kerja dll. Tugas saya mendampingi fasilitator pada acara playgroup Family Center setiap hari Selasa dan Rabu, serta membenahi penataan dan mengumpulkan pakaian-pakaian bagi anak-anak dan keluarga yang kurang mampu di New Bedford melalui program Clothes Clothing dari PACE Family Center. Selain itu saya juga bertindak sebagai admin sosial media untuk Family Center. FC3

STAYANDLEARN

Well, ada dua project yang saya ingin sekali realisasikan. Udah sempet ketemu partnernya juga, yang mana teman baik saya semasa TK dan di Pulomas dulu. Sayangnya demi kebaikan bersama, project ini ditunda dulu – sampai waktu yang belum ditentukan. Tapi moga-moga kalau waktunya pas, saya bisa mewujudkannya, ada yang bisa menebak, apakah “milk and kisses” itu? hehe.

MK1